Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 175


__ADS_3

Amira melepas pelukannya dari mamanya.


" Ya sudah kalau begitu mama istrirahat ya, mama harus sembuh. Amira akan berangkat sama Oma kesekolah. Mama jangan lupa minum obat ya," ujar Amira dengan lembut.


" Iya sayang, makasih ya sudah ngingatin mama," jawab Raina mencium kening Amira.


" Amira pergi dulu, I love you," ujar Amira beranjak dari tempat tidur.


" I love you to," jawab Raihan tersenyum.


Amira melambaikan tangannya begitu juga dengan Raina. Kepergian Amira membuat Raina kembali meneteskan air mata.


Padahal Amira begitu bahagia dengan kehadiran Raka di dalam hidupnya. Apalagi mendengar Amira mengatakan jika Raka akan menjadi papanya.


Tetapi Raina kembali menghilangkan kebahagian Amira dalam sekejap. Dia juga tidak tau harus melakukan apa. Hubungannya dan Raka benar-benar sudah berakhir.


***********


Dengan tidak bersemangat Amira menuruni anak tangga. Addrian dan Zira yang di ruang tamu heran melihat Amira yang menuruni anak tangga dengan wajah di tekuk dan terus melihat ke bawah.


" Mana mama?" tanya Zira ketika Amira sudah berada di bawah.


" Mama tidak bisa ngantar Amira. Jadi Amira ke sekolah sama Oma aja," jawab Amira dengan wajah terus menunduk.


Addrian dan Zira saling melihat padahal sebelumnya Amira baik-baik saja.


" Assalamualaikum," sapa Raihan yang sudah sampai di depan pintu bersama istrinya.


" Walaikum salam," jawab Zira dan Addrian.


Amira yang melihat ke hadirannya langsung lari dan memeluk erat pinggang Raihan.


" Lo Amira, kok belum berangkat sekolah?" tanya Raihan heran. Amira tidak menjawab dan tetap memeluk Raihan.


Raihan melihat ke-2 orang tuanya seakan bertanya ada apa. Tetapi Zira dan Addrian menggedikkan bahu. Karena memang tidak tau apa yang terjadi.


Raihan melepas pelukan itu dan berjongkok di depan Amira. Wajah Amira menunduk. Raihan memegang pipi Amira menegakkan wajah Amira. Ternyata Amira sudah menangis tanpa suara.


" Ada apa sayang?" tanya Raihan heran.


Nayra yang yang berdiri di samping suaminya heran mengusap pucuk kepala Amira.


" Amira kenapa nangis?" tanya Nayra. Amira menggeleng pelan.


" Sayang ada apa?" tanya Raihan mengusap air mata keponakannya itu. Amira tidak menjawab dan menangis Sengugukan.


" Ya sudah kalau begitu Om antar kesekolah ya," bujuk Raihan kembali mengusap air mata keponakannya. Amira mengangguk pelan.

__ADS_1


Raihan kembali berdiri, memegang bahu Nayra.


" Ya sudah kamu sama mama dulu ya, aku antar Amira dulu," ujar Raihan pamit pada istrinya. Nayra mengangguk. Sebelum pergi Raihan mencium kening istrinya.


" Hati-hati," ujar Nayra. Raihan menganggukkan matanya.


" Ma, Pa, Raihan berangkat dulu!" ujar Raihan pamit pada orang tuanya.


" Iya hati-hati," jawab Zira. Raihan pun menggandeng tangan Amira. Amira juga tidak berpamitan lagi. Karena suasana hatinya yang buruk.


Dia juga tidak memberi tahu siapa-siapa dengan apa yang terjadi. Karena mamanya yang sedang sakit. Dia tidak mau mamanya lama sembuh dan kepikiran tentang dirinya.


Setelah kepergian Amira dan Raihan. Zira langsung mendekati Nayra dan langsung memeluknya erat. Sebelumnya Raihan sudah menelpon dan menceritakan apa yang terjadi kepada Nayra.


Air mata Nayra langsung tumpah di pelukan ibu mertuanya. Dia menagis sejadi-jadinya. Kala wanita yang selalu perduli kepadanya memberinya pelukan hangat yang bisa menenangkan dirinya.


Zira melepas pelukan itu dan melihat wajah Nayra yang tampak lesuh. Perban di keningnya masih ada. Mata Raina bahkan sangat sembab.


" Jangan menangis lagi, kamu mandi dulu mama akan siapkan air hangat untuk kamu biar kamu fress, mama akan siapkan sarapan ya," ujar Zira memegang ke-2 pipi Nayra. Nayra mengangguk pelan.


**************


" Kenapa kamu tidak mengangkat telpon ku Raina, aku mohon angkatlah," di sisi lain Raka yang menyetir terus menelpon Raina. Tetapi Raina tidak menjawab juga.


" Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Raina sementara dia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk bicara," Raka terus bergerutu tidak bisa berfikir jernih.


" Aku harus segera menyelesaikan semua ini. aku tidak boleh membiarkan salah paham ini terus berlarut-larut," gumamnya dengan yakin.


**********


Di sisi lain Nayra yang sudah mandi duduk di pinggir ranjang memeluk Zira. Dia menceritakan semua apa yang terjadi kepadanya kemarin.


Zira juga meneteskan air mata sambil mengusap-usap punggung Nayra seraya menenangkannya.


