
Raihan tersenyum miring, melihat wajah Nayra yang kesal. Raihan dengan santainya memasuki apartemen Nayra dengan melewati Nayra yang masih berdiri di depan pintu. Setelah Raihan masuk Nayra kembali menutup pintu apartemennya.
" Tunggulah di sini!" ujar Nayra yang melihat Raihan sudah duduk di ruang tamu.
" Kau tidak menyiapkan ku minum, aku haus?" tanya Raihan.
" Sebentar," sahut Nayra geram dengan Raihan. Dengan tidak iklhas Nayra pergi kedapur.
" Banyak sekali permintaannya," gerutu Nayra dengan kesal membuka kulkasnya.
Nayra hanya menuang orens jus untuk Raihan. Setelah menyiapkan minum, Nayra kembali keruang tamu membawa segelas orens jus tersebut.
" Nih," ujar Nayra memberikan pada Raihan.
Raihan langsung mengambilnya dengan terus melihat Nayra. Raihan pun langsung meminumnya.
" Kau masih ingin berdiri di situ," ujar Raihan yang melihat Nayra berdiri di depannya dan terus melihatnya yang minum.
Nayra mendengarnya menjadi salah tingkah. Benar juga ngapain dia berdiri di depan Raihan, malah menunggui Raihan minum.
" Issshhh," ujar Nayra mengepal tangannya ingin menonjok Raihan. Lalu dengan rasa malunya Nayra pergi dari hadapan Raihan dengan hentakan langkah kesal.
" Jangan lama-lama. Jika lama aku akan menyusulmu kekamar," teriak Raihan menggoda Nayra.
" Awas saja kalau kau berani," sahut Nayra berteriak dengan nada kesalnya.
" Dasar," gumam Raihan tersenyum geli dengan geleng-geleng.
Setelah menunggu 10 menit Nayra yang sudah selesai langsung keluar dari kamar menghadap Raihan. Nayra menggunakan off shoulder dress berwarna peace sehingga memperlihatkan bagian bahunya.
Panjang dress tersebut hanya sampai lututnya dengan heels silver. Nayra terlihat sangat anggun dan cantik. Raihan sangat pangling melihat Nayra yang memang sangat cantik. Raihan langsung berdiri di depan Nayra tanpa mengedipkan matanya.
" Nara kamu cantik ," puji Raihan yang tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak mengatakan kalimat itu.
Nayra hanya menahan senyumnya. Ingin terlihat biasa saja saat Raihan memujinya. Padahal dia Inging melompat-lompat saat mendengar 3 kata pujian itu.
" Sudah ayo," ujar Nayra ketus.
" Baiklah, ayo," ajak Raihan yang langsung meraih tangan Nayra dan menggenggamnya erat.
Nayra tidak menolak membiarkan saja dan mengikuti langkah Raihan yang berjalan di depannya.
Setelah sampai parkiran, Raihan membukakan pintu mobil untuk Nayra. Nayra pun langsung masuk dan duduk. Raihan menyusul dengan mengitari mobil dan memasuki mobil duduk di kursi pengemudi.
Raihan menoleh kesamping melihat Nayra yang fokus menatap lurus kedepan. Raihan mendekatinya, Nayra langsung tersentak kaget saat wajah Raihan sudah di hadapannya.
Raihan memasangkan seat belt untuk Nayra. Nayra harus menahan napasnya saat tidak ada jarak antara dirinya dan Raihan. Belum lagi aroma farfum Raihan yang sangat khas.
Detak jantung Nayra semakin kencang, dengan keberadaan Raihan yang bisa membuat jantungnya berhenti.
Raihan menoleh ke arah Nayra sehingga sepasang ke-2 bola mata itu saling bertemu. Raihan dan Nayra saling beradu pandang cukup lama.
" Pliss jantung jangan seperti ini, aku mohon tolong kondisikan, kita harus bekerja sama," batin Nayra, yang tidak tahan dengan tatapan Raihan yang membuatnya sangat gugup.
" Aku telah kehilanganmu Nara, begitu lama. Aku tidak mungkin melepasmu walau sedetikpun," batin Raihan.
