Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 78


__ADS_3

Pusing memikirkan mamanya yang terus-menerus ikut campur dengan urusan sang kakak. Raina memutuskan untuk mencari tau sendiri apa sebenarnya tujuan dari mamanya.


Raina keluar dari ruangannya menuju di mana mobil yang biasa di naikinya terparkir. Saat di depan kantor. Raina melihat Raka yang berdiri di samping mobilnya yang biasa di setiri oleh Raka.


" Berikan kunci mobilnya," ujar Raina yang sudah berada di samping Raka dan mengadahkan tangannya keatas meminta kunci mobilnya.


" Ibu, mau kemana?" tanya Raka.


" Bukan urusan kamu. Kamu lupa kamu tidak bekerja untuk saya, kamu pake mobil lain saja. Jangan mobil ini," sahut Raina sinis.


" Tetapi apa Ibu akan menyetir sendiri?" tanya Raka yang meragukan Raina.


" Kamu pikir saya tidak bisa menyetir, sini jangan banyak protes," ujar Nayra lagi dengan ketus.


Dengan ragu Raka memberikan kunci mobil itu pada Raina yang bersikap cuek kepadanya. Raina pun melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Tetapi saat Raina ingin membuka pintu mobil. Tiba-tiba dia menghentikan tangannya. Dari raut wajahnya sebenarnya sangat terlihat jika Raina memang ragu untuk mengendarai mobil tetsebut.


Raina melihat ke arah Raka. Ada keinginan untuk menyuruh Raka menyetir. Tetapi hal itu tidak mungkin karena Raina sudah memecat Raka.


Raina pun mengambil keputusan meniggalkan tempat itu dan memilih mencari Taxi. Dari pada dia kenapa-napa mending dia menaiki Taxi.


" Bu Raina," panggil Raka heran melihat Raina.


" Seharusnya Bu Raina tidak mengetahui hal tadi," batin Raka.


Raka menarik napas lega dan kembali memasuki kantor. Dia juga tidak tau apa tujuannya lagi di kantor. Karena biasanya dia mendapat pekerjaan dari Raina jika tidak dari Raihan.


*********


Penerbangan Raihan, Nayra dan Alex berjalan dengan lancar, mereka sudah sampai di Indonesia pagi hari. Mereka ber-3 berdiri di pintu ke luar bandara. Seperti orang-orang lainnya yang menunggu jemputan atau tumpangan.


" Aku akan mengantarmu pulang!" ujar Raihan pada Nayra yang berdiri di sampingnya.


" Tidak perlu aku bisa pulang sendiri," sahut Nayra langsung menolak.


" Nara,"


" Plisss aku capek, aku mau istirahat, bisa kan," sahut Nayra yang memang lelah.


" Baiklah," sahut Raihan. Raihan pun membukakan pintu Taxi yang terparkir di depan mereka.


" Masuklah!" perintah Raihan. Nayra pun memasuki Taxi tersebut. Lalu Raihan menutup pintu Taxi nya. Raina hanya terlihat biasa saja. Dia masih bersikap cuek kepada Raihan.


Raihan memang harus banyak-banyak mengalah agar bisa kembali meluluhkan hati Nayra.

__ADS_1


" Ayo!" ajak Alex pada Raihan setelah kepergian Taxi Nayra. Raihan menjawab dengan anggukan dan mengikuti Alex.


**********


Taxi yang di tumpangi Raina tiba di rumahnya. Sebelum pulang dia menjemput Putri semata wayangnya terlebih dahulu.


" Makasih ya pak," ujar Raina pada supir Taxi. Sang supir hanya tersenyum. Lalu Raina dan Amira turun dari Taxi.


" Ma, kenapa mama yang jemput Amira, om Raka mana, dan kenapa kita harus naik Taxi mobil mama ke mana?" Amira terus bertanya karena memang hal itu tidak biasa untuknya.


" Om Raka lagi sibuk," jawab Raina dengan singkat.


" Jika sibuk, bukannya mama juga seharusnya bisa menyuruh Om Raka jemput Amira, kan biasanya juga Om Raka sibuk," ujar Amira lagi yang ingin tau banyak.


" Sayang sudah ya, sekarang kita masuk, mama harus kembali kekantor," ujar Amira menegaskan, menggandeng tangan Amira masuk kedalam istana itu.


Raina dan Amira melewati ruang tamu yang sudah ada Zira duduk sambil membaca koran.


" Raina!" panggil Zira. Raina menghela napasnya.


" Ada apa ma?" tanya Raina sangat malas bicara dengan mamanya.


" Ada yang ingin mama tanyakan sama kamu," ujar Zira. Raina membuang napasnya perlahan kedepan.


" Sayang kamu ke atas duluan ya, nanti mama nyusul," ujar Raina.


" Dada sayang," sahut Zira tersenyum.


" Ada apa ma?" tanya Raina.


" Kamu memecat Raka?" tanya Zira memastikan.


" Jadi dia langsung melaporkan hal itu," batin Raina mendengus.


" Lagi pula dia bekerja bukan di Adverb. Tetapi sama mama. Jadi tidak ada pengaruhnya. Dia ku pecat atau tidak," jawab Raina ketus.


" Itu sama saja. Jika kamu memecatnya siapa yang akan menyetiri kamu dan membantu keperluan kamu?" tanya Zira


" Sudahlah ma. Aku tidak ingin bekerja dengan orang yang tidak bisa menjaga privasi. Lagi pula pemecatan hanya perkataan saja. Dia juga akan tetap ada di sana kan," ujar Raina dengan sinis.


