
Nayra berada di dalam kamar mandi. Hari ini Nayra merasa sedikit lega karena bisa berkonsultasi dengan Dokter psikiater.
Nayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Nayra mengusap dadanya pelan. Lalu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyamanya.
Raihan duduk di sisi ranjang. Melihat Nayra yang keluar dari kamar mandi. Nayra tersenyum melihat suaminya.
" Bagaimana harimu?" tanya Raihan. Nayra mendekati Raihan dan duduk di samping Raihan dengan ke-2 kakinya yang menyentuh lantai.
" Baik," jawab Nayra tersenyum. " Kalau kamu bagaimana?" tanya Nayra.
" Semua pekerjaan lancar dan menyenangkan. Tetapi akan menyenangkan jika kamu ada bersamaku di kantor," ujar Raihan memegang pipi istrinya. Nayra tersenyum.
" Apa aku bilang sama Raihan, ya tentang Tante Jihan tadi. Aneh sih sifatnya Tante Jihan. Ahhhhh... tidak-tidak sebaiknya jangan dulu. Aku harus menuntaskan hal ini dulu. Baru memikirkan Tante Jihan," Nayra bergerutu di dalam hatinya. Pertemuannya dengan Jihan membuat Nayra menjadi bingung dan menambah pikiran saja.
" Kamu kemana aja tadi?" tanya Raihan membuyarkan lamunan Nayra.
" Oh itu mengobrol dengan Andini, dan aku juga kerumah sakit," jawab Nayra dengan ragu dan takut-takut. Tetapi dia tidak bisa bohong kepada Raihan.
" Kerumah sakit, ngapain?" tanya Raihan heran.
" Aku ketemu Dokter psikiater," jawab Nayra jujur. Membuat Raihan kaget.
" Dokter yang dulu pernah menjadi Dokter kamu?" tanya Raihan memastikan.
" Iya," jawab Nayra.
" Buat apa kamu ketemu dengan dia. Aku sudah mengatakan kamu tidak perlu ke psikiater lagi. Kamu tidak sakit Nara," ujar Raihan dengan nada dingin mulai marah.
" Raihan, aku minta maaf. Jika pergi tidak memberi tahumu. Aku hanya ingin cepat sembuh. Aku tidak bermaksud yang lain," ujar Nayra mencoba membujuk Raihan agar tidak marah.
" Lalu apa katanya dan apa setelah menemuinya, kamu mendapatkan perubahan?" tanya Raihan menahan kekesalannya. Nayra tersenyum seakan mendapatkan sesuatu dari Dokter itu.
" Ada apa?" tanya Raihan melihat Nayra senyum tidak jelas.
Nayra membuka laci di sampingnya dan mengambil botol obat berbahan plastik. Membuat Raihan semakin bingung.
" Apa itu?" tanya Raihan penasaran.
" Raihan, ini obat seperti semacam obat tidur. Aku mendapatkannya dari Dokter. Obat ini hanya akan membuatku memejamkan mata seperti orang tidur. Tetapi ketika kamu menyentuhku aku akan bereaksi seperti wanita normal lainnya. Hanya saja aku tertidur," jelas Nayra membuat Raihan geram.
" Lalu?" tanya Raihan dengan suara dingin.
__ADS_1
" Raihan, kamu menikahiku. Saat aku tidak sadarkan diri. Karena jika aku bangun. Ketika aku melihat orang lain aku tidak akan nyaman dan mulai histeris. Makanya kamu menikahiku di saat aku tertidur. Dan ini sama halnya. Kamu bisa melakukannya. Dia saat aku juga tertidur. Obat ini akan bereaksi lama. Kamu bisa melakukannya kapanpun kapan kamu mau dan aku tidak akan bangun. Dokter bilang aku akan merasa bereaksi seperti yang aku katakan aku hanya memejamkan mata. Sehingga bayang-bayang itu tidak muncul. Jadi kamu bisa menyentuhmu, mengambil hakmu saat obat ini sudah bereaksi," jelas Nayra.
" Buang," ujar Raihan menekan suaranya.
" Raihan aku tau. Kamu menginginkan hubungan itu. Kita sudah menikah berbulan-bulan. Tetapi aku belum bisa melaksanakan tugasku sebagai istri. Aku tau kamu hanya menahan diri. Jadi coba saja dengan cara ini," jelas Nayra.
" Aku bilang buang," sahut Raihan.
" Raihan!".
" Aku bilang buang!" bentak Raihan dengan suara menggelegar membuat Nayra tersentak kaget. Sampai Nayra memejamkan matanya.
Raihan berdiri dan merampas botol yang di pegang Nayra. Dengan kemarahan yang hebat Raihan membuang semua obat itu dari jendela kamar.
" Raihan," Nayra berdiri dan melihat kemarahan Raihan. Rahang kokoh Raihan mengeras. Raihan sungguh marah dengan Nayra.
" Apa kamu pikir, aku nikahi kamu hanya karena untuk hubungan seksual," bentak Raihan yang kecewa dengan tindakan Nayra.
