
Nayra akhirnya sadar dengan kebodohannya. Dengan cepat Raina melepas bibirnya dari pipi Raihan. Nayra menjadi gugup dan salah tingkah di hadapan Raihan.
Apalagi Raihan melihatnya dengan senyuman yang membuatnya semakin malu. Wajahnya juga sudah memerah seperti tomat.
" Maaf," ujar Nayra pelan, berjalan kembali.
" Nayra apa yang kamu lakukan," Nayra bergerutu di dalam hatinya.
Nayra memejamkan matanya sangat bodoh bisa-bisanya dia malah melakukan hal itu. Raihan yang melihat Nayra sudah berjalan terlebih dahulu mendengus tersenyum.
Raihan geleng-geleng, lalu menyusul Nayra dan sudah berjalan di sampingnya.
" Kenapa harus minta maaf?" tanya Raihan dengan memasukkan ke-2 tangannya ke dalam saku celananya.
" Aku tidak sengaja jadi maaf," ujar Nayra masih merasa malu, terus berjalan tanpa melihat ke arah Raihan.
" Benarkah?" tanya Raihan. Nayra mengangguk memastikan.
" Baiklah, aku terima permintaan maafmu," sahut Raihan tersenyum.
Mereka kembali berjalan dengan langkah santai. Tiupan angin membuat tubuh dinginnya masuk menusuk sampai ketulangnya.
Untung saja jas yang di berikan Raihan masih di pakainya. Jadi dia tidak terlalu merasa kedinginan.
Mereka terus berjalan berdampingan dengan langkah yang santai. Mereka sudah berada di tengah keramaian.
" Ada apa di sana?" tanya Raihan menunjuk di sebrang jalan. Melihat gerbang keramaian dengan pintu gerbang balon dan ada 2 badut menari.
Dimana orang-orang banyak berkunjung memasuki tempat keramaian itu. Dari luar terlihat indah. Banyak hiasan lampu yang kelap-kelip.
" Memang kamu tidak liat di atasnya. Bazar makanan. Vestifal malam," jawab Nayra mengeja tulisan besar yang berada di spanduk.
" Kamu mau kesana?" tawar Raihan.
" Boleh," jawab Nayra tanpa menolak.
Raihan tersenyum, meraih tangan Nayra menggenggamnya. Merekapun menyebrang jalan yang di arahkan oleh Raihan dengan bantuan 1 tangannya agar kendaraan yang lewat tidak terlalu kencang.
Mereka ber-2 memasuki tempat itu. Saat memasuki. Sang badut memberi Nayra setangkai mawar merah.
" Makasih," ujar Nayra dengan senyum lebarnya.
Nayra dan Raihan berjalan memasuki tempat tersebut. Melihat-lihat suasana keramaian. Ternyata bukan hanya bazar makanan. Banyak para pedagang yang menjual lainnya.
Tetapi aroma yang paling kuat adalah aroma makanan dengan berbagai jenis jajanan gerobakan. Aromanya sampai mengalahkan farfum Raihan.
Banyak pasangan yang mengunjungi tempat itu. Para anak remaja, anak muda dan juga beberapa keluarga yang memang khusus datang untuk menikmati jenis jajanan yang mengunggah serela.
" Hahh, kenapa dia harus memberiku mawar, kenapa tidak bunga liliy," protes Nayra ketika mendapat mawar dari badut tersebut.
" Terima saja, sudah syukur dia memberimu, lihatlah, banyak yang lewat tapi tidak diberinya," ujar Raihan kembali menoleh kebelakang melihat ke arah gerbang masuk yang juga di lihat oleh Nayra juga.
" Iya sih, sudahlah," sahut Nayra tampak tidak semangat.
" Sudah nanti aku memberimu, Liliy yang banyak," ujar Raihan langsung menawarkan. Nayra tersenyum tipis mendengarnya.
" Ayo," Raihan menggerakkan matanya mengisyaratkan untuk kembali berjalan.
