
Raina pulang kerumahnya setelah di antar Pak Yatno supir keluarga mereka. Karena Raka memang tidak lagi bekerja untuknya. Jadi Raina harus memakai Pak Yatno untuk sementara.
Raina duduk di ruang tamu. Asisten rumah tangganya datang membawakan orens jus untuknya.
" Silahkan Bu," ujar Artnya.
" Makasih," jawab Raina memijat kepalanya. Raina melihat rumahnya sangat sepi. Putri semata wayangnya juga tidak terlihat.
" Hmmm, Bi Amira mana? tanya Raina.
" Ikut sama Bapak dan Ibu Zira," jawab art nya.
" Kemana?"
" Ke Bandung Bu. Pak Addrian katanya lagi mengunjungi temannya. Jadi Bu Zira sama Amira ikut menemani," jelas Art.
" Ohhh, ya sudah," sahut Raina.
" Saya permisi Bu," ujar Art tersebut. Raina hanya mengangguk. Raina meneguk jus tersebut.
Selesai meneguknya. Raina seperti memikirkan sesuatu, dia mengingat sesuatu. Raina memutuskan pergi dari ruang tamu dan menaiki anak tangga.
Raina ternyata menuju kamar ke-2 orang tuanya. Raina melihat di sekelilingnya. Tidak ada orang sama sekali.
Raina memegang kenopi pintu dan memutuskan masuk. Dia bahkan seperti pencuri yang masuk dengan mengendap-ngendap.
" Aku harus menemukan sesuatu," ujarnya dengan yakin.
Raina mulai membongkar kamar orang tuanya. Dia mulai mencari-cari di dalam laci, lemari dan apapun yang menurutnya tempat sesuatu.
Raina sekarang sudah duduk di lantai, membuka berkas-berkas keluarganya. Dengan beberapa map berlainan warna.
" Ini semua hanya tentang bisnis," ujarnya yang merasa tidak mendapatkan apa-apa. Dia sudah sangat lelah membolak-balikan beberapa dokumen penting itu.
" Sia-sia, sudah sebanyak ini di buka, Tidak ada satupun mengenai Nayra. Bahkan mama juga tidak menyimpan data beasiswa Nayra. Bukannya seharusnya ada ya," gerutu Raina yang terus mengoceh.
Raina kembali menyusun berkas-berkas yang sudah di bongkarinya. Saat Raina ingin mengangkat dari lantai. Raina yang tertunduk melihat ada sesuatu di dalam bawah kolong tempat tidur orang tuanya.
" Apa itu," ujarnya penasaran. Raina pun tengkurap. Demi mendapatkan kotak itu. Raina harus masuk kekolong tempat tidur. Menggeserkan badannya dengan mengesot agar mendapatkan apa yang di inginkan.
Setelah bersusah payah. Raina berhasil mengeluarkan kotak tersebut. Keringatnya sudah membasahi wajahnya.
" Hahhh, susah sekali," keluhnya dengan napas sesak.
" Apa ini," Raina bingung melihat kotak persegi yang berwarna coklat itu. Raina bersilah kaki dan membuka kotak itu.
Didalam kotak itu banyak foto-foto bayi lucu. Bayi yang masih merah.
__ADS_1
" Siapa ini?" tanyanya bingung.
Raina Memegang salah satu foto bayi merah itu. Raina kembali melihat beberapa foto bayi yang sama tetapi sudah lumayan besar.
" Ini bukannya Nayra," tebaknya yang melihat foto perkembangan bayi itu yang semakin besar semakin mirip dengan Nayra. Foto dari bayi merah, sampai beberapa bulan dan sampai sudah beberapa tahun.
" Kenapa mama bisa memiliki foto-foto bayi Nayra. Bahkan mama memilikinya sampai di berusia 5 tahun," ujarnya lagi semakin bingung dengan apa yang dilihatnya.
Raina juga melihat Nayra yang berfoto di depan sekolah TK lengkap dengan seragamnya. Raina memperhatikan detail dengan background gedung TK yang mewah itu.
" Dimana ini, ini sepertinya bukan di Indonesia. Jika di lihat dari bangunannya," Ujarnya memastikan.
Raina pun mengambil ponselya dan mefotokan Nayra dengan background gedung sekolah tersebut. Dengan cepat Raina mengirimnya ke pada seseorang.
Raina kembali membongkar kotak itu dan melihat album foto yang seperti foto perkembangan Nayra sampai dia berusia 5 tahun.
" Dia memang dari dulu sangat cantik, menggemaskan. Pantas saja kak Raihan sangat mencintainya," ujar Raina tersenyum memuji kecantikan Nayra yang terlihat di album foto dengan pakaian yang lucu-lucu membuat Nayra semakin lucu.
Tiba-tiba di dalam album itu terdapat kertas yang berlipat.
" Apa ini," gumamnya penasaran dan membuka lipatan kertas itu. Yang berupa surat kelahiran dari rumah sakit.
" Nara Raqilla Willson," gumanya menyebutkan Nama dari bayi yang lahir di rumah sakit itu.
" Ini punya siapa. Bukannya Nara itu. Panggilan yang di sebut oleh Raihan. Apa itu nama aslinya," ujarnya yang memang tidak mengetahui nama asli Nayra.
" Mama sebagai penanggung jawab kelahirannya. Dan sejak kapan Nayra lahir di Australia. Semua yang ada di kotak ini berhubungan dengan Nayra," Raina semakin bingung.
Tanpa berpikir panjang, Raina kembali mengambil foto bukti kelahiran dari rumah sakit. Di Australia yang merupakan mamanya sebagai penganggung jawabnya.
Setelah merasa cukup. Raina kembali menyusun dengan rapi. Dan buru-buru keluar dari kamar itu. Raina menarik napasnya dengan lega. Sebelum tangannya memegang kenopi pintu kamar ke-2 orang tuanya.
