
Nayra menggendong sang anak di teras belakang. Kali ini dia yang mengambil alih untuk membawa sang anak berjemur. Dia menemani buah hatinya yang cantik itu berjemur di bawah terik matahari yang cerah.
" Segar kan sayang, segar pastinya, iya kan sayang. Segar kan sayang, anak mama kesenangan, berjemur," ujar Nayra sambil mengajak anaknya berbicara dengan senyum-senyum dan sang anak yang mengerti pun tertawa-tawa seakan begitu senang dengan mamanya yang menggendongnya dengan baik dan mengajaknya bicara.
" Ya ampun tawa dia, tawa dia pasti lucu ya sayang, gemes ya sayang," ujar Nayra lagi yang bermain dengan anaknya yang lucu dia bahkan menikmati tawa sang anak.
Raihan yang sudah rapi dan sudah menenteng tas kerjanya langsung menghampiri istrinya yang menemani sang anak.
" Sayang!" tegur Raihan memegang pundak istrinya.
" Sayang, papa sudah datang, papa tampan sudah datang sayang," ujar Nayra gemas. Raihan tersenyum dan mencium putrinya yang gendongan sang istri.
" Papa berangkat kerja dulu ya. Kamu jangan buat mama marah ya. Jangan bikin Mama repot ya, jangan bikin mamanya marah, terus jagain mama ya sayang," ujar Raihan dengan kepalanya menunduk memberikan puttrinya pesan.
" Iya papa, aku mana mungkin buat mama marah," sahut Raina dengan suara khas bayi. Raihan pun mengusap-usap pucuk kepala Raihan.
" Ya sudah sayang, aku pergi dulu," ujar Raihan pamitan pada istrinya.
Nayra mencium punggung tangan suaminya dan Raihan mencium kening istrinya, menciumi semua wajah istrinya dari mata, pipi sampai mengecup bibirnya.
" Kamu yakin mau kerja?" tanya Nayra kata yang singkat yang penuh dengan maksud tertentu.
" Kenapa kamu mau olah raga pagi lagi?" tanya Raihan dengan menaikkan 1 alisnya yang mengingat tingkah mereka semalam.
Nayra langsung menggeleng cepat. Dia memang suka menguji iman suaminya belakangan ini.
" Dasar, nakal," gemes Raihan mencubit pipi Nayra dengan lembut.
" Kamu juga nakal," sahut Nayra.
__ADS_1
" Tapi lebih nakal kamu," ujar Raihan.
" Iya deh kamu yang menang," ujar Nayra mengalah. Raihan mendengus tersenyum dan mengacak-acak pucuk kepala istrinya.
" Ya sudah aku berangkat ya, titip anak kita, kalau ada apa-apa, langsung telpon aku," ujar Raihan kembali pamit. Nayra mengangguk. Raihan kembali mencium kening istrinya, pipi, nya kembali mengecup bibir itu.
" Daa," ujar Raihan.
" Dada papa," sahut Nayra memainkan tangan anaknya seakan melambaikan tangan pada papanya. Raihan tersenyum melihatnya dan akhirnya pun pergi.
" Sayang, sekarang kita masuk yuk, papa sudah berangkat kerja," ujar Nayra mengajak anaknya untuk memasuki rumahnya.
*********
Di pagi yang sama Dion juga berangkat bekerja seperti biasanya dan Carey ada di depannya yang menunggunya memakai sepatu dengan tangan Carey yang memegang tas kerja Dion. Setelah selesai memakaikan sepasang sepatu itu. Dion pun berdiri dan mengambil tasnya dari tangan Dion.
" Aku pergi dulu!" ujar Dion pamit.
" Kamu hati-hati," ucap Carey dengan lembut. Dion mengangguk. Namun belum langsung pergi dan masih berdiri di depan Carey yang membuat Carey kebingungan.
" Ada apa?" tanya Carey heran.
" Boleh aku memegangnya?" tanya Dion yang mengarahkan matanya pada perut Carey.
Mungkin dia merasa harus meminta izin dulu. Walau yang di kandung itu adalah anaknya. Karena dia merasa tidak pantas untuk melakukan itu. Carey terdiam mendengar Dion meminta izin padanya. Hal yang seharusnya tidak perlu untuk meminta izin.
