Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 347


__ADS_3

Ketika suaminya pulang Nayra langsung minta di temani untuk cek kandungannya. Karena dia sebentar lagi akan lahiran. Memang dia sering cek kandungan. Tetapi kali ini pasti terasa sangat berbeda. Karena sang suami kembali bersamanya dan mengantarkannya untuk melihat bayi mereka.


Mereka hari ini di antar supir. Nayra agak bawel dan merasa suaminya masih belum sehat. Jadi dia tidak ingin suaminya menyetir dan mereka pun memakai supir.


Nayra dan Raihan duduk di bagian kursi belakang. Sedari tadi Nayra terus memeluk lengan Raihan. Nayra juga menempelkan kepalanya di bahu suaminya. Dia sudah lama tidak bermanja pada suaminya. Raihan juga merangkul sang istri dan sekali-kali mencium pucuk kepala istrinya.


" Selama aku tidak ada siapa yang menemani kamu untuk cek kandungan?" tanya Raihan.


" Banyak, siapa aja akan menemani ku. Mereka semua baik-baik bahkan rebutan untuk menemaniku. Mereka juga selalu mengingatkan ku dalam segala hal. Jadi aku tidak pernah merasa kesepian," jawab Nayra memang apa adanya. Nayra mengangkat kepalanya dan melihat suaminya.


" Aku sangat bahagia hari ini. Aku masih tidak percaya akan bisa memelukmu seperti ini," ujar Nayra yang menatap dalam suaminya. Raihan tersenyum dan menundukkan kepalanya mencium sekilas bibir istrinya.


" Aku juga sangat bahagia dan juga tidak percaya. Jika akan bisa kembali bersamamu," jawab Raihan. Nayra tersenyum dan mencium pipi Raihan.


" I love you," ujar Nayra.


" I love you to," jawab Raihan dan kembali mencium pucuk kepala istrinya.


***********


Di tempat yang bersamaan ternyata Vira dan Dara juga memeriksakan kandungan Vira. Mereka duduk di kursi tunggu untuk menunggu giliran yang akan masuk kedalam.


" Di mana Sony. Kenapa dia tidak datang juga, apa dia tidak jadi datang," batin Dara yang terlihat gelisah dan kepalanya terus berkeliling mencari-cari Sony.


" Dara kamu kenapa sih, kamu kok jadi kayak orang resah gitu," ujar Vira yang menyadari keresahan Dara.


" Bagaimana tidak resah. Sedari tadi Sony tidak kunjung datang juga kan aneh," jawab Dara kesal.


" Jadi kamu menunggunya. Kan aku sudah bilang jangan menunggunya. Biarkan saja dia datang atau atau tidak. Itu tidak berpengaruh dan tidak penting," ujar Vira yang memang tidak mengharapkan Sony untuk datang.


" Iya Vira," sahut Dara.


Tidak berapa lama Carey dan Dion juga akhirnya sampai Kerumah sakit. Carey memang terpaksa ikut. Walau dia tidak ingin sebenarnya untuk ikut. Hanya akan menambah-nambah kekesalan hatinya saja.


" Itu Vira," tunjuk Dion ketika melihat Vira dan Dara masih menunggu. Carey mengangguk saja.


" Ayo kita ke sana," ujar Dion. Carey mengangguk dan mengikut saja suaminya mau kemana.


" Vira, Dara," tegur Dion. Vira dan Dara sama-sama mengangkat kepala dan sudah melihat kehadiran Vira dan juga Dion.


" Dion, Carey, kalian di sini juga?" tanya Dara yang langsung berdiri. Heran melihat Carey dan Dion yang juga ada.


" Iya kamu datang untuk menemani Vira cek up. Karena tadi malam dia memberi kabar akan cek-up hari ini," ujar Dion.


" Ohhh, begitu," sahut Dara yang mengangguk-angguk saja. Dia juga tidak tau kalau Vira mengabari Dion.


" Memang harus ya Vira memberi tahu Dion. Memang ke-2nya sama," batin Carey yang semakin kesal.


Dia saat yang bersamaan Sony yang sedari tadi di tunggu-tunggu Dara. Akhirnya juga datang. Sony yang sudah mencari Dara dan Vira dan akhirnya ketemu dan berlari menghampiri Vira.


" Sorry gue telat," ujar Dion dengan napas beratnya.


