
" Nayra cukup, berani sekali kamu menamparku," teriak Vira tidak terima dengan Nayra menamparnya 2 kali.
" Aku hanya tidak akan menamparmu. Tetapi aku juga akan membunuhmu," teriak Nayra dengan emosi tidak terkendalikan.
" Kamu ingin membunuh papa hah! Berani sekali kamu melakukan itu kepada papa. Kamu tidak tau diri," teriak Nayra dengan suaranya yang mengelegar.
" Jangan bicara sembarangan kamu. Apa yang kamu katakan," sahut Vira yang benar-benar membantah ucapan Nayra.
" Dokter apa yang kamu pakai untuk perawatan papa, memberikan obat-obatan yang salah. Menyarankan makanan yang salah. Bahkan membenarkan makanan alergi papa untuk di konsumsi," jelas Nayra menunjuk-nunjuk tepat di wajah Vira dengan berteriak-teriak.
" Sialan, jadi dia sudah tau semuanya. Gawat Dokter itu benar-benar merusak semuanya," batin Vira sudah tidak bisa mengelak lagi.
" Kamu ingin menghabisi nyawa papa dengan cara seperti itu. Apa itu alasan kamu tetap mempertahankan Dokter yang kamu katakan teman papa itu Ha!" teriak Nayra.
" Jaga bicara sembarangan kamu. Apa kamu sedang menuduh teman papa. Kamu mengatakan dia bukan Dokter yang terbaik. Nayra belum tentu yang di katakan Dokter yang kamu bawa kerumah ini benar," ucap Vira masih punya banyak alasan untuk mengelak.
" Kamu masih mau mengelak dengan menyalahkan Dokter yang sekarang," sahut Nayra semakin kesal.
" Aku tidak mengelak. Tapi kamu tidak bisa menyalahkanku dalam hal ini," sahut Vira terus membela dirinya.
" Tidak disalahkan kamu bilang. Sudah jelas semuanya dan kamu masih berani bilang bukan kesalahan kamu," sahut Nayra geleng-geleng.
" Asal kamu tau Nayra. Semua obat-obatan itu pemberian Dokter teman papa. Aku hanya melakukan apa yang dia katakannya. Aku hanya memberikan makanan dan yang lainnya kepada papa atas sarannya. Aku tidak tau jika itu salah atau benar. Tapi dia Dokter bukankah seharusnya aku tidak curiga dengannya. Apa lagi dia teman papa," sahut Vira yang sekarang punya alasan untuk menutupi kesalahannya.
" Tidak tau kamu bilang, bagaimana mungkin kamu tidak tau kalau kamu ada di balik semua," sahut Nayra langsung menekankan.
" Kamu menuduhku melakukannya. Jangan asal bicara kamu. Aku tidak melakukan apapun, aku tidak tau apapun. Aku hanya merawat papa dengan tulus dengan saran dari Dokter," Bantah Vira dengan akting yang di perankan nya.
Nayra sampai geleng-geleng sudah tidak bisa berbicara lagi.
" Wanita kurang ajar," Nayra yang semakin kesal dengan Vira. Langsung menarik ujung rambut Vira.
" Kamu masih tetap tidak mengakui kesalahanmu," geram Nayra.
" Aku memang tidak salah," sahut Vira yang membalas tarikan rambut itu. Jika Nayra 1 tangan maka dia 2 tangan dengan tenaga yang sekuat-kuatnya.
Dia benar-benar ingin melakukan itu dari dulu. Akhirnya mereka saling jambak-jambak kan.
__ADS_1
" Aku tidak akan melepaskan mu Vira," teriak Nayra yang terus menarik rambut Vira.
" Aku tidak melakukan apapun yang kau katakan," sahut Vira yang terus membantah.
Mereka tetap saling menarik rambut dan sudah berada di atas tempat tidur. Di mana Nayra berada di bawah dan Vira menarik rambut Nayra dengan duduk di atas tubuh Nayra.
" Kamu sangat tidak tau diri Vira, kamu sudah di beri kehidupan tetapi kamu malah ingin menyakiti papa," geram Nayra sembari menjambak rambut Vira.
" Jaga bicara kamu, seharunya kamu yang tidak tau diri. Kamu baru muncul dalam kehidupan papa. Tetapi kamu sudah ingin menjadi orang paling benar," sahut Vira yang juga emosian.
Tanpa ampun Vira menjambak kuat rambut Nayra sekalian balas dendam atas apa yang di lakukan Nayra kepadanya tadi.
