
Carey dan Dion masih tertidur dalam keadaan polos dan hanya selimut yang menutupi tubuh ke-2 pasangan yang melakukan hubungan wajib itu. Dion masih setia memeluk Carey.
Tiba-tiba Carey terbangun. Carey membuka matanya perlahan. Carey tersenyum saat melihat keadaannya. Kebahagian yang sepertinya tidak bisa di ucapkannya dengan kata-kata.
Carey mengangkat tangan Dion perlahan dari tubuhnya. Agar dia bisa bergerak. Dia tidak ingin membangunkan Dion yang berbaring lurus itu.
Saat tangan itu terangkat, Carey menggerakkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya. Dia melihat ponselnya sudah jam 4 subuh. Dia tidur tidak lama perang-perangngan dengan suaminya baru 2 jam lalu selesai. Dan sekarang dia harus terbangun.
Carey menoleh ke arah Dion lagi dan lagi dia akan tersenyum. Benar kata Dion dia akan tenang setelah itu dan memang kenyataan dia sangat tenang setelah mendapat asupan dari suaminya. Membawanya ke surga dunia yang sesungguhnya.
Carey menggeserkan badannya mendekati Dion. Ketika wajah Carey tepat berada di dekat wajah Dion. Dion langsung membuka matanya dan kaget saat wajah itu berada di depannya bahkan dia yang terlentang menahan napasnya.
" Aku belum mencintaimu," ucap Dion dengan menahan napasnya kaget dengan wajah Carey di depannya.
" Aku tau. Aku juga belum," jawab Carey dengan santai.
" Lalu apa yang kau lakukan?" tanya Dion.
" Aku ingin mengambil pakaianku," jawab Carey mengarahkan kepalanya ke samping Dion di bawah tempat tidur pakaiannya yang saat di buka di lempar sembarang.
" Kalau tidak keberatan tolong ambilkan," ucap Carey. Dion menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Kenapa tidak bilang dari tadi," jawab Dion ketus memiringkan tubuhnya dan mengambil baju tidur Carey.
" Nih," ucap Dion.
" Makasih!" sahut Carey yang sudah duduk dan langsung memaki pakaiannya. Sementara Dion hanya meliriknya kesal.
" Mau kemana?" tanya Dion ketika melihat Carey ingin bangkit dari tempat tidur.
" Mau mandi," jawab Carey.
" Sepagi ini," sahut Dion kaget.
" Aku harus sholat, waktunya sebentar lagi," jawab Carey.
__ADS_1
" Subuh masih lama," ujar Dion.
" Bukan subuh tapi tahajud, sebentar lagi masuk subuh. Jadi aku harus buru-buru," jelas Carey. Dion jadi terdiam. Dan Carey langsung bergerak kekamar mandi.
" Apa dia tidak capek apa. Apa yang kau pikirkan Dion. Bisa-bisanya kau memikirkan. Carey ingin menciummu. Kau memang tidak bisa mengendalikan dirimu jika bersamanya," gerutu Dion malu di depan Carey.
Dia mengira Carey mendekatinya karena ingin menciumnya. Eh tau-tau hanya ingin mengambil pakaiannya. Dion sudah kepedean kan biasanya gitu. Kalau malam pertama istri akan mencium suaminya saat bangun terlebih dahulu. Tetapi sepertinya Dion kebanyakan mengkhayal.
Ternyata Dion tidak tidur setelah Carey bangun dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan pasti masih polos di balik selimut. Tidak berapa lama Carey keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Carey juga memakai pakaian tidak terlalu seksi.
Tetapi tetap saja mata Dion tidak lepas dari tubuh yang menurutnya sangat indah. Jelas dia sudah melihat tanpa sehelai benangpun. Dion tersenyum tipis saat harus mengingat percintaannya dengan istrinya harus menempel di otaknya.
Carey sudah memakai mukena dan dia juga melaksanakan kewajibannya untuk sholat. Sementara Dion lebih memilih untuk menonton dari pada menjadi imam untuk istrinya.
Dion menoleh ke arah sampingnya dan melihat bercak darah. Dion tersenyum melihat darah itu. Dia sangat bangga menjadi orang yang pertama menyentuh Carey. Dia telah menjadi Pria yang sangat beruntung.
