
Zira yang di antar Raka menjemput Amira dari sekolahnya. Karena Raina tidak sempat menjemput Amira. Jadi sang Oma harus turun tangan sendiri.
Sekolah Amira tidak terlalu jauh dari rumah. Setelah beberapa menit. Raka, Amira dan Zira akhirnya sampai.
" Oma kenapa kita tidak jadi beli eskrimnya?" tanya Amira.
Sebelumnya Zira memang sudah menjanjikan akan membeli eskirim untuk Amira.
" Astaga sayang Oma lupa," sahut Zira menepuk jidatnya, " Ya sudah nanti Oma telpon om Raihan biar suruh bawakan eskirim untuk kamu," ujar Zira lagi menjanjikan.
Raka hanya melihat dari kaca spion, bagaimana wajah Amira yang cemberut. Karena tidak mendapatkan keinginannya.
" Sudahlah Oma, aku sudah tidak mau lagi," sahut Amira mengerucutkan bibirnya kedepan.
" Sayang, maafkan Oma. Tadi Oma benar-benar lupa," bujuk Zira menghelus pipi Amira.
" Om Raka bukakan pintunya, Amira mau turun, Amira mau belajar!" ujar Amira tidak ingin mendengarkan Zira.
Raka menengok kebelakang, melihat ke arah Zira untuk meminta persetujuannya. Zira menganggukkan kepalanya. Raka pun keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Amira.
Dengan wajah cemberutnya Amira keluar dari mobil. Zira melepaskan napasnya perlahan. Melihat cucunya yang pergi dengan wajah cemberut. Zira pun ikut turun dari mobil.
" Makasih ya kamu kembali kekantor saja!" ujar Zira.
" Baik Bu," sahut Raka menunduk dan langsung memasuki mobil.
Zira membalikkan tubuhnya menuju rumahnya.
" Zira," panggilan seseorang membuat Zira menghentikan langkahnya dan tidak jadi memasuki rumahnya.
" Kayla," ujar Zira melihat Kayla. Kayla langsung menghampiri Zira dan memeluknya.
" Ada apa ini, tumben banget kemari," ujar Zira melepas pelukan.
" Pengen cerita-cerita aja," jawab Kayla.
" Ya sudah kita masuk yuk," ujar Zira tersenyum lebar. Kayla mengangguk.
Kayla dan Zira mengobrol di taman belakang. Asisten rumah tangga sudah menyiapkan 2 cangkir teh panas dan beberapa kue basah untuk di nikmati.
" Mana Amira?" tanya Kayla.
" Lagi ngambek," jawab Zira.
" Kok bisa?" tanya Kayla lagi.
" Biasalah, aku tadi lupa beliin dia eskirim, eh dianya nggak sabaran mau di beli lagi jadi dia ngambek," jelas Zira.
" Maklumlah Zir, namanya juga anak kecil. Dulu juga Raina, Raihan, Angga, Andini seperti itu," ujar Kayla mengingat anak dan keponakannya.
" Iya dulu ngurusin anak, sekarang ngurusin cucu," ujar Zira menghela napasnya, " oh iya Kay tadi kemari mau ngapain?" tanya Zira.
__ADS_1
" Oh, gini Zir, aku mau minta pendapat," jawab Kayla.
" Pendapat, pendapat apa?" tanya Zira penasaran.
" Ini mengenai Angga," ujar Kayla.
" Angga, ada apa lagi dengan Angga?" tanya Zira.
" Begini Zira, sebenarnya ini masalah anak muda. Angga ini suka sama seseorang dan dia sulit sekali untuk menyatakan perasaannya. Jadi dia minta bantuan ku untuk melamar wanita itu," jelas Kayla mengatakan maksud dan tujuannya.
" Oh iya bagus dong Kayla, Angga bisa seperti itu. Jika dia sudah memantapkan hati untuk melamar gadis yang dia sukai, itu berati dia sudah bisa bertanggung jawab," ujar Zira yang ikut senang mendengar kabar bahagia itu.
" Kamu benar Zira. Aku juga berpikir seperti itu. Aku juga ingin Angga secepatnya menikah," sahut Kayla.
" Ngomong-ngomong siapa wanita pilihan Angga itu?" tanya Zira mengambil gelas teh dan ingin meminumnya.
" Nayra," jawab Kayla. Membuat Zira tidak jadi minum dan langsung melihat ke arah Kayla yang tersenyum lebar.
" Nayra Sekretarisnya Raina?" tanya Zira memastikan.
" Iya Nayra, bukannya kamu juga sangat mengenal baik gadis itu. Dan menurutku keluarga kita pasti juga akan menyetujuinya," ujar Kayla berharap banyak
Zira tersenyum tipis dan meletakkan kembali gelas teh yang tidak jadi di minumnya.
" Kamu yakin Angga akan bersama Nayra?" tanya Zira yang memiliki perasaan tidak enak.
" Iya aku yakin," jawab Kayla yakin.
" Apa yang akan terjadi setelah ini. Angga, Nayra dan Raihan, bagaimana ini," batin Zira yang sudah mulai merasa resah.
tok-tok-tok-tok
" Masuk," sahut Raina dari dalam ruang kerjanya.
Nayra yang mendapat izin masuk, langsung memasuki ruangan atasannya.
