
Nayra melihat ke arah Raihan menatapnya sinis. Lalu Nayra berjongkok dan merebahkan koper yang di bawanya di lantai.
Nayra membuka resnya. Angga, Kayla, Addrian, dan Raina yang penasaran dengan apa isi koper tersebut. Langsung menghampiri Nayra.
Nayra membuka kopernya. Membuat mata semua orang yang melihatnya melotot lebar. Melihat tumpukan uang. Raina menutup mulutnya, tidak mengerti kenapa Nayra membawa uang sebanyak itu.
" Apa maksudnya ini?" tanya Zira.
" Uang apa itu Nayra?" tanya Addrian. Nayra kembali berdiri.
" Ini uang pemberian Raihan. Bayaran atas diriku," jawab Nayra.
" Raihan," ujar Zira menatap Raihan tajam.
" Itu tidak benar ma," jawab Raihan mencoba mengelak.
" Ini bukti pencairannya," ujar Nayra memberikan pada Zira.
Zira langsung mengambilnya dan melihat jika uang itu adalah hasil dari cek. Yang atas nama Raihan.
" Setelah apa yang di lakukan Raihan kepadaku. Dia membayar ku dengan uang itu," ujar Nayra lagi. Raihan langsung mendapat tatapan horor dari semuanya.
" Ini, surat yang di berikannya saat malam ulang tahunnya. Dia menginap di Apartemenku. Dia memberiku cek setelah ingin mengakhiri permainannya," Nayra memberi surat itu pada Zira kembali mengambilnya.
" Aku rasa itu cukup sebagai ganti rugi karena aku menyentuhmu, pergilah dari hidupku. Jangan ganggu keluargaku,"
Zira kembali menatap Raihan dengan tajam. Sura itu juga di ambil Raina dan membacanya. Lalu bergilir pada yang lainnya.
" Maafkan Nayra Tante. Nayra memang bodoh, Nayra melakukan itu. Karena Nayra pikir Raihan tulus kepada Nayra. Ternyata Nayra salah. Raihan hanya mempermainkan Nayra," ujar Nayra lagi.
Raihan mengepal tangannya. Dia tidak pernah berpikir Nayra bisa memikirkan hal ini.
" Apa yang kau lakukan Nara? tarik semua kata-kata mu," ujar Raihan mencengkram tangan Nayra, menatapnya seperti monster.
" Aku yang bertanya. Kenapa kau tega melakukan semua ini. Hanya karena rasa sakit hatimu. Kau menghancurkan hidupku dan juga merenggut kesucianku," ujar Nayra terus menatap Raihan.
" Aku tidak melakukannya, dan kau tau itu. Apa kau lupa ingatan jika malam itu kau menolaknya," ujar Raihan menekan suaranya.
" Tidak, kau bilang tidak. Jika foto dan gubuk itu tidak bisa mengingat otakmu. Bagaimana dengan malam ulang tahunmu, Apartemen ku. Kamarku dan ranjangku. Apa yang kau lakukan," ujar Nayra lagi.
Raihan mendengus, geleng-geleng. Dia tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Nayra hari ini.
" Nara," teriak Raihan.
__ADS_1
Addrian mendengar teriakan Raihan. Langsung menarik tangan Raihan dan menampar Raihan. Lebih keras dari pada Zira.
Raina menutup ke-2 mulutnya melihat papanya menampar Raihan. Sementara Nayra menelan salavinanya, saat Raihan yang tertampar di hadapannya.
" Anak kurang ajar," bentak Addrian.
Raihan dengan wajahnya yang merah. Memegang pipinya. Tidak habis pikir akan mendapat tamparan lagi. Zira memijat pelepisnya. Kakinya mulai kebas.
" Ma," ujar Raina yang langsung merangkul mamanya yang ingin jatuh.
" Zira kamu tidak apa-apa?" tanya Kayla yang mulai panik membantu Raina menahan tubuh Zira. Sementara Nayra hanya melihat dan tidak tega. Pasti Zira kecewa dengan apa yang di lakukan
" Apa yang kamu lakukan Raihan," ujar Zira meneteskan air mata, bertanya dengan sesak.
" Ma,"
" keterlaluan kamu. Apa kamu pikir ini Luar Negri. Apa kamu pikir semua ini suatu kebanggaan. Apa kamu puas Raihan. Apa kamu tidak bisa mencari wanita lain selain Nayra hah!" teriak Zira mencengkram kemeja Raihan.
Raihan hanya diam, dengan matanya yang memerah. Namun sedikit berair. Tangisan mamanya adalah kelemahannya.
" Apa tidak bisa Raihan jika tidak menyentuhnya hah!, di mana otak kamu hah!, kamu memainkan ego kamu, balas dendam murahan kamu. Sampai harus merusak dirinya," teriak Zira tepat di wajah Raihan.
