Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 339


__ADS_3

Luci dan Andini terus menuntun Nayra. Memasuki lokasi party yang sudah mereka buatkan. Loka tersebut sudah sangat gelap. Orang-orang yang ingin memberinya kejutan sudah mematikan lampu.


" Pelan Nayra, awas ada tangga," ujar Andini memberi arahan pada Nayra yang akan menaiki anak tangga kecil.


" Ihhhh, kenapa ngga di buka aja. Biar ngga ribet jalannya," protes Nayra yang sedari tadi mengoceh.


" Sudah jangan marah-marah sudah mau sampai," ujar Luci yang terus membantu Nayra menaiki 3 anak tangga menuju podium dan sampai akhirnya Nayra sudah berada di atas podium.


Andini dan Luci saling melihat dan mengedipkan mata memberikan kode lalu langsung pergi begitu saja. Nayra mengkerutkan dahinya saat tidak merasakan ada tangan yang memegang bahunya.


" Andini Luci, kalian di mana," ujar Nayra mencari-cari dengan tangannya. Tetapi kunjung tidak di temukan.


" Andini, Luci," Nayra kembali manggil dan tetap tidak ada suara. Bahkan dia meraba-raba tidak ada siapa-siapa.


" Isssss, kemana sih," desisinya kesal.


" Aku buka saja sebaiknya," ujarnya kesal.


Lalu langsung membuka ikatan di matanya. Nayra mengkerutkan matanya saat matanya terbuka sempurna Nayra kaget dengan gelapnya tempat itu.


Tidak ada bedanya saat dia menutup mata. Karena sama saja tempat itu gelap dan begitu sepi dan sangat hening.


" Di mana ini?" tanya dengan kepala berkeliling


Karena memang tempatnya gelap. Jadi dekor dan pernak-pernik yang di buat tidak terlihat. Nayra kebingungan.


" Andini!" panggilnya yang seketika menjadi panik karena sendirian.


Tap.


Di tengah kepanikannya. Tiba-tiba lampu hidup dan tempat terang kembali. Bukan hanya terang tetapi sangat indah membuat Nayra terkejut. Tetapi wajahnya tetap kebingungan.


" Apa ini," gumamnya.


" Happy birthday to you, happy birthday to yo, happy birthday, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you," Nayra kembali di kagetkan dengan kumpulan orang-orang yang di kenalnya dan melihat Sony dan Alex yang mendorong kue ulang tahun.


Nayra sampai melotot kaget dengan menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Supraise hari ulang tahunnya.


" Yeeeeeeeeeee," mereka bertepuk tangan dengan meriah dengan wajah yang tersenyum sempurna sementara Nayra sudah mulai haru dan matanya sudah berkaca-kaca.


Carey tersenyum dan melangkah mendekati Nayra.


" Ayo Nayra," ajak Carey untuk turun mendekati kue ulang tahun. Nayra menganggu dan berjalan dengan tangan yang di genggam Carey.


" Yeeeeeeeeeee selama ulang tahun Nayra," ujar Celine bertepuk tangan. Yang di ikuti yang lainnya. Nayra masih haru dan melihat 1 persatu orang yang ada di sana. Dia tidak menyangka bisa mendapatkan hal ini. Dia saja bahkan lupa hari ulang tahunnya.

__ADS_1


" Ya sudah sekarang tiup lilinnya," sahut Jihan.


" Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga," nyanyian tiup lilin sudah di nyanyikan dengan serentak dan di iringi tepuk tangan sesuai irama.


" Ayo Nayra, kamu tiup, dan sebelum itu kamu make wish dulu," ujar Jihan.


" Iya ma," jawab Nayra sudah tidak tahan untuk tidak menangis. Suasana pasti haru. Tetapi semua orang yang ada di sana berusaha menciptakan kebahagian.


" Raihan, hari ini aku berulang tahun. Kamu pernah berjanji kepadaku akan selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan ulang tahun kepadaku. Karena kamu yang akan mengingat itu. Tapi hari ini aku tidak melihatmu. Aku mohon Raihan kembalilah. Aku merindukanmu," batin Nayra mengatakan permintaannya. Dengan telapak tangannya yang sudah saling menyatu.


" Nayra pasti sangat sedih tidak ada Raihan di sampingnya," batin Carey yang berdiri di samping adiknya. Seakan mengerti perasaan adiknya.


Nayra membuka matanya perlahan. Melihat 1 persatu orang-orang yang ada di sana dia sangat berharap melihat sosok suaminya. Tetapi itu sangat jauh dari harapannya.


" Ayo Nayra tiup lilinnya," ujar Carey memengang bahu Nayra. Nayra mengangguk dan meniup lilinnya bersamaan dengan menetesnya air matanya.


prok-prok prok prok prok


Tepuk tangan yang gemuruh kembali terdengar.


" Sekarang ayo potong kuenya," sahut Dara salah satu pelayan datang memberikan pisau untuk memotong kue. Nayra mengambilnya.


Sementara terlihat Addrian yang tampaknya gelisah dan terus melihat kebelakang seperti mencari sesuatu.


" Raina, mama kamu mana. Kenapa belum datang juga?" tanya Addrian melihat arloji ditangannya. Acara sudah di mulai tetapi istrinya tak kunjung datang.


" Ayo Nayra potong kuenya," ujar Jihan yang melihat Nayra belum melakukannya.


" Mama mana?" tanya Nayra yang sudah menyadari jika mertuanya tidak ada.


