
Mereka masih berdiri di depan rumah sampai melihat mobil itu keluar dari pagar rumah.
" Ayo kita masuk!" ajak Addrian. Yang lainnya mengangguk dengan membalikkan tubuh mereka untuk masuk kedalam rumah itu. Sesampai di ruang tamu sebagian dari mereka sudah duduk.
" Carey, bawa adik kamu kekamar!" ujar Nayra yang melihat sang anak masih sangat sedih.
" Iya ma," jawab Carey yang langsung menghampiri Nayra yang masih di peluk Zira.
" Ayo, Nayra. Kita kekamar. Kamu harus istirahat!" ajak Carey dengan lembut.
" Sana Nayra. Istirahat. Kamu tidak boleh menangis lagi," sahut Zira. Nayra mengangguk. Carey pun membawa sang adik kekamar. Dia memang harus menenagkan adiknya agar tidak berpikiran yang macam-macam.
**********
Setelah seharian tidak sadarkan diri. Akhirnya Vira yang terbarik di atas tempat tidur dengan selang infus berada di tangannya dan kepalanya yang dililit perban dengan wajahnya yang masih penuh luka.
Ramah sang kakak duduk di sampingnya dengan terus menggengam tangan adiknya. Masih beruntung ramah yang pulang kerumah dan langsung menemukan adiknya yang sudah entah seperti apa yang membuatnya schok.
Ramah yang tidak memikirkan apa-apa lagi. Langsung membawa adiknya ke rumah sakit. Dan masih bersyukur Vira masih tertolong.
Dengan perlahan mata yang juga ikut lebam itu terbuka. Vira melihat langit ruangan itu. Dia tidak tau di mana dia. Yang dia ingat terakhir dia bersama ibu yang benar-benar menyiksanya tanpa ampunan.
" Vira," suara pelan itu membuat Vira mencari suara itu dengan menoleh kesamping. Matanya yang kesulitan melihat dengan jelas. Tetapi lama kelamaan pandangan itu sempurna dan melihat yang memanggilnya adalah kakaknya.
" Kak Ramah," ujar Vira.
" Iya, ini kakak. Kamu baik-baik saja?" tanya Ramah. Vira mengangguk. Mana mungkin dia baik-baik saja. Sakit di tubuhnya masih terasa sampai dia harus meneteskan air mata.
" Jangan menangis! maafkan kakak. Seharusnya kakak mendengarkanmu," ujar Ramah penuh penyesalan.
Ini adalah karma untuk Ramah. Dulu dia suka bermain tangan pada Della sangat kasar dengan Della dan bahkan membuat Della jauh lebih parah dari pada Vira. Karma Ramah jatuh pada adiknya.
Dan sekarang Ramah menyadari betapa hancurnya saat melihat adiknya di temukannya dalam keadaan seperti itu.
Dia benar-benar menyesal dengan perbuatannya pada Della. Karena hatinya sangat sakit dengan apa yang terjadi kepada Vira.
__ADS_1
" Kak, ayo berhenti. Dia bukan ibu kita. Dia hanya memanfaatkan kita. Hidup kita hancur. Ayo pergi," ujar Vira dengan suara lemahnya. Suara yang kesulitan berbicara. Dia benar-benar tidak kuat dengan apa yang di terimanya.
" Iya kita akan pergi. Kita akan tinggalkan semua ini. Wanita itu memang tidak pernah menganggap kita sebagai anak. Kamu jangan khawatir kita akan pergi," sahut Ramah yang juga tidak akan menjadi kaki tangan Sisil lagi.
Karena semua ini sudah menghancurkan kehidupannya dan juga adiknya. Menjadikan mereka orang yang jahat. Menghancurkan kehidupan orang lain dan juga mental dan fisik.
" Kamu harus cepat sembuh. Agar kita bisa pergi," ujar Ramah. Vira mengangguk.
" Tapi...." ujar Vira yang sepertinya. Masih ada yang ingin di katakannya.
" Tapi apa?" tanya Ramah.
" Sebelum pergi. Ayo kak kita harus bebaskan Sony dan yang lainnya. Wanita itu akan membunuh mereka demi dendamnya. Paling tidak kita melakukan sesuatu sebelum meninggalkan semua ini. Karena mereka yang berada di tangan mama gara-gara kita," ujar Vira yang mempunya keinginan untuk menyelamatkan Sony.
Ramah terdiam dan lintasan ingatan terbayang. Jika apa yang di katakan Vira benar. Sisil memang menyuruhnya untuk menjebak Sony melalui hp Vira.
