Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 37


__ADS_3

" Tapi aku tidak mungkin keluar dalam ke adaan seperti ini. Sepertinya bajuku sudah kotor," ujar Nayra gugup dengan wajah memerahnya.


Raihan membuang napasnya perlahan, dia baru paham apa yang di maksud Nayra.


" Berdirilah!" pinta Raihan membuka jasnya. Nayra masih ragu. " cepat!" seru Raihan lagi. Akhirnya dengan kesulitan Nayra mencoba berdiri.


Nayra bersandar di rak, satu tangannya memegang perutnya dan satu lagi memegang ujung dressnya dengan erat.


Raihan menarik pinggang Nayra agar lebih dekat kepadanya. Dan langsung mengikatkan jasnya pada pinggang Nayra. Agar baju Nayra yang terdapat bekas darah tidak di lihat orang lain.


" Apa sudah merasa aman," tanya Raihan. Nayra mengangguk.


" Kalau begitu ayo," ujar Raihan meraih tangan Nayra. Tangan Nayra sangat dingin. Raihan membawanya ke luar dari gudang itu.


Raihan terus menggenggam tangan Nayra yang berjalan di belakangnya, beberapa orang kantor yang berpapasan dengan mereka. Melihat heran, Nayra yang dengan langkah cepatnya hanya menunduk dan terus menutup diri dengan rambutnya.


" Kita mau kemana?" tanya Nayra melihat Raihan yang terus berjalan cepat.


" Ikut saja," sahut Raihan datar.


Raihan membawa Nayra keluar dari Perusahaan dan sudah membawanya masuk ke mobilnya.


Nayra tidak bertanya lagi dan mengikut saja kemana Raihan membawanya.


*********


" Apa Nayra belum menemukan datanya," gumam Anita yang masih menunggu Nayra.


" Ahhhh sudahlah, sebaiknya aku makan siang dulu," gumamnya melihat arloji di tangannya, menghentikan pekerjaannya dan ingin mengisi perutnya sembari menunggu sahabatnya.


*********


Mobil Raihan berhenti di depan Mini Market.


Nayra masih berada di dalam mobil dengan terus kesakitan sementara Raihan Sudah memasuki Mini Market.


Tidak berapa lama, Nayra melihat Raihan keluar dari Mini Market berjalan menuju mobil dengan membawa kantung plastik. Raihan memasuki mobilnya.


Nayra hanya melihat Raihan duduk di sampingnya.


" Pakai!" ujar Raihan memberikan pada Nayra apa yang di belinya.


" Nayra membuka kantung plastik itu dan membuka isinya, berupa pembalut sesuai dengan merek yang sering di pakai Nayra.


Ini memang bukan yang pertama kali Raihan membelikan Nayra pembalut. Dulu sewaktu merek pacaran beberapa kali. Dia harus membelikan Nayra barang berharga itu.


Jadi Raihan memang sudah tidak canggung jika harus membelinya. Raihan juga dulu adalah laki-laki terbucin yang rela melakukan apapun demi kekasihnya.


" Di sini?" tanya Nayra dengan polos.


" Iya di sini, ganti di sini," sahut Raihan menekan suaranya. Nayra mengkerutkan keningnya. Saat seperti ini dia ingin menerkam orang lain.

__ADS_1


" Ya di kamar mandilah, tapi jika kau tidak keberatan ganti di sini," sahut Raihan dengan kesal. Nayra juga ikut kesal dan mengerucutkan bibirnya.


" Aku tau. Tapi dimana, di sini tidak ada kamar mandi," ujar Nayra. Raihan melihat di sekelilingnya, melihat memang tidak ada kamar mandi. Raihan menghela napasnya dan menginjak gas mobilnya melajukannya dengan kecepatan sedang.


Akhirnya Raihan menemukan kamar mandi, agar Nayra memakai pembalut itu. Supaya dress yang di pakai Nayra tidak terlalu kotor.


Dengan baiknya Raihan menunggu di depan pintu kamar mandi seperti sedang menunggu kekasihnya.


Tidak berapa lama Nayra pun ke luar dari kamar mandi. Satu tangannya terus memegang perutnya yang sangat perih. dan satunya lagi memegang jas Raihan.


Nayra menghadap Raihan. Raihan masih melihat ekspresi wajah Nayra yang menahan sakit dan pucat.


" Ini," ujar Naira memberikan jas hitam itu pada Raihan.


" Biasakan mengembalikan sesuatu itu, setelah di cuci," sahut Raihan dengan sinis.


" Apa sekotor itu harus di cuci, tidak kenak juga," gumam Nayra dengan pelan.


Mata Raihan sepertinya ingin melihat kebelakang dress Nayra.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Nayra menyadarkan tubuhnya ke dingding yang panik dengan mata Raihan yang jelalatan.


" Apa pakaianmu sudah bersih, sehingga kau sangat pede keluar seperti itu," ujar Raihan memastikan. Nayra jadi salah tingkah dan dengan cepat kembali menutupkan jas itu kepinggangnya. Raihan yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.


" Sudah jangan melihatku terus," ujar Nayra yang gugup.


" Siapa yang melihatmu," jawab Raihan menyangkal.


