
Raihan menghampiri sang istri yang masih tertidur. Raihan berdiri menatap wajah sang istri dengan dalam. Menatap sangat lama dengan matanya yang berkaca-kaca.
Dengan perlahan Raihan menaiki ranjang. Tidak ingin membangunkan istrinya. Duduk di samping Nayra mengusap lembut pipi Nayra.
Meraih tangan sang istri yang berada di atas perutnya. Menggenggam erat, meletakkan di pipinya sembari mencium telapak tangan itu.
Sesaat itu juga Nayra terbangun. Membuka matanya dengan perlahan. Melihat suaminya yang sudah ada di depannya. Nayra hanya memandang heran wajah suaminya tampak harus. Bahakan melihat mata itu bergenang.
" Kamu sudah pulang?" tanya Nayra dengan suara serak.
Raihan mengangguk. Nayra menggerakkan tubuhnya agar bisa bersandar pada kepala ranjang. Raihan langsung dengan cepat membantu sang istri. Dan kembali duduk di samping sang istri. Menatap sang istri dengan dalam.
" Apa kamu sudah enakan?" tanya Raihan membelai rambut Nayra. Nayra menganggukkan kepalanya.
" Aku enakan. Maaf, pasti kak Carey menelpon kamu kan, maaf aku tidak bermaksud membuat kamu khawatir," ujar Nayra merasa bersalah meraih satu tangan suaminya menggenggam dengan ke-2 tangannya.
Raihan menganggukan kepalanya dan memegang pipi istrinya. Melihat wajah sang istri yang merasa bersalah.
" Sayang aku hanya tidak bisa makan, seleraku hilang, makanya aku belum makan. Aku tidak bermaksud membuatmu Khawatir, aku minta maaf aku janji tidak akan melakukannya lagi," ujar Nayra merasa bersalah pada suaminya.
" Tidak apa-apa, aku tau ini akan menjadi sulit untuk kamu. Kamu jangan khawatir aku akan membantu kamu. Aku akan ada di sisi kamu. Agar kamu dan bayi kita sehat," ujar Raihan. Mendengar kata bayi membuat Nayra terkejut.
" Bayi, maksud kamu apa?" tanya Nayra heran. Raihan tersenyum dengan air matanya yang menetes membuat Nayra semakin bingung.
" Bayi, bayi siapa?" pernyataan Raihan hanya membuat Nayra bingung.
" Sayang, kamu akan menjadi seorang ibu. Apa yang kamu impikan sudah terwujud," ujar Kevin dengan lembut menatap dalam-dalam sang istri.
" Apa maksud kamu, aku hamil?" tanya Nayra memastikan dengan debaran jantungnya yang saling memburu. Raihan mengangguk membenarkan. Nayra menganga dengan menutup mulutnya wajahnya sangat terlihat schok.
" Iya kamu sedang mengandung bayi kita. Kamu akan menjadi seorang ibu," jelas Raihan membuat Nayra tidak percaya.
" Apa itu benar?" tanya Nayra masih tidak percaya dengan meneteskan air matanya. Raihan memegang ke-2 pipi istrinya mendekatkan wajahnya. Sehingga Kening mereka saling menempel.
" Itu benar, kamu sedang hamil," jawab Raihan lagi. Membuat Nayra lebih banyak mengeluarkan air mata.
" Selamat sayang," ujar Raihan. Nayra langsung memeluk suaminya.
" Kamu tidak bohong kan?" tanya Nayra yang sudah menangis di pelukan Raihan.
" Aku tidak berbohong, kamu memang hamil," jawab Raihan memeluk Nayra dengan erat. Nayra tidak bisa berkata-kata lagi.
Dia terus menangis sengugukan di pelukan suaminya. Raihan mengerti perasaan Nayra ini merupakan kebahagian sang istri. Jadi wajar istrinya menangis.
Lebih 2 tahun mereka menantikan kehadiran sang bayi dan sekarang mereka di beri kepercayaan.
Nayra hanya terus menangis seperti anak kecil. Dia sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi selain hanya menangis di pelukan sang suami.
**********
Della menuruni anak tangga. Angga yang sedari tadi menunggunya langsung menghampiri Della.
__ADS_1
" Bagaimana apa Nayra baik-baik saja?" tanya Angga khawatir. Angga khawatir bukan karena memiliki perasaan lagi terhadap Nayra. Tetapi memang sewajarnya rasa khawatir itu muncul.
" Iya dia baik-baik saja. Nayra hamil, makanya kondisinya seperti itu," jawab Della.
" Hamil?!" pekik Angga kaget. Della menganggukkan kepalanya.
" Syukurlah kalau begitu, aku ikut bahagia mendengarnya," sahut Angga.
" Ya itu sesuatu yang sangat di impikan Nayra dia sekarang pasti sangat bahagia, dengan kehamilannya," sahut Della yang juga mengetahui dilema Nayra selama ini.
" Hmmm, ya sudah sekarang kita pulang," ajak Angga.
" Aku pulang sendiri saja," sahut Della yang terus menolak.
" Della kamu pergi bersamaku, jadi aku akan mengantarmu pulang. Please jangan menolak," ujar Angga sedikit tegas.
" Hmmm, baiklah!" jawab Della tanpa membantah lagi. Della dan Angga pun melangkahkan kaki mereka.
