Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 94


__ADS_3

" Sudah lah Raihan. Pokoknya kamu haru biasa-biasa saja, saat di kantor. Awas saja kalau kamu macam-macam," ujar Nayra nada mengancam.


" Ok baik. Tapi aku tidak janji. Aku tidak tau kapan aku bisa menahan diriku," ujar Raihan dengan seriangi nakal di wajahnya.


" Raihan aku serius. Kamu jangan seperti itu. Aku belum terbiasa dengan hal itu, aku tidak ingin mendapat gunjingan," sahut Nayra lagi dengan kesal bahkan sudah merengek seperti anak kecil.


Raihan meraih 1 tangan Nayra Menggenggamnya erat dan mencium telapak tangan itu.


" Nara aku hanya ingin dunia tau, kalau kamu adalah wanita yang paling aku cintai. Bukan malah menyembunyikan siapa kamu," ujar Raihan dengan lembut.


" Aku tau Raihan. Tetapi kan kita masih baru, aku hanya ingin semua berjalan sesuai prosesnya," ujar Nayra.


" Baiklah, nanti akan aku pikirkan," ujar Raihan mengusap pipi Nayra yang sudah mengembang.


" Jangan di pikirkan. Harus di lakukan," ujar Nayra dengan wajah lesunya.


" Baiklah," sahut Raihan. Nayra tersenyum mendengarnya.


" Sekarang ayo kita turun," ujar Raihan lagi ingin membuka pintu mobil. Tetapi Nayra menghentikan tangan Raihan. Raihan kembali menoleh ke arah Nayra.


" Ada apa lagi?" tanya Raihan menaikkan alisnya.


" Kecuali dia," tunjuk Nayra. Raihan melihat arah jari Nayra yang memperlihatkan. Jesika turun dari mobil.


" Kenapa dengan dia?" tanya Raihan.


" Kau harus mengatakan kepadanya jika aku kekasihmu," ujar Nayra dengan suara di tekan. Raihan menatap heran dengan Nayra.


" Hanya dia?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.


" Kenapa harus dia?" tanya Raihan.


" Kenapa kau keberatan, katanya memberi tahu untuk dunia. Memberi tahu kepada Jesika saja harus berpikir," oceh Nayra dengan wajah kesalnya.


" Ya aku heran saja," sahut Raihan.


" Aku tidak suka dengannya. Dia selalu mencampuri hidupku. Jika aku bersamamu dia akan menatapku dengan sinis. Seakan ingin menelanku. Bukannya dia selalu mencari perhatian kepadamu. Kau juga sering bersamanya," Nayra merocos dengan wajah kesalnya.


Melihat Jesika yang berjalan kecentilan. Raihan menyunggingkan senyum dengan tingkah wanita yang disampingnya itu.


" Jadi kau mencemburinya," tebak Raihan menggoda Nayra.


" Tidak," sahut Nayra mengelak.


" Lalu,"


" Aku hanya ingin dia tau. Kalau kau memang kekasihku. Biar dia bisa menjaga sikapnya, jangan sok cantik, sok seksi di depanmu. Dan menjaga tatapannya. Dia tidak bisa menatap pacar orang dengan sesukanya," oceh Nayra lagi. Raihan geleng-geleng dengan mulut Nayra yang tidak berhenti merocos.


" Bukannya kamu pernah menamparnya?" tanya Raihan.


" Itu karena kamu dan dia berciuman di depanku," sahut Nayra kesal dengan bibir mengerucutnya. Jika harus mengingat hal itu.

__ADS_1


" Memang kamu melihatnya?" tanya Raihan yang sangat ingin memperpanjang obrolan itu. Maklumlah Raihan sangat suka jika Nayra merocos hanya karena cemburu kepadanya.


" Issss, kamu pikir Aku buta, aku melihat sendiri, bagaimana lipstik wanita itu ada di dadamu, bukan cuma aku semua orang juga melihatnya," sahut Nayra tambah kesal.


Raihan menyunggingkann senyumnya ketika melihat kekesalan Nayra yang semakin memuncak. Melihat pipi putih itu memerah karena kesal dengan Jesika.


" pokoknya kamu harus mengatakan kepadanya jika aku kekasihmu. Awas saja kalau kau dekat-dekat dengannya, dan lihat saja, jika aku melihat kalian ber-2 dengan berlebihan. Aku tidak hanya akan menamparnya. Tapi liat saja nanti," ujar Nayra dengan nada mengancam. Dengan wajahnya yang sangar.


" Aku penasaran apa yang akan kamu lakukan. Kalau begitu aku harus melakukan dulu...." sahut Raihan.


" Raihan," teriak Nayra menatap Raihan horor.


" Aku bercanda, sudah ayo turun," ujar Raihan mengelus kepala Nayra.


Nayra dan Raihan pun turun dari mobil. Raihan hanya tersenyum dengan sikap Nayra yang cemburu secara terang-terangan di depannya.


Jesika memang langsung melihat Raihan dan Nayra turun dari mobil yang sama.


" Pak Raihan, 1 mobil dengannya," batin Jesika dengan wajah kesalnya.


Tetapi dia kembali tersenyum seperti merencanakan sesuatu. Jesika membuka 2 kancing kemejanya. Agar memperlihatkan belahan dadanya dan berjalan kearah Nayra dan Raihan.


