
Raihan yang sudah siap ingin kekantor, menuruni anak tangga sambil merapikan dasinya.
" Sayang kamu sudah siap?" tanya Raihan melihat Nayra yang duduk di ruang tamu dengan menutup wajahnya dan seperti ada sesuatu.
Raihan pun menghampiri Nayra dan melihat bunga juga ada beberapa kotak makanan di atas meja.
" Dari siapa ini, kenapa banyak sekali?" tanya Raihan heran melihat ke arah Nayra yang masih diam dengan pemikiran Nayra.
" Sayang kamu kenapa, ayo kekantor, sudah siang," ujar Raihan mengajak istrinya. Nayra langsung berdiri.
" Aku sedang tidak enak badan, kamu saja yang pergi," sahut Nayra langsung pergi. Hal itu membuat Raihan bingung.
Perasaan Nayra baik-baik saja tadi, bahkan mereka bercanda di dalam kamar saat pagi. Tetapi Nayra langsung berubah.
" Kenapa dia?" batin Raihan yang melihat punggung istrinya yang berjalan menaiki anak tangga.
Raihan ingin menyusul Nayra. Dia harus tau istrinya kenapa. Tetapi ponselnya berdering.
Dratttt Dratttt. Raihan langsung mengambil ponselnya dari saku celananya dan mengangkat panggilan dari Raka.
..." Hallo, Oh begitu, iya baiklah," jawab Raihan menutup telpon dan membuang napasnya perlahan....
" Biiii!" panggil Raihan. Asisten rumah tangga langsung menghampiri Raihan.
" Iya Pak," sahut Asisten rumah tangga yang sudah berdiri di depan Raihan.
" Tolong lihat ibu, perhatikan makannya, saya ada meeting mendadak," ujar Raihan yang memang harus buru-buru pergi.
" Baik pak," jawab Bibi.
" Ya sudah saya pergi dulu!" ujar Raihan pamit.
Sebenarnya Raihan tidak akan puas. Jika tidak menghampiri Nayra dulu. Dia sangat tau pasti istrinya terjadi sesuatu, sehingga perubahan mood Nayra sampai seperti itu.
Tetapi Rapat memang harus menghadiri rapat dan Nayra juga tau rapat itu dan seharusnya Nayra ikut dengannya. Tetapi dia harus pergi sendirian.
Nayra berada di dalam kamar dengan berbaring miring, kata-kata Vira harus membuat pipinya basah karena air mata.
Nayra juga mengusap perutnya yang kunjung tak berisi, dia sangat ingin benih Raihan tumbuh di rahimnya. Jika menyadari kekurangannya Nayra akan kembali mundur kebelakang. Mengingat perjuangan Raihan terhadap dirinya.
Menikahinya demi bisa merawatnya. Merawatnya dengan tulus karena trauma yang membuat mentalnya hancur.
Raihan juga tidak menyentuhnya lebih 3 bulan pernikahan. Karena lebih ingin kesehatan Nayra di bandingkan hasratnya.
__ADS_1
Semua di lakukan Raihan demi dirinya. Mencintainya dengan tulus. Bahkan Raihan pernah meninggalkan segalanya demi dirinya. Tetapi 1 pun perbuatan Raihan tidak bisa di balasnya.
" Aku benar-benar bukan wanita yang baik untuk Raihan, anak saja kamu tidak bisa berikan nayra," gumam Nayra dengan air matanya yang kembali sedih jika mengingat 2 tahun pernikahan tidak bisa mendapat keturunan.
Kepala Nayra menengok kebelakang dan melihat pintu. Nayra sebenarnya sangat berharap jika Raihan menghampirinya dan kembali memberinya semangat. Tetapi suaminya tidak ada.
" Apa Raihan sudah kekantor," batin Nayra yang berharap Raihan ada bersamanya.
" Apa aku akan kehilangan Raihan, karena aku tidak bisa memberinya kebahagian," batin Nayra penuh ketakutan. Mungkin karena pengaruh omongan Vira yang memang sangat suka mengusik rumah tangganya.
**********
Mobil Dion sudah sampai di depan rumahnya. Sedari tadi di dalam mobil dia dan Carey saling membisu tanpa ada obrolan sampai kerumahnya. Carey melihat kearah rumah Dion yang besar.
" Jelaskan kepada mamaku, setelah itu masalahmu akan selesai," ujar Dion dengan suara dingin. Carey mengangguk dan membuka seat beltnya. Menyusul Dion yang sudah keluar dari mobil.
Sebelum memasuki rumah itu, Carey menarik napas panjang dan membuatnya perlahan lalu mengucapkan bismillah mengekor di belakang Dion dengan langkah Dion yang panjang.
" Ma," sapa Dion yang sudah berada di ruang tamu.