Nayra mengangguk. Mereka kembali berjalan bersama, melihat-lihat di sekeliling mereka.
__ADS_1
" Apa setiap malam seramai ini?" tanya Raihan menoleh ke arah Nayra.
" Tidak hanya sebulan sekali," jawab Nayra.
" Kamu pernah kemari, sampai tau jadwalnya?" tanya Raihan.
" Tidak juga. Aku hanya sering lewat saja. Tidak pernah masuk. Ternyata seramai ini jika di dalam, mungkin karena malam Minggu," jawab Nayra sambil melihat-lihat di sekelilingnya.
" Malam Minggu," sahut Raihan.
" Hmmm, kalau malam Minggu pasti banyak berkunjung, karena banyak yang pacaran," ujar Nayra. Mendengarnya Raihan mendengus tersenyum miring.
" Berarti kita juga," ujar Raihan. Nayra mendengarnya menghentikan langkahnya. Melihat ke arah Raihan. Raihan. Raihan melihatnya menaikkan 1 alisnya.
" Tidak tau," jawab Nayra ketus. Kembali berjalan. Raihan geleng-geleng modusnya gagal lagi.
" Kita kesana," tunjuk Nayra pada pedagang sendal. Tanpa Raihan mengangguk Nayra sudah langsung berjalan cepat. Raihan mengikuti saja di belakangnya.
" Aku ingin membeli sendal, kaki ku sakit pakai heels," keluh Nayra yang sudah melihat-lihat model sendal. Raihan hanya mengangguk dan membantu Nayra memilihkannya.
" pakai ini" ujar Raihan memberikan sendal karet berwarna biru mudah
" Boleh juga," sahut Nayra yang setuju.
Raihan yang mendapat persetujuan itu berjongkok di depan Nayra. Nayra kaget dengan apa yang di lakukan Raihan.
" Raihan kenapa seperti ini, aku tidak enak di lihati orang," ujar Nayra merasa risih.
Raihan tidak peduli, dia membuka heels Nayra dengan perlahan dan langsung memasangkan sendal pilihannya ke kaki Nayra.
Nayra memegang pundak Raihan agar dirinya tidak jatuh. Orang-orang yang berjalan melewati Meraka, sangat iri dengan Nayra yang di perlakukan sangat romantis oleh Raihan.
Raihan mendongakkan kepalanya keatas tersenyum lebar melihat Nayra. Lalu dia kembali berdiri.
" Berapa pak," tanya Raihan pada pedagang tersebut.
" 55 mas," jawab pedagang.
Raihan mengeluarkan dompetnya dari dalam sakunya dan mengeluarkan uangnya 100 ribu. Lalu langsung memberinya kepada pedagang tersebut.
" Ambil aja kembaliannya," ujar Raihan.
" Makasih mas," sahut pedagang.
" Ayo," ajak Raihan.
Nayra mengangguk. Raihan dan Nayra kembali berjalan. Raihan memegang kantung plastik yang berisi heel Nayra. Karena tidak memakai heels. Nayra jadi sangat pendek berdampingan dengan Raihan. Hanya sebahunya saja.
Nayra berhenti di tempat aksesoris dan mulai melihat-lihat lucunya berbagai macam aksesoris .
" Cari apa?" tanya Raihan berdiri di belakangnya.
" Aku ingin mencari mainan untuk Rara," jawab Nayra. Raihan hanya mengangguk dan ikut melihat-lihat.
" Bagaimana ini lucu?" tanya Nayra menemukan kalung leher untuk hewan. Raihan mengangguk. Nayra pun langsung membelinya dan pasti Raihan yang membayarnya.
" Memang tidak akan berisik jika Rara memakainya?" tanya Raihan yang sudah berjalan kembali bersama Nayra.
" Kalau berisik justru bagus, jadi aku selalu tau dia berada di mana?" jawab Nayra. Raihan hanya mengangguk terserah.
__ADS_1
" Raihan lihat itu," tunjuk Nayra. Bola mata Raihan mengikuti arah yang ditunjuk pada Nayra gerobak yang tertulis mie kocok.
