
Mendapat pesan dari adiknya. Nayra langsung pergi kerumah mamanya. Ternyata mamanya sudah di kantor polisi. Nayra semakin gila karena mendengar kabar dari adiknya. Bahwa mamanya di tangkap polisi. Karena bertengkar dengan wanita yang melabrak mamanya.
Wanita yang suaminya berselingkuh dengan mamanya. Sehingga ke-2 wanita yang tidak mau kalah itu. Bertengkar sampai bermain fisik.
Nayra sudah tiba di kantor Polisi dan langsung mencari mamanya.
" Ma," panggil Nayra yang menemui mamanya. Nayra sangat terkejut melihat mamanya yang sudah di borgol.
" Nayra untung kamu datang cepat, ayo bebasin, mama tidak mau di penjara," ujar mamanya dengan serius.
" Lagi pula mama apa-apaan sih, sudah punya suami juga, masih ingin suami orang," sahut Nayra kesal.
" He, kamu itu datang kesini, disuruh buat bebasin mama, bukan buat ceramihi mama. Perempuan itu aja yang terlalu lebay," sahut mamanya melirik kesamping melihat wanita yang tadi bertengkar dengannya.
Nayra juga melihat wanita itu, yang sudah amburadul dengan wajah penuh cakaran.
" Mengeluarkan mama pasti tidak mudah," tegas Nayra.
" Pokoknya kamu harus usahakan, mama tidak mau di penjara," ujar mamanya yang tidak peduli.
*********
Nayra dengan langkah yang tidak bersemangat melangkah memasuki lift menuju kamar Apertemennya.
" Jika ingin mama kamu yang tidak tau diri itu, ingin bebas, dia harus membayar ganti rugi. 50 juta baru saya akan cabut laporan saya," tegas wanita itu tidak main-main dengan ucapannya. Wanita yang baku hantam dengan mamanya.
Nayra memang menemui wanita itu dengan sopan. Meminta maaf atas apa yang di lakukannya. Tetapi wanita itu malah memberatkannya dengan nominal yang tinggi dan jika tidak mamanya akan di penjara.
" Dari mana aku harus mendapatkan uang itu. Kenapa masalah terus saja datang," ujarnya yang pasrah akan hidupnya.
Nayra memasuki Apertemennya. Nayra meletakkan tasnya di sofa. Dan menuju dapur dia sangat lelah hari ini. Masalah datang bertubi-tubi kepadanya.
Nayra melihat kemeja makan. Jelas bayangan dia dan Raihan terlihat di sana. Raihan yang tersenyum kepadanya. Ternyata hanya kepalsuan.
Nayra membuang napasnya kasar dan mengambil gelas. Menuang air dari despenser lalu meneguknya. Dia mencoba menenangkan hatinya. Nayra membuka kulkas karena merasa lapar pada perutnya.
Pandangan Nayra langsung kepada Cake ulang tahun yang masih tersisa, Cake yang sengaja di buatnya untuk ulang tahun Raihan. Nayra juga melihat buah Ceri kesukaan Raihan.
Dengan kekesalan. Raihan mengambil Cake itu dan langsung membuangnya ke tong sampah. Nayra. Nayra juga membuang Ceri itu.
Dan semua isi kulkasnya yang memang lebih banyak mengarah pada Raihan di buangnya semuanya.
Nayra mengusap kasar air matanya yang kembali jatuh.
" Kamu tidak boleh bodoh Nayra. Dia akan menyesali semuanya," ujar Nayra meyakinkan dirinya.
Nayra berlari kekamarnya. Nayra melihat bunga liliy yang belum layu. Nayra membuangnya kelantai dan menginjak-injaknya dengan penuh emosi menganggap Raihan adalah bunga itu.
Nayra mengambil kardus kosong di atas lemarinya. Nayra meletakkannya di atas tempat tidur. Nayra membuka lemarinya dan mengeluarkan semua pemberian Raihan yang masih di simpannya.
Dari gaun yang baru saja di berikan Raihan. Sampai semua pemberian Raihan yang dulu-dulu. Foto-foto Raihan dan dirinya, dimasukkan ke kotak tersebut. Kotak musik yang sangat cantik, dan barang-barang unik lainnya. Boneka-boneka kecil semuanya benar-benar di musnahkan Nayra.
__ADS_1
" Aku tidak sudi menyimpan barang-barang mu di rumahku," ujarnya dengan kekesalan.
Nayra mengingat sesuatu. Nayra menghampiri laci yang di samping tempat tidurnya. Nayra mengambil kotak yang pernah di berikan Raihan kepadanya.
Kotak yang di berikan sebelum acara ulang tahun Raihan. Nayra memang belum membukanya. Nayra langsung membukanya. Betapa terkejutnya Nayra melihat isinya berupa lembaran cek.
Nayra yang dengan matanya melotot,memegang cek itu dengan tangannya yang bergetar. Melihat nilai cek itu 10 M.
" Aku rasa itu cukup sebagai ganti rugi karena aku menyentuhmu, pergilah dari hidupku. Jangan ganggu keluargaku,"
Napas Nayra naik turun, membaca surat itu. Di Sergai air matanya yang kembali jatuh.
" Kau membayar ku Raihan," desis Nayra meremas cek itu.
" Bajingan," teriak Nayra melempar remasan cek itu.
" Kurang ajar kamu Raihan. Kamu akan menyesali semuanya aku pastikan itu," teriak Nayra dengan emosi tingkat dewa.
Seketika Nayra mengusap air matanya dengan kasar.
" Kamu tidak boleh menangis nayra. Jangan bodoh Aku denganmu benar-benar sudah End Raihan," ujarnya dengan kesal meyakini semuanya.
