Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 321


__ADS_3

Keesokan harinya.


Addrian, Zira, Ilham, Kayla, Aca, Tomy, Saski, Roni, Jihan, Dara dan Raina sedang berada di ruang tamu. Mereka sedang gelisah. Addrian sedari tadi berusaha berkomunikasi dengan anaknya. Tetapi sampai sekarang belum juga ada hasilnya.


" Bagaimana pa, apa kak Raihan mengangkat telponnya?" tanya Raina panik. Sedari tadi dia terus menggengam jarinya sendiri. Karena memang Raihan dan yang lainnya sama sekali tidak memberi kabar. Dia sangat khawatir kepada Raka suaminya.


" Belum sama sekali. Bahkan tidak tersambung," jawab Addrian yang juga merasa resa.


" Kenapa perasaan ku menjadi tidak enak. Ya apa yang terjadi dengan putraku," batin Zira dengan wajahnya yang sendu.


" Kenapa mereka tidak menghubungi kita. Apa terjadi sesuatu pada mereka," sahut Aca semakin panik.


" Aca, kamu tenang dulu. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh," sahut Saski.


" Benar kata Saski Aca. Mungkin saja anak-anak kesulitan berkomunikasi, makanya mereka tidak bisa di hubungi," sambung Jihan yang berpikiran positif.


" Tapi ma, mereka tidak memberi kita kabar dari kemarin. Perasaan Carey juga tidak tenang. Carey takut terjadi sesuatu," sahut Carey yang dari tadi malam tidak bisa tidur karena memikirkan Dion suaminya.


Perasaannya memang semakin kemana-mana karena suaminya yang tidak juga kembali. Belum lagi tasbih yang putus yang firasatnya semakin buruk.


" Apa yang terjadi. Mereka sudah pergi 3 hari bukannya harusnya kembali," batin Raina yang sudah di penuhi rasa kecemasan.


" Mama," sapa Amira tiba-tiba datang bersama suster yang menjemputnya dari sekolah.


" Sayang," ujar Raina. Amira langsung menghampiri ruang tamu dan menciumi punggung tangan semua orang yang ada di sana.


" Kamu sudah pulang, sana naik kekamar ganti baju dulu," ujar Raina.


" Iya ma. Oh iya papa belum pulang?" tanya Amira yang pasti kepikiran dengan papanya


" Belum sayang?" jawan Raina.


" Kenapa lama sekali, bukannya papa bilang hanya sebentar. Ini sudah 3 hari dan papa belum pulang," ujar Amira yang mengeluhkan papanya.


" Sebentar lagi papa akan pulang. Amira tunggu saja ya," ujar Raina tersenyum pada putrinya. Agar Amira tidak berpikir aneh-aneh.


" Benar Amira yang di katakan mama kamu. Papa kamu akan pulang sebentar lagi," sahut Zira.


" Tapi Oma, kenapa Amira tadi malam mimpi buruk. Amira melihat orang-orang jahat pada papa. Kenapa orang-orang jahat seperti berperang. Padahalkan papa hanya pergi bekerja," ujar Amira yang menceritakan mimpinya dengan benar.


Setaunya papanya itu memang bekerja. Karena Raka berpamitan pada sang anak untuk bekerja. Karena tidak mungkin Raka mengatakan hal yang sebenarnya.


Amira masih terlalu kecil untuk mengerti semua itu. Mendengar ucapan Amira membuatnya semua orang saling melihat. Anak sekecil Amira memang pasti akan kehilangan dan bertanya-tanya di mana sang papa berada.


" Sayang, itu hanya mimpi, mungkin Amira tidur tidak baca doa. Makanya mimpi seperti itu. Mama kan sering mengingatkan kalau tidur harus baca doa supaya setan tidak masuk dalam mimpi Amira," ujar Raina mengusap pucuk kepala ananknya.


" Tidak kok ma, Amira sudah baca doa. Malah Amira minta sama Allah supaya papa pulang. Tapi Amira mimpi papa. Kan Amira jadi tidak tenang. Apa lagi papa tidak pulang," ujar Amira lagi.