Raina juga ada di sana, duduk di pinggir ranjang masih menggunakan piyamanya. Tetapi memakai bleajer putih panjang untuk penghangat tubuhnya.


" Apa jika bukan anak kandung, mama bisa melakukan itu pada Nayra, kenapa mama setega itu pada Nayra," ujar Nayra yang berbicara sengugukan.


" Nayra tenanglah, sekarang kamu sudah tau. Jika wanita itu bukan ibu kamu. Jadi jika dia kamu tidak menurutinya. Kamu tidak akan berdosa. Karena dia bukan ibu kandung kamu," ujar Zira melepas pelukannya memegang ke-2 bahu Nayra.


" Tapi ma, apapun itu Nayra menyayanginya. Seharusnya Nayra tidak memancing keributan saat itu. Paling tidak mama tidak akan mengatakan kebenaran itu," sahut Nayra yang sangat sedih jika mengetahui dia bukan anak dari mamanya.


" Sayang dengarin mama. Ini yang terbaik kamu sudah tau dia bukan ibu kamu. Jadi sudah jangan memikirkannya lagi," ujar Zira.


" Kalau begitu, Nayra akan temui papa, Nayra harus tau semuanya. Kenapa papa tidak menceritakan semua ini dan Nayra harus tau siapa mama Nayra sebenarnya, apa sudah meninggal atau masih hidup," ujar Nayra mengusap air matanya.


Zira dan Raina saling melihat. Mereka sebenarnya tidak tega dengan Nayra yang seperti kelimpungan mencari jati diri sendiri. Sementara mereka semua mengetahuinya. Tetapi membiarkan Nayra bertanya-tanya sendiri.

__ADS_1


" Kasihan Nayra, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dia benar-benar terluka dengan kebenaran yang ada. Padahal seharusnya tidak ada yang di sesalkan dalam hal itu. Bagaimana nanti jika semuanya terungkap apa yang akan terjadi dengannya selanjutnya," batin Raina tidak simpatik dengan nasib saudara iparnya itu.


" Apa Amira juga akan seperti itu. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang sosok ayah. Bertemu Raka membuatnya sekaan mendapatkan semua itu. Apa Amira juga seperti Nayra sangat hancur ketika aku melarangnya bertemu dengan Raka," Raina terus bergerutu di dalam hatinya mengingat putrinya yang tidak mendapatkan sosok ayah.


Tanpa sadar air mata Raina jatuh. Melihat tangisan Nayra mengingatkannya pada Amira yang berusaha menahan tangis. Gadis sekecil Amira harus bersandiwara baik-baik saja demi dirinya.


" Ma, temani Nayra menemui papa, Nayra mohon," ujar Nayra memohon pada Zira dengan wajahnya yang sangat lelah.


" Iya mama akan temani," jawab Zira memeluk kembali Nayra.


" Ini sudah saatnya kamu harus mengetahui semuanya. Hanya ada 2 kamu akan bahagia mendengarnya atau justru akan semakin hancur saat mendengarnya," batin Zira terus memeluk erat Nayra.


Raihan yang sudah kembali dari mengantar Amira ke sekolah menuju kamarnya melihat ke adaan istrinya. Raihan berdiri di depan pintu dan melihat istrinya di peluk mamanya.


Raihan tersenyum tipis dia tau mamanya sangat menyayangi Nayra sama seperti dirinya dan juga Raina.


Jadi pilihannya membawa Nayra kerumahnya adalah pilihan yang tepat karena dia yakin Zira bisa menyelesaikan semuanya.


Raihan memasuki kamar itu, menepuk bahu Raina yang tidak menyadari kedatangannya. Raina mengusap air matanya, mengangkat kepalanya dan melihat kakanya.


" Raka ada di depan!" ujar Raihan membuat Raina kaget.


" Kamu tidak mengangkat telponnya, dia sudah menunggu dari tadi di depan," ujar Raihan pelan.


Raina mengangguk pelan seakan menyembunyikan jika sebenarnya dia ada masalah dengan Raka.


" Sana temui!" titah Raihan. Raina tersenyum tipis mengangguk. Lalu berdiri keluar dari kamar.


Dia memang harus menemui Raka. Dari pada mendapat pertanyaan banyak dari keluarganya. Dia tidak mungkin memperburuk keadaan dengan masalahnya dan Raka.


Sementara keluarga sedang mengurus Nayra yang mungkin jauh lebih berat masalahnya dari pada dirinya yang hanya masalah cinta-cintaan saja.


Raihan memang melihat mobil Raka berada di depan rumahnya. Sementara Raka gelisah terus mondar-mandir di sekitar mobilnya. Hal itu membuat Raihan bingung.


Raihan bertanya dan Raka hanya mengatakan jika Raina tidak mengangkat telponnya karena dia juga tidak mungkin menceritakan masalahnya dengan Raina.


**Bersambung**


Buat para readers yang setia di novel Raihan si Pria Arrogant yang ngikuti jadwal up-nya. Pasti pada heran up-nya nggak kayak biasanya. Untuk beberapa hari kedepan up-nya sedikit dulu ya. Soalnya ada kesibukan mendadak. Hanya beberapa hari saja. Akan kembali normal up 3 episode per hari seperti biasanya. Tetap setia ya.


Vote, like, komen, dan share ke teman-teman kalian terima kasih.




Jangan lupa mampir ya buat para readers yang setia

__ADS_1


__ADS_2