Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 184


__ADS_3

Setelah melihat kepergian Raka. Mata Raina tertuju pada mobil yang ada di ujung jalan. Raina melihat mobil itu pergi.


" Aku seperti mengenali mobil itu," batinnya tidak asing dengan mobil berwarna merah itu.


" Itu mobil yang pernah aku lihat di rumah Raka. Mobil Saras, ya itu mobil Saras, kenapa dia ada di sini. Apa dia ingin menemui Raka. Lalu kenapa dia mengikuti Raka," ujar Raina penuh kebingungan.


Tanpa ingin memikirkan hal yang lain-lain. Raina pun memasuki mobil.


" Pak jalan!" perintah Raina.


" Baik Bu," jawab Supir.


" Aku sangat penasaran dengan Saras, apa yang sebenarnya di inginkannya," batin Raina yang sangat tertarik untuk menyelidiki Saras.


Raina tidak mengikuti mobil Saras melainkan Raina pergi ke rumah Raka. Mengetahui Raka yang ke rumah sakit dan Saras yang mengikuti Raka, jadi Raina memilih untuk pergi ke rumah Raka seperti ingin mencari sesuatu.


" Tunggu sebentar Pak!" perintah Raina pada supirnya.


" Baik Bu," jawab sang supir.


Raina pun membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil. Dengan langkah cepat Raina menghampiri rumah Raka. Raina memegang kenopi pintu yang ternyata tidak di kunci.


" Dasar ceroboh," batin Raina melihat pintu rumah itu tidak di kunci, " bagaimana jika ada yang masuk apa dia tidak memikirkan hal itu," lanjutnya yang melihat kecerobohan dari Raka.


Tidak ingin berpikir panjang, Raina pun langsung memasuki rumah tersebut. Raina langsung menuju ruang tamu.


Hampir seminggu lebih Raina tidak kerumah itu. Terakhir kali Raina kerumah itu. Sewaktu dia melihat Raka dan Saras berduaan di dalam kamar.


Ternyata di ruang tamu. Raina melihat dokumen yang ingin di ambilnya sewaktu datang kerumah Raka. Raina berjongkok dan mengambil dokumen tersebut.


" Jadi benar kata Raka. Jika dia ingin mengantarkan dokumen ini kekantor," gumamnya membenarkan perkataan Raka.


" Benar juga. Jika Saras berada di rumah Raka dari malam hari tidak mungkin mobilnya berada di halaman rumah. Pasti mobilnya berada di garasi. Berarti memang benar Saras datang pagi itu," gumanya lagi yang terus membenarkan perkataan Raka.


" Apa Saras sangat menyukai Raka," tebak Raina.

__ADS_1


Tanpa ambil pusing Raina pun menaiki anak tangga. Dengan penuh keberanian Raina memasuki kamar Raka. Kamar yang menyakitkan untuknya. Di saat dia melihat Raka dan Saras di atas ranjang bersamaan.


Tetapi Raina terlihat tenang saat memasuki kamar itu, tidak ada kemarahan di dalam wajahnya. Dia lebih santai seperti tidak terjadi apa-apa.


Dengan langkah perlahan Raina menelusuri kamar itu. Raina melihat sebuah pintu yang mungkin mengarah ke sebuah ruangan. Raina mendekati pintu itu dan membuka pintu itu. Yang ternyata ruang kerja Raka.


Raina yang penasaran langsung memasuki ruangan itu, melihat-lihat ruangan itu yang menurutnya sangat menarik untuk di telusuri.


Langkahnya berhenti di meja kerja Raka. Raina cukup terkejut melihat bingkai foto kecil yang terdapat di atas meja. Yang ternyata di dalam bingkai foto itu ada foto dirinya, Raka dan Amira.


Raina mendengus tersenyum memegang foto tersebut. Yang dia mengingat foto itu di ambil sewaktu dia dan Raka sedang menemani Amira liburan ke kebun binatang.


" Dia meletakkannya di sini," batin Raina dengan senyum di wajahnya, " apa menurutnya ini sangat penting sampai harus di letakkan di sini," lanjutnya yang tidak percaya dengan apa yang di lakukan Raka.


Raina meletakkan kembali foto itu di tempatnya semula. Dan tangannya tidak puas jika tidak mengacak-acak meja kerja tersebut.


Raina menemukan buku besar berwarna hitam dan membuka buku tersebut. Saat membukanya Raina benar-benar di kejutkan dengan foto dirinya saat lulus kuliah.


" Astaga ini kan, kenapa Raka menyimpannya," gumamnya schok.


Terlihat tulisan di samping foto tersebut. Raina memang mengingat Raka datang ke acara ke lulusannya bersama orang tuanya. Karena Raka saat itu memang sudah bekerja di Adverb.