Erina langsung berdiri menoleh kebelakang, keluar dari area kursi dan melihat putranya datang bersama wanita yang terus menunduk dengan ke-2 tangan saling menggenggam ketakutan.
" Siapa dia Dion?" tanya Erina.
" Pemilik Florist yang mama ingin temui," jawab Dion.
" Selamat pagi Bu," sapa Carey mencium punggung tangan Erina. Membuat Erina tersenyum. Seakan takjub dengan kesopanan dan kelembutan Carey.
" Siapa namamu?" tanya Erina memegang pundak Carey.
" Saya Carey Bu," jawab Erina.
" Jarang ada gadis seperti ini, dia menutup tubuhnya dengan pakaiannya yang sangat sopan. Padahal zaman begitu moderan," batin Erina yang sepertinya mengagumi Carey, saat pertama kali bertemu.
" Sebelumnya saya minta maaf, atas kecerobohan kami, sehingga ibu pasti sangat kecewa karena tidak sesuai harapan yang ibu inginkan," ujar Carey langsung meminta maaf membuat Erina tersenyum mendengarnya.
" Dion bisa tinggalkan mama dengan Carey," ujar Erina.
" Aku juga tidak tertarik mendengar dramanya," jawab Dion pelan langsung pergi.
" Anak itu benar-benar, bicara sangat suka sembarangan," desis Erina geram. Carey tersenyum mendengarnya.
" Maaf kan anak Tante, pasti dia buat kekacauan di tempat kamu," ujar Erina yang sudah tau.
__ADS_1
" Tidak kok Bu, memang sudah wajar. Hal yang biasa jika mendapat teguran," jawab Carey.
" Ternyata mamanya sangat baik, berbeda dengannya suka berbicara kasar. Kenapa keturunannya serti itu," batin Carey.
" Ayo duduk," ajak Erina dengan ramah. Carey menganguk dan duduk di samping Erina.
" Carey apa kamu sudah menikah?" tanya Erina di luar tema. Carey bingung tetapi menggeleng.
" Sudah memiliki kekasih," tanya Erina lagi. Carey juga menggeleng. Tetapi Erina malah tersenyum mendengar hal itu.
************
Raihan pulang sangat larut malam. Dia memang melakukan perjalanan bisnis dengan Raka ke Luar kota. Tetapi kesialan menghampiri dirinya dan Raka.
Mobil mereka mogok dan belum lagi ponsel Raihan yang mati dan ponsel Raka yang ketinggalan di kantor. Al hasil ke-2nya pasti membuat orang rumah mereka khawatir. Karena tidak bisa memberi kabar.
Raihan sampai rumah pukul 11 malam. Raihan langsung kekamar dan menghampiri istrinya yang sudah tertidur. Raihan meletakkan tasnya dan langsung memasuki kamar mandi, membersikan diri yang sangat lengket.
Setelah beberapa menit, Raihan ke luar dari kamar mandi dengan pakaian santai ingin tidur Raihan melihat Nayra masih tertidur miring seperti posisinya awal. Raihan langsung menaiki ranjang.
Raihan berbaring miring di belakang Nayra, meletakkan tangannya di bawah kepala Nayra, sehingga Nayra menjadikan tangan Raihan bantal. Satu tangan Raihan mengusap-ngusap lembut rambut Nayra.
" I love you," bisuk Raihan di telinga Nayra. mengucapkan cinta yang sering di katakannya pada istrinya.
Raihan juga mengusap-usap lengan Nayra dan mencium bahu Nayra. Hal itu membuat Nayra membuka matanya perlahan. Menyadari jika suaminya sudah pulang.
Nayra membalikkan tubuhnya sehingga wajahnya dan Raihan sangat dekat. Raihan mengusap pipi Nayra lembut, melihat mata Nayra yang bengkak seperti habis menangis.
" Kamu tidak tanya kenapa aku baru pulang," ujar Raihan lembut. Nayra menggeleng.
" Kenapa tidak bertanya?" tanya Raihan.
" Aku tau pasti ada sesuatu, makanya lama pulang," ujar Nayra.
" Maaf ponselku mati, aku tidak bisa mengabarimu," ujar Raihan.
" Hmmm, aku tau yang penting kamu sudah sampai," sahut Nayra dengan tenang.
" Sayang, kamu kenapa, kenapa menangis?" tanya Raihan. Nayra menggeleng memegang pipi Raihan. Raihan mencium kening Nayra.
" Kamu tidak akan mengatakannya?" tanya Raihan. Nayra tetap menggeleng, Raihan tersenyum.
" Baiklah, aku tidak akan bertanya, karena besok pagi, pasti kamu akan mengatakannya," ujar Raihan. Nayra mengangguk.
__ADS_1
" Raihan aku boleh bertanya sesuatu," ujar Nayra menatap Raihan dengan dalam.
Bersambung........