" Sudah nggak apa-apa, yang penting sudah datang," sahut Dara. Dion melihat Vira. Tetapi Vira seakan mengalihkan pandangannya.


" Kalian di sini juga Carey?" tanya Dion.


" Hmmm, lagi nemani Dion kemari," jawab Carey datar.


" Carey kenapa wajahnya kok kelihatan murung gitu," batin Dara yang merasa ada yang salah dengan temannya.

__ADS_1


" Bu Vira," tiba-tiba suster memanggil nama Vira yang mungkin sudah giliran Vira.


" Iya saya sus," sahut Vira.


" Mari ikut saya," ajak suster. Vira mengangguk dan mengikuti suster yang juga di ikuti yang lainnya.


" Ayo Carey," ajak Sony.


" Aku di luar saja. Kalian saja yang masuk," ujar Carey yang tampak menolak untuk masuk.


" Kamu yakin mau tunggu di luar?" tanya Dion.


" Ya aku yakin," jawab Carey dengan singkat.


" Ya sudah aku masuk ya," ujar Dion yang langsung masuk. Carey melihat terlihat kesal dengan Dion.


" Dion kamu segampang untuk masuk. Bahkan kamu tidak menanyakan kenapa aku tidak. Sepertinya kamu benar-benar tidak peduli dengan ku," ucap Carey yang semakin kesal dengan Dion dan akhirnya memilih untuk duduk.


*********


Dara, Dion, Vira dan Sony menemani Vira untuk Cek kandungan dan Carey menunggu di luar dengan hatinya yang pasti bergerutu. Vira sudah selesai di periksa dan Dara membantunya untuk duduk.


" Bagaimana kondisi bayinya Dok?" tanya Sony.


" Tidak ada masalah, bayinya sehat-sehat saja. Ibunya juga. Hanya saran saya. Ibunya harus jaga makanan dan jangan banyak pikiran. Karena bisa berpengaruh pada bayinya," ucap Dokter memberi saran untuk Vira.


" Baik Dok, saya akan ingat pesan-pesan Dokter," jawab Vira.


" Oh iya untuk bapaknya di sini yang mana ya?" tanya Dokter yang sepertinya membutuhkan bapak untuk bayi itu. Hening sesaat dan Dara harus mengambil tindakan menyenggol Sony agar sadar. Jika memang Sony lah bapaknya.


" Saya Dok," sahut Sony yang langsung mengangkat tangannya.


" Iya Dok, saya akan lebih memperhatikan Vira," jawab Sony dengan gugup.


" Bagus lah jika begitu. Oh iya ini hasil USG nya," ujar Dokter langsung memberikan hasil USG pada Sony.


" Saya permisi dulu ya," ujar Dokter pamit.


" Iya Dokter terima kasih ya," ujar Dion. Dokter tersenyum lalu langsung pergi. Setelah Dokter pergi mereka saling berdekatan untuk melihat lembaran foto hasil USG itu.


Wajah mereka terlihat bahagia melihat bayi kecil yang tumbuh di janin Vira. Seakan mereka sudah menyayangi anak itu dan menunggunya untuk segera lagi ke dunia.


Ternyata ekspresi orang-orang tersebut tertangkap oleh Carey yang berdiri di depan jendela kaca rumah sakit dan yang pasti matanya fokus pada Dion yang seakan-akan orang yang paling bahagia dengan kehamilan Vira.


" Kamu seakan melupakanku Dion. Jika aku sedang menunggumu di luar. Kamu tidak mempedulikan apa yang aku pikirkan. Kamu asyik sendiri dan terlihat sangat bahagia. Dengan kehamilan wanita lain," batin Carey yang semakin terluka.


Dia merasa semakin tidak wajar dengan perhatian suaminya kepada Vira yang semakin hari semakin kelewatan. Bahkan seakan melupakan statusnya sebagai istri.


" Kak Carey!" tegur Nayra memegang punggung Carey. Membuat Carey tersentak kaget dan membalikkan tubuhnya yang ternyata melihat adiknya dan Raihan.


" Eh, Nayra, Raihan," ujar Carey.


" Kalian di sini juga," ujar Carey yang tampak gugup. Dia bahkan mengerjapkan matanya agar air matanya yang tadi hampir jatuh tidak jatuh. Dia tidak mau Nayra mempertanyakan kenapa dia menangis.


