
Raihan mendesis kesal dengan permintaan Nayra. Raihan langsung menuju lemari Nayra. Raihan membuka lemari itu dan melihat pakaian yang akan di ambilnya. Dengan asal Raihan mengambil saja.
Tok-tok-tok-tok Raihan mengetuk pintu kamar mandi. Nayra membuka sedikit dan hanya mengulurkan tangannya.
Raihan tersenyum miring, dan mencoba mendorong pintu kamar mandi. Nayra yang kaget langsung mendorong kembali.
" Apa yang kau lakukan," bentak Nayra, " dasar mesum," umpat Nayra. Raihan tersenyum. Karena dia Nayra saling dorong pintu.
" Beraninya kau mengatakan ku mesum," ujar Raihan dengan seriangi kecil di wajahnya.
" Sudah hentikan, perutku tambah sakit," protes Nayra menekan suaranya.
" Ulurkan tangan mu!" ujar Raihan.
Dia kembali mengalah dan memberikan Nayra pakaian itu. Mendengar Nayra kesakitan membuat Raihan tidak tega.
Nayra pun mengganti pakaiannya di di kamar mandi dan membasuh wajahnya di wastafel.
" Semoga saja dia tidak menyiksaku hari ini. Kenapa kau selalu datang di waktu yang tidak tepat, aku menyelesaikan pekerjaan ku yang sangat banyak," gerutu Nayra dengan lemas merasa sangat sial.
Karena tamunya datang saat masa-masa sibuknya. Bukannya dia saat dia libur. Supaya dia bisa istirahat dan menahan sakit sendirian.
Setelah lama di kamar mandi akhirnya Nayra keluar dari kamar mandi. Raihan berdiri dan langsung menghampirinya.
" Apa masih sakit?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.
" Istirahatlah," ujar Raihan membantu Nayra merebahkan dirinya di tempat tidur. Nayra terus memegang perutnya yang tambah sakit.
Raihan mengambilkan air hangat dan perlahan meminumkannya pada Nayra. Raihan melihat tangan Nayra yang terus mengepal dengan kuat. Pasti Nayra menahan kesakitan.
Biasanya jika tidak ada orang lain. Nayra akan berteriak-teriak untuk mengurangi rasa sakitnya. Tidak mungkin Nayra berteriak-teriak saat ada Raihan.
Raihan hanya duduk di depannya dan mengambil tisu melap wajah Nayra yang masih berkeringat.
...Tingnong bel Apartemen Nayra berbunyi....
" Aku akan membukanya," ujar Raihan. Nayra langsung mengangguk.
" Siapa yang datang," tanyanya bingung.
Tidak berapa lama Raihan kembali memasuki kamar Nayra dengan seorang wanita cantik yang memakai pakaian Dokter. Nayra kaget. Dia sudah mengatakan tidak ingin ke Dokter tetapi Raihan tetap membawakannya.
Dokter cantik itu tersenyum menghampiri Nayra.
" Saya periksa ya," ujar Dokter tersebut mengeluarkan steteskopnya. Nayra hanya diam dan melihat ke arah Raihan yang berdiri tegak dengan ke-2 tangan di dadanya.
Wajah Raihan terlihat cemas. Meski dia tau memang wanita akan seperti itu. Tetapi dari raut wajah itu. Dia sungguh sangat mencemaskan Nayra.
__ADS_1
Setelah memeriksa Nayra. Kondisi Nayra masih tetap sama saja. Dia akan sembuh jika sudah melewati hari pertama haid, makanya dia tidak memerlukan Dokter.
Setelah mengantarkan Dokter ke depan Apartemen Raihan kembali kekamar Nayra dan sudah membawa makanan untuk Nayra. Makanan yang di pesannya lewat gojek.
Nayra masih bersandar di kepala ranjang. Raihan pun duduk di depannya. Dan membuka kotak makanan itu.
" Makan lah dulu," ujar Raihan.
Nayra mengangguk. Raihan menyodorkan sesendok nasi ke mulut Nayra. Nayra langsung meraihnya. Raihan memang terlihat berbeda kepadanya. Raihan sangat lembut kepadanya hari ini. Membuat rasa sakitnya berkurang.
" Kenapa masih memanggil Dokter?" tanya Nayra serak.
" Aku hanya ingin tau keadaanmu," jawab Raihan kembali menyuapi Nayra.
" Itu hal yang biasa. Semua wanita akan mengalaminya," jawab Nayra.
" Tetapi semua wanita, ada berhentinya, bukan semakin parah. Tetapi dirimu semakin parah, dari dulu kau selalu seperti itu," ujar Raihan menatap dalam Nayra.
Nayra menelan salavinanya. Dia tidak menyangka Raihan mengingat semuanya dengan cepat. Sejak remaja Nayra memang akan super lebay jika tamu datang bulannya tiba.
Dan Raihan selalu ada disampingnya menemaninya. Nayra akan bermanja pada Raihan saat itu. Hari ini semua itu kembali lagi. Sejak 7 tahun lalu. Nayra terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
" Makanlah lagi, jangan hanya bengong," ujar Raihan kembali menyodorkan sendok pada Nayra.
Nayra mengangguk. Makanan yang di belikan Raihan habis semuanya. Raihan memberinya kembali air hangat. Selesai meminum semua air itu. Raihan meletakkan gelas di atas nakas. Lalu Raihan berdiri.
