
Sudah hampir 5 menit dan Della masih memperhatikan 2 orang itu yabg terus berbicara. Dia pasti penasaran apa yang di bicarakan 2 orang itu.
" Apa yang mereka bicarakan kenapa lama sekali," batin Della yang melihat Karen mengulurkan tangannya yang sepertinya ingin berjabat tangan.
" Selamat untuk pernikahan mu, aku doakan kamu dan Della selalu bahagia," ucap Karen. Angga masih tidak menjabat tangan itu. Tetapi akhirnya Angga menyambut uluran tangan itu dan bersalaman dengan Karen.
" Iya, terima kasih," sahut Angga.
" Angga, aku tau kita tidak bisa menjadi sahabat sekalipun. Tapi izinkan aku untuk memelukmu sekali ini saja," sahut Karen.
" Maaf Karen aku rasa itu tidak perlu," sahut Angga yang langsung menolak.
" Hanya sekali saja Angga apa yang salah. Aku hanya ingin benar-benar melepasmu tanpa ada rasa di hatiku yang tersisa untukmu, aku tidak bermaksud apa-apa. Bukannya tadi kita sudah saling memaafkan yang mempertanyakan tidak ada hubungan di antara kita berdua. Jadi izinkan aku memelukmu sekali saja," sahut Karen menjelaskan.
Angga menoleh kearah Della. Dia memang tidak mungkin memeluk Karen. Karena dia akan menikah dengan Della dan harus memikirkan perasaan Della yang juga tidak ingin membuat kesalah pahaman terjadi.
Angga terus melihat Della sampai akhirnya Angga tidak sadar jika Karen sudah memeluknya dan membuat Angga kaget dan ingin melepas. Namun di tahan Karen.
" Sebentar saja Angga," ujar Karen sedikit memaksa. Dan Angga pun tampaknya ingin cepat-cepat selesai dari Karen dan memilih untuk mengalah.
Della melihatnya jelas kaget dan ada sedikit-sedikit bumbu-bumbu cemburu. Tetapi mata Della yang terus melihat Angga dan Karen yang berpelukan di fokuskan pada sesuatu di mana mata Della melihat tangan Karen yang mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang tak lain benda tajam berupa pisau.
Hal itu membuat Della kaget dengan Karen yang ternyata mempunyai maksud lain. Tanpa Angga sadari wanita yang memeluknya itu ternyata tangannya sedang bekerja.
" Angga, jika aku tidak bisa memiliki bahkan orang lain juga tidak akan bisa," ujar Karen tersenyum sinis dengan memegang pisau kuat membuat Angga heran dengan mendengar kata-kata itu.
__ADS_1
" Apa maksudmu?" tanya Angga ingin melepas pelukannya.
Syukkk.
Belum sempat melepas pelukan itu Karen langsung menusuk perut Angga membuat mata Angga melotot. Dan Della diujung sana menyaksikan hal itu juga ikut kaget.
" Angga!" lirih Della dengan menutup mulutnya melihat Angga tertusuk. Dengan matanya yang melotot hampir bola mata itu ingin keluar.
" Karen apa yang kau lakukan!" tanya Angga masih schock dipelukan Karen dan Karen menarik pisau yang sudah tertancap itu.
" Aakkkk," suara kesakitan Angga terdengar dengan darah keluar dari mulutnya
" Kau harus mati," ujar Karen kembali menusuk lagi dan menarik lagi lalu melepas Angga dari pelukannya dan Angga tergeletak di tanah dan Della di ujung sana semakin schok saat melihat perut Angga mengalir darah yang banyak.
" Kau memang harus mati Angga. Tidak ada yang bisa memilikimu," ujar Karen tersenyum miring dan Angga menahan sakit yang tergeletak dengan melihat wajah Karen yang sudah menusuknya.
" Angga!" teriak Della lagi yang tidak bisa melakukan apa-apa. Della pun mendorong kursi rodanya sendiri menghampiri Angga dengan buru-buru.
Saat hampir sampai Della pun tersandung sehingga kursi rodanya jatuh dan membuat Della ikut jatuh. Mungkin karena Della terlalu buru-buru.
" Angga!" lirih Della yang sudah menangis yang terduduk di tanah dan tidak ada satu orang pun di sana. Della sekuat tenaganya mengesot agar sampai kepada pria yang sudah kritis itu yang napasnya tinggal satu-satu yang terus memegang perutnya yang berkekuatan darah.