Kemudian dia kembali membuka pintu kamar itu. Melihat di kiri dan kanannya. Lalu keluar dengan santai. Dia memang sangat waspada memasuki kamar orangtuanya. Jadi demi rasa penasarannya Raina harus seperti pencuri.
**********
Malam hari Raina sangat sibuk di kamarnya. Raina duduk di ruang kerjanya begitu serius dengan beberapa data di mejanya. Raina tadi menyuruh orang untuk meminta beberapa data pribadi Nayra yang masih ada di kantor.
" Kenapa nama Nayra beda dengan nama yang kulihat tadi. Nama di sini Nayra Ariyani Putri Sementara yang tadi namanya Nara Raqilla Wilson. Tanggal/ bulan lahir sama. Tetapi tempat lahir berbeda. Indonesia dan Australia. Nayra bahkan memiliki nama belakang Wilson. Sementara ke-2 orang tuanya tidak memiliki nama itu," gerutunya bingung setelah membandingkan beberapa data yang sudah di kumpulkannya.
Ting pesan wa masuk ke ponsel Raina.
" New York, jadi TK itu berada di New York," ujarnya kaget dengan tempat Nayra berada.
Beberapa fotopun kembali masuk ke dalam wa Raina. Foto-foto Nayra sewaktu kecil yang memang berada di New York sampai usia foto itu 5 tahun. Tetapi foto-foto itu hanya Nayra dan beberapa teman-temanmya. Tetapi tidak ada foto bersama ke-2 orang tuanya.
Mata Raina terbelalak kaget. Saat melihat mendapatkan informasi lagi. Bahwa mamanya ada di salah satu foto itu. Dan melihat semua data pembiayaan Nayra yang juga di wakili dengan nama mamanya.
__ADS_1
Raina semakin tidak mengerti. Selain pembiayaan rumah sakit terbesar di Australia yang juga di wakili mamanya. Juga biaya semua kebutuhan Nayra dari yang terkecil sampai sebesar mungkin juga di wakilkan mamanya.
" Astaga ada apa ini sebenarnya. Mama bahkan tau Nayra dari dia lahir. Bahkan nama sewaktu di rumah sakit. Berbeda dengan nama Nayra yang di pakai saat SD sampai sekarang. Mama mempunyai semua foto Nayra dari lahir. Juga ada mama di foto itu. Apa Nayra sudah mengenal mama dari dia 5 tahun. Apa sebenarnya hubungan mama dengan Nayra," ujarnya memijat pelepisnya.
" Nayra lahir di Australia. Dan tinggal di New York sampai 5 tahun. Sepertinya kak Raihan tidak tau hal ini. Jika kak Raihan tau pasti dia akan bercerita kepadaku. Mama memang lebih mengenal Nayra. Bahkan dari masih lahir. Semuanya berkaitan dengan mama. Pantas saja mama juga membiayai membiayai sekolah Nayra dari SD sampai perguruan tinggi dan semua itu adalah pilihan mama," ujarnya dengan berpikir keras.
" Mama sangat berhubungan dengan Nayra. Lalu apa hubungan mama. Apa orang tua Nayra yang sekarang bukan orang tuanya. Wilson Nayra memiliki nama belakang yang tidak di miliki orang tuanya. Aku yakin mama pasti menyembunyikan sesuatu. Semua ini jelas ada hubungannya. Dan mama jelas sangat terlibat," ujarnya yang semakin penasaran, berusaha mencari kesimpulan sendiri.
Semua dokumen yang di dapatkan Raina membuatnya semakin bingung. Mamanya yang penuh misteri.
kerekk
suara bukaan pintu mengagetkan Raina. Raina langsung melihat ke arah pintu dan ternyata melihat Amira.
" Mama," panggil Amira berlari pada Raina. Dan langsung menelungkupkan kepalanya di paha mamanya. Raina tersenyum. Dan menggendong Amira duduk di pangkuannya.
" Sayang, sudah pulang,"' ujar Raina mengusap rambut Amira dengan lembut.
" Iya ma, mama lagi ngapain?" tanya Amira kepo. Raina langsung menyusun kembali berkas-berkas di mejanya. Mengumpulkan menjadi satu.
" Tidak ada. Hanya mengerjakan beberapa pekerjaan," jawab Amira.
" Sudah selesai?" tanya Amira mendongakkan kepalanya ke atas melihat sang mama.
" Iya sayang sudah selesai," jawab Raina memeluk Amira erat.
" Ma, apa Om Raka tidak akan menjemput Amira lagi?" tanya Amira dengan wajahnya yang mulai murung.
Raina mendengarnya terdiam. Tidak tau kenapa anaknya sepertinya menjadi sangat sedih ketika Raka tidak menjemputnya.
" Om Raka sedang sibuk," jawab Nayra.
" Lalu kapan Om Raka tidak sibuk. Bukannya Om Raka tidak menjemput Amira. Mama akan kesulitan untuk menjemput Amira," ujar Amira.
" Tidak apa-apa, biar mama yang jemput kamu setiap jari ya," ujar Raina.
" Itu berarti Om Raka tidak akan pernah menjemput Amira lagi?" tanya Amira dengan raut wajahnya yang sedih.
Raina hanya diam tidak mampu menjawab pertanyaan Amira. Amira pun dengan tidak bersemangat turun dari pangkuan Raina.
" Amira mau tidur dulu," ujar Amira berjalan langsung ke luar dari ruang kerja Raina.
Amira yang tadinya saat memasuki ruangannya dengan ceria. Sekarang Amira pergi dengan kesedihannya.
" Maafin mama sayang," batin Raina merasa bersalah. Telah mengambil keceriaan putrinya.
...🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1