
Selesai meeting dengan kliennya Raihan pun pulang kerumahnya, sekedar mandi dan berganti pakaian.
Raihan ke luar dari mobilnya dan langsung. Memasuki rumah. Raihan tampak buru-buru memasuki rumah. Raihan menaiki anak tangga.
" Kamu baru pulang sekarang?" tanya Zira mengehentikan langkah Raihan. Raihan membuang napasnya kasar dan melihat ke arah mamanya.
" Aku buru-buru," sahut Raihan yang tidak ingin ribut dengan mamanya. Melangkahkan kembali kakinya.
" Raihan mama ingin bicara," tegas Zira.
" Apa lagi ma. Apa lagi yang ingin mama bicarakan. Nanti saja Raihan sedang buru-buru," sahut Raihan masih mencoba menahan emosinya.
" Apa tidak bisa kamu bicara sebentar. Sudah 3 hari kamu tidak pulang. Dan sekarang kamu pulang. Bukannya merasa bersalah. Tapi kamu malah seperti ini," sahut Zira. Raihan kembali membuang napasnya perlahan saat mamanya sudah memulai perkelahian.
" Raihan tidak ingin ribut. Jadi nanti saja kita bicara," tegas Raihan.
" Raihan apa kamu tidak bisa sopan sedikit saat bicara, mama masih mama kamu," ucap Zira menekan suaranya.
" Baiklah, Ada apa mama ingin bicara apa. Jika hanya membahas pernikahan Raihan dan Carey. Perjodohan dari Kecil yang mama katakan. Raihan tidak ingin membahas itu,"
" Raihan," ujar Zira.
" Maaf ma Raihan sudah mengatakan Raihan tidak akan melakukan pernikahan itu. Jadi tolong jangan paksa Raihan," tegas Raihan dan langsung melanjutkan langkahnya.
" Raihan, mama belum selesai bicara," teriak Zira yang sama sekali tidak di respon Raihan.
" Raihan," teriak Zira.
" Kamu benar-benar Raihan, apa kamu sudah tidak menghargai mama lagi, kenapa kamu seperti itu Raihan," ucap Zira dengan napasnya yang naik turun. Zira pun menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu dengan memijat pelipisnya.
Raihan memasuki kamarnya. Raihan duduk di pinggir ranjang. Beberapa kali Raihan membuang napasnya. Mengusap wajahnya dengan kasar.
" Apa lagi yang di inginkan mama, kenapa sampai detik ini mama tidak juga bisa memahami Raihan," ucap Raihan mengusap wajahnya.
Raihan melihat layar ponselnya yang sudah pukul 8 malam.
" Aku harus menemui Nara, dia pasti sudah menunggu," ujar Raihan berdiri dan langsung memasuki kamar mandi.
**********
di sisi lain ternyata Nayra baru saja sampai di Apartemennya. Nayra memasuki kamarnya. Meletakkan tasnya di atas ranjang.
Malam ini dia dan Raihan akan ada makan malam. Nayra mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Nayra melihat sudah pukul 8. Nayra kembali meletakkan ponselnya dan langsung memasuki kamar mandi.
Dia harus buru-buru bersiap. Karena sebentar lagi Raihan akan menjemputnya. Tidak berapa lama Nayra sudah selesai mandi, sudah memakai dress merah sepanjang lututnya tanpa lengan.
Nayra berdiri di depan cermin. Memberi polesan makeup tipis pada wajahnya. Rambutnya dililit kesamping, sehingga memperlihatkan bahu indahnya.
__ADS_1
Setelah memberi polesan makeup pada wajahnya. Nayra memakai anting di telinganya. Sambil memakaikan benda itu. Nayra melihat jam yang menggantung di dingding sudah jam 9 malam.
" Raihan belom datang juga, apa dia masih meeting," batin Nayra yang mulai gelisah karena tidak melihat kedatangan kekasihnya.
Nayraengambil ponselnya yang berada di atas ranjang, dan langsung menghubungi Raihan.
********
Setelah menerima telpon dari Nayra. Raihan berdiri di depan cermin memakai jam tangannya. Lalu mengambil jasnya dari dalam lemari dan langsung memakainya.
Setelah merasa rapi. Raihan meraih ponselnya, memasukkan ke dalam sakunya. Lalu Raihan langsung keluar dari kamarnya.
Saat Raihan Menuruni anak tangga. Langkah Raihan berhenti di anak tangga ketika melihat, mama, papa, adiknya sudah ada di ruang tamu.
Bukan hanya itu bahkan ada Carey. Oma dan Opanya yang kembali datang. Entah kapan mereka datang. Raihan memejamkan matanya. Dia sudah tau jika ini akan terjadi. Seakan dia kembali di serang.
Raihan menarik napasnya perlahan dan membuatnya perlahan ke depan. Kemudian Raihan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Raihan tidak mempedulikan keberadaan orang-orang yang berada di sana. Dia tetap dengan santainya berjalan. Tanpa menyapa atau memberi hormat orang-orang yang ada di sana.
" Mau kemana Raihan, apa dia akan menemui Nayra lagi," batin Carey yang melihat Raihan tampak rapi.
" Raihan tunggu!" ujar Zira. Raihan menghentikan langkahnya saat mamanya memanggilnya.
