Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 156


__ADS_3

Nayra keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian Raina. Ini pertama kali bagi Raina memasuki kamar Raihan yang sudah di sadarinya adalah suaminya.


Mata Nayra berkeliling melihat seisi kamar Raihan yang sangat luas. Nayra juga melihat beberapa susunan foto yang ada di dingding kamar.


Nayra tersenyum saat melihat salah satu fotonya berada di sana.


" Apa setiap tidur dia akan melihatku terus," gumam Nayra melihat arah tidur Raihan yang berhadapan dengan fotonya.


Nayra kembali menjelajahi kamar Raihan. Nayra melihat 1 ruangan yang ada di kamar itu yang mungkin ruang kerja Raihan. Nayra melangkahkan kakinya menuju ruangan itu.


Dugaan Nayra benar. Ruangan itu ruang kerja suaminya. Ruangan yang pasti penuh bisnis. Ada rak buku yang tersusun rapi. Meja kerja yang penuh tumpukan buku dengan 1 komputer.


Dengan langkah yang santai sambil melihat-lihat ruangan itu. Nayra berjalan menuju meja kerja Raihan.


Lagi dan lagi Nayra tersenyum saat di meja di samping laptop itu terdapat bingkai fotonya yang masih memakai seragam SMA.


Ada kebahagian tersendiri untuk Nayra. Jika memang benar Raihan tidak pernah berhenti mencintainya.


Pandangan Nayra jatuh kepada kotak yang terdapat di laci bawah. Nayra berjongkok dan mengambil kotak itu. Nayra membuka kotak itu dan melihat isinya.


Nayra melihat album foto. Nayra meletakkan album foto itu di atas meja dan membukanya. Nayra melihat album itu penuh foto-fotonya dan Raihan. Kenangan saat mereka bersama.


Nayra mengambil 1 foto itu. Foto saat di mana Raihan menggendongnya di belakang. Nayra membalik belakang foto itu dan melihat tulisan tangan.


" Terimakasih pernah karena sudah hadir di dalam hidupku. Aku mencintaimu sangat mencintaimu Nara," Nayra berdecak tersenyum haru saat melihat tulisan itu.


" Aku juga mencintaimu," gumam Nayra mengusap wajah Raihan dengan jarinya. Setelah melihat semua foto-foto itu.


Satu Foto yang kembali mencuri perhatian Nayra. Saat dia memakai seragam SMP. Saat dia ingin memasuki gerbang sekolahnya.


Wajah Nayra mengkerutkan dahinya ketika dia mengingat bahwa itu adalah hari di mana pertama kali dia bertemu dengan Raihan.


Saat itu dia tertabrak mobil Raihan. Raihan mengobatinya dan mengantarnya ke sekolah.


" Dasar, katanya tidak menyukai ku saat pertama bertemu. Tapi apa belum apa-apa sudah mengambil fotoku diam-diam," gerutunya dengan perasaan yang bahagia.


Nayra menutup album itu dan melihat kembali kotak-kotak yang lain. Yang ternyata ada beberapa pemberiannya ke pada Raihan.


" Dia masih menyimpannya," gumam Nayra terus melihat beberapa pemberiannya.


Tangan Nayra berhenti ketika melihat kalung. Nayra mengambil kalung itu. Kalung yang pernah di berikan Raihan kepadanya.


Nayra mengingat pernah membuang kalung itu di kantor saat Raihan mengecewakannya. Nayra terus mengusap-usap kalung itu dengan jarinya.

__ADS_1


Raihan memasuki kamarnya dan tidak menemukan istrinya. Raihan melihat ruang kerjanya yang terbuka. Raihan langsung berjalan menuju ruang kerja itu.


Raihan berdiri di depan pintu dan melihat Nayra berdiri dengan memegang kalung itu.


" Nara," tegur Raihan.


Nayra langsung melihat ke arah pintu melihat Raihan yang sekarang mendekatinya.


" Kamu sedang apa?" tanya Raihan. Raihan mengelilingi meja dan berada di belakang istrinya.


" Aku sedang melihat-lihat ini," jawab Nayra berbalik ke arah suaminya. Raihan tersenyum dan mendekati Nayra. Sampai Nayra bersandar di pinggir meja.


" Bukannya aku pernah membuang ini?" tanya Nayra. Raihan mengangguk.


" Hmmm, aku menemukannya di depan pintu ruangan ku. Saat di kantor, aku ingin mengembalikannya. Tetapi belum sempat," jawab Raihan.


" Maaf jika aku sempat membuangnya, aku hanya emosi. Seharusnya aku tidak melakukan itu," ujar Nayra merasa bersalah.


Raihan tersenyum lalu meraih kalung itu dari tangan Nayra.


" Apa kamu masih membutuhkan ini?" tanya Raihan. Nayra mengangguk. Raihan membuka pengait pada kalung itu.


Raihan langsung memakaikan keleher Nayra. Nayra tersenyum ketika benda yang pernah melekat di lehernya kembali melekat. Lagi dan lagi Raihan yang kembali memasangkan untuknya.


" Pakailah terus dan jika marah bisa membuangnya kembali dan aku akan memakaikannya lagi," ucap Raihan.


" Aku pasti akan menemukannya. Dan akan kembali memasangkan untukmu," jawab Raihan .


