
Nayra sudah tiba di Apertemennya. Nayra memencet sandi Apertemennya dan langsung memasuki Apertemennya. Nayra melihat ruang tamu kosong. Melihat sebentar Nayra langsung ke dapur. Meletakkan makanan di atas meja.
Nayra langsung beralih ke kamarnya. Ceklek Nayra membuka pintu kamar, melihat Raihan yang terbaring di atas ranjang. Dengan mata terpejam. Nayra tersenyum dan memasuki kamarnya.
Nayra duduk di samping Raihan. Nayra memegang kening Raihan dengan punggung tangannya.
" Panasnya hanya turun sedikit," gumamnya pelan.
Nayra kembali keluar dari kamar dan kembali kedapur mengambil kompresan untuk Raihan. Nayra kembali kekamar dan duduk di tempat semula.
Nayra meremas handuk putih itu dan menempelkan di dahi Raihan. Raihan yang merasa dingin langsung terkejut dan langsung terbangun.
" Maaf mengejutkanmu," gumam Nayra pelan. Raihan tersenyum dan meraih tangan Nayra yang masih di dahinya.
" Kamu sudah pulang?" tanya Raihan dengan suara seraknya.
" Hmmm, bagaimana keadaanmu?" tanya Nayra dengan lembut.
" Aku baik-baik saja," jawab Raihan meletakkan tangan Nayra di dadanya.
" Tapi suhu tubuhmu masih panas," ujar Nayra.
" Aku sudah tidak apa-apa," jawab Raihan tersenyum, " bagaimana hari mu di kantor?" tanya Raihan.
" Seperti biasa, pekerjaan sangat banyak," jawab Nayra.
" Kamu pasti sangat lelah?" tebak Raihan melihat wajah lesuh lelah Nayra.
" Iya sangat melelahkan, aku akan mandi dulu, setelah itu kita makan, agar kamu minum obat," ujar Nayra.
" Iya," jawab Raihan tersenyum.
Nayra berdiri dan menuju lemari, mengambil pakaiannya lalu memasuki kamar mandi. Raihan kembali memejamkan matanya yang memang demamnya membuatnya sangat mengantuk.
Setelah selesai mandi dan bersih-bersih. Nayra sibuk di dapur menyiapkan makanan yang tadi di belinya. Memindahkan ke piring. Nayra meletakkan di atas nampan dengan 2 gelas air putih. Lalu Nayra langsung kembali kekamar.
Nayra membuka pintu kamar. Melihat Raihan yang sudah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil bermain ponsel. Nayra tersenyum dan mendekati Raihan duduk di samping Raihan berhadapan dengan Raihan.
Nayra meletakkan nampan di atas meja dan mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
" Makanlah!" ujar Nayra menyodorkan sendok ke mulut Raihan.
" Kamu juga," sahut Raihan belum menerima suapan itu.
" Iya makanlah terlebih dahulu, Aak," ujar Nayra membuka mulutnya. Raihan tersenyum dan menerima suapan dari Nayra.
" Terima kasih sudah mencemaskanku," ujar Raihan sambil mengunyah makanannya.
" Iya sama-sama," jawab Raihan kembali menyuapi Raihan.
" Kamu yakin tidak mau di panggilkan Dokter?" tanya Nayra yang merasa Raihan masih kurang sehat.
" Tidak usah, aku sudah merasa lebih baik. Mungkin aku hanya akan sangat lemas dan tidak enak badan. Jika kamu tidak ada. Buktinya ketika kamu pulang aku jauh lebih baik," ujar Raihan menggoda Nayra.
" Sudah tau sakit masih, sempat-sempatnya merayu," sahut Nayra kesal.
__ADS_1
" Aku tidak menggodamu. Tetapi aku serius aku sangat membutuhkanmu," ujar Raihan dengan wajahnya yang serius.
" Iya aku tau, sudahlah sekarang lanjutkan makannya," ujar Nayra kembali menyuapi Raihan. Raihan membuka mulutnya dan melanjutkan aktivitas makannya.
Nayra terus menyuapi Raihan sampai makanan itu habis. Nayra juga sudah selesai makan sambil mengobrol dengan becandaan dengan Raihan.
Setelah selesai makan. Nayra memberi Raihan obat.
" Sekarang kamu istirahat," ujar Nayra meletakkan gelas di atas nakas. Lalu berdiri. Raihan menahan tangannya.
" Kamu mau kemana?" tanya Raihan.
" Aku ingin menonton di ruang tamu. Kamu istirahat saja. Biar cepat sembuh," jawab Nayra.
" Tetaplah di sini, aku sudah mengatakan aku akan sembuh jika kamu ada di sini," ujar Raihan.
Nayra mengangguk dan duduk kembali. Memperbaiki selimut Raihan. Raihan bergeser sedikit dan merentangkan tangannya, memberi kode agar Nayra tidur di sampingnya.
Nayra tersenyum dan mendekati Raihan. Raihan langsung memeluk Nayra. Nayra pun merasa nyaman yang sudah berada di dada bidang Raihan.
" Aku sangat merindukanmu," ujar Raihan mengusap-usap rambut Nayra.
" Aku juga," jawab Nayra merasa nyaman berada di dekapan Raihan.
" Bagaimana hari mu?" tanya Raihan.
" Seperti yang kukatakan sangat melelahkan," jawab Nayra.
" Jangan di paksakan dalam bekerja," ujar Raihan.
" Iya aku tidak akan memaksakan diri," sahut Nayra.
" Kenapa?" jawab Raihan.
