
" Apa mereka bertengkar?" batin Raina tanda tanya melihat kakaknya berpelukan dengan Nayra dan melihat Nayra yang menangis terisak.
" Tapi jika pasangan suami istri bertengkar. Ya pasti akan seperti itu. Berakhir saling berpelukan mesra. Tapi kenapa mereka bertengkar," gumamnya terus melihat pasangan suami istri itu berpelukan dari dingding kaca.
" Raina," tegur Raka yang berdiri di samping Raina melihat Raina yang senyum-senyum sendiri.
" Hmmm," jawab Raina dengan deheman.
" Ngapain kamu?" tanya Raka.
" Sangat romantis melihat pasangan seperti itu, kapan ya aku bisa seperti itu, sepertinya sangat bahagia mendapat pelukan semesta itu," gumam Raina menghayal dengan senyum-senyum.
Membuat Raka mengkerutkan dahinya bingung melihat tingkah Raina yang aneh.
Raina menyadari omongan yang sembarangan ke luar dari mulutnya. Raina kaget baru menyadari jika Raka ada di sampingnya.
" Raka," ujar Raina gugup menelan salavinanya dia menjadi salah tingkah dengan kehadiran Raka yang tiba-tiba.
" Iya kenapa?" tanya Raka
" Hahhh, tidak, kamu_dengar apa yang tadi?" tanya Nayra terbata-bata.
" Iya apa yang kamu katakan itu yang aku dengar," sahut Raka.
" Astaga kenapa sih Raina kamu itu bego banget makin lama, kenapa jadi seperti ini," lirih Raina pelan mengoceh menepuk jidatnya.
Raka tidak dapat jelas mendengar apa yang di katakan Raina.
" Kamu kenapa?" tanya Raka bingung.
" Lupakan," jawab Raina gugup dan membalikkan badannya ingin pergi dari pada malu di depan Raka. Tetapi Raka menghentikan langkahnya dengan memegang tangan Raina.
Raina memejamkan matanya saat tangannya di hentikan Raka.
" Plis Raka lepas, aku bisa mati di sini, pliss," batin Raina yang sudah gemetaran.
" Kenapa papa kamu mengajak makan malam di rumah kamu ada apa?" tanya Raka.
Hal itu membuat Raina melebarkan matanya. Kaget dengan ucapan Raka. Ternyata papanya benar-benar tidak main-main. Raina langsung membalikkan badannya.
" Papa ngajak kamu ke rumah?" tanya Raina memastikan. Raka mengangguk.
" Gawat," sahut Raina.
__ADS_1
" Gawat kenapa?" tanya Raka.
" Sudah ikut aku," ujar Raina langsung menarik tangan Raka dan membawanya pergi dari depan ruangan Raihan.
Tidak mungkin dia mengobrol panjang lebar dengan Raka di tempat umum yang adanya Raina akan malu.
Raihan dan Nayra terus berpelukan. Tidak juga sampai 24 jam saling diam-diamman. Sudah saling merindukan sampai berpelukan sangat lama. Raihan melepas pelukan itu.
" Sudah jangan menangis lagi," ujar Raihan melihat sembabnya mata istrinya. Nayra hanya mengangguk masih sengugukan.
" Kita makan di luar," ajak Raihan. Nayra mengangguk.
" Ya sudah ayo," ajak Raihan menggandeng tangan istrinya. Nayra menahannya.
" Ada apa?" tanya Raihan bingung.
" Aku perbaiki make-up dulu. Aku malu ke luar dengan wajah seperti ini, nanti yang lain pasti bertanya-tanya," ujar Nayra dengan suara seraknya. Raihan tersenyum.
" Ya sudah aku akan menunggu," jawab Raihan. Nayra pun beralih dari hadapan Raihan menuju sofa yang di susul oleh Raihan.
Nayra mengeluarkan bedak yang sekalian ada cerminnya. Nayra melihat wajahnya yang begitu sembab. Sementara Raihan melihat tersenyum melihat wajah istrinya yang cemberut.
" Jangan melihatku terus," sahut Nayra dengan bibir kerucutnya.
" Bohong kamu pasti bilang begitu supaya aku malu," sahut Nayra. Raihan mendengus mengusap pucuk kepala Nayra.