" Bukan itu maksudku Raihan, aku hanya ingin...".
" Cukup Nara. Kau tidak perlu mengajariku untuk melakukan semua itu. Jika aku mau dari dulu aku sudah melakukannya. Aku sudah menidurimu di saat kau tidak sadar. Tapi kau harus tau. Aku ini suami bukan bajingan itu. Jika aku melakukan itu apa bedanya aku dengannya yang sudah menghancurkan mentalmu," teriak Raihan tepat di wajah Nayra. Nayra menunduk menangis.
Apa yang di lakukannya membuat Raihan benar-benar marah.
" Raihan bukan itu maksudku. Aku hanya ingin membalas atas apa yang kamu lakukan. Aku tau kamu melakukan itu karena mencintaiku. Tapi aku juga manusia. Aku sadar semuanya. Aku sadar aku seperti apa," Nayra menangis Sengugukan menjelaskan kepada Raihan.
" Aku mencuri kenyamanan dan ketenangan kamu. Kamu tidak tidur hanya untuk menjagaku. Di saat aku sembuh. Semuanya malah terjadi lagi. Aku hanya ingin kamu mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan," lanjut Nayra dengan Sengugukan.
" Bukan seperti ini caranya Nara. Aku tidak pernah menuntut apapun kepada kamu. Aku tidak pernah menuntut itu, tapi kamu yang berlebihan. Kamu terlalu berpikir sependek itu. Pernikahan bukan hanya untuk melampiaskan nafsu semata Nayra. Aku kira kamu paham itu. Tapi ternyata kamu tidak memahaminya," ujar Raihan lagi dengan matanya yang memerah.
" Raihan maaf kan aku, aku tidak bermaksud,"
" Sudah cukup. Aku sangat kecewa dengan mu," ujar Raihan dengan suara dingin. Langsung pergi.
Brukkkk Raihan bahkan membanting pintu kamar. Karena marah dengan Nayra.
" Raihan," panggil Nayra. Raihan tidak mendengarkan Nayra dan tetap melanjutkan langkahnya.
Nayra terduduk di sisi ranjang, mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Masih menangis Sengugukan.
Nayra tidak menyangka apa yang di lakukannya membuat Raihan semarah itu kepadanya.
__ADS_1
" Maafkan aku Raihan, aku tidak bermaksud, maaf Raihan," ujarnya menangis terus-terusan dengan Sengugukan.
***********
Malam hari Raka menjemput Raina dari kantor. Di dalam mobil Raina dan Raka hanya diam saja mereka duduk di depan tanpa ada yang berbicara.
Mobil Raka berhenti ketika lampu merah. Raka melihat ke arah Raina yang terus diam.
" Kamu mau makan dulu?" tanya Raka membuka obrolan yang melihat Nayra diam saja.
" Aku mau pulang saja, ini sudah malam. Amira pasti menunggu," jawab Raina ketus.
" Baiklah," jawab Raka mengetuk-ngetuk jarinya di stir mobil. Menunggu lampu merah.
Ting ponsel Raka berdering pesan wa masuk. Dan Raka langsung membukanya, saat membukanya Raka tersenyum. Raina melihat kesampingnya dan melihat Raka yang tersenyum.
" Siapa, sampai tersenyum segala?" tanya Nayra ketus.
" Sarah, dia ngajak ketemuan," jawab Raka dengan senyum. Membuat Raina mendengus.
" Kamu senang banget ya ketemu dia, sudah berapa kali ketemu dia, kayaknya dia special banget untuk kamu," ujar Raina semakin kesal dengan kesantaiannya Raka yang tidak menganggapnya.
" Raina Sarah itu..."
" Sudahlah," Raina memotong pembicaraan Raka. Dia sangat kesal dengan Raka yang tidak mempedulikannya.
" Raina," tegur Raka.
" Apa lagi, kamu urus saja. Kamu juga sangat nyaman bertemu dengannya. Oh iya aku lupa aku tidak perlu ikut campur. Aku bukan siapa-siapa untukmu," sahut Raina semakin kesal mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.
Raina benar-benar emosi tingkat dewa melihat cueknya Raka pada dirinya. Raka tidak menghargai perasaannya.
Raka sepertinya paham dengan apa yang di pikirkan Raina. Raka menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
" Raina, kamu jangan salah paham," sahut Raka berbicara lembut. Raina kembali menoleh ke arah Raka dengan wajahnya yang penuh kemarahan.
" Kamu itu ngerti nggak sih perasaanku. Atau kamu pura-pura tidak tau. Kamu itu seenaknya senyam-senyum hanya ada wanita yang mengajak kamu ketemuan. Jika dia tidak sepesial lalu apa?" Raina terus merocos membuat Raka bisa peka atas bahwa dia benar-benar cemburu.
Raka membuka seat beltnya. Raina masih saja mengoceh seperti rel kereta api. Dengan cepat Raka memegang tengkuk Raina dengan ke-2 tangannya dan mencium bibir Raina.
Raina mendapat serangan tiba-tiba mendadak kaget. Matanya melebar sempurna. Saat Raka menciumnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