" Apa kita tidak akan terlambat," ujar Nayra terbata-bata dengan kegugupannya.
Raihan tersenyum menganggukan matanya. Raihan pun berlalu dari hadapan Nayra.
Dengan itu Nayra langsung membuang napasnya panjang kedepan. Karena sedari tadi dia menahan tapas itu.
Pipinya juga memerah. Raihan yang melihat Nayra hanya mendengus. Dia memang sangat jago membuat Nayra gugup.
Raihan pun melajukan mobil dengan kecepatan santai. Di dalam mobil mereka tidak ada obrolan. Raihan hanya melirik Nayra sekali-kali. Dia bisa melihat kegugupan di wajah Nayra.
***********
Raina ikut menyiapkan jamuan makan malam. Yang di bantu dengan Zira dan beberapa pelayan. Meraka banyak menyimpan jenis lauk yang sangat menggugah selera.
__ADS_1
" Aku sangat penasaran dengan nama Davi Wilson itu," batin Raina yang memang tidak mengetahui siapa orangnya.
" Raina kamu kenapa?" tanya Zira yang menyusun sendok melihat Raina bengong.
" Tidak ma, tidak apa-apa," jawab Raina bohong.
" Gelasnya sudah hampir penuh," ujar Zira melihat Raina menuang air yang sudah kepenuhan.
" Astaga maaf ma," sahut Raina merasa ceroboh.
" Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Zira penasaran.
" Hah, tidak aku, aku takut saja jika klien ini akan kecewa dengan jamuan kita," sahut Raina mencari alasan.
" Hahhhh, mama sudah mengeluarkan semua resep mama, semoga dia senang," ujar Zira. Raina menanggapinya hanya dengan senyum tipis.
" Apa sudah selesai?" tanya Addrian yang menyusul ke ruang makan.
" Sudah sayang tinggal sedikit lagi," jawab Zira.
" Baguslah kalau begitu," sahut Addrian.
" Di mana kliennya, apa sudah datang?" tanya Zira.
" Belum masih di jalan," jawab Addrian.
" Oh, ya sudah aku ke atas dulu, memanggil Amira," ujar Zira.
" Baiklah," sahut Addrian.
Raina melihat mamanya menaiki anak tangga.
" Pa," panggil Raina saat Addrian ingin pergi.
" Iya ada apa Raina?" tanya Addrian.
" Iya papa jelas sangat kenal dengan Pak David, dari dulu papa ingin kerja sama dengannya tetapi selalu berhalangan. Eh ternyata di tangan Raihan malah kerjasama itu terjalin," jawab Addrian dengan sedikit penjelasan.
" Apa papa....,"
" Mama," belum sempat Raina bertanya lebih lanjut. Amira sudah berteriak yang turun dari tangga bersama Zira. Raina hanya tersenyum. Padahal dia ingin berbicara dengan papanya.
" Sayang," ujar Raina pelan. Saat Amira sudah menggengam tangannya.
" Kamu tadi ingin bicara apa Raina?" tanya Addrian.
" Tidak ada pa," sahut Nayra mengurungkan niatnya untuk berbicara.
" Oh baiklah, oh iya Raihan mana?" tanya Addrian tidak melihat putranya.
" Menjemput Nayra?" jawab Raina melihat ke arah mamanya.
Zira berekspresi datar mendengar hal itu. Sadar dengan tatapan Raina. Zira tersenyum tipis.
" Ok kalau begitu," sahut Addrian.
Tingnong, Tingnong, bel rumah berbunyi.
" Oh mungkin itu mereka. Mari kita kesana," ujar Addrian. Raina dan Zira mengangguk pelan. Dan mengikuti Addrian.
Addrian membuka pintu dan melihat yang datang ternyata adalah Raka dan Alex.
" Om," sapa Alex.
" Hay Alex, Raka," sapa kembali Addrian.
" Raka, ngapain dia, apa dia ikut juga," batin Raina.
Amira yang melihat Raka datang langsung tersenyum lebar. Amira ingin berlari menghampiri Raka.
