
Zira yang berdiri di pinggir jendela. Menatap langit yang gelap. Air matanya masih menetes. Tidak percaya Raihan akan melakukan itu pada Nayra. Dia begitu schok mendengar pengakuan dari Nayra.
" Kenapa apa yang kurasakan dulu. Terjadi pada Nayra. Semua tidak akan terjadi. Jika aku tidak masuk ke dalam hubungan mereka. Raihan melakukan semua itu. Karena menganggap Nayra salah. Cintanya terlalu besar pada Nayra. Sehingga membuatnya sakit hati. Tetapi dia tidak tau, jika apa yang di lakukannya. hanya akan melukai dia dan Nayra. Semua ini salahku, aku yang harus bertanggung jawab untuk semua ini," batin Zira yang menyesali semuanya.
Sementara di sisi lain Addrian berdiri pinggir kolam renang. Beberapa kali dia mengusap wajahnya kasar. Menarik napasnya panjang dan membuang perlahan.
" Raihan kamu hanya akan menyesal. Saat menghancurkan hidup seseorang. Karena sebuah dendam. Seharusnya kamu berfikir, sebelum melakukannya. Kenapa kamu tidak bisa belajar dari semua kesalahan kamu Raihan," batin Addrian.
" Pa," tegur Raina yang sudah berada di belakang Addrian.
" Raina," ujar Addrian.
" Papa oke?" tanya Raina. Addrian mengangguk tersenyum dan memeluk Raina.
" Papa baik-baik saja, bagaimana mamamu?" tanya Addrian.
" Mama sudah istirahat," jawab Raina.
" Syukurlah kalau begitu," ujar Addrian.
" Papa jangan banyak pikiran ya. Raina yakin semua masalah ini akan selesai," ujar Raina mengangkat kepalanya dan melihat papanya.
" Iya sayang. Terima kasih sudah khawatir pada papa," jawab Addrian. Raina mengangguk dan kembali memeluk papanya.
" Aku hanya menyayangkan perbuatan Raihan. Apa yang aku lakukan dulu. Telah di lakukannya," batin Addrian tetap merasa khawatir.
***********
Nayra duduk di bawah ranjangnya memeluk lututnya. Air matanya kembali jatuh, saat mengingat ke jadian di rumah Raihan. Dia tidak ada maksud untuk membuat kekacauan di rumah Raihan.
Dia sangat menyesal melakukannya. Kemarahannya pada Raihan. Membuat Nayra menyakiti wanita yang selalu merawatnya dengan baik. Dia bisa melihat kekecewaan Zira.
" Maafin Nayra Tante. Nayra hanya lelah. Nayra tidak tau bagaimana menghadapi Raihan. Nayra tau apa yang Nayra lakukan membuat Tante kecewa. Maafin Nayra, maaf Tante," gumamnya menyesali semua yang terjadi.
" Nara buka pintunya," teriak Raihan dari luar Apartemennya. Nayra tersentak kaget mendengar suara teriakan itu.
" Raihan, itu suara Raihan, ngapain dia kemari?" tanya bingung dan langsung ke luar dari kamarnya.
Nayra melihat dari layar monitor. Raihan yang datang dengan penuh amarah. Raihan memang tidak akan bisa masuk. Karena Nayra mengganti sandi Apartemennya.
" Nara buka, kita harus bicara," teriak Raihan mengedor-gedor. Nayra hanya diam tanpa bergerak
" Sial," desis Raihan yang kesal, " apa mau kamu Nara," gumamnya dengan suara serak.
__ADS_1
Raihan langsung terduduk lemas di pintu Apartment Nayra. Menyandarkan tubuhnya. Mengacak rambutnya frustasi.
" Kenapa kamu melakukan ini Nara," desisnya mengusap kasar wajahnya.
Nayra melihat dari monitornya. Bagaimana Raihan yang sudah terduduk lemas. Wajah Nayra begitu sendu. Terlihat tidak tega melihat keadaan Raihan yang hancur kembali.
Nayra memegang gagang pintu, dan bersandar di pintu. Perlahan dia juga terduduk lemah di lantai memeluk lutunya, menundukkan kepalanya dan ikut kembali menangis.
********
Raihan berdiri di depan kamar Zira. Raihan melihat Zira yang menangis duduk di pinggir ranjang. Raihan merasa iba dengan mamanya. Dia menyesali dengan apa yang terjadi.
Dengan langkah perlahan Raihan memasuki kamar mamanya.
" Berdirilah di situ," ujar Zira mengangkat tangannya yang tidak ingin Raihan mendekatinya.
" Ma,"
" Keluar atau tetap di situ," tegas Zira membuat pilihan yang tidak di inginkannya.
" Raihan tidak melakukan itu pada Nara ma," ujar Raihan yang mencoba meyakinkan mamanya.
" Jangan berbohong terus," ujar Zira.
" Raihan tidak berbohong. Raihan memang bejat. Tapi Raihan tidak melakukan itu pada Nara. Mama harus percaya pada Raihan. Jika Raihan tidak pernah melakukan hubungan itu kepadanya," jelas Raihan terus meyakinkan Zira.