" Kalian sudah mau pulang," terdengar suara dari ujung tangga membuat Angga dan Della kembali menoleh ke belakang.
Ternya Raihan yang berdiri dengan ke-2 tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Raihan menuruni anak tangga menghampiri Della dan Angga.
" Iya kita mau pulang," jawab Della, " bagaiman Nayra sudah bangun?" tanya Della.
" Hmmm, dia lagi mengobrol bersama Carey?" jawab Raihan. Mata Raihan kemudian melihat ke arah Angga. Raihan sangat tau Angga sangat canggung kepadanya.
" Makasih ya Angga sudah antar Della kemari. Jadi Nayra cepat terbantu," ujar Raihan menepuk bahu Angga.
Awal yang sangat baik. Hubungan Angga dan Raihan sepertinya sudah mencair tanpa ada dendam.
" Aku hanya kebetulan bersama Della saat itu," jawab Angga gugup.
" Apapun itu, terima kasih," sahut Raihan. Raihan bahkan mendekati Angga dan memeluk Angga. Sontak hal itu membuat Angga kaget.
Tetapi dengan cepat Angga membalas pelukan itu. Sangat lama bertahun-tahun tidak pernah memeluk sepupunya itu. Hanya karena masalah asmara.
" Maafkan aku Raihan," ujar Angga yang mungkin sudah beberapa kali mengucap maaf. Tetapi Raihan memang mengatakan memaafkan.
Dan memaafkan tidak akan mengembalikan hubungan persaudaraan seperti dulu. Makanya Raihan, Nayra dan Angga saling menghindar dan berusaha untuk tidak bertemu.
" Jangan membahas itu lagi, kita adalah saudara. Tidak pantas kita seperti ini," ujar Raihan dengan kebesaran hatinya yang benar-benar akan melupakan kejadian itu.
Angga tidak percaya mendapat kesempatan itu. Air matanya bahkan menetes. Sementara Raihan masih di tahannya. Sementara Della yang berdiri di dekat mereka. Ikut merasakan haru. Raihan melepas pelukannya.
" Sejak kapan kau jadi cengeng," ejek Raihan melihat Angga menghapus air matanya.
" Kau juga mau menangis, hanya menahan saja. Gengsi mu tidak berubah," ujar Angga.
" Itu perasaanmu saja," sahut Raihan.
" Aisss, kalian ber-2 kenapa jadi Mello kayak gini, Issss, menyebalkan," sahut Della yang akhirnya meneteskan air mata. Angga dan Raihan tersenyum.
__ADS_1
" Sudahlah ayo pulang, jangan main drama di sini!" ajak Della.
" Iya, ya sudah Raihan, kami balik dulu," ujar Angga pamit.
" Iya, sering-sering mampir," sahut Raihan.
" Iya," jawab Angga.
" Ya sudah Raihan kita balik dulu," ujar Della pamit. Raihan mengangguk dan melihat kepergian 2 sahabatnya itu dengan tersenyum Raihan merasa lega dengan apa yang barusan di lakukannya. Seperti hatinya lempeng, tenang.
*********
Raihan memasuki kamar dengan membawa nampan yang berisi mangkok dan gelas yang beri susu.
Saat membuka kamar Raihan tersenyum melihat Nayra yang menyandarkan diri di kepala ranjang dengan terus mengusap perutnya yang ramping.
Raihan melangkahkan kakinya mendekati sang istri. Dia sangat tau istrinya memang benar-benar bahagia dengan calon bayi mereka.
" Kamu makan dulu ya!" ujar Raihan duduk meletakkan nampan di atas nakas.
" Kak Carey sudah pulang?" tanya Nayra. Raihan mengangguk dan duduk di samping Nayra dengan mangkok bubur di tangannya.
" Sayang aku belum telpon papa. Aku harus kasih tau jika aku hamil," ujar Nayra langsung mengingat papanya.
" Tidak perlu, papa pasti sudah tau," sahut Raihan.
" Kok kamu tau, kau sudah kasih tau?" tanya Nayra.
" Vira pasti sudah memberitahunya," sahut Raihan.
" Vira datang kemari?" tanya Nayra yang benar-benar tidak tau.
" Kamu tidak tau Vira datang kemari?" tanya Raihan balik. Nayra menggeleng pelan.
" Iya, pas aku datang dia ada di sini. Jadi pasti dia sudah tau," jelas Raihan.
" Ngapain dia kemari?" tanya Raihan.
" Sudah lah lupakan, jangan memikirkan dia. Kamu harus ingat kata Della. Kamu nggak boleh steres agar bayi kita sehat, kamu mengerti," ujar Raihan menegaskan.
" Iya sayang aku mengerti. Aku akan fokus pada calon bayi kita," sahut Nayra dengan semangat. Raihan tersenyum melihat kebahagian Nayra.
" Ya sudah kamu makan!" suruh Raihan.
" Apa itu?" tanya Nayra mengangkat kepalanya melihat isi mangkok tersebut.
" Bubur," jawab Raihan.
" Makan Ya!" ujar Raihan.
" Sedikit saja," sahut Nayra menyipitkan matanya. Raihan menghela napas. Dari pada istrinya sama sekali tidak makan.
__ADS_1
Bersambung.....