__ADS_1
Tetapi Raina langsung menghentikan tangannya. Membuat kaki Amira tidak jadi bergerak. Amira mengangkat kepalanya melihat sang mama.
Raina menggelengkan kepalanya memberi peringatan kepada Amira. Amira yang melihatnya langsung menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
" Pak Addrian Bu, Zira, saya permisi dulu, saya harus menjemput klien," ujar Raka.
" Oh baiklah silahkan, tadi saya pikir malah beliau yang datang," ujar Addrian.
" Kalau begitu saya permisi," ujar Raka membungkukkan badannya dan pamit. Amira melihatnya sangat sedih. Padahal dia ingin berbicara pada Raka.
" Amira kamu kenapa?" tanya Addrian saat membalikkan tubuhnya melihat cucunya yang sangat murung.
Amira menggeleng lalu pergi keruang tamu. Addrian langsung melihat Raina. Addrian menaikkan alisnya seakan bertanya.
" Tidak Pa, paling hanya ngambek," sahut Raina.
" kalau ngambek pasti ada sebabnya bukan?" tanya Addrian. Raina hanya diam saja tanpa menjawab.
" Raina jangan terlalu keras kepada Amira. Kasian dia oke," ujar Addrian memberi saran.
" Iya Pa," sahut Raina.
" Biar nanti aku akan membujuknya," sahut Zira.
Mereka masih berdiri di depan pintu. Sampai akhirnya mobil Raihan dan Nayra sudah tiba di depan mereka.
" Itu Raihan," ujar Raina. Addrian kembali membalikkan tubuhnya menghadap luar.
Raihan dan Nayra berada di dalam mobil. Raihan melihat Nayra tampak gugup. Raihan melihat keluar dan melihat mama dan papanya sudah berdiri di depan pintu.
" Nara," tegur Raihan.
" Raihan, aku," Nayra tampak ragu untuk masuk. Setelah kejadian yang di buatnya dia merasa malu menemui Addrian dan Zira.
" Tidak apa-apq, ayo turun," ujar Raihan.
" Tapi Tante Zira pasti masih marah kepadaku," ujar Nayra.
" Mama marah kenapa? Aku yang salah jadi dia hanya marah kepadaku," ujar Raihan.
" Tante Zira akan marah, karena aku sudah menuduhmu. Itu bukan bercandaan yang lucu. Dia pasti kecewa dengan tindakanku, apalagi menjadikan hal itu sebagai becandaan," ujar Nayra yang masih merasa bersalah menunduk.
" Kalau begitu anggaplah itu benar. Apa yang kau katakan, aku telah melakukannya, jadi mama ataupun papa hanya akan marah kepadaku," jelas Raihan.
Nayra langsung mengangkat kepalanya dan melihat ketulusan di mata Raihan.
" Tapi...,"
" Sudah ayo kita turun. Aku mengajakmu kemari untuk menjamu Pak David bukan untuk meminta restu. Jadi kenapa kamu harus gugup," ujar Addrian bercanda sedikit.
Wajah gugup Nayra berubah menjadi kesal, dia merapatkan giginya ingin menelan Raihan yang masih sempatnya bercanda.
" Sudah ayo," ujar Raihan membuka seat beltnya dan keluar dari mobil.
Nayra juga menyusul keluar dari mobil. Mereka berjalan berdampingan menghadap Addrian, Zira dan Raina.
" Om," sapa Nayra membungkukkan tubuhnya Mencium punggung tangan Addrian.
" Nayra, kamu apa kabar?" tanya Addrian mengusap rambut Nayra.
" Baik Om," jawab Nayra tersenyum lebar.
" Tante," Nayra juga melakukan hal yang sama kepada Zira. Zira tersenyum dan memeluk Nayra.
" Maafin Nayra Tante," ujar Nayra di dalam pelukannya. Zira melepas pelukannya dan memegang pipi Nayra.
" Tidak apa-apa," jawab Zira tersenyum lebar, " sudah ayo kita masuk, jangan di sini terus," ajak Zira merangkul Nayra.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1