__ADS_1


" Amira. Mungkin pekerjaan papa belum selesai. Jadi wajar papa belum pulang. Jangan mikirin apa-apa ya," sahut Addrian.


" Iya sayang, sudah ya. Jangan mikirin papa lagi. Amira sekarang naik keatas ganti baju, oke," sambung Zira lagi.


" Suster bawa Amira," ujar Raina. Suster mengangguk dan langsung membawa Amira kekamar. Sebelum Amira banyak bicara.


" Anak kecil saja, firasatnya tidak tenang. Dia saja tau apa yang terjadi pada papanya," sahut Aca memijat kepalanya.


" Biasanya memang firasat anak kecil tidak pernah salah," sambung Saski.


" Kalian semua tenang ya. Kita sebaiknya jangan berpikir yang macam-macam. Kita berdoa saja," ujar Addrian dengan bijak memberikan ketenangan.


" Dara, coba kamu cek lokasinya. Apa mereka masih ada di sana?" ujar Ilham.


" Baik Om," sahut Dara membuka tabletnya dan mencoba mengecek apa yang di katakan Ilham kepadanya.


" Mobil mereka masih ada di sana. Bahkan tidak bergerak dari awal mereka sampai," jawab Dara.


" Aneh sekali, kenapa mereka tetap berada di sana," sahut Kayla mencurigai sesuatu.


" Atau mereka terjebak," ujar Dara pelan menebak-nebak. Membuat semuanya saling melihat dengan pemikiran Dara.


Tidak munafik di hati mereka masing-masing sudah ada tebakan itu. Tetapi mereka masih saja tidak ingin mengeluarkan kata-kata itu.


" Aku juga berpikiran seperti itu. Jika anak-anak sedang dalam masalah besar," sahut Zira dengan mata berkaca-kaca.


" Zira, tenangkan diri kamu. Jangan berpikiran yang aneh-aneh," ujar Addrian menenagkan istrinya.


" Zira, apa Sisil ada mengirim sesuatu lagi?" tanya Saski.


" Tidak, makanya aku semakin khawatir, ke apa dia tidak mengirim apapun. Hal ini sangat tidak biasa," sahut Zira.


" Ini benar-benar aneh," batin Roni.


" Lalu apa yang harus kita lakukan. Kita tidak mungkin menunggu saja?" tanya Ilham.


" Apa kita tidak susul mereka saja," sahut Roni yang tiba-tiba mendapatkan ide.


Menurutnya diam tidak akan menyelesaikan masalah. Sementara nyawa anaknya sedang awang-awang


" Itu keputusan yang tepat," sahut tiba-tiba suara. Yang ternya Nayra yang mendengar obrolan itu.


" Nayra," lirih Jihan. Nayra berjalan menghampiri orang-orang tersebut.


" Mari kita susul mereka. Ini sangat darurat. Aku tidak bisa tenang. Jika seperti ini terus," ujar Nayra dengan wajahnya penuh kecemasan. Jihan langsung berdiri dan mendekati anaknya.


" Sayang kamu tenang ya," ujar Jihan memegang pundak anaknya.

__ADS_1


" Ma, Nayra sudah lama tenang. Tapi apa Nayra tidak mendapatkan apa-apa. Raihan belum kembali dan kita semua hanya duduk manis di sini. Bagiamana jika terjadi sesuatu pada Raihan. Apa harus wanita yang bernama Sisil itu melenyapkan semuanya baru kita semua akan bergerak. Apa itu masih ada gunanya," ujar Nayra yang berbicara marah-marah.


" Sayang kamu tidak boleh bicara seperti itu, jangan berpikiran yang aneh-aneh," sahut Zira.


" Terus apa yang harus aku pikirkan! aku dari awal tidak pernah setuju dengan hal ini. Tetapi kalian seakan-akan menganggap jika mereka memiliki banyak nyawa. Apa salahnya jika kita melapor polisi. Bahkan sudah menemukan tempatnya. Apa salahnya jika kita pergi kesana membawa polisi," ujar Nayra lagi.


