
Zira masih berdiri di tempat dengan napasnya mulai tidak beraturan. Kesulitan bicara. Sehingga diam tanpa berucap seperti apa yang ingin keluar dari mulutnya.
Seperti ada yang tersangkut di tenggorokannya. Dia benar-benar sangat shock melihat orang yang berdiri di hadapannya. Pria yang beberapa bulan tidak di temuinya dan sekarang muncul di hadapannya wajah itu juga tampak lusuh.
" Mama," ucap Raihan lagi dengan suara serak. Air mata Raihan yang jatuh.
" Raihan," suara bergetar Zira akhirnya keluar. Tangannya yang bergetar perlahan memegang wajah Raihan, meraba seperti seorang wanita buta.
" Benar ini kamu?" tanya Zira yang masih tidak percaya. Raihan mengangguk memegang tangan mamanya yang ada di pipinya.
" Ini Raihan ma, Raihan anak mama," ujar Raihan meyakinkan sang mama. Tidak menunggu lama Zira langsung memeluknya. Merasakan tubuh putranya
Itu memang anaknya pelukan itu membuktikan jika itu anaknya pelukan erat yang sudah lama tidak di peluk. Putra kesayangannya. Tidak menyangka di dalam hidupnya akan bisa merasakan kehangatan itu.
" Maafin Raihan ma. Raihan baru kembali. Maafkan Raihan ma, maafkan Raihan," ujar Raihan yang berlinang air mata meminta maaf pada sang mama.
Dia juga tidak percaya. Bisa bertemu sang mama, memeluk sang mama merasakan kehangatan sang mama mungkin lebih 4 bulan dia tidak kembali.
Zira melepas pelukannya dan kembali memegang ke-2 pipi putranya dengan ke-2 tangannya. Kembali meraba kulit dari wajah, bahu seperti kembali memastikan dengan tangannya yang bergetar.
" Kemana kamu aja selama ini. Apa yang terjadi sayang. Kenapa kamu tidak pulang. Apa yang terjadi sama kamu. Apa yang terjadi Raihan?" tanya Zira dengan tergesa-gesa.
" Ceritanya panjang ma. Yang penting sekarang Raihan senang. Karena Raihan bisa ketemu mama. Raihan sangat merindukan mama," ujar Raihan kembali memeluk Zira. Memeluk dengan meluapkan rasa rindunya pada sang mama.
" Ya Allah terimakasih. Kau telah mengembalikan putraku. Terima kasih ya Allah. Terima kasih ya Allah. Aku tidak pernah menyangka jika ada hal ini akan datang. Terima kasih ya Allah," Zira terus mengucap syukur atas kehadiran putranya yang sama sekali tidak pernah di sangka nya.
" Om Raihan!" tegur Amira yang sedari tadi di cuekin. Raihan melepas pelukannya dari sang mama dan langsung berlutut di depan Amira.
" Amira," lirih Raihan.
" Kenapa Om lama pulangnya. Kasihan Tante Nayra menangis terus," ujar Amira dengan wajah cemberutnya.
" Nara," lirih Raihan mengangkat kepalanya melihat sang mama.
" Di mana Nara ma?" tanya Raihan yang pasti wanita yang paling di rindukannya adalah istrinya.
" Ada. Dia ada," sahut Zira.
" Apa dia baik-baik saja?" tanya Raihan yang panik dengan kondisi istrinya. Zira mengangguk cepat.
" Iya Raihan, Nayra baik-baik saja. Dia sangat baik, dia baik-baik saja," jawab Zira.
" Om jangan khawatir. Karena selama Om pergi. Tante Nayra banyak yang jagain termasuk Amira. Amira selalu bersama Tante Nayra," ujar Amira memegang pipi Raihan mengusap air mata Amira.
" Makasih Amira. Amira memang anak yang baik. Makasih sudah jagain tante Nara," ujar Raihan. Amira mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum.
