
Di supermarket 2 wanita itu masih tetap berbelanja dan mungkin sudah entah jam berapa. Tapi sepertinya akan selesai. Karena keranjang mereka sudah penuh.
Saat Nayra memutar balikkan troli keranjang belanjaannya tiba-tiba dari arahan berlawanan seorang anak kecil berlari dan langsung perut anak kecil itu menabrak keranjang belanja. Nayra dan membuat anak kecil itu terjatuh.
" Aaaaaa," keluh sang anak laki-laki yang sudah terduduk di lantai dengan memegang perutnya.
" Astaga," sahut Nayra yang kaget dan langsung menghampiri anak kecil tersebut. Yang mana anak kecil itu langsung menangis. Carey, Dion, dan Raihan juga kaget dan ikut menghampiri Nayra
" Ya ampun dek, kamu tidak apa-apa?" tanya Nayra yang sudah berjongkok di depan anak kecil itu.
" Eeeeeehhh, sakit, sakit," anak kecil itu menangis dengan menangis dengan mengucek matanya. Yang kesakitan dan orang-orang yang ada di supermarket juga melihat ke arah mereka.
" Dek maaf, Tante tidak sengaja," ujar Nayra merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada anak itu.
" Sakit, sakit, perut aku sakit," keluh sang anak yang terus merengek dan membuat Nayra semakin panik.
" Sayang kenapa?" tanya Raihan.
" Tidak sengaja ketabrak, troli aku," jawab Nayra mendongakkan kepalanya ke atas melihat suaminya.
" Ya ampun," sahut Raihan yang juga panik. Apa lagi anak itu terus saja merengek.
" Mana orang tuanya?" tanya Dion.
" Aku juga tidak tau, tiba-tiba dia lari sendirian dan tertabrak Nayra," sahut Carey yang menjelaskan kronologinya dengan singkat.
" Sayang, maafin Tante ya, Tante benar-benar tidak sengaja," ujar Nayra merasa bersalah, anak itu tetap merengek.
" Ya ampun Diki," tiba-tiba terdengar seorang wanita yang menghampiri anak itu yang ternyata wanita itu adalah Karen.
" Diki kamu kenapa?" tanya Karen yang sudah berjongkok mengecek ke adaan anak itu dan belum saling melihat dengan Nayra.
" Maaf kan saya ini salah saya," sahut Nayra merasa bersalah melihat kearah wanita yang panik itu dan juga Karen pun akhirnya melihatnya.
" Karen," lirih Nayra.
" Dia, bukannya dia temannya Angga, kenapa mereka ada di sini," batin Karen yang mengenali Nayra dan Karen juga melihat Dion, Carey dan Raihan yang juga di kenalnya.
" Dia bukannya pacar Angga," batin Raihan mengingat siapa Karen.
" Karen, dia kan pacar Angga," batin Dion lagi.
__ADS_1
" Kenapa dia ada di sini," batin Carey.
" Maaf saya tidak sengaja menabrak dia," sahut Nayra yang merasa bersalah.
" Oh, ya sudah tidak apa-apa," sahut Karen yang tampaknya gugup dan seketika panik.
" Mama sakit, sakit mama," ujar sang anak tiba-tiba yang mengeluh kesakitan kepada Karen.
Mendengar kata mama membuat, Nayra, Carey, Raihan dan Dion kaget dan bahkan Karen seketika menjadi panik.
" Mama, apa maksudnya," batin Carey yang kebingungan. Bahkan mereka saling melihat sangat terkejut mendengar anak laki-laki tersebut memanggil wanita yang mereka tau pacar Angga itu.
" Kenapa anak itu memanggil Karen dengan sebutan Angga," batin Dion yang kebingungan.
" Kok mama apa itu anaknya, apa Karen sudah pernah menikah," batin Raihan yang bertanya-tanya.
" Kenapa anak kecil ini memanggil mama, aneh sekali," batin Nayra yang wajahnya penuh tanda tanya.
" Gawat, kenapa Diki harus memanggilku mama, bahkan di depan mereka. Ini bisa berabe," batin Karen yang kepanikan.
" Mama sakit," rengek anak itu lagi.
" Ya sudah ayo kita pulang," sahut Karen dengan cepat.
