Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 357


__ADS_3

Sony dan Dara masih berada di depan ruangan itu. Mendengarkan apa-apa yang di katakan Carey pada Vira.


" Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Sony.


" Biasalah, masalah rumah tangga Carey," jawab Dara. Mereka malah mengobrol di depan pintu rumah sakit sampai tidak sadar jika Carey sudah membuka pintu dan membuat Dara dan Sony kaget.


Tetapi bukan hanya mereka yang kaget. Carey juga tampak kaget dengan. Tetapi mata Carey tidak melihat ke arah Sony maupun Dara. Tetapi kebelakang sahabatnya itu.


Sehingga Sony dan Dara pun membalikkan badannya dan melihat siapa yang di lihat Carey yang ternyata adalah Dion yang membuat mereka semakin kaget. Sampai Dara menutup mulutnya. Dia juga tidak tau kapan Dion berada di sana.


Carey tampak biasa dan benar-benar tidak peduli dan langsung pergi melewati temannya dan suaminya itu.


" Carey!" panggil Dion yang langsung menyusul Carey.


" Kapan dia ada di sini?" tanya Sony. Dara mengangkat ke-2 bahunya.


" Aku juga tidak tau sejak kapan dia ada di sana," ucap Dara juga heran.


" Memang mereka sudah lama ribut seperti itu?" tanya Sony.


" Mana aku tau. Semua ini gara-gara kamu sih. Seharunya ni yah. Kamu itu perhatian sama Vira. Jadi nggak kayak gini kejadiannya. Lagian Carey benar, sebenarnya ayah bayi Vira itu kamu apa Dion. Kenapa apa-apa semuanya jadi Dion," sahut Dara yang akhirnya ikut-ikutan mengoceh.


" Aku tidak tau jika akhirnya apa yang terjadi pada ku dan Vira malah membawa masalah untuk hubungan rumah tangga Dion dan juga Carey," batin Sony yang menjadi merasa bersalah pada temannya.


*********


Sementara di sisi lain Raihan sudah berada di ruangan istrinya. Raihan sedari tadi berada di samping istrinya menggengam tangan istrinya dengan mengusap-usap rambut Nayra.


Untuk menenangkan Nayra. Agar tidak merasa terlalu sakit. Air mata Nayra terus menetes dengan keringat di dahinya. Raihan juga beberapa kali mengusap keringat istrinya dan mencium kening itu dengan lembut.


" Sabar, ya sayang," ujar Raihan yang hanya bisa mengatakan hal itu.


Memang hanya Nayra yang merasakan sakitnya yang mungkin tidak bisa di jelaskan Nayra betapa sakitnya semua itu. Tetapi melihat istrinya yang kesakitan seperti itu membuat Raihan juga sangat sakit karena tidak tega melihat istrinya yang sangat lemah.


" Hmmm, sakit, Hmmm, sakit," keluh Nayra yang terus gelisah.


" Kamu tenang ya, sakitnya kan hilang sebentar lagi," ucap Raihan yang menatap istrinya sangat dalam. Jarak wajah ke-2nya begitu sangat dekat.

__ADS_1


" Apa aku akan melahirkan sekarang?" tanya Nayra.


" Iya sayang, kamu akan melahirkan sekarang. Sebentar lagi kamu menjadi seorang ibu," ujar Raihan dengan lembut. Nayra yang kesakitan tersenyum tipis.


" Kamu akan menemaniku?" tanya Nayra. Raihan mengangguk dan mencium kening Nayra.


" Aku akan selalu bersama kamu. Jadi jangan khawatir," ujar Raihan meyakinkan sang istri. Nayra mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ceklek pintu kamar terbuka yang menampilkan 2 suster.


" Pak Raihan, Bu Nayra akan kita pindahkan keruang persalinan," ujar suster.


" Baik suster," sahut Raihan.


Suster pun mulai merapikan beberapa alat yang sudah melekat di tubuh Nayra. Setelah itu. Suster langsung mendorong tempat tidur Nayra dan Raihan ikut tanpa melepas genggaman tangan itu.


Saat memasuki ruang persalinan. Ternyata semua keluarganya sudah menunggu di depan ruangan itu. David, Andin, Raina dan Raka juga sudah tiba.


