Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 425


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba pasangan pengantin baru Della dan Angga sudah bangun dan bahkan mereka sama-sama sudah mandi yang pasti dengan rambut mereka yang basah jangan tanya kenapa. Apa lagi jika tidak habis melakukan ritual malam pertama mereka.


" Hmm, kita turun untuk sarapan?" tanya Della yang berdiri di depan Angga yang duduk di pinggir ranjang.


" Kenapa buru-buru sekali," sahut Angga meraih tangan Della dan mengajaknya duduk di pangkuannya.


" Bukannya memang sudah waktunya untuk makan dan kamu apa tidak lapar?" tanya Della. Angga menggeleng.


" Jika berdua dengan mu, mana mungkin aku masih memikirkan perutku," sahut Angga sambil mengusap-usap rambut Della dan menyelipkan rambutnya kebelakang daun telinga Della. Mendengarnya membuat Della tersenyum malu-malu. Namun masih gugup walau dia dan Angga sudah melakukan ritual malam wajib itu.


" Lalu apa kita tidak akan sarapan?" tanya Della.


" Aku masih ingin menghabiskan waktu berduaan dengan mu," jawab Angga.


" Kalau sarapan bukannya juga berduaan kan sama saja," sahut Della.


" Jelas berbeda. Waktu berduaan ingin di kamar bersamamu," sahut Angga tersenyum dengan penuh arti membuat Della semakin gugup saat tatapan suaminya yang mengandung maksud lain.


" Maksudnya?" tanya Della pelan.


" Kamu mengerti maksudku," bisik Angga membuat Della merinding kegelian.


" Hmmm, bukannya tadi malam sudah," sahut Della pelan dengan malu-malu.


" Apa ada batasan untuk melakukannya?" tanya Angga dengan menaikkan alisnya.


" Ta_ tapi," sahut Della gugup.


" Tapi apa?" tanya Angga.


" Tadi malam masih sakit, masa iya harus lagi," ujar Della dengan polosnya yang menunduk malu membuat Angga mendengus tersenyum.


" Maaf kan aku. Jika apa yang aku lakukan membuatmu sakit," ujar Angga merasa bersalah. Namun Della langsung menggeleng.


" Tidak! tidak kok. Kamu tidak salah," sahut Della dengan cepat. Angga mencium kening Della dengan lembut.


" Kamu jangan memikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku hanya bercanda. Sama sekali aku tidak ingin membuatmu sakit," ujar Angga.


" Tidak Angga kamu jangan berpikiran yang lain. Memang sakit. Tapi bukannya itu hal wajar. Karena memang itu adalah tugasku. Hanya saja aku merasa terlalu cepat untuk melakukan kembali," ujar Della yang tidak ingin membuat suaminya kecewa. Sampai wajahnya benar-benar serius menanggapinya.


" Sudah Della, aku tidak berpikiran yang lain. Tadi aku juga hanya bercanda, sudah ya sebaiknya kita sarapan kebawah yang lain juga pasti sudah menunggu kita," ujar Angga dengan tersenyum.


" Kamu benar tidak marah?" tanya Della sedikit cemas.


" Marah! marah kenapa?" tanya Angga heran.


" Masalah ini," sahut Della dengan pelan.


" Tidak, tidak ada alasan untuk ku marah. Sudah ayo kita turun," ujar Angga. Della mengangguk dan akhirnya Della bangkit dari pangkuan suaminya dan mereka pun keluar dari kamar bersama-sama.

__ADS_1


Angga memang hanya menggodanya saja. Maklumlah mereka pengantin baru. Jadi wajar kalau masih menggoda- goda. Biar rumah tangga yang berawal baru itu indah dengan sempurna.


************


Sementara di lain tempat Carey yang juga sudah rapi dengan pakaian gamis yang menutup auratnya terlihat begitu cantik dengan apa yang di pakainya.


Tetapi kecantikan pakaiannya tidak sesuai dengan wajahnya yang tampaknya sangat gelisah dengan terus memegang ponselnya dan beberapa kali melettakkan di telinganya yang tampaknya Carey sedang menelpon.


Dion keluar dari kamar mandi dengan handuk di lilit di pinggangnya dengan melap rambutnya dengan dengan handuk kecil dan melihat istrinya yang terlihat sangat cemas dan tampak mengkhawatirkan sesuatu.


" Sayang kamu kenapa?" tanya Dion.


" Hmm, aku lagi menelpon Dara. Tetapi tidak di angkat-angkat," sahut Carey.


" Memang ada apa?" tanya Dion.


" Aku hanya ingin menanyakan masalah kemarin, kenapa dia menelponku? Aku heran saja. Makanya aku menelponnya kembali. Tetapi dia tidak mengangkatnya," sahut Carey heran dan wajahnya juga panik.


" Mungkin dia sedang sibuk!" sahut Dion.


" Hmmm, entahlah aku juga heran," sahut Carey yang meletkakan ponselnya di atas nakas dan langsung berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian suaminya.


