Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 291.


__ADS_3

Pagi hari tiba. Dion sudah bangun dari tidurnya. Dion memijat kepalanya yang terasa berat. Dion bangkit dari tidurnya dan melihat kebawah sudah tidak ada lagi Carey.


" Kemana dia?" batin Dion yang memijat kepalanya yang benar-benar berat. Karena memang pikirannya yang semalam tidak menentu dan tidak tau juga apa dia tidur atau tidak semalaman.


Dion pun bangkit dari ranjangnya dan melihat pakaian kerjanya sudah lengkap di atas meja yang memang lengkap dengan sepatu nya. Terukir senyum di wajah Dion saat merasa Carey masih mempedulikannya walau Carey sedang marah.


Dion pun bangkit dari ranjang. Dion memang harus kekantor karena semalam dia tidak kekantor dan tidak mungkin bolos lagi. Dion langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan pasti pikirannya juga.


Tidak berapa lama Dion sudah selesai rapi-rapi dan menuruni anak tangga dengan menenteng tas kantornya. Dion tidak menemukan Carey lalu lalang di rumahnya.


Bahkan saat dia kedapur untuk sarapan. Sama sekali tidak ada orang mama dan istrinya tidak di temukannya. Tetapi sarapan yang biasa di makan Dion sudah siap. Dan dia tau itu buatan Carey.


Karena belakangan Dion bisa membedakan mana masakan Carey dan mana masakan asisten rumah tangga. Belum mencobanya dia sudah bisa mengenali masakan istrinya.


" Kemana Carey dan mama?" tanya Dion pada asisten rumah tangga yang kebetulan lewat.


" Nyonya lagi kerumah sakit, melihat temannya yang di rawat di sana. Kalau Bu Carey tadi ke apotik sebentar katanya. Baru aja pergi," jawab bibi.


" Apa dia sakit?" tanya Dion datar.


" Kurang tau Pak, saya memang melihat Bu Carey kurang sehat," jawab Bibi.


" Ya sudah, kamu kembali bekerja," ucap Dion.


" Baik Pak," sahut bibi langsung pergi.


" Apa dia tidak bisa minta tolong orang di rumah ini kalau hanya untuk ke apotik. Apa-apa di kerjakan sendiri. Apa gunanya membayar pembantu di rumah ini," cicit Dion yang malah marah-marah.


Dion pun mengambil piring dan mengisi dengan nasi goreng. Kalau tidak ribut dengan istrinya yang minta cerai mungkin dia tidak akan sarapan sendiri sekarang.


*********


Sementara Nayra berdiri di depan kamar papanya dengan ke-2 tangannya menyilang di dadanya. Menonton Vira yang sekarang menangis sengugukan memeluk papanya. Tidak ada hujan tidak ada petir tau-tau sudah badai datang.


Nayra harus menerima tamu yaitu Vira dengan air matanya yang membasahi pipinya. Tidak tau palsu atau tidak. Bagi Nayra pasti palsu. Vira memaksa masuk dan langsung menghampiri papanya dan memeluk erat mengais tersedu-sedu.

__ADS_1


" Maafin Vira pa, Maafin Vira. Hiks, hiks, Vira bukan anak yang baik, Hiks Vira sudah gagal menjadi anak. Vira tidak bisa jaga diri Vira. Maafin Vira pa," ujar Vira yang menangis Sengugukan terus mengulang-ulang kata-kata membuat David heran.


" Memang ada apa? kenapa harus meminta maaf. Apa yang kamu lakukan?" tanya David mengusap-usap pundak Vira.


Dia tidak tau apa yang terjadi dengan anak angkatnya itu tau-tau sudah meminta maaf. Vira seakan mengadu kepada David atas apa yang terjadi kepadanya.


Tidak sanggup menahan sendri dengan beban yang di pikulnya atas perbuatannya dengan Sony dia melarikan diri menemui papanya. Tetapi jelas dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


Dia hanya butuh pelukan papanya untuk menguatkannya. Karena jelas dia tidak akan mendapatkannya dari mamanya. Malahan mamanya akan merasa bangga. Karena anaknya menuruti kemauannya.


" Vira tidak bisa jaga diri Vira, Vira sangat bodoh, Vira sudah tidak tau harus bagaimana pa, Vira capek pak, Vira capek dengan semua ini," ujar Vira lagi mengais tersedu-sedu.


" Dia kenapa sih sebenarnya, akting atau apasih," batin Nayra kesal. Dia tidak mengerti dengan perkataan Vira.


