
" Apa maksudnya ini?" tanya Carey tidak mengerti dengan apa yang di berikan Dion kepadanya. Walaupun dia baru membaca judulnya saja.
" Aku rasa kau bisa membaca dan aku tidak perlu menjelaskan lagi apa isinya
" Kau dengar Carey. Kau bukan tipe ku. Tipe ku wanita yang seksi, cantik, memiliki tubuh bagus. Pintar dalam segala hal dan jelas itu jauh dari dirimu. Aku akan menikahimu dan itu pasti karena terpaksa," ucap Dion yang terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya dengan Carey.
" Maksudmu kamu menerima pernikahan itu dengan Syarat berdasarkan kontak ini," tebak Carey curiga.
" Itu kamu tau. Aku pikir kamu tidak cepat menangkap hal itu," sahut Dion tersenyum miring.
" Aku ingin kita menikah tetapi hanya 3 bulan saja setelah itu kita bercerai. Aku memberimu kesempatan untuk memikirkan apa alasan bercerai dari ku," jelas Dion yang sudah merencanakan hal itu semalaman.
Tidak melanjutkan membacanya Carey malah menutupnya dan meletakkan di depan Dion.
" Aku tidak tertarik untuk menerima kontrak darimu," sahut Carey dengan wajah serius.
" Apa maksud mu. Kau ingin kita menikah seumur hidup. Apa kau mengkhayal terlalu tinggi. Aku sudah mengatakan. Kau bukan tipeku," tegas Dion sekali lagi.
" Dion. Menikah kontrak tidak ada ajaran dalam agama kita. Dan kamu jangan menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan. Pernikahan bukan tulisan novel atau drama Korea yang sering terdapat cerita pernikahan kontrak. Tetapi pernikahan adalah suatu ibadah dan aku rasa kamu mengerti hal itu," ujar Carey dengan serius.
Tidak percaya baginya. Jika Dion memang akan membuat surat kontrak untuk pernikahan mereka.
" Tapi aku tidak ingin menikah denganmu," ujar Dion mengeraskan suaranya
" Jika berbicara mau atau tidak mau menikah. Aku juga tidak mau menikah dengan mu. Sebagai wanita muslim yang baik. Aku hanya menerima pinangan ibumu tanpa ingin melukai perasaan siapa-siapa," jawab Carey.
" Jangan ceramah di depanku. Aku tidak akan termakan omongan mu. Aku bukan mama ku yang terpengaruh kata-kata mu. Aku katakan sekali lagi kepadamu. Kau bukan tipe ku," tegas Dion sekali lagi.
" Kamu juga bukan tipe ku. Tipe ku Pria yang berbicara sopan, lembut dan pasti tidak melenceng dari agama seperti apa yang kamu lakukan barusan," sahut Carey to the point seakan ucapan Carey menampar Dion secara tidak langsung.
" Apa kau katakan barusan, apa menurutmu. Aku sangat buruk," geram Dion.
" Aku tidak berhak menilai apapun. Aku hanya mengatakan saja," sahut Carey.
" Aku tegaskan sekali lagi, aku menerima lamaran itu. Bukan berarti aku menyukaimu. Tetapi karena aku menghormati wanita yang mulia seperti ibu," tegas Carey.
" Jadi jangan pernah menemuiku hanya untuk membicarakan hal-hal bodoh seperti ini. Kau salah orang. Permisi!" ucap Carey pamit.
Dion terdiam tanpa bisa berbicara apa-apa lagi bisa-bisanya dia tidak berkutik dengan kata-kata wanita yang akan menjadi istrinya itu.
__ADS_1
Bahkan jika marah-marah wanita itu hampir sama dengan mamanya mengoceh dan dia pasti diam tanpa bisa menghentikan atau melakukan apa-apa lagi.
" Carey, aku belum selesai bicara," teriak Dion memanggil-manggil nama Carey.
" Wanita itu benar-benar berani mengataiku. Di bahkan menilaiku dan terang-terangan mengatakan aku tipenya," desis Dion geram dengan Carey. Dion hanya melihat Carey yang menaiki Taxi.
" Oke, aku sudah memberi banyak kebaikan kepadamu. Jika kau tidak menyetujui kontrak dengan pernikahan 3 bukan. Baiklah kita lanjutkan semua ini. Mungkin tidak sampai 3 bulan kau sudah menyerah dengan pernikahan itu," batin Dion mengepal tangganya.