" Iya. Aku lagi cek kandungan," jawab Nayra.


" Oh, iya kakak sampai lupa kamu ada jadwal juga, maaf ya," ujar Carey merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa Carey, aku sudah menemani Nayra. Makasih selama ini kamu jagain dia," ujar Raihan.

__ADS_1


" Kamu apa-apa an sih Raihan, biasa aja. Memang sudah tugasku sebagai seorang kakak. Oh iya apa kata Dokter tentang kehamilan kamu?" tanya Carey yang penasaran tentang kehamilan sang adik.


" Baik-baik saja kak tidak ada masalah dan untuk lahiran normal juga tidak ada masalah. Semuanya baik-baik saja," jawab Nayra.


" Syukurlah jika begitu. Kakak ikut senang mendengar mendengarnya. Semoga lahirannya di permudah," sahut Carey yang selalu berdoa untuk kebaikan adiknya.


" Iya kak," jawab Nayra. " Oh iya kakak sendiri ngapain di sini?" tanya Nayra yang pasti heran kakaknya ada di rumah sakit dan bahkan di depan ruangan untuk orang hamil.


" Oh itu..." Belum sempat menjawab, Vira, Dion, Dara dan Sony sudah keluar. Mereka saling menatap heran baik dari Nayra maupun yang lainnya.


" Nayra kamu lagi periksa juga?" tanya Dara.


"'Hmmm. Iya, Vira juga," jawab Nayra.


" Iya aku sedang periksa kandungan juga," jawab Vira.


" Jadi benar Vira hamil," batin Raihan yang duku mengingat jika Vira hamil dan dia belum sempat mengetahui kebenaran itu. Makanya Raihan yang paling terlihat bingung.


" Lalu bagaimana kondisi kehamilannya?" tanya Nayra.


" Dok..." Vira tidak melanjutkan kalimatnya karena Dion langsung memotongnya.


" Tidak ada masalah, bayinya baik-baik saja dan juga Vira juga dalam keadaan sehat," ujar Dion yang malah mengambil alih menjelaskan.


Carey mendengus kasar mendengarnya bisa-bisanya Dion memang yang paling tau.


" Oh syukurlah kalau begitu," sahut Nayra yang pasti ikut bahagia.


" Oh, iya dari pada kita bicara berdiri di sini. Kita sebaiknya makan sambil mengobrol," sahut Raihan yang menemukan ide.


" Wah benar tuh aku juga lapar kebetulan," sahut Dara yang langsung setuju.


" Kalian duluan saja ya. Aku mau ke apotik dulu untuk tebus obat-obatan dan sekalian mau beli beberapa vitamin dan susu juga," sahut Vira yang memang perlengkapannya di rumah sudah habis.


" Biar aku temani ya," sahut Dion yang mengambil alih. Carey mendengarnya kaget. Dion malah punya niat untuk menemani Vira. Sementara Sony saja tidak langsung bertindak.


" Tidak usah Dion, aku bisa sendiri kok, kalian makan saja dulu nanti aku menyusul. Lagian aku berterima kasih banyak dengan kalian yang sudah menemaniku. Kamu juga Sony makasih sudah datang," ujar Vira yang langsung menolak.


" Sama-sama," jawab Sony.


" Tidak apa-apa Vira, lagian tidak jauh kok, hanya dekat," sahut Dion yang malah lebih semangat.


" Aku lapar, ayo Nayra, kita langsung cari makan saja," sahut Carey dengan cepat. Dia semakin panas dan bahkan belum sempat Nayra menjawab iya atau tidak. Carey sudah menggandeng tangan Nayra dan membawanya pergi.


" Ayo sayang," ajak Nayra yang kelimpungan karena di seret sang kakak. Raihan mengangguk.


" Vira kamu bagaimana mau ikut atau nanti?" tanya Dara.


" Kalian duluan saja, kamu juga Dion. Aku bisa sendiri," ujar Vira yang memang tidak mau di temani.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Dion yang seakan punya keraguan yang banyak untuk membuatkan Vira di sana.


" Hmmm, aku tidak apa-apa. Ya sudah aku pergi ya," ujar Vira yang langsung pergi.


" Ayo Dion," ajak Dara yang sudah berjalan terlebih dahulu. Sonya dan Dion pun sudah mengikutinya.


Dan Vira yang berlawanan arah pun juga pergi untuk mengurus keperluannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2