
Ternyata di dalam kamar Dara. Dara berusaha melepaskan diri. Makanya kursinya tersebut terketuk-ketuk di kelantai.
" Mpt, mpt, mpt," Dara berusaha untuk mengeluarkan suaranya agar ada yang menolongnya.
" Aku mohon tolong aku Sony, tolong aku aku ada di dalam," batin Dara yang mendengar suara Sony dan berusaha untuk memanggil nama Sony.
Sementara Sony di depan kamar itu bersama Vira, merasa curiga dengan banyak keanehan di dalam rumah itu.
" Ada apa Sony?" tanya Vira. Sony terdiam dan masih meneliti suara yang di dengarnya.
" Gawat, ini sangat gawat," batin Vira yang ke panikan.
" Sony ayo Tante Saski sudah menunggu!" ajak Vira dengan buru-buru.
" Kenapa aku mendengar ada seseorang, apa ada orang di rumah ini?" tanya Sony yang mulai curiga.
" Tidak! tidak ada sama sekali, memang kenapa?" tanya Sony.
" Tetapi aku mendengar ada suara orang yang mengetuk-ngetuk," ujar Sony. Vira semakin panik mendengar kata-kata Dara.
" Itu hanya perasaan kamu saja. Aku tidak mendengar apa-apa," ujar Vira dengan wajahnya yang panik.
" Tapi aku mendengar suara yang mengetuk-ngetuk yang berasal dari kamar Dara," ujar Sony.
" Mungkin tetangga. Jelas tidak ada orang sama sekali. Lagian Dara tidak ada di sini. Jadi mana mungkin kamu mendengarnya," ujar Vira.
" Biar aku cek," sahut Sony yang melangkah mendekati kamar Dara. Vira semakin kaget melihat apa yang di lakukan Sony.
" Sony, Tante Saski sudah menunggu!" cegah Vira menahan Sony.
" Sony, kamu sudah selesai. Ayo kita pulang," teriak Saski dari ruang tamu.
" Dengar, Tante Saski sudah memanggil," ujar Vira.
" Hmmm, baiklah kalau begitu," sahut Sony mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar Dara dan langsung pergi walau dia mencurigai sesuatu.
" Huhhhhh," Vira menarik napasnya panjang," untung saja Sony tidak sampai masuk. Dasar menyusahkan lihat saja aku akan menghabisimu," batin Vira dengan niat jahatnya yang penuh emosi.
Sony dan Vira pun akhirnya menyusul kedepan untuk mengantarkan mama Sony dan mamanya pulang.
********
__ADS_1
Sementara di sisi lain Raihan sedang membaca pesan dari grup pertemanan mereka.
" Ada apa sayang?" tanya Nayra yang melihat suaminya seperti kebingungan.
" Lagi membaca pesan di grup kalau Dara mengabari dia sedang ke Palembang," jawab Raihan.
" Ngapain?" tanya Nayra heran.
" Aku juga tidak tau. Tetapi tumben aja. Bahkan anak-anak yang lain mencoba bertanya. Tetapi nggak di balas sama sekali," sahut Raihan ada ke anehan.
" Mungkin lagi sedang di jalan," sahut Nayra berpikiran positif.
" Hmm, ya mungkin saja. Hanya saja aku heran, tidak biasanya di pergi. Dia juga beberapa hari ini nggak pernah aktif," ujar Raihan mempunyai firasat yang tidak enak.
" Aku juga, kemarin seperti yang aku bilang. Dara ingin membantu kita untuk acara ulang tahun pernikahan mama dan papa. Tetapi malah tidak jadi ikut. Bahkan tidak mengabari sama sekali dan sekarang malah keluar Negri dan seperti yang kata kak Carey kemarin dia malah tidak bisa di hubungi sama sekali memang benar-benar sangat aneh," ujar Nayra yang juga merasakan keanehan kepada temannya itu.
" Benar sih memang aneh, tidak biasanya Dara seperti itu. Sekarang malah tidak satupun apa yang di grup di balasnya. Biasanya dia paling aktif di group," ujar Raihan.
" Hmmm, sayang bagaimana kalau kita ke Apertemennya saja," sahut Nayra tiba-tiba.
" Untuk apa dia kan lagi di Luar Kota," jawab Raihan.
" Kita menemui Vira, sekalian melihat ke adaannya dan bertanya-tanya masalah Dara, siapa tau memang Dara ada masalah dan Vira kan 1 tempat tinggal dengannya pasti dia tau sesuatu," ujar Nayra dengan idenya.