" Raihan memang dendam pada Nara. Tapi mama harus tau. Raihan punya batasan. Jika Raihan mau. Raihan bisa melakukannya. Tetapi Raihan masih menghormatinya," ujar Raihan menekan suaranya.
" Jika mama masih tidak percaya dengan apa yang Raihan katakan. Raihan akan membuktikannya. Jika Raihan tidak salah," ujar Raihan dengan tegas lalu keluar dari kamar mamanya.
**********
Nara berdiri di depan cermin. Pagi ini dia sudah terlihat rapi. Dengan Kemeja putih dan celana jeans sobek biru akunya. Nayra menggerai rambutnya.
Nayra Melihat buku tabungannya. Tabungannya yang tidak seberapa dan memang itu lah satu-satunya miliknya. Cukup lama dia melihat buku tabungan itu. Mungkin berharap angkanya akan bertambah.
Nayra menarik napasnya, menghembusnya perlahan memasukkan buku tabungannya ke tasnya. Matanya berpindah ke meja riasnya, Nayra mengambil paspor dan tiket yang terselip di dalam paspor tersebut.
Tiket tujuan Cappadocia Turki. Nayra kembali menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Antara yakin dan tidak Nayra kembali memasukkan paspor itu ke tasnya.
Nayra merapikan dirinya sebentar Dan beralih dari depan cermin. Menyeret 1 kopernya. Yang berisi pakaian yang sudah di siapkannya tadi malam.
Dengan langkah santai, Nayra keluar dari kamarnya dengan 1 koper tersebut. Pesawatnya akan terbang 1 jam lagi. Jadi dia tidak punya waktu untuk banyak berpikir.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju bandara. Nayra hanya melamun di dalam Taxi. Jendela taxi yang dibuka membuat tiupan angin masuk. Dan membuat rambut Nayra menari-nari.
Taxi yang di tumpangannya berhenti di lampu merah. Nayra kembali ke masa lalu saat melihat pertama kali dia dan Raihan bertemu.
Wajahnya terlihat sangat sendu. Terlihat kesedihan di dalam wajahnya. Hatinya yang sangat berat. Tetapi dia harus pergi. Dia tidak ingin tetap berada di antara luka yang semakin sakit.
Dia butuh ketenangan, kedamaian untuk mengerti semua ini. Perjalanan tidak terlalu jauh sampai dia sudah tiba di Bandara. Nayra melakukan pengecekan tiket dan proses lainnya.
Setelah urusannya selesai. Nayra menuju pesawat yang akan membawanya ke Cappadocia Turki.
Nayra sudah berada di dalam Pesawat. Kepalanya menyender ke jendela pesawat. Melihat awan putih yang menggelembung.
Tidak ada kebahagian di wajahnya. Hanya wajah lelah yang menjadi eksperesi utamanya.
Nayra membuka ponselnya. Menscroll beberapa foto dia dan Raihan.
Foto itu masih tersimpan di galeri ponselnya. Foto dengan kebahagiannya pada Raihan dulu. Di mana dia merasa wanita sangat bahagia saat bersama Raihan.
Dia harus mengakui Raihan adalah satu-satunya pria yang memberinya kebahagian. Tetapi dia juga harus sadar jika Raihan juga adalah pria yang memberinya luka yang sangat dalam.
1 butir tetes air mata jatuh keluar dari pelupuk matanya. Butir air mata yang membasahi foto dia dan Raihan.
Nayra memegang dadanya yang terasa sesak. Dia sangat tau suatu hari nanti hal ini akan terjadi padanya. Terkadang dia harus menyadari jika dia memang tidak di takdirkan untuk bersama.
..." Nara aku mencintaimu,"...
..." Kak Raihan aku juga mencintaimu,"...
Pasangan itu berteriak dengan keras mengucapkan cinta di atas gunung. Keduanya saling melihat dan berpelukan erat. Pelukan seperti tidak ingin di pisahkan.
**********
Raihan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Raihan memijat kepalanya yang terasa sakit. Ternyata apa yang di lakukannya kepada Nayra semakin memperkeruh suasana.
Raihan menoleh ke arah meja kerja Nayra yang terlihat kosong.
" Kemana dia? Setelah membuat Drama di rumahku, sekarang tidak datang. Apa ini kantornya seenaknya tidak masuk kerja," desis Raihan semakin steres.
Karena melihat Nayra yang tidak masuk kerja. Raihan tidak tau saja kalau Nayra sudah pergi ke Turki. Cappodica its my dream.
" Aku harus mencari tau. Siapa sebenarnya orang yang sudah mengambil. Foto-foto ku dan Nara.
Jika memang bukan mama yang melakukannya. Pasti itu orang terdekat," gumamnya berpikir jernih.
__ADS_1
" Aku harus membuktikan sama mama. Jika aku memang tidak pernah menyentuh Nara sedikitpun," ujar Addrian mengepal tangannya.
...Bersambung.........