Dan menyuruh Sony datang kerumah tua itu dan langsung memukul Sony. Selanjutnya Ramah juga menjebak Andini, Luci dan Celine untuk menyusul Sony. Dan semua itu Ramah yang melakukan atas perintah Sisil.
" Mari kita selamatkan Sony dan teman-temannya," ujar Vira lagi.
Kagetnya Vira sampai melebarkan matanya. Dia tidak percaya jika kakaknya mengetahui bahwa dia sedang mengandung dan bahkan apa yang di pertanyakan kakaknya adalah jawaban yang benar.
" Apa kak Ramah sudah mengetahuinya," batin Vira panik.
" Kak Ramah," lirih Vira meneteskan kembali air matanya.
" Apa ini juga adalah sebagian rencana wanita itu?" tebak Ramah lagi.
" Katakan Vira. Apa yang terjadi?" tanya Ramah dengan wajah seriusnya.
Ramah memang sangat kaget. Ketika Dokter membicarakan masalah kandungan Vira. Dia tidak percaya jika adiknya sedang mengandung.
" Kak maafkan Vira. Vira tidak bisa menjaga diri Vira. Maafkan Vira kak," ujar Vira penuh penyesalan. Karena sudah mengecewakan sang kakak. Karena terlihat jelas wajah Ramah sangat kecewa.
" Jadi wanita itu yang menyebabkan semuanya?" tanya Ramah lagi yang memastikan. 1 tangannya bahkan mengepal.
__ADS_1
" Mama memang menyuruh aku untuk menjebak Sony. Tapi aku tidak bisa melakukan semua itu. Dan pada akhirnya terjebak sendiri. Karena perasaanku yang tidak wajar kepadanya," jawab Vira memberi sedikit penjelasan.
" Apa kamu mencintai nya?" tanya Ramah. Tanpa menjawab Ramah bisa melihat dari mata Vira. Jika adiknya itu benar-benar jatuh cinta pada Pria yang bernama Sony.
" Meski aku tidak bisa berharap banyak padanya. Tapi aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin menebus kesalahanku. Aku ingin dia tetap hidup kak," sahut Vira.
" Malang sekali nasib kamu Vira. Kamu harus mengalami masalah sebesar ini. Kamu hamil dengan Pria yang tidak bisa kamu miliki dan kamu bahkan mengikhlaskan Pria itu dan kamu bahkan berkorban untuk menyelamatkannya," batin Ramah yang tidak habis pikir dengan kejadian yang menimpa adiknya.
" Kak, aku mohon ayo kak!" ujar Vira mendesak ramah untuk membantu Sony dan yang lainnya.
" Baiklah. Kita akan membebaskan mereka. Kamu jangan khawatir. Karena kakak tau. Di mana mereka di sekap. Sebelum kita pergi. Mereka akan bebas," sahut Ramah memutuskan akan menuruti kemauan adiknya.
Ramah juga akan tenang jika pergi bersama adiknya. Tanpa melihat orang-orang yang sudah di jebaknya di habisi Sisil.
" Kamu istirahat ya," ujar Ramah. Vira mengangguk. Dia sedikit lega. Karena kakaknya. Mau membantunya untuk membebaskan Sony dari Sisil.
***********
New Zealand
Angga yang berada di ruang tamu sedang menerima tamu. Mereka berbicara serius berdua di ruang tamu seorang Pria. Pria itu adalah salah satu teman Alex yang menyampaikan pesan dari Alex. Apa lagi. Jika tidak menyuruh Angga dan Della untuk pulang.
" Hanya itu saja yang saya sampaikan. Saya berharap Pak Angga dan Bu Della. Bisa kembali," ujat Pria itu yang sudah lama bercerita.
" Apa yang harus aku lakukan. Aku yakin Della pasti belum mau pulang," batin Angga yang benar-benar frustasi dengan masalah ini.
" Kalau begitu. Saya permisi dulu Pak Angga," ujar Pria itu berpamitan pada Angga. Dia memang sudah menyampaikan semuanya dan sudah waktunya pulang.
" Baiklah. Kalau begitu Terimah kasih atas infonya. Saya akan menghubungi keluarga saya," ucap Angga. Memberikan harapan pada Pria itu.
" Baik Pak. Jika perlu bantuan. Hubungi saya," ujar Pria itu yang memang mendapat amanah besar membawa Angga dan Della pulang kembali ke Indonesia.
" Iya pasti," jawab Angga. Pria itu dan Angga saling berjabat tangan. Dan akhirnya Pria itu pun pergi.
" Aku harus bicarakan semua ini pada Della," batin Angga yang langsung bergerak menuju kamar Della.
__ADS_1
Bersambung......