
Sangat lama rasanya pintu lift terbuka. Setelah menunggu akhirnya pintu lift terbuka. Raihan langsung berlari melewati koridor-koridor Apartemen.
Raihan tiba di depan Apertemen Nayra. Raihan langsung memencet bel.
" Nara buka pintunya aku datang, Nara," panggil Raihan menggedor-gedor pintu Apartemen Nayra. Beberapa kali Raihan memencet bel dan menggedor-gedor Nayra tidak juga membukanya.
Raihan memutuskan menelpon Nayra.
" Apa dia sudah tidur," ujar Raihan panik dengan bibirnya yang bergetar karena menahan rasa dingin. Raihan terus menelpon tetapi tidak di angkat juga.
Ponsel Nayra berdering di dekat pencucian piring. Sementara Nayra ternyata sudah tertidur lelap. Di kursi dengan kepalanya menempel di meja makan. 1 tangannya di jadikan bantal. Dia ketiduran menunggu Raihan yang tidak kunjung datang.
Sementara di luar Raihan terus menelpon Nayra yang juga tidak mengangkat telpon.
Raihan menurunkan ponselnya dari telinganya dengan lemas. Dia pasrah tidak bisa menemui Nayra padahal dia sudah berjanji pada Nayra.
" Maafkan aku Nara," lirihnya dengan pelan.
Mata Raihan melihat tombol sandi Apertemen Nayra. Tidak tau apa yang di pikirkan Raihan. Dia menekan sandi Apertemen Nayra. Padahal dia tidak tau dia hanya mencoba saja.
Ting.
Usaha Raihan ternyata berhasil. Raihan tersenyum ketika pintu itu bisa di buka.
" Ternyata dia mengembalikannya," ujar Raihan tidak pernah menyadari jika Nayra mengembalikan sandi Apertemen yang pernah di tukarnya sebelumnya.
Raihan membuka pintu dan dengan cepat Raihan langsung masuk ke dalam. Raihan langsung melihat ke dapur dan memang benar Nayra tertidur di meja makan.
" Nara," gumam Raihan pelan berjalan mendekati Nayra. Raihan berjongkok di dekat Nayra. Mengusap pipi Nayra lembut. Nayra tertidur dengan lelap. Tidak menyadari kehadirannya.
" Nara, maaf kan aku," lirih Raihan pelan mencium kening Nayra.
Nayra yang merasa hangat di keningnya. Tubuhnya langsung bergerak. Membuka matanya sedikit dan melihat Raihan dengan samar-samar tersenyum kepadanya.
" Kamu sudah datang?" tanya Nayra dengan suara beratnya dan kembali menutup matanya
" Hmmm, aku datang. Maaf kamu pasti ketiduran karena menungguku ku," ujar Raihan.
" Iya maaf aku ketiduran," sahut Nayra.
" Aku yang minta maaf," ujar Raihan merasa bersalah.
" Hhhhh, aku belum menyentuh makanannya, seperti katamu, mungkin juga sudah dingin," sahut Nayra.
" Kalau begitu Ayo kita makan," ajak Raihan.
" Aku sangat mengantuk, tadi aku sudah makan mie," jawab Nayra menahan rasa kantuknya.
" Kamu hanya makan mie?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.
" Kamu harus makan nasi," ujar Raihan.
" Aku sangat mengantuk, Lagi pula makanannya juga sudah dingin, sebaiknya jangan di makan lagi," ujar Nayra tetap tidak membuka matanya.
" Tidak aku akan memakannya. Aku sudah berjanji akan memakan semua masakan kamu," ujar Raihan. Nayra tersenyum tipis. Meski tertidur. Tetapi senyum itu sangat indah.
__ADS_1
" Tapi aku sangat mengantuk," jawab Nayra dengan suara beratnya.
" Tidurlah jika ingin tidur aku akan tetap makan. Aku belum makan dari tadi, jadi aku sangat lapar," ujar Raihan.
" Baiklah, makanlah. Jika ingin pulang bangunkan aku, jangan pulang kalau aku belum bangun," ujar Nayra. Raihan tersenyum terus mengusap rambut Nayra.
" Iya aku akan membangunkanmu, tidurlah dengan nyeyak," jawab Raihan kembali mencium kening Nayra.
Raihan berdiri, menarik kursi dan duduk. Raihan pun memakan apa yang di masak Nayra untuknya. Sambil makan Raihan terus melihat Nayra yang tertidur lelap.
Raihan menahan air matanya dalam makannya. Dia tidak tau bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Nayra. Dia hanya berusaha mempertahankan Nayra.
" Maafkan aku Nara, aku selalu membuatmu menunggu," batin Raihan merasa bersalah.
Setelah selesai makan. Raihan mencuci piringnya sendiri. Raihan juga menyimpan semua makanan yang masih sisa. Raihan juga Membersihkan meja makan.
Raihan melihat ke arah Nayra yang masih tertidur lelap di tempatnya semula. Raihan mendekati Nayra. Langsung menggendong Nayra ala bridal style. Nayra mengalungkan tangannya ke leher Raihan.
Raihan memindahkan Nayra ke kamarnya. Merebahkan dengan lembut Nayra di atas tempat tidur. Raihan duduk di samping kepala Nayra. Mengusap lembut rambut Nayra.
" Tidurlah yang nyenyak, aku akan selalu menjagamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," lirih Raihan lalu mencium kening Nayra.
Raihan berdiri menarik selimut sampai ke dada Nayra. Setelah melihat Nayra sangat lama Lalu Raihan keluar dari kamar Nayra.