Dia juga tidak bisa membedakan mana yang akting dan mana yang tidak. Karena memang pasti tidak ada bedanya. Tiba-tiba sebuah tangan hinggap di pundaknya yang ternyata suaminya yang berdiri di belakangnya.


" Kenapa dia?" tanya Raihan. Nayra menggedikkan bahunya.


" Sudah biarkan saja, ayo!" ajak Raihan.


" Nggak mau, nanti dia ngapain-ngapain papa lagi," sahut Nayra dengan wajah cemberutnya.


Raihan tersenyum melihat istrinya. Dia tau sebenarnya Nayra cemburu karena Vira yang di peluk. Nayra memang seperti anak kecil yang cemburuan dengan kasih sayang orang tua.


Wajah Nayra memang tidak bisa bohong. Bukan hanya takut Vira berbuat yang aneh-aneh. Dia juga kesal dengan eratnya pelukan sang papanya kepada Vira.


" Aku akan memelukmu, ayo keluar, biarkan saja. Aku rasa dia sedang stress makanya seperti itu. Dia tidak akan menyakiti papa, ayo sayang," sahut Raihan meraih tangan istrinya membawa istrinya keluar dari kamar David.


Dia tidak mau istrinya yang manja terus melihat papanya memeluk Vira. Cemburuan Nayra memang berlebihan. Sama papanya aja bisa seperti itu bagaimana dengan Raihan. Ngambeknya bisa kayak kemarin lamanya.


**********


Siang hari Carey berada di dapur menyiapkan makan siang. Tiba-tiba Erina menghampiri Carey ke dapur. Sedari tadi pagi menantunya itu terus diam tanpa bicara apa-apa.


" Carey!" tegur Erina. Carey berbalik badan dan melihat mertuanya.

__ADS_1


" Iya ma," jawab Carey.


" Mari bicara sebentar," sahut Erina.


" Iya ma," jawab Carey menyusul mertuanya ke ruang tamu. Erina dan dan Carey duduk bersebelahan.


" Kamu baik-baik saja," tanya Erina dengan memegang bahu Carey.


Carey langsung menggeleng dia memang tidak baik-baik saja. Bahkan air matanya menetes. Ketika mertuanya mempertanyakan itu. Erina langsung memeluknya memberikan menantunya semangat.


" Maafin Carey ma, tidak seharunya Carey bicara seperti itu. Carey tidak berniat ma, maafin Carey ma, yang terlalu emosi, maafin Carey ma," ucap Carey yang memeluk mertuanya erat.


Dia menyadari meminta cerai dari suami adalah perbuatan yang salah dan tidak pantas untuk seperti itu.


" Iya sayang, kamu tidak perlu minta maaf. Itu bukan kesalahan kamu. Kamu tidak salah. Dion yang salah. Jangan meminta maaf," sahut Erina yang pasti memang akan lebih membela menantunya dari pada anaknya.


Bagaiman tidak di bela. Menantunya bisa-bisanya meminta maaf dengan tulus. Karena sudah membuat kegaduhan sementara anaknya malah ngotot membela diri. Menantunya paling terbaik.


Erina melepas pelukannya dari Carey. Dan mengusap air mata Carey yang berada di pipinya. Mata menantunya itu bengkak mungkin menangis semalan


" Jangan memikirkan apa-apa ya," ujar Erina. Felly mengangguk.


" Kamu jangan menangis lagi. Air mata kamu tidak pantas menangis Dion," ujar Erina.


" Ma, boleh Carey minta sesuatu?" tanya Carey.


" Katakan sayang ada apa?" tanya Erina.


" Carey ingin pulang. Carey ingin menginap di tempat mama 2 hari saja," ujar Carey.


" Iya sayang boleh. Kamu memang harus menenangkan diri. Biar Dion bisa berpikir. Jika tidak ada kamu dia tidak bisa apa-apa, jadi pulanglah. Setelah merasa tenang. Kamu telpon mama. Mama akan menjemputmu," ujar Erina yang memang sangat mengerti. Jika menantunya itu butuh menyendiri. Itu juga akan menjadi pelajaran untuk anaknya. Supaya lain kali belajar bertanggung jawab. Sudah menikah tetapi selalu membuat kehebohan.


" Sudah ya, jangan menangis lagi," ujar Erina mengusap kembali air mata Carey.


" Iya ma, makasih, sudah kasih Carey izin," ujar Carey.

__ADS_1


" Sama-sama sayang," sahut Erina.


Bersambung.


__ADS_2