
Setelah mencampurkan susu kedalam racikan kopi tersebut. Nayra pun langsung mengantarkannya pada Raihan yang masih di dalam tenda.
Nayra meletakkan kopi tersebut di atas meja. Raihan meliriknya sebentar. Tanpa banyak bicara Nayra meninggalkan tempat tersebut. Raihan tidak memberhentikannya dan membiarkannya saja pergi.
Setelah kepergian Nayra, Raihan pun meminum kopi tersebut. Raihan sangat lama menghayati rasanya. Raihan tersenyum saat mengetahui kopi tersebut di campur susu.
Raihan memang tidak akan meminum kopi, jika tidak di campur susu. Dan Nayra membuatnya tanpa Raihan mengatakan harus memakai susu. Jelas Nayra sangat tau apa yang di sukai Raihan.
" Ternyata dia masih mengingatnya," gumam Raihan tersenyum miring.
**********
Cuaca hari ini sangat buruk. Para warga sudah was-was jika akan terjadi bencana susulan. Sedari tadi angin kencang.
" Semoga saja tidak terjadi apa-apa," gumam Nayra sangat berharap. Rambutnya terus menari-nari karena tiupan angin yang kencang.
" Nayra," tegur Angga.
" Pak, Angga," ujar Nayra.
" Kamu sedang apa?" tanya Angga.
" Oh, nggak lagi melihat data-data warga, apa masih ada yang tinggal di pemukiman, soalnya dengar-dengar akan ada bencana susulan," jelas Nayra.
" Benar, beberapa tim juga sudah mengintruksikan agar kita juga waspada," sahut Angga.
" Iya pak," ujar Nayra.
Tiba-tiba Nayra merasa ada sesuatu di matanya, Nayra memegang matanya dengan jarinya. Matanya begitu perih dan sudah berair. Sepertinya tiupan angin membuat ada sampah masuk kematanya.
" Kamu kenapa?" tanya Angga menundukkan kepalanya melihat kearah Nayra.
" Sepertinya, mata saya terkena serangga," jawab Nayra.
" Sini biar saya lihat," ujar Angga memegang pundak Nayra. Nayra melihat pundaknya terdapat tangan Angga langsung menghindar.
" Tidak usah pak, tidak apa-apa," Nayra menolak.
" Sudah jangan menolak," ujar Angga tidak peduli, Anggapun mendekatkan wajahnya kepada Nayra dan melihat apa yang mengganggu mata Nayra.
Angga meniup mata itu dengan lembut. Sementara Nayra sebenarnya merasa kurang nyaman dengan kedekatannya pada Angga. Dia tidak enak jika ada yang melihat.
Ternyata dari kejauhan 12 meter Raihan melihat hal itu. Raihan melihat Angga dan Nayra yang sangat dekat. Raihan mengepal ke-2 tangannya. Pikirannya sudah sangat jauh. Wajah Angga yang miring mendekati Nayra.
Memperlihatkan jika Angga sedang mencium Nayra. Hal itu tidak terlihat karena wajah Nayra yang tertutup rambutnya.
" Kurang ajar," desis Raihan. Rahang kokohnya mengeras saat melihat hal itu. Matanya memerah ada rasa kemarahan terbesar. Seperti terbakar cemburu.
Tidak ingin melihat kemesraan di depan matanya. Raihan memilih meninggalkan tempat itu. Ternyata bukan hanya Raihan yang melihat hal itu.
Della juga melihat hal itu. Hatinya sangat sakit saat kembali melihat kemesraan yang di tunjukkan Angga. Della harus menelan pil pahit dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan tanpa ada kata selesai.
__ADS_1
Mata Della berkaca-kaca saat momen itu di lihat mata kepalanya sendiri. Della memejamkan matanya seraya menahan kesedihannya. Della pun memilih pergi dari tempat itu.
" Apa masih perih?" tanya Angga yang selesai meniup mata kiri Nayra.
" Tidak Pak, terima kasih pak Angga," ujar Nayra pada Angga.
" Sama-sama," sahut Angga tersenyum lebar.
" Hmmm kalau begitu saya masuk dulu," ujar Nayra pamit.
" Iya masuklah," ujar Angga. Nayra pun tersenyum lalu meninggalkan Angga yang juga tersenyum lebar, melihat punggung wanita itu berjalan.
" Aku akan segera menjadikan mu istri. Sebelum pulang dari sini, status kita harus berubah," batin Angga berharap banyak.
Nayra pun berjalan memasuki tenda. Masih dengan kertas yang di tempelkannya dipapan ujian. Nayra memegang dengan memeluk kertas itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Saat memasuki tenda Nayra yang melihat kebawah tidak sadar jika Raihan sudah ada di depannya. Nayra langsung menabrak tubuh Raihan.
Nayra mengangkat kepalanya melihat Pria yang berdiri di depannya adalah Raihan. Nayra menelan salavinanya, saat melihat tatapan Raihan yang berbeda.
Tatapan itu melebihi tatapan dingin. Seperti monster yang ingin memangsa sandaranya. Rahang kokoh itu mengeras. Terlihat mata biru itu menjadi memerah, menyimpan amarah yang besar. Seperti api yang ingin menyambar.
" Ma_ maaf," satu kata yang bisa di ucapkan Nayra dengan kegugupannya.
