Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 62


__ADS_3

Nayra sekarang sudah berada di ruangan Raihan. Raihan duduk di meja kerjanya. Sementara Nayra berdiri di depannya.


Nayra terlihat sangat santai. Ke-2 tangannya di letakkannya di belakangnya. Dia tidak perlu gugup saat berhadapan dengan Raihan.


Semenjak ke jadian itu memang ini pertama kali untuk Nayra berhadapan berdua dengan Raihan. Mungkin Nayra sudah menerima semuanya. Dia juga tidak peduli dengan Raihan.


" Apa kau tau perbuatanmu sangat memalukan?" tanya Raihan. Nayra diam tanpa menjawab.


" Buatlah surat pengunduran dirimu," ujar Raihan tiba-tiba. Nayra bukannya kaget, marah, atau langsung protes. Dia malah tersenyum.


" Kau menyuruhku membuat surat pengunduran diri, karena kau tidak bisa memecatku, atau kau menyuruhku membuat surat pengunduran diri. Karena kau tidak tahan melihatku setiap hari," sahut Nayra dengan santai menatap Raihan dengan tatapan menantang.


" Tutup mulutmu, jangan berpikir terlalu tinggi, kau sudah dengar bukan. Jika aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu," sahut Raihan menatap Nayra tajam. Nayra kembali tersenyum tipis.


" Jika seseorang balas dendam. Itu berarti dia belum bisa move on. Karena di dalam balas dendamnya akan selalu memikirkan orang yang ingin di hancurkannya. Aku tidak membayangkan bagaimana hal menyedihkannya itu terjadi," ujar Nayra lagi.


" Jangan gunakan teori tidak penting itu di sini. Lalu apa yang kau pertahankan di Perusahaan ini. Kalau bukan alasan karena aku berada di sini," ujar Raihan.


" Maaf ya Pak Raihan. Mungkin bapak lupa jika saya yang terlebih dahulu berada di perusahaan ini, bukan bapak. Jadi saya tidak akan mengundurkan diri dari Perusahaan. jika kontrak kerja saya belum habis," ujar Nayra dengan lantang dan pergi begitu saja.


" Kau menggunakan orang tuaku untuk menjadi tamengmu," ujar Raihan menghentikan langkah Nayra. Nayra kembali membalikkan tubuhnya dan menghadap Raihan. Senyum manisnya pasti akan di keluarkannya.


" Apa bedanya dengan dirimu. Kau juga menggunakan orang tuamu untuk berada di sini," jawab Nayra dengan tenang.


Raihan hanya menatap Nayra dengan tajam. Nayra memang sudah terlanjur sakit hati jadi untuk apa lagi berbicara dengan lembut.


" Aku tidak akan mengundurkan diri dari Perusahaan ini. Tetapi aku akan mengundurkan diri jadi sekretarismu. Sebaiknya carilah sekretarismu yang baru. Atau gunakan saja dia, karena aku tidak ingin menjadi sekretarismu," ujar Nayra sebelum pergi.


Raihan tidak menjawab dia hanya mengepal tangannya, yang berada di atas meja. Raihan bisa melihat Nayra terlihat tenang saat berbicara. Mungkin luka yang di dapatkan Nayra membuat Nayra jauh lebih kuat.


*********


Beberapa hari kemudian.


Kediaman Angga.


Mobil Della berhenti di rumah Angga. Della hari ini sangat ceria. Dia keluar dari mobil itu membawakan bag paper. Della memasuki rumah tersebut tanpa mengetuk pintu. Dia memang selalu seperti itu.


" Tante," sapa Della yang langsung menuju dapur, menghampiri Kayla yang membersihkan meja makan.


" Hey Della, pagi-pagi sekali datangnya," sapa kembali Kayla.


" Iya, tadi mama buatin bubur ayam, jadi sekalian deh aku bawain kemari," jawab Della memberikan bag paper itu pada Kayla.


" Ya ampun merepotkan," Kayla mengambilnya dan mengeluarkan isinya.

__ADS_1


" Nggak dong tante, sekalian lewat tadi," sahut Della.


" Makasih lo, oh iya kamu mau minum apa?" tanya Kayla.


" Tidak usah tante Della cuma mampir aja, oh iya Angga mana Tante," tanya Della.


" Angga sudah kekantor," jawab Kayla. Della hanya mengangguk-angguk.


" Nih, kamu minum!" ujar Kayla memberikan jus jeruk, meski Della menolak tetapi Kayla tetap membuatkannya.


" Ya ampun jadi ngerepotin," sahut Della merasa tidak enak, Kayla hanya tersenyum.


" Oh iya Della besok kamu ada waktu tidak?" tanya Kayla setelah mengingat sesuatu.


" Tidak memang ada apa Tante?" tanya Della.


" Kamu bisa nggak temenin Tante ke Mall," ujar Kayla.


" Bisa sih, tumben banget memang Tante mau cari apa?" tanya Della heran, mengambil gelas yang berisi jus dan mulai meminumnya.


" Tante mau cari hadiah untuk Nayra," jawab Kayla. Membuat Della kaget dan tidak jadi memasukkan minuman itu kemulutnya.