" Ma di mana Nara. Aku ingin menemuinya?" tanya Raihan sudah tidak sabaran. Raihan berdiri kembali.
__ADS_1
" Mama akan bawa kamu menemuinya. Tapi kamu bersih-bersih dulu. Biar tubuh kamu fress. Kamu jangan khawatir secepatnya. Kita akan menemuinya," ujar Zira yang melihat sang anak memang sangat kucel. Seperti tidak terawat.
Hal itu pasti membuatnya sangat sakit. Karena dia tidak tau apa yang di alami putranya. Bisa sampai seperti itu.
" Tapi ma!" Raihan menolak. Karena sudah tidak sabaran menemui sang istri.
" Raihan. Jika Nayra melihat kamu dalam ke adaan seperti ini. Dia akan sangat sedih. Jadi kamu mandi dulu, kamu makan dulu. Baru kita pergi menemuinya," ujar Zira lagi.
" Baiklah ma," sahut Raihan yang akhirnya setuju mengikuti sang mama.
" Ayo kita masuk!" ajak Zira. Raihan mengangguk. " Ayo Amira," ajak Zira lagi pada Amira. Amira mengangguk. Mereka pun akhirnya memasuki rumah.
*********
Zira dan Amira menunggu Raihan di ruang tamu. Raihan sedang mandi agar terlihat fress. Zira sangat bahagia. Dengan kepulangan Raihan yang tiba-tiba dan dia masih merasa jika semua itu benar-benar masih seperti mimpi.
" Nayra pasti bahagia dengan kehadiran Raihan. Nayra kesabaran kamu selama ini telah berbuah manis. Suami kamu kembali. Kamu benar dia memang tidak akan pernah meninggalkan kamu. Dia kembali kepadamu," batin Zira yang terus merasa bahagia. Dia sangat terharu dengan kenyataan yang di terimanya.
" Oma kenapa nangis. Bukannya harus senang karena Om Raihan sudah datang," sahut Amira yang melihat air mata Omanya keluar.
" Oma nangis bahagia. Karena Om kamu kembali," jawab Zira.
" Tante Nayra juga pasti bahagia. Karena Om Raihan sudah pulang," ujar Amira.
" Kamu benar sayang. Tante Nayra akan sangat bahagia," sahut Zira.
" Kamu benar sayang ini memang kejutan untuk Tante Nayra. Ini kado terindahnya di hari ulang tahunnya. Dia pasti sangat bahagia," ujar Zira dengan tersenyum.
" Nayra memang akan sangat bahagia dengan hal ini. Ini hadiah terbesar untuknya," batin Zira yang tidak sabaran memberikan Nayra kejutan.
" Kalau begitu ayo kita cepat Kesana Oma biar langsung ketemu Tante Nayra," sahut Amira yang sudah tidak sabaran.
" Iya Amira. Kita akan kesana. Kita tunggu om kamu dulu selesai mandi dan ganti pakaian," ujar Zira.
" Baik Oma. Jadi ada untungnya Amira lama-lama tadi. Soalnya kita jadi ketemu sama om Raihan. Coba tadi Amira buru-buru. Pasti kita sudah pergi dan saat Om Raihan datang sudah tidak ada kita. Jadi ada untungnya kan Amira lama-lama," ujar Amira yang merasa apa yang di lakukannya menguntungkan.
" Iya kamu memang benar untung saja kamu lama," ujar Zira mengusap pipi Amira. " Tapi ingat jangan kebiasaan apa-apa lama. Kamu ini anak perempuan kalau dikit-dikit lama bikin Mama kamu suka marah. Jadi jangan kebiasaan mengerti," lanjut Zira sekalian memberi saran cucunya.
" Iya Oma," sahut Amira yang tampak tidak ikhlas. Dari kecil memang kelihatan Amira yang super super lelet dan tidak tau bagaimana besarnya. Makanya Raina terus marah-marah kepada Amira.