" Apa kamu tidak memikirkan mama hah! mama yang bertanggung jawab atas kehidupan Nayra, kamu tau itu. Dan sekarang. Perbuatan kamu. Bisa ya kamu merencanakan semua ini, di mana otak kamu, apa kamu gila," Zira terus berteriak meluapkan amarahnya
" Raina bawa mama kamu ke atas!" ujar Addrian.
" Iya Pa," sahut Raina langsung membawa mamanya ke atas. Sementara Raihan hanya menunduk, dia sudah tidak bisa berbicara sama sekali.
Sementara Nayra langsung mengusap air matanya. Memang apa yang di lakukannya pasti membuat Zira shock. Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Dia ingin Raihan menerima akibat dari apa yang di lakukannya.
" Raihan papa benar-benar kecewa sama kamu. Perbuatan kamu tidak bisa di ampuni," desis Addrian lalu pergi.
" Ayo Angga kita pulang," ajak Kayla menarik tangan Angga.
Sebelum pulang Angga melihat ke arah Raihan. Raihan hanya menatapnya dengan sinis. Angga berpaling menatap Nayra. Nayra hanya menunduk.
Lalu Angga melanjutkan langkahnya dengan penuh kekecewaan dan harapan yang kembali putus. Sekarang ada Nayra dan Raihan saja. Dan tumpukan uang yang di koper gersebut.
Nayra bernapas lega. lalu melangkahkan kakinya. Namun langkahnya terhenti, saat tangannya di cengkram. Nayra membalikkan tangannya dan melihat Raihan mencengkram kuat pergelangan tangannya. Menatapnya dengan horor. Ingin menerkam Nayra saat itu juga.
" Kapan aku menyentuhmu?" tanya Raihan dengan dingin.
" Kau yang mengatakannya bukan aku," sahut Nayra tidak kalah dinginnya.
__ADS_1
" Apa kau puas melakukannya?" tanya Raihan.
" Aku rasa sudah," jawab Nayra dengan enteng.
" Kau pikir, setelah kau melakukan semua ini. Kau bisa lolos. Kau tidak tau apa yang kau lakukan barusan hanya membuatmu terikat kepadaku," ujar Raihan dengan santai. Nayra tersenyum penuh arti.
" Aku tidak peduli," ujar Nayra melepas cengkramannya lengannya dari Raihan. Lalu pergi meninggalkan Raihan.
Disisi lain, ternyata Carey mendengar semuanya. Semua yang di katakan Nayra telah di dengarnya.
Air matanya jatuh saat mengetahui hal itu. Dadanya terasa sesak saat mengetahui kebenaran itu.
Harapannya seketika hancur saat. Jika Raihan orang yang di sukainya selama ini pasti tidak akan bisa di milikinya.
Carey juga awalnya tau bagaimana Zira dan keluarganya sangat menyayangi Nayra. Dan sepertinya Carey sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Carey pun dengan kepedihan lukanya, pergi dari rumah Raihan.
Sementara Raihan mengacak rambutnya frustasi.
" Nara," teriaknya dengan keras. Dia tidak habis pikir jika Nayra bisa melakukan hal itu.
Dengan langkah yang tidak bersemangat Nayra berjalan di pinggir jalan tidak jauh dari rumah Raihan. Langkah kaki Nayra terhenti ketika melihat wanita di hadapannya.
Carey, Carey menatapnya dengan sinis. Ke-2 wanita itu saling menatap cukup lama.
" Dia, ngapain lagi dia," batin Nayra yang membuatnya semakin kesal.
" Apa kau bahagia?" tanya Carey dengan sinis menyilangkan ke-2 tangannya di dadanya. Dia hanya berpura-pura tegar untuk menutupi kehancuran hatinya.
" Menurutmu," jawab Nayra tersenyum miring. Lalu pergi melewati Carey. Tetapi Carey menahan tangannya, sehingga mereka sudah sejajar. Namun berlawan arah.
" Kau menggodanya?" tanya Carey. Nayra menoleh kesamping melihat ke arah Carey dan kembali mengukir senyum tipis.
" Kenapa? apa selama tinggal bersamamu, kau tidak berhasil menggodanya. Sehingga dia tidak menyentuhmu," ujar Nayra sinis.
" Kau," desis Carey. Nayra melepaskan tangannya dari Carey.
" Jangan menggangguku," ujar Nayra pamit dan melanjutkan langkahnya.
Carey mengepal tangannya. Tidak menyangka lagi dan lagi Nayra sangat berani kepadanya. Nayra selalu menang darinya.
" Kau pikir kau siapa," teriak Carey dengan keras.
__ADS_1
...Bersambung..........