" Ya sudah, aku pergi dulu!" ujar Dion yang merasa Carey tidak mendapatkan izin dari Carey dan akhirnya memilih pergi. Carey pun menahan tangan Dion.
" Kenapa kamu minta izin?" tanya Carey dengan suaranya yang tertahan.
__ADS_1
" Dion, anak ini anak kamu. Apa harus kamu meminta izin padaku hanya untuk menyentuhnya, jelas itu adalah hak kamu," ujar Carey dengan wajahnya yang serius.
Dion meraih meraih kedua tangan Carey dan menggenggamnya dengan erat.
" Aku tau dia anakku, tapi aku tidak pantas menjadi ayahnya. Karena aku telah menyakiti ibunya," ucap Dion dengan wajahnya yang penuh penyesalan dan Carey yang mendengarnya tampak berkaca-kaca tidak percaya dengan kata-kata Dion.
" Aku adalah Pria yang jahat Carey. Aku sudah menyakiti kamu, aku tidak pernah mengerti apa yang kamu inginkan. Aku menutup mata untuk perasaan kamu yang sudah terluka karena kebodohanku. Aku memarahimu, membentak mu. Hanya karena seorang wanita. Aku benar-benar sangat bersalah padamu. Aku sangat jahat padamu Carey," ucap Dion dengan penuh penyesalan yang baru sekarang membicarakan hal itu pada istrinya.
Carey hanya terdiam mendengar perkataan Dion yang menyesali perbuatannya sekarang.
" Aku minta maaf Carey. Karena aku sudah menyakitimu. Maafkan aku Carey. Aku benar-benar minta maaf, aku tau memaafkanku bukan hal yang mudah. Aku tidak pantas di maafkan," ujar Dion dengan tulus meminta maaf pada istrinya.
Mendengar kata maaf itu membuat air mata Carey menetes. Dia pasti tersentuh dengan kata-kata Dion yang baru meminta maaf. Pasti dia sangat menunggu-nunggu maaf dari suaminya.
" Maafkan aku Carey," ujar Dion yang meminta maaf kembali pada istrinya.
" Aku sangat marah Dion melihatmu, aku marah dengan semua yang kamu lakukan kepadaku. Aku sangat marah dan juga membencimu karena kamu selalu memprotistas kan Vira. Kamu tidak peduli dengan perasaanku," ujar Carey yang menangis mengeluarkan kembali isi hatinya dengan kemarahannya pada suaminya.
" Aku tau, aku tau kamu marah, aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku tau dengan kata maaf. Tidak mungkin bisa membayar apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku tau itu," ucap Dion.
" Carey aku bukan hanya menyukaimu. Tetapi juga mencintaimu, aku tidak tau kapan aku menyukaimu. Aku merasa kita sudah sama-sama dewasa. Kita sudah tau perasaan kita dan jelas. Perasaan kita yang tidak perlu di ucapkan. Mungkin aku tidak mengerti. Aku tidak peka. Jika kamu menginginkan ucapan cinta dari ku. Tetapi selama pernikahan kita aku bukan hanya menyukaimu. Tetapi juga sangat mencintaimu," ucap Dion yang sekarang mengungkap perasaannya.
Dion memegang pipi Carey sembari mengusap air matanya.
" Aku tidak tau, apakah aku masih pantas atau tidak mendapatkan maaf dan kesempatan dari mu," ucap Dion lagi dengan air matanya yang menetes. Carey langsung meluknya dengan erat.
" Jangan meminta maaf padaku. Karena aku sudah melupakan semua itu. Aku juga salah. Aku bertindak berlebihan. Aku cemburu berlebihan, aku juga salah," ucap Carey yang juga mengakui kesalahannya.
" Aku yang salah, aku adalah imammu. Tetapi aku tidak bisa membingbingmu. Aku yang salah," ujar Dion yang terus merasa bersalah. Dion melepas pelukannya dari Carey.
__ADS_1
" Maafkan aku ya," ujar Dion yang dengan tulus meminta maaf. Carey mengangguk. Dion berjongkok dan mengusap perut Carey dengan lembut. Baru pertama kali Dion melakukan hal itu. Dia juga mencium perut ramping itu dengan air matanya yang menetes. Sama dengan Carey yang juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata.
Bersambung