
Andini dan Farah membalikkan badannya. Melihat bagaimana Raihan yang berlari memasuki mobil. Farah tersenyum melihat cucunya yang begitu semangat.
Ketika mobil yang di kendarai Raihan pergi. Farah dan Andini pun melihat orang-orang yang benar-benar menindas cucunya. Farah melangkah kan kakinya mendekati, besan, anak dan menantunya. Yang di ikuti oleh Andini
" Kamu mengusirnya?" tanya Farah yang sudah berdiri di depan Raihan.
" Apa yang mama lakukan aku hanya memberinya pelajaran," sahut Addrian.
" Mama yang bertanya apa yang kalian lakukan. Kamu Zira ada apa denganmu. Kenapa kamu bisa menyatukan cinta sahabatmu, orang-orang terdekatmu. Tetapi kenapa kamu tidak bisa melakukan untuk anakmu sendiri, kamu bahkan sanggup menyuruh Nayra. Gadis yang masih polos memutuskan Raihan. Dan kamu marah karena melihat Raihan menjadi Pria brengsek di Luar Negri. Apa kamu tidak sadar jika kamulah yang menjadikan Raihan seperti itu," ujar Farah yang tidak puas jika tidak mengoceh.
Zira hanya diam. Bahkan air matanya kembali menetes. Tidak bisa di pungkiri. Jika apa yang di katakan mama mertuanya memang benar. Jika dia yang sudah membuat Raihan menjadi laki-laki brengsek.
" Ma, mama jangan menyalahkan Zira tentang semua ini, semua ini ada sebelum. Nayra dan bertemu," sahut Addrian membela istrinya.
" Lalu mama siapa di sini, Mas, Mbak, saya siapa di sini. Kenapa hal ini tidak saya ketahui?" tanya Farah dengan wajah penuh rasa kecewa.
" Jangan salah paham dulu Mbak, semua tidak seperti itu," sahut Widya.
" Hhhhhhhh, sudahlah kalian benar-benar tidak menghargai saya. Tapi sudahlah semua sudah terlanjur. Saya bisa bilang apa. Kalian juga sudah mengusir Raihan. Jadi saya harus bilang apa," sahut Farah dengan santai.
" Eyang, semua ini," sahut Carey yang mencoba bicara.
" Jangan bicara Carey," sahut Farah mengangkat tangannya. Sungguh dia tidak ingin 1 kata terdengar dari mulut Carey.
" Saya kemari hanya ingin mengatakan kepada kalian. Jika saya akan menikahkan Raihan dengan wanita pilihannya. Jadi kalian kubur semua rencana kalian," tegas Farah.
Zira, Addrian, Widya, Carey dan Nugraha kaget mendengar keputusan Eyang Farah.
" Aku lega, akhirnya Eyang bisa angkat bicara," batin Raina tersenyum lebar.
" Kenapa Eyang Farah bicara seperti itu. Kenapa dia memihak Nayra," batin Carey yang mulai panik.
" Apa yang mama bicarakan, mama tidak bisa melakukan itu," sahut Addrian.
" Kenapa dia cucuku, aku berhak melakukannya. Dan aku tidak memaksanya seperti apa yang kalian lakukan," sahut Farah menyindir langsung.
" Mbak, ini adalah amanah, tidak seharusnya mbak egois," sahut Widya.
" Egois kalian bilang, yang egois bukan saya. Jika amanah kalian katakan. Saya juga punya amanah sendiri. Sebelum saya mati, saya ingin melihat Raihan menikah dengan wanita pilihannya," tegas Farah.
" Apa yang mama bicarakan," ujar Raihan.
" Cukup," bentak Farah, " jika kalian ikut campur dengan urusan asmara Raihan. Saya juga akan ikut campur," tegas Farah.
" Ayo Andini, kita pulang," ajak Farah.
" Iya Eyang," jawab Andini.
__ADS_1
" Raina Eyang pulang dulu," ujar Farah pamit pada cucunya.
" Iya Eyang, hati-hati," jawab Raina tersenyum.
Andini dan Farah pun melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah anak dan menantunya itu.
" Ma," panggil Addrian. Namun tidak di respon sama sekali.
***********
Nayra sudah menunggu Raihan di salah satu Cafe. Raihan memang menyuruh Nayra untuk pergi terlebih dahulu. Karena mungkin dia akan terlambat
Tetapi Nayra sudah menunggu lebih 2 jam Raihan tak kunjung datang. Nayra duduk dengan 1 gelas minuman di depannya. Beberapa kali Nayra melihat jam di ponselnya tetapi sang kekasih tak kunjung datang.
" Raihan di mana?" batinnya yang terus gelisah. Kembali melihat jam di ponselnya yang sudah hampir jam 12 malam.
Pengunjung Cafe juga sudah sepi. Hanya tinggal dia sendiri. Dia hanya gelisah menunggu Raihan.
Minuman Nayra yang ada di mejanya bahkan sudah habis. Sementara Raihan tidak juga datang.
" Mungkin dia lagi sibuk," gumam Nayra yang merasa Raihan pasti tidak datang. Di saat dia memutuskan untuk pergi. 1 kecupan menempel di pipinya kanannya membuat Nayra tersentak kaget.
