Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 97


__ADS_3

Nayra membungkukkan badannya dan mengetuk kaca mobil. Raihan yang sudah menunggu di dalam mobil membukakan pintu mobil.


Nayra langsung memasuki mobil. Wajah Raihan terlihat seperti kesal. Mungkin dia kelamaan menunggu Nayra. Ataupun Karena dari tadi Raihan melihat Nayra yang berbicara sangat dekat dengan David.


" Malam," sapa Nayra dengan senyum lebarnya.


" Kamu belanja banyak sekali," ujar Raihan dengan suara dinginnya yang melihat banyak bawaan Nayra.


" Ohhhhh ini, tidak terlalu banyak, hanya sedikit," jawab Nayra melihat-lihat isi belanjaannya.


" Aku baru tau, ternyata kamu juga seorang sultan," ujar Raihan.


" Jangan mengejekku. Aku juga tidak akan belanja sebanyak ini kalau bukan di traktir," sahut Nayra.


" Di traktir, siapa? Pak David," tebak Raihan yang memang melihat Nayra keluar dari Mall bersama David.


" Iya, Pak David meneraktir aku, Ria, dan Anita," ujar Nayra dengan apa adanya.


" Lalu Anita dan Ria kemana?" tanya Raihan menaikkan alisnya.


" Mereka sudah pulang terlebih dahulu. Karena ada urusan penting," jawab Nayra.


" Bukannya tadi siang, kamu bilang, hanya ke Mall bersama Anita dan Ria. Kenapa jadi ada Pak David kamu janjian dengannya," ujar Raihan yang tiba-tiba posesif.


" Tidak, tadi tidak sengaja, aku bertemu pak David di dalam. Dia sedang mencari hadiah untuk keponakannya. Jadi dia meminta aku Ria dan Anita, untuk menemaninya," jawab Nayra dengan tengang sambil melihat-lihat belanjaannya.


" Ulang tahun keponakan, siapa, Samuel," sahut Raihan yang sedari tadi menunjukkan sikap tidak sukanya.


" Iya, Pak Samuel," jawab Nayra membuat barang-barang belanjaannya di belakang.


" Dia di Jakarta juga?" tanya Raihan penasaran.


" Entahlah aku juga tidak tau, soalnya kami tidak membicarakan itu," jawab Nayra.


" Apa kita belum jalan?" tanya Nayra. Dia merasa sudah lama mengobrol dengan Raihan di dalam mobil.


" Iya," sahut Raihan datar dan mulai menjalankan mobilnya.


Selama perjalanan lebih 10, menit Raihan dan Nayra hanya diam saja. Bahkan di dalam sangat hening. Tanpa ada yang membuka obrolan sama sekali.


" Raihan kenapa ya kok tumben diam aja," batin Nayra merasa ada yang tidak beres melirik ke arah Raihan.


Mereka masih saling diam, meski sudah berada di tengah macet. tok-tok-tok-tok anak kecil mengetuk kaca mobil Raihan menjual Arum manis. Tetapi Raihan fokus kedepan tanpa menoleh kesamping jendelanya. Nayra heran melihat Raihan padahal Raihan tidak pernah seperti itu.


" Aku mau itu," ujar Nayra. Raihan menoleh ke arah Nayra. Menurunkan jendela mobilnya dan membeli Arum manis itu.


" Ambil saja kembaliannya," ujar Raihan memberi uang 100 ribu.

__ADS_1


" Makasih om," jawab sang anak. Raihan hanya mengangguk dan kembali menutup kaca mobilnya. Lalu memberikannya pada Nayra tanpa berbicara.


" Raihan kamu kenapa?" tanya Nayra yang melihat sikaf Raihan berbeda.


" Tidak apa-apa," jawab Raihan ketus.


Nayra yang mendengar jawaban dingin itu langsung mendekat Raihan dan memeluk pinggang Raihan, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Raihan.


" Bohong, apa aku berbuat salah, atau aku kelamaan," ujar Nayra yang merasa akan ada salah dalam dirinya.


" Katakan ada apa?" tanya Nayra mendongakkan kepalanya melihat Raihan.


" Raihan, katakan?" tanya Nayra lagi.


" Nara apa kamu begitu nyaman dengan Pak David?" tanya Raihan tiba-tiba. Nayra mengkerutkan dahinya melihat ke arah Raihan.


" Kamu tidak lagi sedang cemburukan?" tanya Nayra menebak.


" Aku tidak cemburu jika itu dengan Pak David. Kalian hanya rekan bisnis Nayra. Apa yang kamu dapatkan dan semua perlakuannya, cara mu, menceritakan tentangnya, itu sangat berlebihan, aku hanya tidak ingin, kau menganggap semua orang baik. Apa lagi kita sedang berbisnis. Aku tidak ingin kau kenapa-napa. Hanya karena kamu menganggap semua sama," ujar Raihan menjelaskan ke khawatirannya tentang Nayra.


" Aku tau Raihan, aku juga berpikir seperti itu. Tetapi aku merasa bahagia jika bertemu dengannya. Lagi pula aku tidak sendirian. Ada Ria, Anita, dan kemarin waktu di Bandara, juga ada Raka," ujar Nayra mencoba membuat Raihan memahami hatinya.


" Iya aku paham. Tetapi bagaimna jika dia ada maksud tertentu. Misalnya ingin mendekatkanmu dengan keponakannya, bukannya barusan dia menyuruhmu membelikan hadiah," ujar Raihan. Nayra tersenyum tipis dan mempererat pelukannya.


