
Raina sudah mulai sadar dan terus memanggil-manggil nama Amira. Tubuhnya sangat lemas berbaring di atas tempat tidur. Di dalam kamar hanya ada Andini dan Nayra yang menemaninya.
" Amira, Amira, sayang kamu di mana Amira, Amira," ujar Raina yang memanggil anaknya dengan air mata yang menetes terus menerus.
" Kak, Raina tenang ya," ujar Nayra menenagkan Raina dengan memegang tangan Raina. Sementara Andini memijat-mijat kaki Raina.
" Bagaimana aku bisa tenang Amira tidak tau kemana, dan sampai sekarang dia belum juga datang," ujarnya yang terus menangis Sengugukan, suaranya bahkan sudah hilang.
Della memasuki kamar dan membawa segelas air putih menghampiri tempat tidur.
" Ayo Nayra bantu Raina duduk, biar minum dulu," ujar Della.
Nayra dan Andini membantu mendudukkan Raina. Dan memberi air putih agar Raina tenang. Raina hanya meminum sedikit.
" Amira, Amira," kembali terdengar suara memanggil Amira.
Andini dan Nayra hanya bisa saling melihat dan pasti tau apa yang di rasakan Raina. Pasti Raina sangat ke takutan dengan anaknya.
" Bagaimana keadaan kak Raina?" tanya Nayra.
" Dia sangat schok dan berpikir yang aneh-aneh," jawab Della.
" Raina kamu jangan banyak pikiran dulu ya, kamu harus tenang," ujar Della memberi saran.
Raina menyibakkan selimut dari tubuhnya dan langsung berdiri dan beranjak dari tempat tidur langsung ke luar dari kamar.
" Kak Raina," panggil Nayra.
Raina ke luar dari kamar dan menghampiri ruang tamu yang terdapat, Raihan dan yang lainnya.
" Di mana Amira, di mana Amira, kenapa kalian tidak mencarinya, kenapa kalian masih diam di sini," teriak Raina yang benar-benar mencemaskan putrinya.
" Zetty tenang dulu, kita akan telpon polisi," ujar Raihan menenagkan adiknya.
" Benar kak, besok pagi kita akan telpon polisi," sahut Luci.
__ADS_1
" Besok pagi kalian bilang, apa kian tidak punya otak, apa besok pagi Amira akan ada," teriak Raina yang mengkhawatirkan Amira dan tidak mungkin hanya diam menunggu besok pagi tanpa melakukan apa-apa.
" Bukan begitu Kak, tapi..."
" Cukup, kalau kalian tidak mau mencarinya biar aku yang mencarinya," teriak Raina. Raina berlari dan langsung di tarik Raka sehingga Raina berada di pelukannya.
" Tenangkan diri kamu, kita akan menemukan Amira, percayalah bersabarlah sampai besok pagi," bujuk Raka.
" Tidak Raka, aku mohon Raka, sekarang kita harus mencarinya, aku takut Raka Amira kenapa-napa, dia pasti ketakutan, aku mohon Raka," ujar Raina menangis tersedu-sedu.
" Iya aku tau Raina aku juga mencemaskannya, kita akan telpon polisi," ujar Raka melihat ke arah Raihan. Raihan mengangguk dan memberi kode pada Sony untuk menghubungi pihak berwajib.
" Jangan menangis lagi semua akan baik-baik saja," ujar Raka lagi. Jujur dia juga sangat khawatir. Tetapi dia berusaha tenang. Karena jika semua panik. Pikiran tidak akan bisa bekerja.
************
Pagi hari kembali. Tidak belum kabar mengenai Amira. Bahkan polisi juga sudah memeriksa beberapa lokasi di sekitar Villa. Tetapi tetap tidak ada sesuatu jejak sedikitpun. Semakin mempersulit menemukan Amira.
Polisi juga ikut memeriksa cctv dan sama saja hasilnya tidak ada juga. Sementara Raina dan yang lainnya hanya semakin panik dengan keberadaan yang tak juga kunjung mendapat petunjuk.
Semua penghuni Villa juga berdiri di depan Villa dengan wajah panik.
