
Dokter akhirnya memeriksa keadaan Nayra. Zira, Jihan, Raina, dan Carey ikut masuk kedalam dan melihat ke adaan Nayra.
" Bagaimana kondisi Nayra?" tanya Jihan pada Dokter yang menangani Nayra. Jihan sangat khawatir dengan kondisi Nayra.
" Bu Nayra sangat shock sampai dia bisa pingsan seperti itu. Kandungannya sangat lemah. Jadi saya minta tolong kepada kalian untuk menjaganya. Jika tidak ini akan bahaya untuk kandungannya. Untuk wanita hamil sepertinya. Tidak baik memikirkan hal yang aneh-aneh. Itu akan berpengaruh pada kesehatannya," ujar Dokter dengan serius memberi saran.
" Iya Dok," jawab Jihan.
" Ketika Bu Nayra sadar. Kalian berikan dia obat dan tolong perhatikan kondisinya. Kita harus terus sama-sama menjaganya, agar dia dan bayi di dalam kandungannya tetap selamat," ujar Dokter sambil memasukkan alat-alat pemeriksaannya kedalam tasnya.
" Baik Dokter, terima kasih Dokter," ucap Jihan lagi.
" Baiklah. Kalau begitu. Saya permisi dulu. Sekali lagi. Perhatikan kondisi Bu Nayra," ujar Dokter pamit.
" Mari saya antar Dok," sahut Jihan mempersilahkan. Dokter mengangguk dan langsung mengantar Dokter keluar dari dalam kamar.
Jihan duduk di samping Nayra dan mengusap pucuk kepala Nayra dengan air matanya.
" Malang sekali nasib kamu sayang. Kamu harus menderita dengan semua ini," ujar Jihan yang sangat tidak tega melihat penderitaan putranya.
" Sabar Jihan, kita harus kuat. Agar Nayra juga kuat," sahut Zira mengusap pundak Jihan. Mereka hanya saling menguatkan.
************
Nayra masih di dalam kamar yang di temani. Jihan dan Zira. Mereka tidak ingin saat Nayra bangun tidak ada orang di samping Nayra yang mungkin akan membuat Nayra semakin kesepian dan mereka harus ada di sisi Nayra saat Nayra bangun karena Nayra pasti kembali histeris yang mengingat suaminya.
Mereka harus menyiapkan pelukan untuk Nayra. Pelukan hangat kepada Nayra. Karena mereka harus menguatkan Nayra yang sedang hancur. Sebagai orang tua mereka memang harus ada di sisi Nayra.
**********
Carey memasuki kamar di mana Dion sudah ada di sana. Dion sudah membersihkan dirinya dengan wajahnya yang masih terluka. Duduk di pinggir ranjang dengan memegang lukanya.
Carey menutup pintu kamar dan duduk di samping Dion. Wajah Carey yang terlihat sendu dan pasti menyimpan kesedihan.
Dia menjatuhkan kepalanya di bahu Dion suaminya. Dia membutuhkan bahu itu untuk menenagkan hatinya yang sangat gundah.
Dion meletakkan tangannya di pundak Carey. Mengusap pundak itu seakan memberikan Carey semangat.
" Bagaimana keadaan Nayra?" tanya Dion.
__ADS_1
" Dia sedang beristirahat, mama menemaninya di sana," jawab Carey dengan lesu.
" Kita besok akan mencari Raihan kembali. Aku berharap. Raihan secepatnya di temukan. Agar Nayra tidak terus seperti ini," ujar Dion dengan penuh harapannya.
Carey mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dion, menatap Dion dengan mata yang lelah.
" Apa Raihan benar-benar terkena tembakan?" tanya Carey memastikan. Addrian memang mengatakan hanya sepelintiran saja dan Carey masih belum mendengar kronologis lengkapnya mengenai apa yang terjadi pada Dion.
" Iya, dia terkena tembakan. Di bagian dadanya dan langsung terjatuh ke jurang, Dan kami tidak sempat melakukan apa-apa kepadanya," jawab Dion.
" Dion apa menurut kamu. Raihan di temukan masih dalam keadaan hidup?" tanya Carey. Dion terdiam mendengarnya.
Dion memang tidak bisa menyangkal apa yang di pikirannya. Jika dia juga memikirkan keselamatan Raihan yang sangat kecil kemungkinan untuk hidup.
Terkena tembakan saja sangat tidak bisa di pastikan Raihan akan hidup. Apa lagi Raihan terjatuh kedalam lautan. Dan bahkan tidak langsung di temukan.
" Bagaimana nasib Nayra selanjutnya?" tanya Carey langsung meneteskan air mata. Dion memegang ke-2 pipi Carey dan mengusap air mata Carey.
" Kita berdoa. Agar Raihan selamat. Kita juga harus berdoa untuk Nayra. Agar di berikan kekuatan agar dia bisa perlahan-lahan menerima semuanya," ujar Dion yang hanya bisa berharap. Carey menganggukkan kepalanya.