Dia tidak sanggup lama-lama berdiri. Raihan mengangguk meski di suruh Nayra adalah hal yang menyebalkan. Tetapi melihat kondisi wanita itu Raihan mengalah sedikit.


Nayra dan Raihan sekarang sudah berada di dalam mobil. Beberapa kali Raihan melirik kesamping melihat Nayra dengan mata merahnya yang ingin menangis. Nayra juga terus memegang perutnya.


" Apa kau tidak ingin ke Dokter?" tanya Raihan.


" Tidak, ini hal yang biasa," jawab Nayra dengan suara lemasnya.


" Minumlah!" ujar Raihan memberikan air putih pada Nayra. Nayra langsung mengambilnya dan meneguknya.


" Lap keringatmu!" perintah Addrian lagi memberikan tisu. Nayra kembali mengambilnya dan melap wajahnya yang penuh keringat.


" Kau masih ingin bekerja, dengan keadaan seperti itu?" tanya Raihan memastikan.


" Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Karena aku akan pergi beberapa hari ke Luar Kota. Lagi pula ini sudah jam 1 hanya butuh beberapa jam lagi di kantor. Kalau kau tidak menambah pekerjaanku," jawab Nayra lembut namun menyindir.


" Aku akan mengantarmu pulang," sahut Raihan.


" Tidak usah aku kembali kekantor saja," sahut Nayra langsung menolak.


" Kau tidak mungkin bekerja dalam ke adaan seperti itu," ujar Raihan.


" Tapi pekerjaanku akan semakin menumpuk, jika aku pulang," ujar Nayra yang tetap keras kepala.

__ADS_1


" Sudah jangan membantah, kau harus istirahat," sahut Raihan dengan tegas.


Nayra pun terdiam. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Perutnya memang sangat sakit. Belum lagi dia terus merasa mual. Hal itu memang sering terjadi pada Nayra. Jika tamunya sudah datang. Dia memang akan sangat rewel dan sensitif saat itu.


Nayra dan Raihan sudah tiba di Apartemen Nayra. Nayra membuka pintu mobil dengan perlahan. Yang di susul oleh Raihan.


Saat keluar dari mobil Nayra hampir jatuh dan untung saja Raihan dengan cepat sudah tiba di depan Nayra dan langsung memegang ke-2 lengan Nayra. Agar tidak jadi jatuh.


" Pelan-pelan," ujar Raihan dengan lembut. Nayra memegang kuat baju Raihan. Agar dirinya tidak jatuh. Kakinya sungguh tidak tahan untuk berdiri.


Raihan melihat wajah Nayra semakin pucat. Tangan wanita itu juga semakin dingin, bibir bagian bawah Nayra terus bergetar. Dengan cepat Raihan langsung menggendong Nayra ala bridal style.


Nayra melototkan matanya kaget dengan apa yang di lakukan Raihan kepadanya.


" Apa yang kau lakukan turunkan aku," ujar Nayra memberontak.


" Diam lah," jawab Raihan dingin.


Raihan pun membawa Nayra memasuki Apartemen Nayra. Nayra pun sudah tidak menolak. Dia malah mengalungkan tangannya di leher Raihan.


Kakinya memang tidak kuat untuk berjalan. Dan kehadiran Raihan sangat membantunya. Nayra begitu nyaman di gendongan Raihan. Nayra terus melihat wajah pria itu. Wajah yang sangat dingin. Tidak melihatnya sama sekali.


Raihan dan Nayra sudah tiba di depan pintu Apartemen Nayra. Raihan melihat Nayra dan mengerakkan kepalanya ke arah sandi Apartemen Nayra. Memberi kode untuk menekan tombol sandinya.


Nayra yang mengerti langsung menekan. Pintu Apartemen itu terbuka. Raihan membawa Nayra masuk. Dan langsung menuju kamar Nayra yang dia pasti tau di mana letakknga. Raihan mendudukkan Nayra di pinggir ranjang.


" Gantilah pakaianmu!" ujar Raihan. Nayra mengangguk. Dengan pelan Nayra berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Didalam kamar mandi Nayra langsung mual-mual memuntahkan isi perutnya yang hanya ada air.


Ehgk Ehgk ehgk eggkh egkh.


Raihan yang di duduk di ranjang. Terlihat sangat cemas kepada Nayra.


" Kenapa dia tidak pernah berubah?" batin Raihan memijat pelepisnya dan menghampiri kamar mandi.


" Nara apa kau baik-baik saja?" tanya Raihan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


" Iya aku baik-baik saja," sahut Nayra dari dalam kamar mandi.


" Aku minta tolong, ambilkan pakaianku, aku lupa membawanya," ujar Nayra berteriak tanpa rasa ragu menyuruh Raihan.


" Apa aku tidak salah dengar, beraninya dia menyuruhku," desis Raihan.


" Semoga saja dia mau mengambilnya," gumam Nayra yang sudah tidak memakai sehelai benang pun di dalam kamar mandi.


" Apa tidak bisa cepat sedikit," teriak Nayra lagi mengigit bawah bibirnya. Menempelkan kupingnya di pintu kamar mandi.


...Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2