" Apa yang terjadi, kenapa kamu tidak pulang sampai sekarang?" tanya Nayra mengangkat kepalanya melihat Raihan.
" Kamu mengusirku?" tanya Raihan.
" Tidak aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu, dan kalau kamu kelamaan di sini mungkin aku memang akan mengusirmu," jawab Nayra dengan becandaan.
" Dasar tega," sahut Raihan.
" Aku serius ada apa, Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Nayra.
" Aku ribut dengan mama," jawab Raihan jujur.
" Ribut dengan Tante Zira?" tanya Nayra mengangkat kepalanya melihat Raihan.
" Iya aku bertengkar, dengan mama dan papa tadi malam," jawab Raihan lagi.
" Apa karena kamu di jodohkan dengan Carey," sahut Nayra yang memang sudah bisa menebak pertengkaran Raihan dan mamanya.
" Kamu tau masalah itu?" tanya Raihan heran. Nayra mengangguk pelan.
" Kapan kamu taunya?" tanya Raihan.
__ADS_1
" Mungkin aku lebih tau dahulu dari pada kamu," sahut Nayra.
" Maksudnya?" tanya Raihan.
Nayra menggeserkan tubuhnya dan agar berhadapan dengan Raihan. Nayra memegang pipi Raihan dengan ke-2 tangannya.
" Mama kamu memberitahuku beberapa hari yang lalu. Tentang rencana pernikahan kamu dan juga Carey," sahut Nayra.
" Lalu,"
" Seperti biasa, Tante Zira menyuruh agar aku kembali mengakhiri hubungan kita," jawab Nayra jujur. Dengan senyum yang menahan kesedihan.
" Jawaban kamu?" tanya Raihan penasaran. Nayra menggeleng.
" Aku bilang tidak mau, aku ingin tetap bersamamu. Aku tidak akan memutuskan hubungan itu. Jika hanya karena masalah Carey," jawab Nayra.
" Kenapa kamu menolak, bukannya biasanya kamu selalu menuruti mama?" tanya Raihan.
" Karena aku tau, kamu juga akan menolaknya, aku tau kamu sangat mencintaiku. Begitupun dengan aku. Jadi aku tidak punya alasan untuk mengakhiri hubungan kita dan membiarkan kamu menikah dengan orang lain," jawab Nayra dengan matanya berkaca-kaca. Raihan tersenyum mendengar jawaban Nayra.
" Maafkan aku Nara, aku membuatmu mengalami semua ini," ujar Raihan mengusap pipi Nayra. Nayra kembali masuk kedalam pelukan Raihan.
" Tidak Raihan, justru aku yang minta maaf, dengan semua ini. Aku minta maaf pernah melakukannya kebodohan itu. Dan sekarang aku tidak ingin mengorbankan cintaku hanya untuk orang lain," jawab Nayra meneteskan air matanyanya. Raihan langsung memeluknya erat.
" Aku juga tidak tau kalau ternyata Opa, Oma dan kakek Carey punya niat seperti itu. Tapi aku sangat kecewa dengan Carey," ujar Raihan.
" Kenapa?" tanya Nayra.
" Dia tetap ingin melanjutkan pernikahan itu. Padahal dari dulu dia tau bagaimana hubungan ku denganmu," jawab Raihan.
Nayra kembali menenggelamkan kepalanya di dada Raihan.
" Dia menyukaimu, jadi wajar dia tidak akan melepaskanmu," lirih Nayra.
" Aku sama dia hanya berteman Nayra," jelas Raihan.
" Hmmmm, aku tau tapi kamu tidak tau perasaannya kepadamu lebih dari seorang teman. Mungkin saja Carey marah. Karena kamu harus bertemu denganku dan melupakannya," ujar Nayra.
" Apapun itu, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun dengannya. Dan aku rasa kamu sudah tau itu," ujar Raihan.
" Iya aku tau. Aku tau bagaimana perasaanmu kepadaku. Dan aku juga tau kamu sangat mencintaiku. Dan tidak mungkin Carey punya tempat sedikitpun di hati kamu," ujar Nayra. Raihan tersenyum dan mencium pucuk kepala Nayra.
" Terima kasih Nara, sudah mempercayaiku. Aku tau ini adalah masa tersulit kita. Tapi aku akan tetap menolak perjodohan itu," ujar Raihan dengan yakin. Nayra mengangguk. Nayra menggeserkan badannya ke atas dan mendekati Raihan kembali.
" lalu apa yang kamu katakan sampai Tante Zira menamparmu?" tanya Nayra mengusap pipi Raihan.
" Aku mengatakan lelah menjadi anak mereka. Aku menyesal lahir di keluarga itu," jawab Raihan jujur. Nayra langsung menunjukkan exsperesi manyunnya.
" Kamu jahat sekali bicara seperti itu. Tante Zira pasti sakit hati," sahut Nayra terus mengusap pipi Raihan.
" Aku tidak bisa mengontrol diriku, aku terlalu terbawa emosi," ujar Raihan.
" Dan kamu juga melakukan hal bodoh lagi dengan main hujan-hujanan," ujar Nayra seakan mengetahui apa-apa aja yang terjadi pada Raihan.
" Apa kamu mengikutiku sampai mengetahui sedetail itu?" tanya Raihan.
__ADS_1
" Tidak aku hanya menebak. Malam itu hujan dan kamu belum kembali. Saat kembali aku melihatmu basah. Karena mengantuk aku malas bertanya. Saat tidur di sofa bersamamu. Bajumu juga masih basah. Jadi semuanya sangat jelas kalau kamu main hujan-hujanan dan akhirnya demam," ujar Nayra menerka-nerka.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น