" Ada apa Raina, kamu ingin tau apa sebenarnya?" tanya Zira.


" Tidak ada, aku tidak perlu tau apa-apa, aku cuma pengen kasih mama saran. Jika mama melanjutkan semua yang ada di pikiran mama. Mama harus memikirkan perasaan kak Raihan dan juga Nayra," ujar Raina mengingatkan.


" Kamu tidak tau apa-apa Raina, jadi jangan mencampurinya," sahut Zira. Raina tersenyum tipis pada mamanya.

__ADS_1


" Iya mama benar, aku tidak tau apa-apa, mama yang tau semuanya. Bahkan mama lebih tau dari pada kak Raihan. Terus bagaimana ma jika kak Raihan tau, kalau mama yang sudah membiayai sekolah Nayra dari dia kecil sampai sekarang. Bagaimana jika kak Raihan tau. Kalau mama yang mengenalnya terlebih dahulu," ujar Raina dengan wajah serius.


Zira yang mendengarnya berusaha terlihat santai. Meski dia juga mengkhawatirkan. Jika Raina akan bergerak untuk hal itu.


Sebelumnya Raka memang sudah memberi tahunya jika Raina melihat data-data itu. Zira sedikit khawatir karena Raina juga salah satu orang yang sangat penasaran.


" Kenapa mama diam?" tanya Raina melihat mamanya dengan penuh kecurigaan.


" Jadi mama sudah kenal dengan Nara terlebih dahulu," sahut suara lantang tiba-tiba.


Raina dan Zira sama-sama melihat sang pemilik suara tersebut yang ternyata Raihan yang berdiri di depan pintu. Raihan pun dengan wajahnya yang dingin melangkahkan kakinya mendekati adik dan mamanya.


" Raihan kamu sudah pulang, kemana aja kamu?" tanya Zira mencoba mengalihkan pembicaraan.


Raihan melihat ke bawah dan melihat foto-foto yang di atas meja foto dia dan Nayra saat berciuman di Cappodica. Raihan melihatnya mendengus.


" Mama bahkan sudah tau. Tetapi malah bertanya lagi," jawab Raihan menyindir. Zira melihat foto yang di depannya terbuka dan menutupnya santai.


" Mama belum menjawab pertanyaan Raihan. Mama mengenal Nara terlebih dahulu?" tanya Raihan memastikan.


" Iya mama mengenalnya terlebih dahulu di bandingkan kamu. Mama membiayai sekolahnya karena dia murid pintar. Jadi mama memberinya beasiswa. Hanya sebatas itu. Wajarkan jika murid pintar dan berprestasi di berikan beasiswa. Mama juga tidak tau kalau pada akhirnya setelah dia remaja. Kamu bertemu dengannya. Karena sesungguhnya mama juga tidak terlalu mengenalnya. Karena yang mendapat beasiswa bukan cuma Nayra tetapi yang lain juga. Nayra mendapat ke istimewakan karena kamu mengenalkannya kepada mama sebagai pacar kamu. Jadi mama berencana melanjutkan beasiswa nya sampai perguruan tinggi," jelas Zira dengan santai.


" Bohong, jika hanya karena beasiswa. Mama tidak mungkin sampai mengawasi Nayra selama bertahun-tahun, bahkan ikut campur masalah pribadinya," batin Raina yang tidak percaya dengan mamanya.


" Hanya itu saja. Tidak ada yang lain. Jika kalian tidak percaya. Tanyakan pada pihak sekolahnya. Dari Dia SD, SMP sampai dia SMA," ujar Zira menantang. Dia bisa melihat anak kembarnya itu tidak percaya dengan kata-kata nya.


" Lalu kenapa mama harus ikut campur dalam hubungan Raihan dan juga Nara?" tanya Raihan.


" Sebagai penanggung jawab dari anak punya kepintaran. Mama harus menjaga semua itu. Termasuk nama baik. Mama hanya tidak ingin Nayra terlalu sibuk pacaran dengan usianya yang masih sangat muda yang pada akhirnya dia akan ketinggalan dalam pendidikan. Tidak mungkinkan gara-gara kamu dia kehilangan beasiswanya," jawab Zira dengan tenang.


" Hah, mama benar-benar aneh. Jika bersama Raihan dia akan mengatakan Nayra tidak ingin terganggu. Begitu mama bersama Nayra. Mama akan mengatakan Raihan tidak boleh terganggu dan harus fokus," batin Raina menurutnya perkataan mamanya berbelit-belit.


" Ada yang salah Raihan?" tanya Zira melirik ke arah Raina yang masih meragukan namannya.


" Tetap saja itu nggak adil untuk Raihan, seharusnya mama tidak menyangkut pautkan hubungan Raihan dan Nayra dalam masalah itu," sahut Raihan.


Zira berdiri dan mengambil foto yang di atas meja dan memilih pergi dari pada anaknya terus mengintimidasinya.


" hmmm.. Kalian istirahatlah!" ujar Zira pada Raina dan Raihan dan pergi dari ke-2 anaknya tersebut.


" Kalau begitu mama hentikan semuanya," sahut Raihan menghentikan langkah Zira.


" Nara sudah lulus kuliah. Mama hentikan semuanya. Tanggung jawab mama juga sudah selesai bukan. Raihan yang akan bertanggung jawab atas dirinya mulai sekarang," Raihan melanjutkan kata-katanya dengan serius.


Zira menelan salavinanya dan hanya melirik kebelakang. Zira pun tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


" Ma, Raihan tidak akan biarkan mama mengambil alih hidup Nara," teriak Raihan yang sama sekali tidak di respon oleh Zira.


...🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung......🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2