Raihan yang mendengar keributan dari atas. Langsung mengecek karena khwatir dengan istrinya.
Raihan langsung memasuki kamar yang pintunya terbuka dan terdengar suara teriakan dari dalamnya.
Saat berada di depan pintu betapa terkejutnya Raihan saat melihat posisi sang istri yang benar-benar teraniaya. Belum lagi sang istri sedang hamil dan Vira malah sesukanya melakukannya tanpa ampunan yang bisa membahayakan kandungan istrinya.
" Vira," teriak Raihan langsung menarik tangan Vira menjauhkan dari istrinya.
" Auhhh," lirih Vira memegang keningnya.
Raihan langsung membantu sang istri yang berbaring lemah.
" Sayang kamu tidak apa-apa," tanya Raihan memegang pipi Nayra dengan ke-2 tangannya memeriksa istrinya dengan panik apakah ada yang lecet atau tidak. Raihan juga merapikan rambut istrinya yang pasti sangat berantakan.
Kepala Raihan langsung menoleh kebelakang melihat Vira yang berusaha duduk. Raihan langsung berdiri menghampiri Vira dengan penuh kemarahan.
" Apa yang kamu lakukan pada Nara," teriak Raihan.
" Dia yang mencari gara-gara denganku datang kekamar ku dan menamparku," sahut Vira yang juga tidak kalah berteriak.
" Itu karena kamu pantas mendapatkannya," sahut Raihan.
" Apa maksud kalian. Jadi kalian sekarang mengeroyokku dengan menuduhku mencelakai papa ku sendiri," sahut Vira.
" Itu memang kenyataan," sahut Nayra geram.
__ADS_1
" Kalian menuduhku tanpa bukti. Dan kalian ber-2 juga menyerangku," ucap Vira semakin kesal.
" Jangan akting kamu. Hasil pemeriksaan Dokter hari ini sangat jelas. Jika kamu ingin mencelakai Papa," tegas Raihan.
" Aku sudah mengatakan aku tidak melakukannya. Aku merawat papa dengan obat dan saran dari Dokter teman papa dan bukan berarti itu kesalahanku. Jika ada yang salah," bantah Vira yang tetap membela diri walau sudah tercepit.
" Semua akan terjawab, jika Dokter Ramon akan datang," sahut Raihan membuat Vira kaget.
" Apa maksud kamu?" tanya Vira was-was.
" Kita bisa melihat di depan papa semuanya bagaimana kamu terlibat dalam hal ini," jelas Raihan. Mata Vira membulat sempurna saat mendengar ucapan Kevin.
" Apa Dokter Ramon sudah di panggil Raihan," tebak Vira semakin takut.
" Setelah ini. Kau tidak akan bisa mengelak lagi. Kau akan mempertanggung jawabkan perbuatanmu," tegas Raihan dengan menekan suaranya tidak main-main dengan ucapannya. Raihan kembali beralih kepada istrinya yang masih duduk dengan mengatur napasnya.
" Ayo sayang kita keluar. Dokter Ramon akan tiba," ucap Raihan.
Nayra mengangguk. Raihan pun pergi membawa istrinya keluar dari kamar itu.
" Sial," teriak Vira memukulkan tangannya ke lantai dengan kuat.
" Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku akan tammat setelah ini," batin Vira sudah tidak bisa berpikir lagi.
Dia sudah bisa melihat akhir dari hidupnya. Semua kebusukannya yang tersimpan rapi akan terungkap.
Raihan memberikan minum pada Nayra yang sudah duduk. Nayra juga sudah lumayan bisa mengatur napasnya.
" Seharusnya kamu tidak melakukan itu. Kamu sedang hamil Nayra. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kandungan kamu," ujar Raihan yang masih mencemaskan istrinya.
" Maaf, aku tidak bermaksud untuk ceroboh. Aku hanya tidak tahan dengan Vira yang ingin mencelakai papa," ucap Nayra meneteskan air matanya. Raihan mengusap air mata istrinya.
" Aku mengerti perasaan kamu. Papa sudah di tangani Dokter. Tinggal hanya Vira yang akan mendapat balasannya. Kamu tenang saja setelah ini dia tidak akan menyakiti papa lagi," ujar Raihan meyakinkan istrinya.
" Kamu jangan menangis lagi," ucap Raihan. Nayra mengangguk. Raihan mengusap pucuk kepala istrinya dan mencium keningnya.
Bersambung.
__ADS_1