" Ada apa lagi ma, bukannya kita tadi sudah bicara," sahut Raihan yang sangat lelah dengan sikap mamanya.
" Raihan, kamu tidak lihat di sini, ada Opa, Oma kamu, di mana sopan santun kamu," sahut Addrian
Tetapi aku ada urusan. Aku harus pergi," sahut Raihan tanpa menoleh kebelakang.
" Apa urusan kamu sangat penting, sampai kamu mengacuhkan Oma," sahut Opa Widiya
" Iya urusan Raihan sangat penting," sahut Raihan menekankan.
" Apa karena wanita itu, sampai sepenting itu," sahut Oma Widiya.
" Namanya Nara, nanti Raihan akan kenalkan sama Oma dan Opa. Jika di tanya masalah penting. Dia jauh lebih penting dari pada perencanaan kampungan seperti ini," ujar Raihan dengan sinis menatap tajam Carey.
" Raihan, tutup mulut kamu," sahut Addrian yang melihat Raihan semakin lancang bicara.
" Kamu bilang ini kampungan, perkataan kamu sangat menyakiti Oma Raihan. Apa kamu tidak bisa menghargai sebuah amanah. Apa kamu tidak bisa menghargai Oma," sahut Oma Widiya dengan kecewa.
Raihan menyunggingkan senyumnya. Matanya melihat satu per satu orang yang ada di ruang tamu itu.
" Menghargai, amanah, apa ada amanah yang membuat orang tidak bahagia," sahut Raihan dengan santai masih bicara lembut.
" Kamu tidak boleh egois, kamu jangan hanya memikirkan diri kamu sendiri. Jika kamu tidak melanjutkan semua ini. Itu sama saja kamu membuat kami semua merasa bersalah. Karena tidak menjalankan amanah itu," sahut Oma Widya.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan keegoisan kalian. Apa aku harus memikirkan rasa bersalah kalian. Apa itu menjadi urusanku. Oma, Opa, Raihan tidak punya kewajiban untuk menjalankan amanah itu. Seharusnya sebelum merencanakan sesuatu kalian harus berpikir dulu, jangan hanya merencanakan, tetapi tidak tau efek belakangnya," ujar Raihan dengan sinis.
" Raihan," bentak Addrian berdiri.
Anaknya mulai bicara kurang ajar. Addrian pun menghampiri Raihan berdiri di hadapan Raihan.
" Minta maaf, sama Oma kamu!" ujar Raihan dengan tegas.
" Apa Raihan salah sampai harus minta maaf, yang Raihan katakan benar. Raihan tidak punya kewajiban menjalankan amanah mereka. Mereka bisa mencari cucu yang lain, untuk amanah mereka," sahut Raihan dengan pedas.
" Sejak kapan kamu menjadi kurang aja hah!" bentak Addrian berusaha menahan dirinya. Raihan mendengus tanpa menjawab ucap papanya.
" Sekarang minta maaf. Kamu tidak sadar jika kata-kata kamu sudah melukai semua orang," bentak Addrian dengan penuh penegasan.
" Kalau begitu Raihan tanya sama papa. Apa papa dan mama dan kalian semua pernah sadar. Jika apa yang kalian lakukan melukai hati Raihan," bentak Raihan tepat di wajah Addrian.
" Anak ini," Addrian mengepal tangannya dan langsung melayangkan 1 pukulan ke wajah Raihan.
Buk,
satu tonjokan langsung melayang ke pipi Raihan sampai Raihan terduduk di lantai. Zira, Carey, Raina, sama-sama menutup mulut mereka terkejut melihat tindakan Raihan.
" Kak Raihan!" Raina langsung berlari menghampiri kakaknya. Raina berjongkok dan melihat ujung bibir kakanya yang sudah berdarah.
" Pa, papa apa-apaan sih," sahut Raina membantu Raihan berdiri.
Raihan menatap sinis papanya. Dengan mengusap darah di ujung bibirnya dengan jempolnya.
" Kamu masih berani melawan. Kenapa kamu semakin kurang ajar," bentak Raihan.
" Aku kurang ajar, karena perlakukan kalian yang tidak pernah adil," sahut Raihan dengan enteng yang sudah berdiri di depan papanya.
Plakkkkkkk sekarang Addrian menampar Raihan.
" Addrian, cukup," sahut Opa Nugraha.
" Papa sudah," ujar Raina mencoba melindungi kakaknya dari amukan papanya.
" Kenapa hanya memukul. Kenapa hanya menampar saja Pa, kenapa papa tidak bunuh Raihan saja," teriak Raihan. Addrian mengepal tangannya saat Raihan menantangnya.
" Masih berani kamu bicara," Addrian yang semakin terbawa emosi kembali ingin menghajar Raihan. Namun Raina melindungi kakaknya dengan memeluknya.
" Pa stop, apa-apaan sih," teriak Raina yang memeluk kakaknya.
" Minggir kamu Raina, anak ini semakin lama semakin tidak bisa di kasih tau," bentak Raihan.
Zira yang melihat ke gaduhan menghampiri suaminya.
__ADS_1
" Sayang sudah," ucap Zira mencoba menahan tangan Addrian. Raina pun terus melindungi kakanya. Dia sangat shock melihat emosi papanya yang sangat berlebihan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น