" Tidak aku tidak bohong, kamu memang sangat cantik dalam ke adaan seperti apapun tanpa makeup dan pakai makeup," sahut Raihan. Membuat senyum tipis di wajah Nayra membuat Raihan juga tersenyum.
************
Nayra dan Raihan makan siang di dekat kantor. Mereka yang duduk bersebelahan.
" Kamu pesan apa?" tanya Nayra.
" Apa aja," jawab Raihan.
Nayra mengangguk. Nayra melihat-lihat menu makanan dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Raihan meletakkan tangannya di pundak Nayra. Nayra pun meletakkan kepalanya di dada suaminya dan memeluk pinggangnya.
" I Miss you," ujar Amira memeluk erat. Raihan tersenyum dan mencium pucuk kepala Raihan.
" I Miss you to," jawab Raihan melepas ciumannya.
__ADS_1
Sambil menunggu pasangan mereka terus seperti itu bermesraan di tempat umum.
" Pak Raihan, Nayra," suara Pria tersebut membuat Raihan dan Nayra melepas pelukan dan melihat siapa yang menyapa mereka.
" Pak David," sahut Raina tersenyum tidak percaya. Dia sudah lama sekali tidak bertemu David. Sementara Raihan melihat kehadiran David membuatnya gelisah. Karena mengetahui siapa David.
" Pak David apa kabar?" tanya Raina langsung berdiri.
" Baik kamu sendiri bagaimana?" tanya David yang memang tidak pernah bertemu dengan Nayra. Karena dia ada urusan mendadak di Australia membuatnya harus berada di sana meski masih bekerjasama dengan Adverb.
" Baik, saya baik," jawab Nayra yang terlihat senang.
" Pak Raihan," sapa David mengulurkan tangannya. Raihan tersenyum dan menjabat uluran tangan itu.
" Apa kabar Pak?" tanya Raihan.
" Hmmmm, saya baik. Saya belum mengucapkan selamat untuk pernikahan kalian," ujar David.
" Pak duduk dulu, Bapak tidak mau pesan makanan biar saya pesankan," tawar Nayra yang ke girangan.
" Tidak usah Nayra, saya sedang buru-buru," tolak David duduk di depan Nayra.
" Saya tadi melihat kalian masuk ke Restaurant ini dan saya lupa kalau saya belum memberi hadiah pernikahan kalian. Jadi saya menyempatkan diri membelinya di depan tadi, mohon di terima," ujar David meletakkan paper bag di atas meja mendorongnya pada Nayra.
" Ya ampun pak, kok repot-repot," sahut Nayra merasa tidak enak. Raihan melihat Nayra sangat bahagia mendapatkan hadiah itu. Membuatnya merasa bersalah. Karena masih menutupi kebenarannya dari Nayra.
" Tidak merepotkan. Justru saya merasa tidak enak. Karena baru memberinya sekarang," sahut David.
" Ya ampun Pak, makasih ya, aku sama Raihan benar-benar tidak enak, iya kan Raihan," ujar Nayra melempar pada suaminya.
" Iya kami berterima kasih, karena bapak sudah mengingat untuk memberikan kami hadiah pernikahan," sahut Raihan.
" Tidak masalah pak Raihan, saya sangat bahagia melihat kalian bisa menikah," sahut David yang memang dari wajahnya tidak bisa di bohongi bahwa dia begitu bahagia dengan Nayra dan Raihan.
Apa lagi melihat Nayra yang benar-benar sudah seperti Nayra yang pertama di temuinya. Pada akhirnya David juga ikut makan bersama Nayra dan Raihan.
Di tengah makan mereka. Mereka terus mengobrol seperti melepas rindu. Raihan hanya diam-diam saja dan kadang mengangguk dan tersenyum, mengikuti pembicaraan istrinya yang terlihat bahagia.
" Apa ini sudah waktunya. Aku rasa Nayra sudah bisa menerima semua ini. Aku harus secepatnya memberi tahu Nara tentang Pak David. Iya Pak David harus tau tentang kebenarannya. Bahwa Nara adalah putrinya," batin Raihan yang tidak tega melihat hal ini.
Dia bisa melihat Nayra begitu bahagia berbicara dengan David. Layaknya seorang anak dengan ayah.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1