" Apa kau tidak punya mata saat berjalan, atau karena sangking bahagianya. Kau lupa dengan langkahmu," ujar Raihan dengan sinis, menekan suaranya.
" Ada apa dengannya, kenapa dia terlihat marah, apa kopi yang aku buat salah," batin Nayra yang mulai bingung.
" Dan sekarang, mulutmu juga tidak bisa bicara. Apa karena barusan mendapat sentuhan darinya," ujar Raihan lagi dengan sinis. Nayra menatap heran. Dia sungguh tidak mengerti apa yang di maksud Raihan.
" Sopan santun juga sudah hilang, apa aku sederajat denganmu, sampai kau memanggilku dengan nama, ingatlah aku adalah atasanmu," ujar Raihan lagi dengan sinis. Nayra menelan salavinanya. Apa yang keluar dari mulutnya akan dibalas pedas oleh Raihan.
" Maaf Pak, saya tidak bermaksud menabrak anda," sahut Nayra yang gugup.
Nayra berpikir dari pada memperpanjang masalah. Dia lebih baik mengalah. Hari ini dia begitu lelah dia ingin istirahat.
" Apa yang kau lakukan tadi, kau sebenarnya berada di Adbver atau EXlain?" tanya Raihan membuat Nayra semakin dek-dekan.
" Kenapa dia membawa nama EXlain," batin Nayra.
" Maksudnya ?" tanya Nayra bingung.
" Aku sudah mengatakan dari awal, jangan berhubungan dengan orang luar, selagi masih dalam suasana bekerja," ujar Raihan menegaskan.
" Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, aku tidak berhubungan dengan siapa-siapa, aku hanya mengecek beberapa warga yang masih tinggal di pemukiman," jelas Nayra.
" Jangan banyak alasan, jangan menjadikan warga sebagai alasanmu, untuk bersenang-senang," sahut Raihan yang tidak ingin mendengar penjelasan Nayra.
" Tapi aku serius, lihat ini," Nayra memberikan data yang seharian di kerjakan. Tanpa melihat data itu. Raihan mengambil kasar dari tangan Nayra dan melemparnya ke bawah. Nayra kaget dengan apa yang di lakukan Raihan.
" Kau," desis Nayra kesal.
__ADS_1
" Cek kembali semua para warga, dan pastikan tidak ada yang masih tinggal di pemukiman," tegas Raihan.
" Aku sudah melakukannya, lagi pula itu bukan tugasku," protes Nayra.
" Aku bilang kerjakan," bentak Raihan.
" Tapi pak ini sudah sore dan kembali kepemukiman butuh waktu lama," protes Nayra lagi. Menurutnya tidak masuk akal jika kembali kepemukiman warga yang rawan bencana.
" Aku tidak peduli, lakukan yang aku katakan," tegas Raihan dia sama sekali tidak ingin mendengar alasan Nayra.
" Tapi..."
" Cepat!" bentak Raihan
Nayra menghembuskan napasnya ke atas sehingga poninya bergerak. Dia mengambil data yang di lempar Raihan dan langsung pergi. Padahal ini sudah sangat sore.
Raihan mengusap wajahnya kasar saat melihat kepergian Nayra. Dia melampiaskan kemarahannya kepada Nayra. Atas apa yang di lihatnya barusan.
********
Hari semakin sore, Nayra yang memakai kemeja putih, dan jeans Navy. Terus berjalan Nayra melihat ke atas langit.
" Cuacanya sangat buruk, aku harus menyelesaikan pekerjaanku secepatnya," gumam Nayra kembali berjalan.
Posko Adbver.
Tiupan angin semakin kencang, bahkan hujan deras sudah turun, para karyawan Adverb seluruhnya memasuki tenda.
" Buat para seluruh pengungsi agar waspada, akan terjadi bencana susulan. Melihat cuaca semakin buruk. Harap menghentikan beberapa pekerjaannya di luar," terdengar pengumuman yang cukup keras memberi peringatan kepada semua orang tanpa kecuali.
" Perhatian semuanya, untuk kalian seluruh karyawan yang ada di sini, jangan ada yang keluar sampai cuaca membaik, pastikan untuk lebih waspada," ujar Alex memberi himbauan kepada karyawannya.
" Baik Pak," sahut mereka dengan serentak.
" Nayra kemana?" tanya Alex yang tidak melihat satu karyawannya.
Semua karyawan saling melihat, dan bertanya satu sama lain.
" Mungkin lagi di dapur umum Pak," sahut salah satu Karyawan.
" Baiklah, pastikan semuanya di tempat yang aman," ujar Alex lagi.
Raihan yang duduk di kursi lipat, sebentar-sebentar melihat jam tangannya. Matanya juga terus melihat kearah pintu masuk. Raihan terlihat begitu gelisah.
" Kenapa dia belum kembali," batin Raihan mulai cemas.
" Anita Nayra mana sih?" tanya Ria yang sedari tadi tidak melihat sahabatnya.
" Mungkin lagi di tenda pengungsian," sahut Anita fokus pada pekerjaannya.
" Tidak ada aku sudah melihatnya, di dapur umum, atau di mana dia tidak ada," jelas Ria yang sudah mulai khawatir.
__ADS_1
" Di mana ya dia, tidak mungkin dia masih....," Anita ragu melanjutkan kalimatnya. Tetapi perasaannya mulai tidak enak.
...Bersambung.........