" Angga! tolong! tolong!" teriak Della yang terus mengesot sampai kedekat Angga dan usahanya berhasil yang sudah berada di samping pria itu yang Angga masih terbuka matanya.
" Angga bertahan lah, Angga!" ujar Della panik meletakkan kepala Pria itu di atas pahanya. Della memegang pipi Angga dan juga perut Angga yang berkeliaran darah. Della hanya menahan perut itu agar tidak keluar darah.
__ADS_1
" Angga bertahanlah! Angga aku mohon jangan pergi! Angga! tolong, tolong! tolong!" teriak Della yang terus meminta tolong degan suaranya yang serak.
Tete air mata menetes dari pelupuk mata Angga yang mungkin menahan sakit akibat tusukan itu. Tangan Angga bergerak memegang pipi Della yang basah dengan air mata.
" Aku mencintaimu Della. Aku tidak tau jika pada akhirnya aku tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak bisa menjagamu dan juga menjadi suamimu. Maafkan aku Della. Aku tidak bisa menepati janjiku," ujar Angga dengan berbicara terbata-bata.
" Apa yang kamu katakan. Kamu akan tetap hidup. Kamu tidak akan kenapa-kenapa. Jangan banyak bicara kamu akan tetap bersamaku," ujar Della yang kepanikan yang terus menangis dengan wajahnya yang juga ketakutan. Tetapi Angga tersenyum.
" Della aku sangat mencintaimu aku ingin mendengar kamu juga mengatakan cinta kepadaku. Sebelum aku pergi," ujar Angga yang terus menahan sakit.
" Kamu jangan bicara seperti itu kamu akan tetap hidup kamu tidak bisa pergi begitu saja. Kamu sudah berjanji akan menikahiku. Kamu sudah berjanji akan menjagaku. Akan sangat membencimu jika kamu tidak menepati janjimu. Aku tidak mau Angga harus kehilangan kamu berkali-kali. Kamu tau Angga aku mencintaimu. Kamu tau perasaanku dari dulu tidak pernah berubah. Jadi aku mohon jangan menyiksaku. Kamu harus tetap bertahan. Aku sangat mencintaimu," ujar Della dengan mengeluarkan semua perasaannya dan mendengarnya Angga tersenyum dengan memegang pipi Della yang juga penuh darah karena tangan Angga yang juga berdarah.
" Aku sangat bahagia mendengarnya. Terima kasih Della untuk cinta kamu. Aku adalah laki-laki yang paling beruntung yang mendapatkan cinta dari wanita yabg sangat tulus seperti kamu. Terima kasih Della untuk semuanya. Aku sangat mencintaimu," ujar Angga yang tersenyum.
" Maafkan aku tidak bisa menepati janjiku. Aku berharap kita bisa bertemu di kehidupan berikutnya. Aku mencintaimu," ujar Angga yang perlahan tangannya jatuh dari pipi Della dan mata Angga perlahan tertutup.
Membuat Della melotot melihat Angga yang sudah tidak sadarkan diri
" Angga! Angga!" panggil Della dengan suara seraknya yang memegang- megang pipi Angga dan darah sudah keluar dari mulut Angga.
" Angga bangun! Angga bangun, bangun Angga! bangun! kamu sudah berjanji kepadaku untuk ada bersamaku. Bangun Angga jangan tinggalkan aku,"ujar Della yang berusaha membangunkan Angga. Tetapi Angga tidak terbangun.
" Angga jangan tinggalkan aku. Aku mohon Angga. Jangan tidak tinggalkan kau Angga. Aku mohon Angga. Aku mencintaimu. Kasih aku kesempatan aku mohon Angga, tetaplah hidup untukku. Aku mohon Angga tetaplah hidup di sisiku," ujar Della yang terus membangunkan dengan tangisannya membasahi pipinya dan baju juga wajahnya yang ternoda dengan darah dari Angga.
" Tolong! tolong!" teriak Della yang memanggil orang di tempat yang sepi itu. Della mengais memeluk Angga yang sama sekali tidak sadarkan diri. Berteriak meminta tolong tetapi tidak kunjung ada yang datang untuk menolong Angga.
__ADS_1
Tempat yang sepi itu membuat tidak satu orangpun mendengar teriakan Della yang semakin memelan karena suara Della yang sudah habis.
Bersambung.