*********
Raihan pergi bekerja agak siang. Sudah jam 8 pagi tetapi dia baru saja selesai mandi. Raihan Keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang di lilit di pinggangnya.
Sementara Nayra menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan dengan membolak-balik majalah tentang ibu hamil.
Raihan yang melihat istrinya yang begitu serius langsung merangkak ke ranjang telungkup dan mencium perut Nayra.
" Pagi sayang," ujar Raihan sambil mengusap-usap kandungan Nayra menyapa calon anak mereka.
" Pagi papa," jawab Nayra dengan suara halus layaknya seperti bayi.
" Apa dia baik-baik saja?" tanya Raihan mengangkat kepalanya.
" Baguslah jika begitu," ujar Raihan yang terus mengusap pipi istrinya. Raihan mengangkat kepalanya dan kembali melihat sang istri yang masih fokus membaca majalah.
" Sayang," panggil Raihan lembut.
" Iya kenapa?" tanya Nayra tanpa melihat suaminya.
" Kamu cantik sekali," gombalan Raihan membuat Nayra tidak jadi membuka lembaran makalah selanjutnya melihat suaminya dengan menaikkan 1 alisnya. Seperti kata-kata suaminya punya maksud lain.
" Sudah siang sana berangkat!" sahut Nayra yang tau apa maksud Raihan. Raihan mengelengkan kepalanya.
" Aku ingin bersamamu. Aku tidak ingin bekerja," sahut Raihan mulai malas-malasan.
" Tapi...."
" Apa! Raihan tiba-tiba meletakkan telinganya di perut Nayra.
" Oke papa mengerti," sahut Raihan yang seolah-olah bicara dengan bayinya. Nayra hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
" Sayang bayi kita bilang ingin di kunjungi," ujar
Raihan memainkan politiknya agar bisa bermesraan dengan istrinya di pagi yang cerah. Nayra mendengus mendengarnya. Dua sudah tau sejak awal maksud suaminya mengarah ke arah sana.
" Apa boleh aku mengunjunginya!" pinta Raihan. Nayra mengeleng dengan dengan cepat dengan senyum lebar di wajahnya.
" Sayang," rengek Raihan seperti anak kecil yang sangat manja.
Tidak Nayra tidak Raihan. Memang ke-2 nya sangat manja semenjak Nayra hamil. Raihan menaikkan tubuhnya ke atas. Sehingga wajahnya berhadapan dengan Nayra dengan jarak yang sangat dekat.
" Kamu yakin tidak mau?" tanya Raihan dengan wajah penuh harapan. Nayra yang tampak suka mengerjai suaminya menggeleng kembali.
" Tapi aku mau," ujar Raihan membelai rambut Nayra.
" Bukannya kamu harus bekerja?" tanya Nayra.
" Aku ingin bersamamu sebentar," ujar Raihan menatap wajah Nayra intens. Tatapan mata turun ke bibir Nayra. Tanpa berbicara lagi. Raihan mencium lembut bibir itu.
tok-tok-tok.
Baru ingin mencium lebih dalam. Ketukan tangan setan sudah mengganggu membuat Raihan kesal. Tetapi Nayra justru tersenyum tipis.
" Siapa?" tanya Raihan dengan suara keras.
" Bu Carey ada di bawah," jawab bibi dari balik pintu.
" Carey," geram Raihan langsung menjatuhkan kepalanya di tubuh Nayra karena merasa kecewa.
" Aku bilang juga apa. Kamu harus kekantor. Tetapi tidak mau," sahut Nayra paling bahagia dengan kejadian itu.
" Kamu tau Carey akan datang?" tanya Raihan melihat kearah istrinya. Nayra mengangguk memang di awal Carey sudah menelponnya.
" Kenapa tidak memberitahuku," ujar Raihan dengan wajah kesalnya. Nayra hanya menggedikkan bahunya.
" Kenapa banyak sekali pengganggu dalam hidup ini," umpat Raihan kesal tidak bisa menjalankan aksinya.
" Sudahlah sayang sana kamu siap-siap, aku mau menemui kak Carey dulu," ujar Raihan.
" Nanti malam aku tidak akan melepasmu," ujar Raihan menatap tajam Nayra.
__ADS_1
Bersambung.....