Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 182


__ADS_3

Nayra merasa lega akhirnya bisa bertemu David sebagai papa kandungnya. Setelah berbicara dan makam malam bersama. David dan Arya pun pulang.


Tidak butuh banyak pembicaraan atau pembahasan yang lainnya. Karena memang Raihan sudah menjelaskan semuanya. Nayra pun tidak menanyakan hal itu lagi. Yang jelas dia sangat lega.


Nayra duduk di pinggir kolam renang dengan ke-2 kaki di masukkan kedalam. Wajahnya mulai berseri tersenyum tipis melihat langit malam yang indah. Perasaannya sudah tenang sekarang. Dia jauh lebih bahagia.


" Nayra," tegur Zira yang berdiri di belakang Nayra. Nayra menoleh kebelakang.


" Mama," ucap Nayra langsung berdiri, " ada apa ma?" tanya Nayra. Zira tersenyum memeluk Nayra. Nayra bingung dengan pelukan dari sang mama.


" Maafkan mama ya mama sudah menyembunyikan hal sebesar ini dari kamu, maafin mama, mama salah satu orang yang menyulitkan kamu," ujar Zira merasa bersalah.


Nayra melepas pelukannya dari Zira, memegang ke-2 tangan Zira.


" Mama tidak perlu minta maaf, mama tidak pernah bersalah. Justru Nayra sangat bahagia pernah berkaitan dengan mama. Mama orang yang sangat baik. Seperti kata Pak David mama sudah memberi Nayra kehidupan, mama memberi Nayra nama. Memberi Nayra pendidikan, memberi Nayra kasih sayang yang tulus dan bahkan mama memberi Nayra pendamping sangat mencintai Nayra. Terima kasih untuk semuanya," ujar Nayra dengan mata berkaca-kaca.


" Maafin Nayra, kemarin Nayra sempat marah dan membuat mama khawatir. Nayra tidak bermaksud. Nayra sangat menyayangi mama. Karena bagi Nayra cuma mama lah yang tulus kepada Nayra," lanjut Nayra dengan tulus.


Zira tersenyum memegang pipi Nayra.


" Apa sekarang kamu lega?" tanya Zira. Nayra mengangguk.


" Iya sekarang Nayra lebih tenang, semuanya sudah selesai. Seperti kata Raihan saat Nayra masuk kerumah ini semua sudah baru kembali. Semua ini berkat mama, jadi Nayra sangat lega," ujar Nayra.


" Iya sayang, mama juga sekarang lebih lega. Karena mama sudah tidak merasa terbebani lagi," ujar Zira. Mereka kembali berpelukan.


" Ma, Nayra," tegur Raihan. Nayra dan Zira saling melepas pelukan ketika melihat Raihan, Raina, Andini Eyang Farah dan Addrian datang.


" Iya kenapa Raihan," tanya Zira.


" Sudah malam, Nara kita pulang," ujar Raihan. Nayra mengangguk.


" Kalian tidak menginap saja?" tanya Addrian.


" Nggak usah pa, lain kali aja," jawab Raihan.


" Mama sama Andini juga mau pulang," sahut Eyang Farah.


" Biar Addrian antar," sahut Addrian.


" Tidak usah Om, Andini Bawak mobil kok," sahut Andini.


" Ya sudah kita pamit ya ma," sambung Raihan. Sebelum berpamitan. Nayra memeluk Zira lagi.


" Hati-hati ya sayang," ujar Zira mencium kening Nayra.

__ADS_1


" Iya ma," jawan Nayra. Hal yang sama di lanjutkan Raihan memeluk mamanya.


" Kamu jagain Nayra ya," ucap Zira. Raihan mengangguk.


" Pasti ma," jawab Raihan. Nayra dan Raihan juga berpamitan pada Addrian memeluk Addrian.


" Kalian hati-hati ya," ujar Addrian.


" Iya pa," jawab Nayra dan Raihan serentak. Setelah berpamitan pada Addrian berlanjut kepada Raina. Nayra memeluk Raina.


" Makasih ya kak untuk semuanya," ujar Nayra. Raina melepas pelukannya dan tersenyum lebar.


" Sama-sama, maaf ya menyembunyikan semua ini. Kaka bangga sama kamu. Kamu wanita yang berbesar hati, jangan sedih lagi ya," ujar Raina menegaskan.


Nayra mengangguk tersenyum. Tidak lupa Nayra juga berpamitan pada Eyang yang selalu membantu dia dan Raihan. Memeluk eyangnya erat.


" Benar kata Raina kamu, tidak boleh sedih lagi, kamu harus bahagia," ujar eyang Farah.


" Iya eyang," jawab Nayra.


" Dan kamu Raihan, terus jaga istri kamu, bahagiakan dia, bisa melakukan itu?" tanya Eyang Farah dengan tegas. Raihan menganggukkan matanya.