" Apa kalung ini. Punya Cctv sampai kamu langsung bisa menemukannya?" tanya Nayra.


" Hmmmm, Cinta aliran cinta yang melebihi cctv," jawab Raihan. Nayra tersenyum mendengarnya dan terus memegang kalung yang terus melekat di lehernya.


" Terimakasih Raihan, kamu selalu menjaga hal sekecil yang kumiliki," ujar Nayra menatap Raihan. Raihan juga menatap istrinya dengan penuh cinta.


" Sama-sama," jawab Raihan.


" Ya sudah ayo kita turun, aku harus melanjutkan pekerjaan ku, aku harus membantu mama untuk memasak," ujar Nayra mengingat pekerjaannya yang di tinggalkannya tadi. Nayra bergerak dan menahan Nayra.


" Ada apa?" tanya Nayra. Raihan semakin mendekatkan dirinya pada Nayra membuat Nayra bingung.


Sampai Nayra benar-benar terkunci. Perasaan Nayra seketika gelisah, saat wajah Raihan semakin mendekatinya. Tangan kanan Raihan memegang pipinya sambil mengusap-usap lembut.


Seketika tubuh Nayra seakan tersengat listrik. Keringatnya seketika berjatuhan. Napasnya naik turun. Raihan memiringkan kepalanya ingin segera meraih bibir Nayra yang bergetar.

__ADS_1


Nayra memegang kuat pinggir meja. Seketika ada ketakutan di dalam dirinya. Nayra memejamkan matanya saat Raihan hampir menempelkan bibirnya.


Lintasan bayangan hitam saat dirinya di ingin dilecehkan muncul. Bagaimana Angga ingin mencumbui dirinya. Melihat wajah Angga dengan kasar merobek bajunya. Semua itu teringat membuat napasnya naik turun dan di penuhi ketakutan.


Reflek Nayra mendorong dada Raihan saat Raihan menyentuh bibirnya. Raihan kaget dengan perlakuan Nayra.


" Nara," ujar Raihan yang melihat Nayra di depannya, terus melihat ke bawah dengan kegelisahannya.


" Kamu kenapa?" tanya Raihan memegang bahu Nayra. Nayra menepis tangan Raihan dan berlari. Pergi dari hadapan Raihan.


" Nara," panggil Raihan heran melihat Nayra yang begitu ketakutan. Raihan pun mengejar Nayra ke luar.


Raihan melihat yang berada di atas ranjang yang berbaring miring meringkuk seperti bayi di di dalam selimut. Seperti orang yang histeris. Nayra terlihat begitu ketakutan.


Raihan mendekati Nayra dan duduk di belakang Nayra. Raihan melihat bergetar hebatnya tubuh Nayra. Nayra yang di lihatnya sewaktu Nayra benar-benar histeris.


" Apa yang terjadi denganmu?" gumam Raihan bingung dengan kehisterisan Nayra yang tiba-tiba. Saat dirinya ingin mencium Nayra.


" Nara, tenanglah aku tidak akan menyakitimu," Raihan mencoba menenangkan Nayra yang terus ketakutan.


" Maafkan aku. Maaf," lirih Nayra dengan suara bergetar.


Dia Menyadari semua apa yang terjadi. Tetapi saat Raihan melakukan itu dia benar-benar kehilangan kendali dan sangat takut jika Raihan menyakitinya.


Raihan sekarang mengerti jika apa yang di lakukannya tadi membuat Nayra kembali trauma. Raihan menarik napasnya dan mencoba mendekati Nayra lagi memeluk Nayra. Untuk menenangkannya.


" Nara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan itu. Maafkan aku. Kamu jangan takut aku tidak akan melakukan itu. Maaf Nara," ucap Raihan dengan lembut merasa bersalah.


Nayra membalikkan tubuhnya dan memeluk erat Raihan.


" Tolong kasih aku waktu," ujar Nayra yang mengerti maksud Raihan. Raihan mengeratkan pelukannya.


" Iya aku tau. Ini tidak mudah untuk kamu. Besok kita ke Dokter lagi. Kamu jangan khawatir aku tidak akan memaksakan kamu. Tenanglah. Sekarang kamu istirahat hilangkan semua yang kamu lihat. Kamu tidak perlu mengingat hal itu," jelas Raihan terus mencoba memberi ketenangan kepada istrinya.


Nayra mengangguk dan perlahan memejamkan matanya. Dia mulai tenang saat mendapat perlakuan baik dari Raihan.


Nayra sebenarnya merasa bersalah dengan hal spontan yang di lakukannya tadi. Secara tidak langsung dia telah menolak Raihan. Nayra takut jika Raihan akan marah kepadanya. Tetapi dia lega Raihan bahkan sabar dengan dirinya dan menengakannya.


Raihan mengusap-usap kepala Nayra. Dia sungguh merasa bersalah dengan apa yang barusan di lakukannya. Dia yang tau bagaimana perkembangan kesehatan Nayra.


Mungkin Nayra sudah sembuh 90 % tetapi Raihan menyadari seharusnya dia tidak melakukan itu dan sabar pada ke adaan Nayra yang benar-benar belum sembuh total.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1



Jangan lupa untuk mampir kemari ya para readers. Tidak lelah mengingatkan untuk meminta like, koment dan vote yang banyak ya.


__ADS_2