" Tidak semudah itu Nayra," sahut Addrian.


" Baik, jika kalian tidak mau bergerak. Maka aku yang akan bergerak sendiri," ujar Nayra yang melepaskan tangan Jihan dari pundaknya dan melangkah mendekati Dara. Tidak ada aba-aba. Nayra merampas tablet milik Dara.


" Nayra apa yang kamu lakukan," ujar Dara kaget tidak sadar tablet itu sudah berpindah pada tangan Nayra.


" Aku akan menyusul sendiri," ujar Nayra menegaskan dan melangkah dengan cepat pergi.


Jihan langsung mengejar putrinya dan yang lainnya juga panik dan kaget dengan tindakan Nayra. Mereka langsung berdiri dan ikut mengejar.


Sampai Nayra sudah keluar rumah. Dia benar-benar nekat ingin melakukan hal itu.


" Nayra jangan gegabah," ujar Jihan yang berhasil meraih tangan Nayra dan menghentikan kecerobohan anaknya.


" Lepaskan aku ma!" Nayra berusaha melepas tangannya dari sang mama.


" Nayra dengarkan mama. Apa yang kamu lakukan. Hanya akan membahayakan nyawa kamu. Jangan bertindak bodoh dengan semua pikiran kamu, kamu hanya emosi Nayra," gertak Jihan yang harus keras dengan Nayra demi keselamatan anaknya.


Dan yang lainnya sudah menyusul keluar dan mereka lega. Karena Nayra masih ada di sana.


" Aku tidak bertindak bodoh. Tetapi dengan diam di rumah, adalah tindakan yang paling bodoh. Kita tidak mendapatkan apa-apa. Sementara nyawa suamiku sedang dalam bahaya. Mana mungkin aku diam saja ma. Itu tidak mungkin ma," ujar Nayra yang menguatkan volume suaranya.


" Mama tau Nayra. Tapi bukan berati kamu harus melakukan itu sendiri. Kamu sedang hamil. Apa kamu tidak mengerti. Semua yang kamu lakukan. Bukan hanya mencelakai diri kamu sendiri. Tetapi juga anak dalam kandungan kamu," tegas Jihan dengan menguatkan volume suaranya.


" Mama yang tidak mengerti bagaimana perasaan Nayra. Setiap hari Nayra di penuhi ketakutan. Nayra tidak mungkin tinggal diam. Kenapa ma. Mama yang punya masalah dengan wanita itu. Kenapa suami Nayra yang menjadi korban. Kenapa kami yang harus menanggung semua dendam wanita itu," teriak Nayra.


" Ini tidak adil untuk kami, tidak adil ma, kami tidak tau apa-apa," ujar Nayra yang sudah sangat lelah dengan air matanya yang terus mengalir.


Zira dan yang lainnya terdiam mendengar perkataan Nayra. Apa yang di katakan Nayra memang benar. Sangat tidak adil. Jika mereka yang akan mengganggumu semuanya.


" Maafkan papa Nayra. Adik papa sudah menimbulkan banyak masalah," ujar Addrian yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Karena perbuatan adik tirinya.


" Kalau begitu ayo kita susul mereka. Aku mohon ayo!" ujar Nayra yang sekarang menyatukan ke-2 tangannya memohon agar pergi menemui suaminya. Addrian mendekati menantunya itu.


" Aku mohon pa, ayo kita susul," ujar Nayra lagi yang memohon pada Addrian yang berdiri di depannya. Addrian langsung memeluk menantu kesayangannya itu.


" Iya papa akan menyusul Raihan," jawab Addrian memberikan banyak harapan pada Nayra.


" Kamu jangan khawatir kita akan susul. Kita akan bawa suami kamu dan yang lainnya pulang," ujar Addrian menjanjikan banyak hal pada menantunya. Nayra yang menangis di pelukan Addrian merasa lega dengan Addrian yang mau menurutinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2