Raina membuka kembali lembaran demi lembaran. Banyak foto-foto dirinya yang di ambil diam-diam saat dirinya mulai bekerja di Adverb. Sontak semua itu membuat Raina semakin kaget.


Raina melihat foto dirinya saat menggunakan baju pengantin.


Mungkin kamu bagai rembulan yang sangat sulit di gapai. Selamat untuk pernikahanmu, aku berharap kamu bahagia dengan orang pilihanmu. Tidak seperti aku terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku kepadamu. Menyukai mu dalam diam adalah hal yang tidak akan pernah aku sesali. Mungkin kita tidak berjodoh dan mungkin laki-laki pilihan mu yang terbaik untukmu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya. Dan biarlah perasaanku tetap seperti ini. Aku tidak tau kapan perasaanku akan hilang.


" Raka," lirih Raina menutup mulutnya.


" Jadi selama ini Raka menyukaiku. Bahkan dia menyukaiku sebelum aku menikah dan dia menyimpannya sampai selama itu," ucapnya tidak percaya dengan apa yang barusan di lihatnya.


Raina membuka satu persatu lembaran itu lagi. Tetapi sudah kosong tidak terdapat satu foto dirinya lagi. Sampai akhirnya Raina melihat foto dirinya kembali ke Adverb 4 tahun lalu setelah suaminya meninggal.


Aku sangat bahagia, bisa melihatmu kembali, aku tau kamu sangat terluka, karena kehilangan orang yang kamu yang kamu cintai. Kematian memang sangat berat Raina dan perpisahan yang menyakitkan memang adalah kematian. Aku berharap kamu bisa bahagia. Kamu wanita yang sangat kuat. Aku yakin kamu kamu bisa menjalani semuanya dan bisa membesarkan Amira dengan sebaiknya dan suatu saat nanti kamu akan menemukan kembali pria seperti suami kamu yang mencintai kamu dan sampai dia mati.

__ADS_1


Air mata Raina menetes dan jatuh di foto tersebut. Ketika melihat tulisan tangan Raka.


" Kamu salah Raka, dia tidak pernah mencintaiku. Dia bahkan menghiyanati ku, kamu salah aku tidak pernah sebahagia itu. Kenapa Raka, kenapa kamu menyembunyikan perasaan kamu kenapa," ujarnya yang kembali melihat lembaran demi lembaran foto tersebut.


Banyak lagi foto-foto dirinya yang di ambil diam-diam. Bahkan Raina melihat foto dirinya saat memarahi karyawan.


Raina jangan terlalu galak, itu hanya menghilangkan kecantikan kamu.


Tulisan itu membuat Raina tersenyum. Raina tetap melanjutkan membuka 1 persatu lembaran demi lembaran sampai dia menemukan foto dirinya yang berjalan.


Raina aku tau aku mengecewakanmu. Karena lebih berpihak kepada bu Zira. Tetapi aku tidak ada bermaksud. Aku hanya bekerja. Aku minta maaf jika apa yang aku lakukan membuatmu marah. Tapi aku mohon apa harus kamu libatkan dengan Amira. Aku hanya merasa nyaman bersama Amira.


" Maafkan aku Raka. Aku pernah membuat kamu berpisah dari Amira. Aku tidak tau jika kamu benar-benar tulus kepada Amira. Maafkan aku Raka," batinnya merasa bersalah.


" Apa yang aku lakukan. Kenapa aku bisa seegois ini. Kenapa aku lebih mempercayai orang lain di bandingkan Raka. Apa yang terjadi dengan Raka dan Saras jelas tidak masuk akal. Lalu kenapa aku tidak memberi kesempatan kepada Raka," batinnya yang baru menyadari jika Raka benar-benar tidak bersalah.


Brakk bukaan pintu ruangan itu membuat Raina kaget dan ternyata melihat Raka yang membuka pintu.


" Raina," lirih Raka kaget melihat Raina ada di ruang kerjanya.


" Raka," sahut Raina pelan.


" Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Raka bingung. Raina berlalu dari meja dan menghampiri Raka.


" Aku mencari kamu di kantor, tapi tidak ada, saat aku pulang aku melihat Pak Yatno ada di depan, dan kamu kenapa bisa ada di....empp,"


Belum sempat Raka melanjutkan kata-katanya Raina yang sudah ada di depannya langsung menutup mulut Raka dengan bibirnya. Sontak hal itu membuat Raka kaget dengan matanya yang membulat sempurna dengan ciuman Raina yang tiba-tiba.


Bersambung.......


Hay para readers ku yang setia. Kita kembali Up 3 episode perhari ya. Jadi di tunggu terus koment like dan vote yang banyak.


Jangan lupa mampir kenovel-novel aku yang lain ya aku tunggu koment, like dan vote kalian di sana juga ya.


Terima kasih bye

__ADS_1


__ADS_2