" Ini," ujar Carey memberikan kemeja untuk suaminya.


" Makasih," sahut Dion. Carey mengangguk tersenyum.


" Hmmm, nanti sore aku berangkat," jawab Dion sambil memakai kemejanya.


" Kamu sendiri bagaimana jadi ikut?" tanya Dion.


" Hmmm, aku belum tau. Tetapi nanti siang kamu temani aku dulu untuk ngecek kandungan," ujar Carey.


" Ya sudah, nanti aku akan menjemputmu. Kita akan periksa kan anak kita," sahut Dion. Carey mengangguk tersenyum.


" Tapi kalau bisa, kamu memang harus ikut. Kita sama-sama ke Luar Kota. Aku akan semangat bekerjanya. Jika kamu menemaniku," sahut Dion yang mengharapkan sang istri.


" Insyallah, aku akan ikut," sahut Carey yang membantu suaminya mengkancing kemejanya.


" Hmmmm, ya sudah kalau begitu aku turun duluan, menyiapkan sarapan untuk kamu. Kamu mau makan apa?" tanya Carey.


" Nasi goreng seperti biasa saja," sahut Dion yang merasa nasi goreng buatan istrinya yang paling enak dan tidak akan terlupakan.


" Hmmm, baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkannya dulu," sahut Carey.


" Iya, jangan lupa masak pakai cinta," ujar Dion mencolek hidup Carey. Carey tersenyum mendengarnya.


" Pasti. Lebih dari cinta," sahut Carey, " Ya sudah kamu lanjut siap-siap. Ketika sudah siap makanan kamu sudah selesai," ujar Carey.


" Baik tuan putri," sahut Dion. Carey tersenyum dan langsung pergi untuk menyiapkan sarapan pada suaminya. Dion juga kembali bersiap-siap untuk berangkat kekantor.

__ADS_1


**********


Sementara Sony yang berada di Bandara memegang ponselnya. Sony berada di lobi Bandara yang tampaknya sedang menunggu jemputan dengan koper di sampingnya. Lama menunggu akhirnya Sony melihat mobil jemputannya yang tak lain adalah supirnya. Begitu mobil berhenti sang supir langsung keluar.


" Maaf, mas, telat sedikit," ujar sang supir merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa," sahut Sony. Supir langsung meraih koper Sony dan Sony pun langsung memasuki mobil.


Setelah supir selesai memasukkan koper ke dalam bagasi. Supir langsung memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi.


" Pak, kita ke Apertemen Dara ya!" ujar Sony.


" Baik tuan," sahut Pak supir.


" Kenapa aku ingin bertemu dengan Dara. Semenjak di pesawat perasaanku selalu tidak enak," batin Sony yang memikirkan Dara. Dia memang merasakan ada sesuatu sehingga dia harus menemui Dara.


Dia juga mencoba untuk menelpon Dara karena perasaannya yang tidak tenang. Namun Dara tidak mengangkatnya yang membuatnya semakin khawatir.


Setelah melewati perjalanan yang tidak terlalu panjang. Akhirnya mobil Sony sampai di depan gedung Apertemen Dara Sony langsung buru-buru keluar. Di sepanjang jalan dia memang sangat gelisah, makanya langsung buru-buru untuk menemui Dara seakan ingin memastikan sesuatu. Bahwa Dara tidak apa-apa.


Akhirnya Sony sudah tiba di depan pintu Apertemen Dara dan Sony langsung memencet bel Apertemen tersenut. Hanya sekali pintu langsung terbuka dan tidak sesuai harapannya bukan Dara yang keluar melainkan Vira yang membuka pintu.


" Vira," lirih Sony. Vira sedikit kaget melihat Sony yang tiba-tiba ada di depannya.


" Sony," sahut Vira. Sony sedikit gugup dan matanya turun pada perut Vira yang sudah membuncit.


" Kamu sudah pulang?" tanya Vira. Sony mengangguk.


" Hmmm, iya. Oh iya kamu sendirian di rumah?" tanya Sony basa-basi. Vira langsung mengangguk cepat.


" Lalu di mana Dara?" tanya Sony pada intinya.


" Hmmm, Dara. Dara sedang keluar," sahut Vira dengan cepat namun tampak gugup.


" Kemana?" tanya Sony yang penasaran.


" Tadi katanya ada urusan. Aku juga tidak tau dan mungkin lama baru pulang," sahut Vira yang sangat gugup.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Sony mengangguk-angguk saja.


" Hmmm, kamu kalau mau pulang aja. Dara pasti lama kok," sahut Vira yang malah terlihat mengusir Sony.


" Hmmm, begitu ya," sahut Sony. " Hmmm, ya sudah aku kembali dulu," sahut Sony. Vira mengangguk cepat dan belum juga Sony pulang Vira dengan cepat menutup pintu membuat Sony kaget.


" Aneh, sekali kenapa dia sampai seperti itu," batin Sony kebingungan.


" Hah, sudahlah, biarkan saja," sahut Sony yang langsung pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2