" Nayra, tumben banget, memang dia ulang tahun?" tanya Della yang mulai merasa nyaman.


" Tidak, Tante memberinya hadiah karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Angga?" jawab Kayla.


Della tersedak minuman mendengar hal itu. Dia benar-benar shock.


" Pelan-pelan Della?" ujar Kayla mengelus bahu Della.


" Menikah?" tanya Della memastikan.


" Iya, kamu belum tau kabarnya?" tanya Kayla, Della hanya menggeleng.


" Tante sudah bicara dengan Nayra. Dan syukur-syukur Nayra mencoba membuka hati," jelas Kayla. Della tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Kayla terus berbicara mengenai Nayra di depan Della. Hati Della sangat sakit mendengar hal itu. Dia hanya tersenyum palsu untuk menutupi lukanya.


Hanya sebentar saja Della berada di rumah Angga. Della memilih pulang, karena hatinya semakin sakit mendengar Kayla berbicara mengenai Nayra.


Sekarang Della sudah berada di mobilnya. Air matanya terus mengalir deras.


" Nggak itu tidak mungkin. Jika benar Angga menikahi Nayra, itu berarti semuanya selesai. Kenapa Nayra tiba-tiba seperti itu. Apa dia sangat marah pada Raihan. Tidak aku harus melakukan sesuatu Angga tidak boleh menikah dengan Nayra," ujarnya meyakinkan dirinya sendiri.


" Della aku yakin pasti masih ada kesempatan di antara aku dan Angga. Aku mencintainya dari dulu. Aku harus mengatakan itu kepada Angga. Biar dia bisa mempertimbangkan niatnya untuk menikahi Nayra," ujarnya lagi.

__ADS_1


Della hanya berusaha melakukan apapun yang terbaik untuknya. Dia tidak ingin jika cinta pertamanya telah di miliki wanita lain.


*************


Dengan keberanian Nayra mendatangi rumah papanya. Nayra turun dari Taxi. Nayra berdiri di depan rumah mewah itu. Papa Nayra menikah dengan wanita kaya raya. Jadi wajar saja jika rumah yang sekarang ingin di masukinya itu rumah bak istana mewah.


" Aku harus mencobanya," ujarnya menarik napasnya panjang dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah itu. Nayra membuka menekan bel rumah tersebut.


Tingnong-tingnong.


Setelah menekan beberapa kali. Akhirnya Nayra ada yang membukakan pintu. Wanita sekitar berusia 38 tahunan keluar. Wanita yang berwajah sinis itu kaget melihat kedatangan Nayra.


Nayra juga kaget. Tidak menyangka jika yang membukakan pintu adalah ibu tirinya. Wanita itu menatapnya dengan sinis seperti menilai dirinya. Dari bawah sampai atas.


" Hhhhh, ada angin apa datang kemari?" tanyanya dengan sinis melipat tangannya di dadanya.


" Kenapa juga harus bertemu dengannya," batin Nayra menyesal datang ke rumah itu.


" Aku datang kemari bukan untuk menemuimu. Aku ingin menemui papaku," ujar Nayra. Wanita itu hanya tersenyum miring.


" Apa membutuhkan uang, sampai jauh-jauh menemuinya," ujar sang wanita. Yang memang mengetahui tujuan kedatang Nayra.


" Itu bukan urusanmu," sahut Nayra.


" Aku lupa, kau pasti tidak membutuhkan uang, pasti uang itu untuk mamamu, yang sekarang di kantor Polisi," ujar wanita itu. Nayra kaget bagaimana mungkin ibu tirinya bisa mengetahui hal itu.


" Kau," desis Nayra.


" Kenapa, apa gunanya repot-repot dengan orang seperti itu. Bikin susah tukang selingkuh," ujar wanita itu dengan tajam.


" Jangan sembarangan menghina mamaku. Seharusnya kau menyadari dulu dengan apa yang kau lakukan. Dirimu juga berselingkuh dengan suami orang," sahut Nayra tidak kalah sinisnya.


Plakkk


satu tamparan keras melayang kepipi Nayra, Nayra memegang pipinya yang panas mendapat tamparan dari ibu tirinya itu.


" Jaga sikapmu jika berbicara," ujarnya, langsung menutup pintu rumahnya.


Nayra hanya terdiam. Dia sungguh tidak bisa melakukan apa-apa. Bukannya bertemu dengan papanya dia malah mendapat tamparan dari ibu tirinya.


Nayra kembali melamun di dalam Taxi. Dia merenungi apa yang terjadi. Dia terus mengingat ucapan mamanya yang memaksa Nayra harus mengeluarkan mamanya dari penjara.


Sebenarnya bagi Nayra lebih baik mamanya di penjara, jika mamanya di penjara. Perselingkuhan itu tidak akan ada lagi. Mamanya memang harus di beri hukum jera.


Tetapi di sisi lain Nayra harus memikirkan nasib adik tirinnya. Kasihan dengan adik tirinya yang pasti sedih. Belum lagi adiknya masih sekolah. Nayra menjadi serba salah dalam menghadapi situasi buruk itu.

__ADS_1


...Bersambung..........


__ADS_2