" Makanan kita," ujar Nayra dengan senyum lebar di wajahnya. Raihan mendengus melihatnya.
" Kamu mau?" tanya Raihan. Nayra langsung mengangguk cepat. Raihan pun membawa Nayra ke tempat itu.
Raihan dan Nayra sekarang sudah duduk di bangku dengan berhadapan. Mereka hanya memesan 1piring. Nayra sudah mulai memakannya.
1 tangannya memegang piring dan satu lagi di gunakan untuk makan. Dengan kakinya yang bersilang.
Sesekali Nayra menyuapkan Raihan makanan itu. Raihan dengan senang hati menerimanya.
" Pelan-pelan makannya," ujar Raihan. Nayra hanya mengangguk dan menikmati kembali makanan itu.
" Dulu, kalau kamu menjemputku pulang sekolah. Kita akan mampir ke warung Pak Ratno untuk makan ini. Sekarang warungnya masih buka tidak ya," ujar Nayra mengingat masa sekolahnya.
" Kamu tidak pernah ke sana?" tanya Raihan.
" Tidak, setelah putus dari mu. Jangankan untuk kesana. Aku bahkan tidak pernah memakan ini," sahut Nayra dengan wajah lesuh.
" Kenapa? apa itu membuatmu teringat dengan ku," tebak Raihan.
" Bisa jadi," jawab Nayra apa adanya.
" Kau menyesal putus denganku?" tanya Raihan. Nayra langsung melihat Raihan. Nayra menatap sebentar dan kembali mengalihkan pandangannya pada makanan.
" Tidak," jawab Nayra.
" Tapi itu bukan keinginanmu kan?" tanya Nayra lagi.
" Hmmm, tapi itu untuk kebaikanmu dan juga aku," jawab Nayra menunduk mengaduk-aduk makanan.
" Maafkan aku Nara. Seharusnya aku menyadari semua dari dulu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya kamu. Ketika harus menuruti kemauan mama," batin Raihan yang di penuhi rasa bersalah.
" Nih makan lagi," ujar Nayra menyuapi Raihan lagi. Dia mencoba mengalihkan masa terburuk itu. Raihan pun kembali membuka mulutnya.
" Aku tidak menyangka kalau kau masih mengingat dengan makanan yang sering kita makan dulu," sahut Raihan mengunyah makanannya.
" Tidak mungkin aku melupakannya," jawab Nayra dengan santai. Raihan tersenyum mendengar ucapan Nayra.
Mereka kembali menikmati makanan itu. Layaknya seperti pasangan kekasih. Bagi Raihan ini yang paling sulit untuknya untuk mendapatkan hati Nayra kembali. Di bandingkan sewaktu dia pdkt dengan Nayra dulu.
Setelah mereka menikmati mie kocok yang penuh sejarah itu. Nayra dan Raihan sudah berdiri. Didepan penjual jenis sate-sate an. Nayra sudah memilih yang ingin di belinya.
Sementara Raihan hanya berdiri di belakangnya.
" Terima kasih," ujar Nayra saat sang penjual memberikan makanan itu kepadanya. Nayra pun langsung memakannya. Menarik sate itu dari tusukannya.
" Mau?" tanya Nayra menyodorkan kemulut Raihan. Raihan membuka mulutnya dan memakannya.
" Enak?" tanya Nayra.
" Hmmm, lumayan, untuk harga segitu bisalah," jawab Raihan.
" Ini bukan lumayan. Tapi memang enak," sahut Nayra terus memakannya. Sudah banyak sekali jenis makanan yang di beli Raihan dan Nayra. Meski Raihan anak sultan.
Jangan salah Raihan tidak pernah pilih-pilih makanan. Mau dipinggiran atau seperti apapun baginya sama saja. Yang penting bersih. Bukan karena dia pacaran dengan Nayra. Tetapi itu sudah sejak dulu sebelum bertemu dengan Nayra.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1