" Tidak Raihan. Aku bisa merasakan jika Pak David tidak ada maksud lain kepadaku. Dan soal hadiah. Aku sama sekali tidak memilihkannya. Justru Anita dan Ria yang memilihkannya. Kamu jangan terlalu cemburu kepadanya," ujar Nayra dengan senyumnya.


" Tapi aku bisa melihat dari matamu. Kalau kau tidak suka dengannya," ujar Nayra yakin.


" Itu hanya pemikiranmu saja," ujar Raihan. Gengsi jika mengatakan cemburu pada Nayra.


" Aku bisa melihatnya Raihan," goda Nayra.


" Terserah," jawab Raihan ketus berusaha menyembunyikan isi hatinya.


" Raihan aku tidak akan tertarik kepadanya. Lagi pula aku sudah memilikimu. Dengan kehadiranmu di dalam hidupku. Itu sudah cukup untukku, aku tidak berminat untuk menyukai orang lain. Lagi pula kamu tau sendirikan. Kalau kamu adalah cinta pertama ku. Orang mengatakan cinta pertama anak perempuan adalah papanya. Tapi aku merasa kamu adalah cinta pertamaku. Kamu seperti papa untukku. Seorang kakak, sahabat. Yang selalu ada untukku," ujar Nayra dengan matanya berkaca-kaca.


" Aku tau itu," sahut Raihan bisa melihat ketulusan di mata Nayra. Nayra tersenyum.


" Oh iya aku punya sesuatu untuk kamu," ujar Nayra tiba-tiba mengingat sesuatu dan mengambil salah satu paper bag yang di letakkan di jok belakang.


" Apa ini?" tanya Raihan yang sudah meraih paper bag tersebut.


" buka saja," sahut Nayra dengan senyum sumringahnya. Raihan langsung membukanya dan melihat kotak Parfum yang biasa dia pakai.


" Kau membelikan ku hadiah dari uang orang lain?" tanya Raihan dengan nada dingin.


" Tidak, siapa bilang, ini uangku sendiri," sahut Nayra meyakinkan.

__ADS_1


" Kenapa kamu tidak percaya aku membeli barang semahal ini," sahut Nayra melihat keraguan di mata Raihan.


" Kalau begitu, kenapa harus membelinya?" tanya Raihan.


" Raihan, aku ingin membelinya, kenapa kamu jadi sewot, bukan uang kamu juga," sahut Nayra nada kesalnya.


" Kamu tidak suka?" tanya Nayra.


" Aku menyukainya," jawab Raihan Datar.


" Suka tapi, nadanya seperti itu," gerutu Nayra pelan. Meski pekan Raihan dapat mendengarnya. Raihan tersenyum melihat Nayra yang mengerucutkan mobilnya.


" Heyyy aku serius, aku sangat menyukainya," ujar Raihan mengelus pipi Nayra.


Nayra kembali menoleh ke arah Raihan dan tersenyum.


" Sungguh," tanya Nayra memastikan. Raihan mengangguk. Nayra kembali memeluk Raihan.


" Kalau begitu pakailah setiap hari!" ujar Nayra.


" Pasti, terima kasih, meski sama orang lain kamu masih mengingatku," ujar Raihan. Nayra mengangkat kepalanya dan melihat kembali ke arah Raihan.


Raihan dan Nayra saling menatap. Wajah mereka yang sangat dekat. Membuat Raihan harus bisa mencium bibir yang menjadi candu untuknya. Sangat asyik bukan jika berciuman di tengah macet. Tapi sayang hanya tinggal sedikit lagi agar bibir itu saling menyatu.


tin-tin tin tin tin tin tin tin.


Suara klakson mobil dari belakang sudah saling bertautan. Membuat Raihan kaget dan tidak jadi mencium Nayra. Ternyata macet sudah berakhir.


" Shhhh," Raihan berdesis kesal. Kala kala yang inginkannya gagal total.


" Sabar," teriak Raihan.


Nayra tersenyum melihat wajah kesal Raihan. Yang lagi dan lagi gagal melakukan aksinya.


*********


Di sisi lain. Di villa milik Keluarga Della. Malam ini memang mereka akan berkumpul di sana. Sekedar bakar-bakar dan yang lainnya. Mereka memilih di belakang Villa yang memang sangat cocok unt Barbeque.


Andini, Cecil, dan Luci sudah mulai melakukan ritual barbeque. Sementara Sony dan Angga duduk berhadapan sambil bermain catur dan pastinya. Sony tidak akan puas jika tidak ada minuman berarkohol.


Dara dan Carey di pinggir kolam renang dengan kaki mereka yang masuk kedalam kolam renang. Mereka berbicara. Tetapi tidak tau apa yang di bicarakan mereka.


Sementara Della, duduk sendiri dengan wajah murungnya. Beberapa kali dia melihat ke arah Angga yang sama sekali tidak mempedulikannya. Mungkin saja Angga masih marah kepadanya.


" Pasti Angga masih marah kepadaku, soal kemarin, dan Raihan, juga pasti tidak akan datang karena masalah itu,' batin Della.


Memang semenjak kejadian itu. Tidak Angga atau Raihan. Belum pernah di temui Della. Bahkan ke-2 Pria itu tidak mau menegurnya.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung.....๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2