" Selamat ulang tahun," bisik Raihan di telinga Nayra. Nayra langsung menolehkan kepalanya ke arah Raihan. Memastikan apa suara itu adalah Raihan. Memang benar Raihan yang membungkuk di belakangnya.
" Raihan, kamu datang," ujar Nayra tersenyum lebar. Raihan menganggukkan matanya. Nayra memegang pipi Raihan dengan ke-2 tangannya. Melihat wajah Raihan dengan dekat. Matanya berkeliling melihat inci wajah itu.
" Aku tidak apa-apa?" jawab Raihan bohong.
" Kenapa harus berbohong," sahut Nayra yang mengetahui jika Raihan sedang membohonginya. Raihan tersenyum dan mencium kening Nayra.
" Jangan memikirkanku, ini hari ulang tahunmu. Aku ingin melihatmu bahagia," ujar Raihan. Nayra mengangguk tersenyum. Raihan pun berlalu dan mengambil posisi duduk di depan Nayra.
Setelah Raihan duduk 2 pelayan Pria menghampiri mereka. Ke-2 pelayan itu membawa kue ulang tahun dan boucket bunga Liliy.
Pelayan itu langsung meletakkan di meja. Sementara pelayan yang membawa boucket langsung memberinya kepada Nayra.
Mata Nayra langsung berbinar melihat hal kecil yang sangat romantis baginya. Lama menunggu ternyata Raihan mempersiapkan acara ulang tahun untuknya.
" Maaf, membuatmu menunggu," ujar Raihan memegang tangan Nayra. Nayra hanya mengangguk tersenyum.
" Terima kasih, kamu sudah mengingat ulang tahunku," ujar Nayra dengan matanya Berkaca-kaca.
" Aku tidak mungkin melupakannya. Ini adalah hari penting untukmu," sahut Raihan.
" Ayo tiup lilinnya!" ujar Raihan. Nayra mengangguk. Sebelum meniup lilin. Nayra memejamkan matanya berdoa. Setelah selesai mengucapkan permintaannya Nayra meniup lilinnya.
" Apa permintaanmu?" tanya Raihan penasaran.
__ADS_1
" Aku ingin selalu bersamamu," jawab Nayra. Raihan tersenyum mendengarnya.
" Pasti akan langsung di kabulkan," sahut Raihan.
" Iya pasti akan di kabulkan," sahut Nayra.
Setelah meniup lilin Nayra memotong kue ulang tahun itu. Dan pasti memberikan pada Raihan.
Mereka terlihat sangat bahagia dengan moment yang begitu sederhana. Tetapi sangat romantis.
Mereka tidak lama di Cafe tersebut hanya sebentar saja. Memang lebih lama Nayra menunggu di bandingkan menikmati ke keromantisan itu.
Nayra dan Raihan sekarang berada di pinggir jembatan. Ke-2 tangan Nayra berada di pagar jembatan. Raihan berdiri di sampingnya. Padahal sudah larut malam. Tetapi ke-2 tidak memilih untuk pulang.
Raihan membuka jasnya dan menutupkan ke tubuh Nayra. Ketika melihat kekasihnya yang ke dinginan. Raihan juga memeluknya dari belakang memeluk erat.
Nayra tersenyum. Tetapi merasakan tubuh Raihan yang bergetar hebat seperti memikirkan sesuatu. Nayra membalikkan tubuhnya dan melihat Raihan. Yang benar saja ada butir air mata di pipi Raihan.
" Kamu bilang tidak apa-apa, tapi kenapa air mata kamu keluar?" tanya Nayra mengusap air mata itu dari pipi Raihan.
" Katakan Raihan apa yang terjadi?" tanya Nayra yang memang merasa ada yang tidak beres.
" Aku hanya takut tidak bisa memberimu kebahagian," jawab Raihan menatap wajah Nayra dengan intens.
" Tapi aku sangat bahagia. Apapun itu aku bahagia," sahut Nayra meyakinkan Raihan.
Raihan mengambil sesuatu dari sakunya
" Nara menikahlah denganku," ujar Raihan memperlihatkan cincin. Nayra tersenyum mendengarnya. Mungkin Raihan sering mengatakan itu.
Tetapi kali ini dia sangat merasa berbeda. Bahkan air matanya jatuh saat di lamar kembali oleh Raihan.
" Kamu maukan menikah denganku?" tanya Raihan sekali lagi. Nayra menganggu. Raihan tersenyum dan langsung memasangkan cincin itu ke jari manis Nayra.
Tidak Nayra maupun Raihan. K-2 nya sama-sama meneteskan air mata. Haru dengan apa yang terjadi. Mungkin sangat menyedihkan untuk Raihan. Melamar wanita yang di cintainya. Di saat semua orang menentangnya.
" Aku sangat mencintaimu," ucap Raihan setelah selesai memasangkan cincin itu.
" Aku juga," jawab Nayra yang masih haru.
Raihan memegang pipi Nayra dengan ke-2 tangannya, mengusap air mata Nayra. Lalu matanya jatuh pada bibir Nayra. Raihan memiringkan kepalanya dan mencium bibir Nayra.
Nayra memejamkan matanya. Ke-2 Tangannya memegang kemeja Raihan saat ciuman Raihan semakin dalam.
Mereka menikmati indahnya berciuman di pinggir jembatan dengan suasana hati yang masih haru. Campur aduk, sedih dan bahagia.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1