Lama menunggu akhirnya Raihan pun turun. Raihan menuruni anak tangga sudah bersih dan rapi. Tidak seperti saat Zira melihatnya.
Zira langsung berdiri ketika sang putra melangkah mendekatinya. Zira tersenyum memengang ke-2 pundak Raihan. Mengusap lengan Raihan dari bawah sampai ke atas dan dari atas sampai kebawah.
Matanya juga melihat penampilan putranya yang benar-benar Raihan yang tampan. Putranya yang selalu menjadi idola. Memang itulah Raihan. Raihan sudah ada di depan matanya.
" Kamu memang Raihan anak mama, kamu raihannya mama," ujar Zira yang tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Karena memang sangat haru. Raihan yang dengan kemeja putih lengan panjang di masukkan kedalam celananya yang panjang berwarna hitam.
__ADS_1
Dia memang sangat tampan dan sudah bersih tidak kucel dan kumuh. Anak orang kaya pun semakin terlihat. Zira tidak tau apa yang terjadi pada putranya. Mungkin nanti dia bisa mendengar cerita putranya. Yang penting putranya sudah ada di depan matanya.
" Ayo ma kita menemui Nayra," ujar Raihan yang tidak sabaran menemui sang istri.
" Iya sayang ayo kita pergi," ujar Zira yang juga tidak sabaran mempertemukan Raihan pada menantunya.
" Ayo om," Amira langsung menggenggam tangan Raihan yang menggantung. Raihan tersenyum mengangguk. Lalu mereka langsung pergi.
**********
Acara pesta.
Acara ulang tahun Nayra memang di rencanakan kakaknya dan teman-temannya. Mereka ingin memberikan Supraise party untuk Nayra yang berulang tahun ke 24.
Acara pesta di laksanakan di lapangan terbuka. Lokasi tersebut di penuhi bunga-bunga dan dekor lampu yang indah. Kue ulangtahun yang tingkat juga ada di sana. Layaknya seperti kue ulang tahun pernikahan.
Mereka memang bekerja sama untuk melakukan hal terbaik untuk Nayra. Agar Nayra terus bahagia. Selama ini Nayra memang berhasil menjaga kandungannya dengan baik dan pastinya. Karena campur tangan orang-orang di sekelilingnya.
Di acara pesta tersebut sudah banyak teman-temannya yang sudah berdatangan dan memang Nayra sendiri belum datang. Namanya juga Supraise party jadi tokoh utamanya datang belakangan.
Raina tampak sibuk mengecek beberapa hal. Dia takut ada yang kurang dan pestanya menjadi tidak sempurna. Dia juga salah satu panitia yang sibuk sejak pagi.
Seperti sekarang ini Raina memeriksa catering apa ada yang belum datang atau bagaimana. Dia benar-benar sangat teliti memeriksanya.
" Sayang!" tegur Raka berdiri di belakangnya dengan menggendong putranya kecil mereka. Alan. Nama putranya sendiri di beri nama Alan.
" Iya Sanga kenapa?" tanya Raina. Merapikan tatanan pakaian putranya.
" Mama belum datang?" tanya Raka yang sedari tadi tidak melihat ibu mertuanya.
" Tadi aku sudah telpon. Katanya mau otw. Soalnya kamu tau sendiri yang buat lama itu siapa Amira. Dia lama banget. Makanya mama belum datang," jawab Raina.
" Begitu rupanya. Soalnya papa juga sudah datang," sahut Raka.
" Oh iya, di mana, aku kok belum liat ?" tanya Nayra.
" Di depan. Lagi ngobrol sama om David, dan Tante Jihan juga yang lainnya," jawab Raka.
" Ohhhh," sahut Nayra.
" Oh iya Nayra sendiri bagaimana. Siapa yang jemput Carey?" tanya Raka.
" Tidak. Nayra berangkat sama Andini dan Luci,' jawab Raina.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Raka.
Bersambung
__ADS_1