************
Nayra menggerakkan tubuhnya. Nayra memegang lehernya yang terasa serak. Dengan malasnya Nayra membuka matanya yang berat. Nayra melihat ke beradaannya sudah berada di dalam kamarnya yang sangat gelap.
" Jam berapa ini," gumanya duduk melihat jam di ponselnya. Jam 2 pagi.
" Ternyata dia sudah pulang. Bukannya membangunkanku," ujar Nayra berdiri. Nayra keluar dari kamar dan ingin mengambil minum karena tenggorokannya yang sudah mengering.
" Raihan dia tidak pulang," gumamnya bingung, Nayra langsung menghampiri Raihan.
Nayra berjongkok dan melihat Raihan terbaring di sofa dengan 1 tangan yang berada di bawah kepalanya. Nayra tersenyum melihat Raihan yang tertidur sangat tampan.
" Raihan bangun, kamu tidak pulang," lirih Nayra pelan mencoba membangunkan Raihan menggoyangkan tubuh Raihan dengan lembut.
" Nara," sahut Raihan tanpa membuka matanya.
" Iya aku, kenapa kamu belum pulang, ini sudah larut malam? tanya Nayra.
" Aku ingin tidur di sini, aku malas menyetir," jawab Raihan.
" Apa aku tidak boleh tidur di sini?" tanya Raihan tanpa membuka matanya.
" Boleh, kalau begitu tidurlah, aku akan ambilkan selimut," ujar Nayra berdiri lalu langsung kekamar.
Nayra membuka lemari dan mengambil selimut. Nayra juga mengambil satu bantal. Agar kepala Raihan tidak sakit. Setelah mengambil apa yang di perlukannya.
Nayra kembali ke ruang tamu. Raihan masih tetap tertidur. Tanpa ingin mengganggu Raihan Dengan hati-hati Nayra mengangkat kepala Raihan membuat bantal di bawah itu dan menutupkan Raihan selimut.
" Apa dia sangat lelah, sampai-sampai sangat malas untuk pulang," gumam Nayra mengusap rambut Raihan yang masih terlihat basah.
Nayra tersenyum dan memutuskan kembali kekamarnya. Saat Nayra ingin melangkahkan kakinya Raihan menahan tangan Nayra. Nayra langsung menoleh kebawah.
__ADS_1
" Di sini lah sebentar!" ujar Raihan dengan suara beratnya.
Nayra tersenyum. Mengangguk dan mendekat pada Raihan. Raihan menggeser tubuhnya. Nayra ikut masuk ke dalam selimut. Membawa Nayra masuk kedalam pelukannya.
" Beginilah sampai besok pagi," ujar Raihan memeluk Nayra dengan erat.
" Itu namanya bukan sebentar," protes Nayra.
" Tapi aku sangat merindukanmu," ujar Raihan. Semakin memeluk Nayra seakan dia ingin bercerita kepada Nayra tentang apa yang terjadi tadi.
Nayra mengangkat kepalanya dan melihat Raihan. Nayra merasa jika Raihan sedang ada masala. Nayra memegang pipi Raihan yang tampak merah.
" Apa yang terjadi?" tanya Nayra.
" Tidak aku tidak apa-apa," jawab Raihan bohong.
" Lalu kenapa pipimu merah?" tanya Nayra.
" Pipi ku akan merah saat aku memelukmu, aku akan menjadi salah tingkah saat dekat denganmu. Seperti tokoh-tokoh komik," sahut Raihan dengan candaannya. Nayra hanya tersenyum tipis mendengarnya.
" Maafkan aku tidak datang tepat waktu," ujar Raihan mengusap rambut Nayra.
" Tidak apa-apa yang penting kamu datang. Oh iya bagaimana kamu bisa masuk," tanya Nayra heran.
" Kamu sengaja melakukannya?" tebak Raihan.
" Apa?" tanya Nayra bingung.
" Kamu mengembalikan sandi Apartemen mu," ujar Raihan. Nayra tersenyum.
" Aku sudah lama melakukannya. Tetapi kamu yang tidak sadar," jawab Nayra.
" Kalau begitu jangan pernah ganti lagi," ujar Raihan.
" Baiklah," sahut Nayra.
" Tidurlah!" ujar Raihan mempererat pelukannya tanpa membuka matanya.
" Kenapa bajumu basah, apa kamu kenak hujan?" tanya Nayra yang bisa merasakan lepek baju Raihan.
" Tidak, aku tidak apa-apa," sahut Raihan lagi.
" Kamu tidak mau ganti baju dulu?" tanya Nayra yang mencemaskan Raihan.
" Tidak usah," jawab Raihan.
" Kenapa harus datang Raihan. Jika sudah malam seharusnya telpon saja aku. Jadi jangan memaksakan diri untuk datang," ujar Nayra.
" Aku tidak ingin mengingkari janjiku. Walau hanya sekecil apapun," sahut Raihan. Terus mengusap pundak Nayra. Nayra hanya tersenyum yang berada di pelukan Raihan.
" Raihan apa terjadi sesuatu?" tanya Nayra.
" Hmmmm. Tapi sudahlah jangan memikirkan apapun. Tidurlah!" ujar Raihan yang tidak ingin membahas apa yang terjadi. Dia merasa sangat lelah jika membahas masalah itu sekarang.
" Baiklah besok ceritakan kepadaku," sahut Nayra.
__ADS_1
" Pasti," jawab Raihan memeluk semakin mempererat pelukannya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น