" Sayang, kamu yang kuat ya, kamu akan baik-baik saja," ujar Jihan mengusap-usap pucuk kepala Nayra dan mencium keningnya.


" Pasti sayang, pasti akan mama doakan, mama akan mendoakan mu," sahut Jihan.


" Pa, doain Nayra juga ya?" ujar Nayra yang minta doa sama papanya.


" Iya sayang, papa pasti doain kamu. Agar persalinan kamu lancar," sahut Davi memegang erat tangan anaknya. Zira juga mendekati Nayra dan langsung mencium kening Nayra.


" Tidak akan ada yang sakit. Karena apa yang kamu rasakan adalah anugrah. Jadi jangan takut ya," ujar Zira memberikan saran.


" Iya ma, makasih sudah datang buat lihat Nayra," ujar Nayra.


" Iya sayang, kami semua di sini mendoakan kamu. Kamu ada bersama kami. Jadi jangan takut ya," ujar Zira lagi.


" Kalau begitu, Bu Nayra akan kami bawa masuk. Silahkan yang lainnya menunggu di luar saja," ujar Dokter.


" Iya Dok," jawab mereka.


" Raihan, terus beri istri kamu kekuatan," ujar Zira memberi saran pada anaknya.

__ADS_1


" Iya ma pasti," sahut Raihan.


Dokter dan suster pun mendorong tempat tidur Nayra ke dalam ruangan persalinan. Nayra sudah di pasang alat pernapasan di hidungnya dan juga infus di tangannya.


Ada dua Dokter wanita yang membantu persalinan itu dengan 2 suster. Nayra, Raihan. maupun Dokter sama-sama sudah memakai pakaian hijau yang biasa di pakai untuk operasi.


Kaki Nayra sudah mengangkang yang berarti persalinannya akan di mulai. Karena ketuban Nayra memang sudah pecah. Sebelumnya Dokter masih menyarankan Nayra untuk operasi karena kondisinya yang benar-benar tidak stabil.


Tetapi Nayra tetap kekeh untuk lahiran normal. Karena melahirkan secara normal menyempurnakan untuk menjadi seorang ibu. Makanya dia ngotot untuk lahiran normal.


Persalinan Nayra sudah di mulai. Genggaman tangan tidak lepas dari Raihan. Nayra memegang kuat tangan suaminya dengan erat dan mulai berteriak-teriak. Ketika Dokter memberi arahan tarik napas keluarkan pelan-pelan.


" Aaaaaaa," teriak Nayra dengan merapatkan guginya untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya.


Raihan bisa merasa kesulitan pada istrinya. Nayra beberapa kali berteriak. Napasnya juga tidak stabil naik turun terus. Air matanya terus keluar dari kelopak matanya.


Raihan yang berada di sampingnya di bagian kepalanya terus menguatkan sang istri, mengusap beberapa kali kening istrinya dengan tangannya, mencium istrinya dan membisikkan beberapa kalimat di kening istrinya.


" Nayra menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan kedepan.


" Aaaaaaaaa," teriak Nayra.


" Owe, owe, owe, owe, owe. Suara tangisan bayi terdengar. Membuat Nayra membuang napasnya perlahan kedepan. Raihan langsung mencium kembali istrinya. Ikut meneteskan air mata. Ketika buah hati mereka yang di tunggu-tunggu lebih tahun lahir ke dunia.


" Sayang terima kasih untuk semuanya," ujar Raihan menciumi Nayra. Nayra hanya menganggukkan matanya.


Bayi yang baru lahir itu langsung di letakkan suster telungkup di dada Nayra.


" Anak kita, sudah lahir," ujar Nayra melihat suaminya.


" Iya," sahut Raihana mengusap-usap rambut Nayra dan mencium terus kening istrinya. Bayi merah itu. Sudah tidak menangis lagi begitu tenang saat berada di pelukan mamanya. Wajah Nayra dan Raihan tidak lepas dari senyum merekah.


Rasa sakit sudah tidak ada lagi dengan hadirnya bayi itu di dalam kehidupan mereka. Dia merasa lega. Karena sudah menjadi seorang istri.


Istri yang sangat sempurna karena melahirkan bayi kecil. Tidak ada kebahagian yang pernah di dapatnya. Kecuali dari suaminya yang pasti sangat sabar akan dirinya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2