Sementara di sisi lain Raihan sedang berada di dalam Club. Apa lagi yang di lakukannya jika tidak mabuk. Dia akan meluapkan kemarahannya pada minuman yang bisa menenangkannya.
Entah sudah beberapa gelas Raihan meneguk Vodka tersebut. Wanita yang ada di Club itu beberapa kali menggodanya. Namun Raihan tidak meladeninya.
" Aku tidak bersandiwara seperti mu. Aku mencintaimu dengan tulus dan kamu tau itu," Raihan hanya mengingat perkataan Nayra. Bayangan wanita itu terus merasuki pikirannya.
Raihan terus minum, dan mengingat wajah Nayra. Mengingat air mata Nayra yang jatuh akibat ulahnya. Justru luka Raihan semakin besar.
Dia harus mengakui apa yang di lakukannya kepada Nayra hanya menyiksa dirinya sendiri.
**********
Pagi hari sudah kembali tiba. Raihan yang terlentang di sebuah kamar. Raihan memijat kepalanya yang masih sangat berat. Dia melihat di mana keberadaannya. Raihan mencoba duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
" Di mana aku?" tanyanya terus memijat kepalanya.
Tiba-tiba pintu kamar tempat Raihan terbuka. Raihan melihat Alex yang berdiri dengan membawa 1 gelas air putih.
" Menyusahkan," desis Alex. Memberikan Raihan minuman dan langsung di raih oleh Raihan.
" Kenapa aku bisa ada di.sini?" tanya Raihan.
" Kenapa, Kau berharap kalau lo ada di Apertemennya," jawab Alex menyindir.
" Gak jelas," sahut Raihan.
" Hhhhhhh, sudahlah Raihan. Kau itu sudah tua. Jangan kayak anak kecil, main balas-balasan dengan Nayra. Kau nggak kasian sama dia. Kau juga yang susah kalau kau mabuk, kau akan kemana. Memang akan ada tempat. Sorry ya ini tempat pertama dan terakhir. Besok-besok kau cari tempat sendiri," ujar Alex serius.
" Nggak usah ikut campur," sahut Raihan yang kesal.
__ADS_1
" Ok, gue juga nggak tertarik, untuk ikut campur. Cuma ngingatin aja dari pada semuanya terlambat. Mending kau balik sama dia. Sebelum semua terlambat," ujar Alex mengingatkan.
" Perasanku sudah mati untuknya," sahut Raihan menelan salavinanya.
" Busyittt, mulut bisa ngomong tapi mata tidak bisa bohong," ujar Alex dengan sinis lalu pergi.
Raihan menghela napasnya. Dia kembali memijat kepalanya. Pandangannya mulai kosong.
" Kamu ingin tau kenapa hubungan kita berakhir, tanyakanlah mamamu,"
Sepenggal kalimat itu, tiba-tiba teringat dalam pikirannya. Raihan seakan penasaran dengan ucapan Nayra. Tetapi ada rasa di hatinya yang menurutnya itu tidak penting. Sudah tidak ada gunanya lagi untuk hal itu.
**********
Setelah merasa cukup enakan. Raihan pulang kerumahnya. Karena dia tidak mungkin kekantor dalam ke adaan seperti itu. Dia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Masih dengan langkah yang belum seimbang Raihan memasuki rumah. Dengan jas yang di gandeng di tangannya.
" Setelah bikin kekacauan di Perusahaan, baru berani memunculkan diri," sahut Zira tiba-tiba yang sudah duduk di ruang tamu. Raihan mendengarnya, menghentikan langkahnya dan menghadap mamanya.
" Dia yang memulai," jawab Raihan.
" Semua tidak akan ada yang memulai jika kamu tidak memancing," sahut Zira. Yang sudah berdiri di hadapan Raihan.
" Aku capek, aku mau mandi," ujar Raihan yang malas bertengkar dengan mamanya.
" Raihan," Zira menahan tangan Raihan.
" Kamu tau apa yang kamu lakukan hah!, bagaimana jika ada media yang meliput. Kamu sama saja merusak nama Perusahaan," ujar Zira sedikit berteriak.
" Ma cukup, mama bisa nggak sih sekali aja. Nggak usah nyalahin Raihan. Raihan capek. Raihan capek dengan semua permainan ini," sahut Raihan berteriak.
" Kamu bilang kamu capek. Kamu capek karena ulah kamu sendiri. Kamu yang menimbulkan semua masalah. Semua akan baik-baik saja. Jika di dalam otak kamu tidak ada niat untuk balas dendam pada Nayra," teriak Zira dengan tegas.
" Mama bisa tidak. Tidak ikut campur dengan urusanku dan Nara?" ujar Raihan menekan suaranya.
" Kamu bilang mama tidak ikut campur. Terus mama akan diam saja dengan apa yang kamu lakukan iya," teriak Zira.
" Apa juga ikut campur dengan hubungan ku dengan Nara 7 tahun lalu," sahut Raihan berteriak. Mendengar hal itu Zira langsung terdiam. Raihan mendengus melihat diamnya mamanya.
" Kenapa mama diam, apa mama ikut campur waktu itu?" tanya Raihan memastikan.
Apa yang di katakan Nayra masih teringat di dalam pikirannya. Dan dia harus menanyakan hal itu pada mamanya.
" Apa maksud kamu?" tanya Zira.
Raihan tersenyum lebar.
" Sudahlah, biar Raihan yang cari sendiri jawabannya," ujar Raihan membalikkan badannya dan melangkah dengan cepat meninggalkan mamanya.
Zira tidak menghentikan kepergian anaknya. Justru dia diam, tanpa kata. Seperti ada ketakutan di dalam dirinya.
__ADS_1
...Bersambung...........