" Ya sudah ayo cepat, biar kita obati, jangan terus menangis," sahut Karen yang langsung berdiri dengan membantu sang anak yang juga Carey membantu Nayra.
" Hmmm, maaf, ya semuanya pasti salah Diki," sahut Karen yang sudah gugup.
" Tidak apa-apa. Aku juga yang salah. Karena tidak melihat. Aku juga yang ceroboh dan tidak hati-hati," sahut Nayra yang masih merasa bersalah.
" Ma, ayo kita pulang cepat. Papa pasti sudah nungguin. Diki mau bilang papa kalau sakit banget," ujar Diki yang terus merengek. Mendengar ucapan papa membuat mereka semakin panik lagi dan Karen semakin panik.
" Sial, kenapa Diki malah bicara yang tidak-tidak lagi," batin Karen. " Bagaimana ini. Mereka pasti akan berpikiran buruk," batin Karen yang semakin kepanikan.
" Tidak mungkinkan Karen sudah menikah," batin Nayra menerka-nerka.
" Tadi mama dan sekarang papa, apa dia sebenarnya sudah berumah tangga," batin Dion yang kebingungan.
" Hmm. Iya papanya dia. Kebetulan kakak saya adalah papanya dan dia suka memanggil saya mama. Karena terlalu dekat," sahut Karen menjelaskan dengan terbata-bata tanpa ada yang bertanya padanya.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Nayra mengangguk-angguk saja.
__ADS_1
Antara percaya atau tidak. Dan sepertinya dari wajah-wajah mereka. Mereka tidak ada yang percaya dengan kata-kata yang tidak masuk akal dari Karen.
" Gawat, bagaimana jika teman-temannya Angga curiga. Tidak mereka tidak akan curiga," batin Karen yang berusaha tenang.
" Hmm, ya sudah. Kalau begitu kami pulang dulu," sahut Karen. Yang lainnya mengangguk dan Karen yang tidak ingin berlama-lama langsung pergi sebelum anak kecil itu terlalu banyak bicara dan mengatakan hal yang tidak-tidak lagi.
" Apa itu anak dia?" tanya Raihan.
" Sayang kan dia sudah bilang itu Diki, anak dari kakaknya, dan anak itu memanggilnya mama," sahut Nayra yang tampaknya percaya-percaya saja dengan penjelasan itu. Walau merasa ada yang aneh.
" Tapi kenapa aku merasa aneh ya," sahut Carey merasa ada yang tidak beres.
" Sama, aku juga merasakan ada yang tidak beres," sahut Dion yang setuju dengan istrinya.
" Hmmm, sudah lah. Ngapain sih kita harus mengurusi orang. Sudahlah mending sekarang kita bayar belanjaan ini sudah siang," sahut Nayra yang tampaknya tidak ingin ambil pusing.
" Iya sudah ayo," sahut Raihan yang. juga setuju-setuju saja. Carey dan Dion pun mengangguk dan mengikut untuk menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.
*********
Karen dan Diki pun akhirnya keluar dari supermarket dengan wajah Karen yang bisa di katakan sangat panik.
" Ayo cepat masuk!" ujar Karen membukakan pintu mobil untuk Diki di belakang dan Diki pun masuk. Lalu Karen pun dengan cepat masuk. Ternyata ada seorang Pria yang duduk di bangku pengemudi.
" Sudah selesai belanjanya?" tanya Pria itu.
" Sudah mas," jawab Karen.
" Papa perut Diki sakit," rengek Diki mengeluhkan keadaannya kepada papanya. Sampai Pria itu melihat kebelakang melihat anak kecil yang masih menangis itu.
" Kok bisa?" tanya Pria itu.
" Tadi tidak sengaja jatuh," sahut Karen.
" Tapi sakit mah," sahut Diki yang kembali mengeluh.
" Diki, ya sudah ya. Kita obati. Sekarang kita pulang dulu," sahut Karen yang tampaknya kesal.
" Ya sudah-sudah Diki. Nanti mama dan papa akan bawa kamu berobat. Jangan nangis lagi ya," ujar Dion.
" Iya pa," sahut Diki.
__ADS_1
" Semoga saja mereka tidak berpikiran yang aneh-aneh," batin Karen yang masih tampak pucat.
Bersambung