" Pasti Eyang," jawab Raihan yakin. Tidak lupa Nayra juga memeluk sahabatnya Andini.


" Terima kasih Andini selalu ada bersama ku," ucap Nayra.


" Ya sudah kami pulang dulu," ujar Raihan pamit. Semuanya serentak mengangguk.


****************


Beberapa hari kemudian.


Pagi hari seperti biasa Nayra menyiapkan sarapan pagi di dapur. Nayra memasakkan nasi goreng untuk suaminya.


" Jam berapa ini, Raihan kok belum keluar apa dia belum bangun," gumam Nayra yang heran melihat suaminya yang juga tidak muncul. Nayra melihat jam sudah jam 7: 30.


Nayra mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng ke dalam piring. Setelah meletakkan di meja makan. Nayra pun pergi kekamar mengecek suaminya yang tidak kunjung ke luar sampai sekarang.


Nayra membuka pintu kamar. Dugaannya benar Raihan ternyata belum bangun. Nayra mengenal napas panjang dan menghampiri suaminya ke atas tempat tidur untuk membangunkan suaminya.


" Sayang bangun, sayang," ujar Nayra membangunkan lembut suaminya dengan mengoyang-goyangkan tangannya. Raihan sama sekali tidak bergerak dan tetap tertidur nyenyak.


" Sayang ini sudah siang, bangunlah kamu nanti telat kekantor," ujar Nayra lagi memegang pipi Raihan.


Raihan langsung menangkap tangan itu dan meletakkan di dadanya.

__ADS_1


" Aku masih mengantuk," jawab Raihan tanpa membuka matanya.


" Memang kamu tidak kekantor?" tanya Nayra. Mendekatkan kan wajahnya ke depan Raihan. Aroma tubuh Nayra semakin terhirup di hidungnya.


Membuat Raihan membuka matanya dan tersenyum melihat istrinya yang sangat dekat dengannya. Raihan meraih tangan Nayra dan menciumnya.


" Kamu cantik sekali," ujar Raihan. Lain ditanya lain di jawab. Tapi pujian yang biasa di dengar Nayra itu membuatnya tersenyum.


" Ya, aku tau ya sudah kamu sekarang bangun, mandi biar kita sarapan kamu hampir terlambat," ujar Nayra.


Raihan menggeleng membuat Nayra mengkerutkan keningnya. Raihan pun menarik Naira sehingga Nayra berada di atas tubuhnya dan Raihan langsung mengunci tubuh Nayra di pelukannya.


Sehingga mereka semakin berdekatan. Raihan menggesekkan hidungnya pada hidung Nayra.


" Aku merindukanmu," ujar Raihan mencium pipi Nayra.


" Bukannya aku selalu ada bersamamu, jadi kenapa merindukanku," tanya Nayra.


" Memang aku tidak boleh merindukanmu?" tanya Raihan menatap Nayra dalam, sambil menyelipkan rambut Nayra ke belakang daun telinganya.


" I love you," bisik Raihan di telinga Nayra. Hembusan napas Raihan membuat kulit Nayra merinding.


Raihan sepertinya ingin bermesraan dengan istrinya sampai malas bergerak. Maklumlah Raihan dan Nayra di timpah banyak masalah sampai tidak pernah bermesraan.


" Aku menginginkanmu," ujar Raihan dengan suara seraknya. Nayra tersenyum.


" Tapi kamu harus kekantor, aku juga sudah menyiapkan sarapan," jawab Nayra yang mengerti maksud Raihan.


" Tetapi aku ingin sarapan dirimu," goda Raihan lagi. Nayra menggeleng.


" Kamu menolakku?" tanya Raihan sedikit kecewa. Nayra mengangguk.


" Hmmm, sudahlah kamu harus kekantor," ujar Nayra mencoba bangkit dari tubuh Raihan. Tetapi bukan Raihan namanya jika membiarkan lepas semudah itu.


Raihan malah membalikkan tubuh Nayra dan malah tubuh Nayra dan sekarang berada di bawahnya. Raihan menindih tubuh Nayra.


" Kamu ingin pergi?" tanya Raihan membelai pipi Nayra. Nayra menganggu.


" Tapi aku tidak akan melepaskanmu," ucap Raihan. Raihan mencium kening Nayra.


Nayra memejamkan matanya. Mata Raihan turun ke bibir Nayra dan mengecupnya.


" Boleh aku melakukannya?" tanya Raihan melepas kecupannya seakan minta izin kepada istrinya untuk lebih dari itu.


" Memang harus sekarang?" tanya Nayra. Raihan mengangguk. Tidak menunggu jawaban Nayra, Raihan meraih bibir itu dan menciumnya lebih dalam lagi. Nayra pun memejamkan matanya saat ciuman suaminya membawanya melayang-layang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2