Setelah selesai sholat tahajud, mengisi kekosongannya sebelum subuh. Carey membaca Alquran dan suara indah itu harus di dengar Dion.
Membuat hatinya tenang. Dia sellau mengingat kata mamanya. Jika Carey sudah terpahat sempurna baru menjadi istrinya. Pastilah beruntung menikah dengannya.
Dion langsung mengalihkan pandangannya. Seakan gengsi dengan Carey. Padahal sedari tadi matanya tidak lepas menatap Carey.
" Kami tidak mandi?" tanya Carey sambil membuka mukenanya.
" Masih dingin," jawab Dion dengan suara dinginnya sedingin pagi ini.
" Aku akan siapkan air hangat," sahut Carey.
" Tidak usah, nanti saja aku mandi," ujar Dion.
" Baiklah," jawab Carey, " kamu mau makan?" tanya Carey lagi yang sangat lembut. Bahkan seakan melupakan masalahnya dengan Dion.
Dion pasti merindukan perhatian Carey yang selalu di tolaknya. Dan di acuhkan ya saat di rumah dan ketika istrinya tidak ada di rumah baru merindukannya.
" Dion," tegur Carey yang melihat Dion bingung.
__ADS_1
" Nanti saja," sahut Dion.
" Baiklah, kalau begitu," sahut Carey meletakkan mukenanya di tempatnya.
" Carey!" panggil Dion
" Kenapa?" tanya Carey melihat Dion.
" Kemarilah!" ajak Dion. Hal itu membuat Carey bingung suara lembut Dion yang memanggilnya membuatnya bingung dan malah dek-dekan.
" Ada apa?" tanya Carey gugup.
" Kemari!" ajak Dion menepuk di sampingnya agar Carey duduk di sebelahnya. Carey pun yang benar-benar gugup. Akhirnya mengangguk. Dan menghampiri ranjang mendekati suaminya.
Dion menghadap Carey yang sedang bersilah kaki. Dion mendekatkan wajahnya, menatap Carey dalam-dalam dan bahkan memebelai rambut Carey meletakkan di balik telinganya.
Sentuhan Dion membuat Carey jantungan. Dia semakin gugup. Saat beraksi di depan Dion. Memang tadi malam tubuhnya bahkan menyatu dengan Dion. Tetapi tetap saja dia sangat panik.
" Apa dia ingin melakukannya lagi," batin Carey yang sangat gugup. Yang tadi malam lelah dan sakitnya belum hilang. Masa iya suaminya menginginkan lagi.
" Aku tau pernikahan kita memang terpaksa. Aku menikah denganmu dan suka dan juga cinta. Sama sepertimu yang menikah denganku tanpa perasaan. Tetapi kami menjalankan tugas mu sebagai istri, menyiapkan kebutuhanku dan semuanya," ucap Dion. Carey mengangguk saja tidak mengerti maksud Dion.
Tangan Dion memegang lembut pipi Carey membuat Carey bisa-bisa berhenti bernapas saat itu juga.
" Carey, mari membuka hati-hati sama-sama," ucap Dion tiba-tiba. Sontak hal itu membuat Carey kaget. Bahkan tidak percaya jika Dion yang memiliki gengsi setinggi menara Eiffel bisa mengatakan hal itu.
" Aku ingin membuka hatiku untukmu dan aku juga berharap kau membuka hati untukku. Mari kita bina rumah tangga kita. Kita mulai semuanya dari awal. Sampai kita benar-benar saling mencintai," ucap Dion.
" Carey sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Bahkan air matanya menetes melihat ketulusan Dion. Dion langsung menyeka air mata itu.
" Aku ingin memulai semuanya. Aku ingin bertanggung jawab sebagai suamimu," ucap Dion.
" Kamu mau kan?" tanya Dion. Carey mengangug- angguk.
Bicara tidak sanggup. Jadi dia hanya bisa mengangguk. Jelas dia sangat setuju. Jika harus membuka hati untuk Dion. Walau hati itu sudah terbuka di awalnya. Tetapi permintaan Dion membuatnya sangat bahagia.
__ADS_1
Bersambung.