" Hahhhh, lihatlah wanita ini sudah mulai lagi," batin Nayra kesal. Yang melihat Jesika berjalan ke arah mereka.


" Pak Raihan," sapa Jesika dengan senyum menggodanya. Dan menatap tidak suka dengan Nayra yang berdiri di samping Raihan.


" Iya," sahut Raihan dengan datar.


" Mari saya bawakan tasnya Pak," ujar Jesika Inging mengambil tas yang di pegang Raihan.


" Sok caper lagi," ujar Nayra didalam hatinya tambah kesal dengan Jesika.


" Tidak, usah saya bisa sendiri," sahut Raihan menolak.


Dengan cuek Raihan menggengam tangan Nayra dan berjalan melewati Jesika memasuki kantor.


" Sial," desis Jesika kesal dengan Raihan yang cuek kepadanya. Bahkan di depannya memegang tangan Nayra secara terang-terangan.


" Sungguh kamu melakukannya," ujar Nayra dengan senyumnya. Raihan mengangguk.


" Ahhhhh, biar dia sadar, apa kamu tergoda dengannya?" tanya Nayra. Raihan menggeleng.


" Meski dia berpakaian seksi," tanya Nayra lagi.


" Hmmmm, mau dia seperti apapun aku tidak akan tergoda. Aku hanya akan tergoda jika melihatmu. Hanya memakai kemeja putih milikku," bisik Raihan dengan jahil.


" isssst, dasar," desis Nayra kesal.


***********


Raina masih sibuk di meja kerjanya dengan dengan pemikirannya sendiri. Dia menyandarkan tubuhnya di bangku kerjanya. Menggoyang-goyangkan bangkunya, Memejamkan matanya.

__ADS_1


Tetapi dia tidak tidur, dia hanya memikirkan teka-teki yang di sembunyikan mamanya.


tok tok tok tok tok tok tok


"Masuk! ujar Raina tanpa membuka matanya.


Raka memasuki ruangan itu. Melihat Raina yang masih memejamkan matanya di bangku kerjanya.


" Bu," tegur Raka yang sudah berdiri di depan Raina. Raina langsung membuka matanya dan melihat Raka dengan tenang berdiri di depannya.


" Ada apa?" tanya Raina ketus.


" Ini, beberapa data milik Pak David dan Perusahaannya," ujar Raka, memberikan map biru kepada Raina. Raina meraihnya.


" Hanya ini saja?" tanya Raina. Meletakkan map itu tanpa membacanya.


" Iya Bu," jawab Raka.


" Boleh saya bertanya?" tanya Raina dengan wajah seriusnya.


" Ada apa Bu," sahut Raka yang mulai merasa gelisah.


" Tetapi jika saya bertanya. Apa pertanyaan saya akan di sampaikan kemama?" tanya Raina memastikan. Raka hanya diam tidak bisa menjawab.


" Sudahlah lupakan," ujar Raina.


" Tanyalah, yang ingin Ibu tanyakan. Jika bisa di jawab akan saya jawab," ujar Raka dengan tenang. Raina langsung menatap Raka.


" Apa saya harus percaya dengan kamu?" ujar Raina.


Raka menelan salavinanya mendengar hal itu. Raka memberanikan diri menegakkan kepalanya melihat ke arah Raina yang juga melihatnya.


" Ibu punya hak percaya atau tidak kepada saya. Tetapi saya hanya ingin memberi tahu kepada Ibu. Jika tidak satupun saya membuka privasi ibu kepada Bu Zira. Dan Bu Zira tidak pernah menyuruh saya mencampuri urusan pribadi ibu," ujar Raka memberanikan diri dan terus menatap Raina.


" Saya tau ibu kecewa kepada saya. Tapi saya hanya bekerja. Tidak perintah Ibu. Pak Addrian. Bu Zira dan dan Pak Raihan. Saya hanya menjalankan apa yang di suruh. Dan saya tidak pernah memata-matai Pak Raihan. Saya juga tidak pernah menyampaikan apapun yang di lakukan Pak Raihan dengan orang lain ataupun dengan Bu Nayra," jelas Raka lagi.


" Lalu kenapa. Kamu mempunyai data-data Nayra," tanya Raina.


" Seperti yang sudah Ibu ketahui. Saya hanya di suruh mengawasi Bu Nayra. Mengawasi dalam arti tidak mencampuri urusannya. Masalah data-data saya memang memilikinya karena Bu Zira adalah penanggung jawabnya. Selebihnya saya tidak tau apa-apa," jelas Raka lagi.


" Jika ibu kecewa dan marah kepada saya. Silahkan tetapi saya minta sama ibu. Jangan bawa Amira dalam hal ini. Bukankah dia masih kecil dan dia tidak tau apa-apa," ujar Raka lagi


Dengan keberanian yang besar berbicara seperti itu. Raina hanya diam. Bahkan mulutnya tidak dapat mengeluarkan kata-kata untuk bicara.


" Saya permisi Bu," ujar Raka menundukkan kepalanya. Lalu pergi.


Kepergian Raka membuat napas Raina naik turun dia seakan membisu ketika Raka panjang lebar berbicara kepadanya.


" Ada apa denganku, kenapa aku bahkan tidak bisa membantah Raka saat berani berbicara tentang Amira," batin Raina yang tidak mengerti tentang dirinya. Malahan deru jantungnya berdebar tidak beraturan. Sampai-sampai dia memegang dadanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2