" Kayaknya lagi kejebak macet," sahut Addrian.


" Kita tunggu mama saja dulu baru potong kue," ujar Nayra yang ingin memotong kue. Jika mertuanya ada.


" Tidak apa-apa Nayra, potong saja. Mama juga pasti bentar lagi datang," ujar Raina.


" Tapi kak," sahut Nayra yang pasti merasa tidak enak.


" Benar kata Raina, kamu potong saja kuenya, nanti acaranya kelamaan," ujar Addrian menambahi dengan ber hati.


Akhirnya Nayra mengarah kearah kue ulang tahun dan pisau yang di pegangnya sudah menyentuh kue tersebut.


" Nara," tiba-tiba suara yang khas itu terdengar di telinganya. Membuat Nayra kaget dan menghentikan potongan kue. Suara pria yang sangat di kenalnya dan memang satu-satunya yang memanggilnya dengan panggilan Nara.


Yang lain juga mendengar suara itu dan langsung berbalik badan dengan serentak melihat arah suara itu. Dek. Saat melihat siapa pemilik suara itu betapa terkejutnya mereka yang melihat Raihan.

__ADS_1


Raihan yang datang bersama Zira dan juga Amira. Mata orang-orang di sana melotot ingin keluar. Dengan mulut yang mengaga dan sebagian ada yang menutup mulutnya dengan 1 tangan dan ada yang dua tangan.


Nayra akhirnya bisa melihat siapa pemilik suara ketika ada jalan yang di bukakan teman-temannya yang tadi berkerumun.


Pisau yang di pegang Nayra langsung lepas dari tangganya dia sangat terkejut dengan siapa yang di lihatnya. Sampai ke- 2 tangannya menutup mulutnya dengan air matanya yang menetes.


" Raihan," lirih Nayra dengan suara serak. Dia kesulitan bicara saat benar-benar melihat suaminya benar atau tidak. Mimpi atau tidak. Jika itu adalah suaminya.


" Raihan," ujar Addrian yang tidak percaya melihat putranya.


" Apa itu kak Raihan," batin Raina mengucek-ngucek matanya dan memastikan benar atau tidak itu kakaknya yang sudah lama tidak kembali.


" Nara," panggil Raihan sekali lagi dan melangkah mendekati Nayra istrinya.


" Raihan," ujar Nayra yang lemas dan langsung terduduk.


" Nayra," teriak Carey yang tidak sadar sang adik sudah sangat lemah dan Carey langsung berjongkok memegang adiknya. Raihan mempercepat langkahnya agar semakin dekat dengan Nayra.


Dan Raihan sudah berdiri di depan Nayra. Nayra mengangkat kepalanya dan memastikan apa itu suaminya apa tidak.


" Nara," Raihan berucap lagi menyebut nama istrinya dan perlahan jongkok tepa sejajar dengan wajah istrinya yang terlihat schok. Tangan Nayra yang bergetar perlahan memegang pipi Raihan meraba dengan perlahan memastikan jika dia memang bisa menyentuh suaminya dan berarti dia tidak mimpi.


" Raihan, kamu adalah Raihan, kamu suamiku," ujar Nayra yakin. Raihan mengangguk-angguk dan langsung memeluk Nayra.


Isak tangis Nayra terdengar kuat saat kembali bisa memeluk suaminya yang sudah lama pergi. Raihan mempererat pelukannya dengan air matanya yang keluar melepas rindu pada istrinya. Tidak menyangka jika dia bisa memeluk istrinya kembali.


" Maafkan aku sayang. Maafkan aku sayang," ujar Raihan dengan suara seraknya meminta maaf pada Nayra yang telah lama di tinggalkannya.


Sementara hanya menangis terisak-isak tidak mampu bicara dan memeluk erat. Meluapkan emosi yang ada ditubuhnya. Jika dia marah, bahagia dan yang lainnya dengan kehadiran suaminya kembali.


" Ya Allah, terima kasih untuk hari ini. Kau telah mengembalikan kebahagian adikku," batin Carey mengucap syukur pada sang penciptanya dengan menyeka air matanya.


Tidak percaya jika sahabatnya benar-benar kembali dan sekarang sudah berada di hadapannya dan memeluk adiknya.


Zira pun melangkah mendekati suami dan anaknya. Addrian langsung merangkul istrinya.


" Anak kita telah kembali," ujar Zira yang juga tidak tahan dengan air matanya.


" Iya sayang. Raihan kita kembali," ujar Addrian yang tidak menyangka jika putranya benar-benar kembali dan memeluk menantunya dengan erat.


Raina juga menangis di pelukan sang suami dia merindukan kakaknya dan ingin memeluknya. Tetapi ada wanita yang masih menangis di pelukan kakaknya dan mungkin wanita itu yang selama ini sangat hancur dan pasti kehilangannya. Jadi Raina harus sabar menunggu jika ingin meluapkan rasa rindunya.


Suasana pesta berubah menjadi haru. Bukan nyanyian ulang tahun yang terdengar. Tetapi suara Isak tangis yang pecah dengan kembalinya Raihan bersama mereka. Hal yang tidak pernah mereka pikirkan.


Walau sebagian percaya jika Raihan masih hidup dan sebagian sudah ikhlas dengan kepergian Raihan. Tetapi tetap saja mereka merasa terkejut dan masih juga sebagian tidak percaya dan berpikiran jika mereka hanya bermimpi.

__ADS_1


Bersambung....


.


__ADS_2