" Hmmm, ya sudah aku siap-siap bentar," ujar Nayra.
" Kita bawa Kinara?" tanya Raihan.
" Iya bawa saja," sahut Nayra.
" Hmm, ya sudah kalau begitu," sahut Raihan.
" Oke," sahut Raihan.
**********
Sementara di dalam mobil. Sony yang memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dengan memegang ponselnya dengan wajahnya yang terlihat sendu.
" Dara ke Palembang, bukannya Vira mengatakan Dara sedang Bandung. Lalu kenapa tiba-tiba Dara memberi pesan pergi ke Palembang. Untuk apa dia ke sana tiba-tiba," ujar Sony yang terus merasakan ke anehan.
" Bahkan, Dara tidak satupun membalas pesan dari yang lainnya dan orang-orang yang lainnya juga sama sekali tidak di respon. Kenapa dia tidak pernah aktif dan sekalinya aktif malah mengabari pergi ke Palembang,"
__ADS_1
Sony terus bergerutu bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Dia tidak tau kenapa perasaannya semakin tidak enak.
" Mungkin memang Dara ingin menghindariku. Dia mungkin tidak ingin mengganggu pernikahan ku dengan Vira. Mungkin memang itu yang terbaik," batin Sony menyimpulkan sendiri.
Tidak ingin memikirkan apa-apa. Sony pun menarik gas mobilnya dan langsung melajukan dengan kecepatan tinggi dengan perasaannya yang tidak karuan.
*********
Sementara Vira yang memasuki dapur dan langsung mengambil pisau dengan cepat.
" Kamu akan mati malam ini juga. Kamu akan mati dalam kecelakaan dan dengan begitu tidak akan ada yang menghalangiku lagi. Wanita munafik seperti mu memang pantas untuk mati," batin Vira yang langsung pergi dari dapur.
Vira langsung membuka pintu kamar Dara dengan kuat dan memperlihatkan Dara yang berusaha untuk melepaskan diri.
" Kau ingin pikir kau bisa bebas!" ujar Vira menyinggung kan senyumnya dengan melangkah pelan yang mengusap-usap pisau. Sementara Dara sudah semakin panik dan ketakutan melihat Vira yang bermain-main dengan pisau.
Vira tepat di depan wajah Dara dan langsung membuka lakban Dara dengan kasar.
" Lepaskan aku Vira, kamu jangan gila!" teriak Dara dengan sisa suaranya yang tidak seberapa.
" Apa katamu, di lepaskan. Iya aku akan melepaskan mu dan akan memberikan potongan dagingmu pada anjing liar," ujar Vira dengan merapatkan giginya yang membuat Dara semakin ketakutan.
" Apa yang kamu katakan. Kenapa kamu berubah seperti ini. Ingatlah kamu sedang hamil. Ingat bayi yang kamu kandung," ucap Dara memberi pesan.
" Lalu apa urusannya denganmu. Mau aku hamil atau tidak. Jelas tidak ada urusannya dengan mu. Yang penting bagiku kamu mati," ujar Vira yang menatap dengan tajam. Dara geleng-geleng dengan air matanya yang menetes.
" Sadarlah Vira apa yang kamu lakukan salah. Sadar Vira," sahut Dara.
" Aku memang sadar dan sekarang kesadaran ku sudah ada dan lihat ini hasil kesadaran ku. Di mana kamu akan mati di tanganku," sahut Vira yang sudah mengusap-usap pisau di pipi Dara yang membuat Dara semakin ketakutan.
" Aku akan menyayat-nyayat tubuhmu. Aku benar-benar akan membunuhmu," ujar Vira penuh ancaman.
" Jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon lepaskan aku lepaskan aku Vira," ujar Dara yang terus ketakutan dengan perbuatan Vira.
" Kau sudah menjadi benalu dalam hidupku. Jadi aku tidak akan melepaskanmu. Tapi aku harus berterima kasih kepadamu. Karena sudah memberikan ku tempat tinggal. Tetapi tetap kamu harus mati," ujar Vira yang tubuhnya di penuhi iblis.
Dara hanya bisa berlinang air mata yang pasrah akan hidupnya dengan kematian di depan matanya.
" Mati lah kamu Dara!" teriak Vira menarik pisau dan ingin menancapkan keperut Dara memejamkan matanya. Tetapi pisau itu tidak jadi menancap karena telah di tahan seseorang yang membuat Vira kaget dan melihat kebelakang nya.
" Apa yang kamu lakukan!" teriak Sony yang menahan pisau tersebut.
__ADS_1
Bersambung