" Ibu memanggil saya," ujar Nayra berdiri di depan Raina yang sibuk bekerja.
" Iya Nayra, silahkan duduk!" ujar Raina mempersilahkan Nayra.
Nayra pun duduk di depan Raina. Raina menutup laptopnya dan beberapa berkas yang di tandatanganinya. Kedatangan Nayra membuatnya menghentikan pekerjaannya.
" Ada apa ya Bu?" tanya Nayra.
" Hmmm, begini Nayra, kamu kan tau sendiri Raihan kakak saya sudah ada di Perusahaan ini," ujar Raina.
" Apa hubungannya?" batin Nayra merasa ada yang tidak enak.
" Iya Bu lalu," sahut Nayra.
" Nayra, setelah kak Raihan akan di jadikan CEO di Perusahaan ini, Kemungkinan saya tidak akan ada di Perusahaan ini, saya akan fokus pada Amira dan juga pada tulisan saya. Jadi saya ingin kamu menjadi Sekretarisnya kak Raihan," jelas Raina membuat Nayra kaget dan langsung melebarkan matanya menatap Raina.
__ADS_1
" Maksud ibu, posisi saya akan di pindahkan pada pak Raihan?" tanya Nayra gugup.
" Iya benar," jawab Raina.
" Tapi Bu kenapa harus saya, bukannya banyak orang lain yang lebih kompeten. Lagi pula kalau ibu sudah tidak di Perusahan lagi, saya tidak apa-apa jika harus menjadi karyawan biasa. Saya tidak perlu menjadi sekretaris untuk orang lain," ujar Nayra yang benar-benar tidak ingin menjadi sekretaris dari Raihan yang sungguh menyebalkan.
Raina tersenyum tipis, meraih tangan Nayra yang sedari tadi bergetar. Bukan hanya bergetar tangan itu bahkan sangat dingin.
" Nayra, kamu sudah lama bekerja dengan saya. Saya sudah tau bagaimana kemampuan kamu. Kakak saya baru ada di Perusahaan ini. Meski dia akan menjadi CEO. Tetapi saya yakin pengetahuan kamu lebih banyak mengenai Adverb dari pada kak Raihan. Saya ingin kamu menjadi Sekretarisnya. Supaya kamu bisa membantunya. Ini tidak akan sulit," jelas Raina membujuk Nayra.
" Bu Nayra, ini akan sulit, saya tidak bisa bekerja dengan pak Raihan, saya tidak bisa mengikuti semua kemauan pak Raihan. Bu Raina saya mohon jangan biarkan saya jadi sekretarisnya," ujar Nayra memohon dengan wajah takutnya.
" Saya yang memohon sama kamu. Semua akan baik-baik saja. Raihan akan bekerja profesional sama seperti kamu. Jika dia melewati batasnya saya akan menarik kamu kembali," ujar Raina terus membujuk Nayra.
Nayra benar-benar frustasi dengan kabar tersebut, sungguh dia mencemaskan dirinya. Tidak menjadi sekretaris saja. Raihan sudah suka-sukany kepadanya. Apa lagi menjadi sekretaris Raihan tamat riwayat Nayra.
" Kamu maukan?" tanya Raina memastikan melihat Nayra yang bengong.
" Apa tidak ada jalan lain Bu?" tanya Nayra masih berharap. Raina hanya menggeleng.
" Nayra kamu sudah banyak membantu saya. Dan saya ingin kamu juga membantu kakak saya. Saya hanya ingin kamu yang mendampinginya," jelas Raina.
" Lalu bagaimana dengan pak Raihan sendiri, apa dia mau saya menjadi Sekretarisnya?" tanya Nayra nada tidak bersemangat.
" Nayra, justru semua ini permintaan dari kak Raihan," batin Raina yang tersenyum mengangguk.
" Ini keputusan saya. Jika itu demi Perusahaan maka tidak akan ada yang bisa menyangkalnya," jelas Raina.
" Ya sudah lah Bu. Jika memang menurut ibu itu yang terbaik, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Tetapi boleh saya minta satu syarat Bu," ujar Nayra memohon dengan ragu.
" Syarat apa?" tanya Raina yang penasaran.
" Boleh suratnya saya ketik Bu, soalnya lumayan banyak," ujar Nayra gugup.
" Bukannya tadi satu ya kamu bilang," sahut Raina. Nayra terkekeh kecil.
" Iya Bu tapi anaknya, jadi saya juga harus memikirkan diri saya Bu," ujar Nayra yang benar-benar waspada.
" Oh baiklah, kalau begitu kamu buat saja syaratnya," ujar Raina mengangguk.
" Iya Bu kalau begitu saya permisi dulu," ujar Nayra pamit. Raina hanya mengangguk.
" Nayra maafkan saya jika kamu akan kesulitan dalam hal ini. Saya tau kakak saya memang tidak akan melepaskan kamu. Tapi saya juga tau dia melakukan ini bukan semata-mata membenci kamu atau membalas kamu. Saya hanya berharap kak Raihan bisa mengerti apa yang terjadi selama ini. Saya menyetujui semua ini agar kak Raihan berhenti menyalahkan kamu," batin Raina yang melihat Nayra berjalan keluar.
...Bersambung......
...Jangan lupa...
...Vote...
...like...
__ADS_1
...koment....
...Follow saya....