" Di sini lah sebentar!" pinta Nayra yang memang membutuhkan Raihan.
" Aku tidak akan kemana-mana," jawab Raihan. Terukir senyum tipis di wajah Nayra. Dia tidak menyangka jika Raihan akan menemaninya.
Nayra sekarang sudah tertidur di samping Raihan. Sementara Raihan menyadarkan tubuhnya di samping Nayra meluruskan kakinya dengan laptop di letakkan di pahanya.
Raihan benar-benar menjaga Nayra. Meski tertidur tetapi Nayra tidak pernah tenang. Sesekali dia akan meringis kesakitan tanpa membuka matanya. Di juga tidur gelisah dan air mata kesakitan itu terus jatuh.
Raihan hanya bisa melihat Nayra yang mengigau kesakitan. Mungkin memang cuma Nayra yang tau rasa sakitnya, sakit yang tidak ada obatnya.
Nayra menggeserkan tubuhnya dan memeluk pinggang Raihan dengan erat. Raihan menghentikan ketikannya dan melihat ke arah Nayra yang tertidur dengan wajah kesakitan.
Raihan tersenyum tipis, Raihan mengusap lembut rambut Nayra.
..." Sakit, apa yang harus aku lakukan," keluh Nayra dalam tidurnya....
Raihan menghela napasnya, Raihan menutup laptopnya dan meletakkan di atas meja. Raihan melonggarkan tubuhnya dan memeluk Nayra dengan erat.
" Aku akan ada di sini," ujar Raihan melihat wajah Nayra dan mengusap keringat Nayra. Jantungnya tidak akan pernah berhenti berdebar, ketika dekat dengan Nayra. Raihan mencium kening Nayra dan memeluknya erat.
Raihan seperti merindukan seorang kekasih yang sudah lama tidak di temuinya. Ini mungkin adalah peluapan emosi Raihan pada Nayra yang memang sebenarnya lebih di rindukannya.
__ADS_1
Nayra meneteskan air matanya, kala tubuhnya merasa di peluk dan keningnya yang hangat di cium oleh Raihan. Dia menyadari semua perlakuan Raihan kepadanya.
Tangannya memegang erat baju Raihan. Seperti tidak ingin lepas dari Raihan. Dia sangat merindukan Pria yang pernah ada di dalam hidupnya itu. Rindu yang tidak bisa di jabarkan.
" Jangan membenciku," batin Nayra.
Raihan pun memejamkan matanya, ikut tertidur bersama Nayra. Yang memang tidak melepas pelukannya dari Raihan.
*********
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Nayra menggeserkan tubuhnya seperti kehilangan sesuatu. Nayra membuka matanya perlahan. Kamarnya sudah gelap dia memang terbiasa tidur dengan mati lampu.
Kamarnya yang senyap. Mampu mendengar suara jari yang mengetik lincah. Dengan perlahan Nayra mencoba duduk. Nayra melihat tubuh Raihan yang membelakinginya yang duduk di sofa fokus dengan laptop.
" Dia masih di sini," batin Nayra.
" Kenapa kau belum pulang?" tanya Nayra. Raihan menghentikan ketikannya, matanya melirik kebelakang tanpa menggerakkan kepalanya.
" Bukannya kau yang menyuruhku tetap di sini," sahut Raihan tanpa menoleh ke arah Nayra.
Nayra terdiam, wajahnya malah memerah. Dia sungguh malu karena menyuruh Raihan menemaninya dan dengan percaya dirinya bertanya kembali pada Raihan.
" Bagaimana keadaanmu?" tanya Raihan dengan suara dinginnya.
" Aku sudah lumayan enakan," jawab Nayra.
" Minumlah terus air hangat!" ujar Raihan.
" Iya," jawab Nayra, " apa yang kau lakukan dengan laptopku?" tanya Nayra bingung melihat Raihan yang sangat serius.
" Aku akan menyelesaikan pekerjaanmu, kau tidak perlu datang kekantor besok, istirahatlah," jawab Raihan.
Nayra kaget mendengar Raihan menyelesaikan pekerjaannya. Sungguh dia tidak percaya Raihan akan melakukan itu.
" Apa dia serius, melakukan itu," batin Nayra masih tidak percaya. Padahal pekerjaannya sangat banyak.
" Kenapa kau melakukannya?" tanya Nayra penasaran.
" Aku hanya tidak suka hutang Budi, kemarin kau merawatku sewaktu aku sakit. Jadi aku hanya membalasnya," jawab Raihan dengan suara dinginnya.
Nayra mengangguk-angguk, dan tersenyum. Meski ucapan Raihan terlihat dingin. Tetapi dia bisa merasakan ketulusan itu.
" Istirahatlah kembali," ujar Raihan lagi.
" Jika ingin pergi maka bangunkan aku, jangan pergi tanpa sepengetahuan ku," ujar Nayra. Menarik selimutnya. Raihan kembali menghentikan ketikannya dan diam sesat.
Nayra tertidur dalam senyumnya. Raihan menoleh kebelakang dan melihat gadis itu sudah kembali tidur. Raihan tersenyum tipis dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengerjakan pekerjaan Nayra.
__ADS_1
...Bersambung.........