Dion langsung meraihnya kedalam pelukannya. Seharusnya mungkin mereka sudah bersama bahagia saling melepas rindu. Tetapi mereka harus sedih karena duka yang mendalam itu.
***********
Saski sangat gelisah di ruang tamu. Dia juga sedikit kesal dengan anaknya Sony yang sama sekali belum pulang.
Sony memang memilih kerumah sakit menemani Vira dari pada menemui sang mama terlebih dahulu dan pasti hal itu membuat Saski marah dengan tindakan Sony yang sama sekali tidak memikirkan dirinya. yang sangat cemas.
Setelah menunggu lama akhirnya Sony yang sejak tadi di tunggu-tunggu pulang. Saski dan Rony langsung berdiri dan melihat Sony yang dengan wajah babak belur datang menghampiri mamanya dan papanya.
" Ma," ucap Sony.
" Bisa-bisanya kamu baru pulang setelah mama khawatir di sini," sambar Saski yang langsung memarahi Sony.
Bukannya di peluk di tanya kabar anaknya dan menangis memeluk anaknya. Sony malah langsung dapat semburan dari mamanya. Salahnya sih bukannya pulang malah banyak tingkah.
" Kamu lebih memilih dengan wanita pembawa masalah itu di bandingkan mama kamu," oceh Saski yang sekarang mengoceh terus- menerus.
Karena pasti dia sangat marah dengan Sony yang lebih memilih menemani Vira. Wanita yang sudah di ketahuinya. Dan langsung di cap buruk olehnya karena sudah membuat keonaran.
__ADS_1
" Maaf ma. Sony tidak bermaksud. Soalnya Vira..."
" Jangan menyebut namanya. Mama bisa tambah sinting jika kamu menyebut namanya," sahut Saski yang benar-benar menunjukkan ketidak sukaannya dengan Vira.
" Saski sudahlah. Kamu jangan marahin Sony terus. Lihat dia. Dia terluka. Dia juga pasti lelah," ujar Roni membela Sony.
" Dia tau dia terluka. Tapi masih sempat-sempatnya pergi dengan wanita yang tidak jelas itu," ujar Saski yang terus mengoceh.
" Dia tidak tau berhari-hari orang cemas menunggunya. Tibanya pulang langsung entah kemana tanpa mempedulikan perasaanku yang setiap hari menangis hanya memikirkan keselamatannya," ujar Saski yang dipenuhi rasa kecewa.
" Maafkan Sony ma. Sony tau Sony salah. Seharusnya Sony menemui mama dulu. Maaf ma, sudah membuat mama khawatir," ujar Sony melangkah mendekati sang mama yang terus marah-marah.
Sony memegang tangan mamanya. Karena masih di penuhi kemarahan. Saski langsung menjauhkan diri dari putranya itu.
" Kamu dengar ya Sony. Semua masalah sudah selesai. Mau wanita itu tobat atau apapun. Kamu tidak ada urusannya dengan dia. Jadi jangan melewati batas kamu harus sok-sokan perhatian dengannya. Dia adalah wanita yang sangat licik sama seperti ibunya," ujar Saski menegaskan dan langsung pergi.
" Ma," panggil Sony.
" Sudahlah Sony. Mama kamu sedang marah. Kamu istirahat saja dan obati luka kamu. Nanti kalau mama sudah tenang baru temui lagi dan jelaskan dengan baik. Agar mama kamu mengerti," ujar Roni.
" Iya pa," jawab Sony. Rony pun pergi dari hadapan Sony.
" Kenapa semuanya seperti ini. Mama langsung mencap Vira dengan buruk," gumamnya mengacak rambutnya Frustasi.
Ternyata Dara ada di sana dan mendengarkan pertengkaran Sony dan mamanya.
" Apa Sony memang memiliki hubungan yang special dengan Vira. Dan apa mungkin bayi di kandung Vira adalah anak dari Sony," batin Dara yang menerka-nerka.
************
Mentari pagi kembali tiba. Nayra juga sudah bangun dan ikut. Dia pasti masih terus menangis. Tetapi Zira dan yang lainnya pasti menguatkannya terus menerus.
Dan mereka pun akhirnya memberikan Nayra izin untuk mencari Raihan. Mereka kembali berkumpul untuk mencari Raihan.
Di pinggir lautan di tempat yang lumayan curam Nayra dan dan yang lainnya sudah berada di sana dengan beberapa tim penyelamat yang kembali berusaha mencari Raihan.
" Kamu sudah berjanji Raihan akan kembali. Tetapi mana kamu benar-benar tidak menepati janjimu dan meninggalkan ku di sini," batin Nayra yang berjongkok lemas dengan derain air matanya yang menunggu Raihan yang sampai sekarang tidak kembali juga.
" Aku merindukan mu Raihan. Sangat merindukanmu. Bagaimana dengan bayi kita Raihan," batinnya mengusap perutnya.
__ADS_1
" Nayra kamu minum dulu ya," ujar Carey memegang bahu adiknya dan memberikan adiknya minum. Nayra menganggu dan menerima pemberian kakaknya.
Bersambung.....