" Aku juga tidak mengerti kenapa dia harus menculik Amira, apa memang Amira sudah di incar," tebak Dara penuh kecurigaan.
" Masuk akal, tapi untuk apa," sahut Luci.
" Kenapa semuanya jadi kacau, seharusnya aku tidak membuat acara ini," ujar Della yang malah merasa bersalah dan menyesal mengadakan acara perpisahan yang ternyata mengubah menjadi perpisahan Amira.
" Kak, ini bukan salah kakak, mana ada yang tau kalau semuanya akan seperti ini, ini musibah," sahut Andini.
" Benar kata Andini, ini tidak ada kaitannya sama kamu, mana ada yang tau kapan musibah akan datang," sahut Dara.
Sementara Raina masih saja menangis di rangkulan Raihan. Raihan terus mengusap-usap pundak Raina menenagkan Raina kembali. Salah satu Polisi menghampiri Raina, yang bersamaan dengan Raka, Raihan dan Nayra.
" Selamat pagi Bu Raina," sapa Polisi tersebut.
__ADS_1
" Bagaimana pak apa ada petunjuk mengenai anak saya?" tanya Raina pada intinya.
" Mohon maaf, kami tidak menemukan petunjuk apa-apa, tetapi menurut kami, memang anak ibu sengaja di culik," jawab Polisi tersebut.
" Apa maksud bapak, dan siapa yang melakukannya?" tanya Raina semakin panik.
" Saya justru ingin menanyakan kepada ibu, apa ibu sebelumnya punya musuh?" tanya polisi membuat Raina bingung dan menggeleng.
" Apa yang sebenarnya yang di maksud Polisi," batin Raka yang memikirkan sesuatu.
" Kami menduga ini suatu perencanaan dan memang Amira sengaja di culik," jelas Polisi.
" Tapi untuk apa, apa salah anak saya?" tanya Raina semakin panik.
" Ibu tenang dulu kita akan terus berusaha mencari keberadaan anak ibu, saya permisi dulu, saya akan mengecek beberapa lokasi lagi, semoga ada petunjuk," ujar Polisi tersebut.
" Makasih Pak," sahut Raihan.
" Kak, bagaimana ini kak, Polisi itu mengatakan Amira sengaja di culik, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Amira, bagaimana ini kak?" tanya Raina semakin panik.
" Kamu tenang ya, sebaiknya kita kembali ke Jakarta," ujar Raihan memutuskan.
" Tapi, kak bagaimana jika Amira pulang, kita tidak ada di sini, dia akan ketakutan," ujar Raina yang semakin cemas.
" Benar Raihan, kita tidak mungkin pulang ke Jakarta," sahut Nayra.
" Kak, kita tunggu di sini, aku tidak akan kemana-mana sebelum Amira pulang," tegas Raina.
" Zetty kamu tenang ya, Amira akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-apa padanya, kamu jangan khawatir kita serahkan kepada pihak yang berwajib, semua akan baik-baik saja," ujar Raihan memegang ke-2 pundak adiknya menenagkan adiknya.
" Zetty tenang lah, jangan banyak pikiran, kamu juga harus jaga kesehatan kamu, kita akan menemukan Amira, kamu juga belum makan, kamu harus makan dulu," ujar Raihan lagi yang malah khawatir dengan kesehatan adiknya.
" Tapi Amira juga belum makan, dia juga tidak tau bagaimana sekarang kak, tadi malam dia pasti ketakutan, dia pasti kebingungan kak, dia juga pasti kelaparan kak," ujar Raina Sengugukan menangis di pelukan kakaknya.
" Iya kakak tau, kakak tau apa yang kamu rasakan. Kakak juga mencemaskan Amira, mama sama papa juga, semua orang, tetapi kita tidak boleh terlalu sedih, kita harus makan, kita harus kuat biar bisa mencari Amira, Ya," bujuk Raihan lagi. Raina mengangguk berusaha tenang.
__ADS_1
" Ada apa ini, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan hilangnya Amira, ini tidak mungkin kebetulan ini pasti ada yang tidak beres," batin Raka mencurigai sesuatu.
Bersambung