
Dara yang dongkol dengan Vira langsung pergi. Dia benar-benar tidak percaya dengan kata-kata Vira. Pemikiran Vira yang benar-benar begitu pendek dan hanya menganggapnya seperti itu. Bagaimana dia tidak emosian.
" Apa yang di pikirkannya. Bisa-bisanya dia sembarangan bicara. Jadi kalau Tante Saksi dan Sony tidak menyukainya dan tidak ingin bertanggung jawab padanya. Apa itu salahku. Ala semuanya salahku," gerutunya yang berjalan sambil mengoceh.
" Mala dengan mudahnya, mengatakan hanya Sony yang mau bertanggung jawab. Enteng sekali dia bicara. Pantas saja Carey kesal dengan Vira dia memang seperti. Tidak tau bagaimana perasaan orang selalu ingn suka-sukanya. Bicara tanpa berpikir dulu," Dara terus mengoceh dengan kesal.
Mulut Dara tidak henti-hentinya mengoceh sambil berjalan. Saat berada di pembelokan. Dara yang terus mengoceh tidak sadar jika di depannya ada Sony yang berjalan dan sibuk bermain ponsel.
Sementara Dara dari arah yang berbeda terus mengoceh dan akhirnya mereka bertabrakan.
" Auhhhh," lirih Dara saat mau jatuh.
Tetapi Sony memeluknya, sampai akhirnya Dara tidak jadi jatuh. Tetap saja wajah Dion terlihat sangat panik karena hampir jatuh.
Tetapi Sony yang memeluknya yang tidak lepas menatap wajah Dara dengan penuh arti. Yang tidak tau apa artinya. Matanya menatap wajah yang tampak kesal. Namun terlihat panik. Dara pun yang kepanikan melihat kearah Sony sampai mereka beradu pandang.
" Apa yang di pikirkan Vira. Apa benar, Sony masih menyukai ku," batin Dara yang tiba-tiba kepikiran tentang Vira.
" Jantungku. Tidak akan pernah berhenti berhenti berdetak setiap kali aku melihat mu Dara," batin Sony yang terus menatap dalam -dalam Dara.
Mereka terus saling menatap dengan perasaan mereka yang tidak bisa di jelaskan ke arah mana. Ternyata Vira keluar dari ruang tempat dia periksa untuk mengejar Dara.
Tetapi langkahnya harus terhenti. Karena melihat Dara yang ada di pelukan Sony. Wajah Vira sangat lesu. Saat melihat hal itu. Dia hanya bisa diam di tempat dengan tangannya yang mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Apa yang di lihatnya pasti membuatnya sedih. Cemburu pasti. Dia memang menyukai Sony. Ayah dari janin yang di kandungnya. Tetapi keadaan dan situasi tidak mendukung dan tidak bisa membuat mereka bersama.
" Aku bisa melihat dari mata Sony. Jika dia memang masih mencintaimu Dara. Sangat wajar dia mencintaimu. Karena kamu adalah wanita yang baik yang tulus. Makanya Sony tidak bisa berpaling darimu," batin Vira dengan matanya berkaca-kaca sambil tangannya terus mengusap perutnya.
" Dia tidak bisa menyukaiku Dara. Apa yang dilakukannya kepadaku hanya karena ada bayi di dalam kandunganku dan dia juga memberikan perhatiannya. Karena suruhan Dara. Kamu hanya akan mau melakukannya. Jika Dara menyuruhmu," batinnya lagi yang terus sedih dengan perasaannya yang tidak tenang.
__ADS_1
Tidak bisa melihat hal itu berlangsung- langsung akhirnya Vira memilih untuk pergi. Dia tidak ingin tetap berada di posisi yang begitu menyedihkan sangat menyedihkan.
" Maaf," ujar Dara buru-buru melepas diri dari pelukan Sony.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Sony lembut.
" Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Dara menggeleng cepat.
" Syukurlah kalau begitu," ujar Sony.
" Hmmmm, kamu ngapain di sini. Mau menemui Vira?" tanya Dara yang tiba-tiba terlihat gugup.
" Aku mau jemput kamu," jawab Sony. Dara mendengarnya mengkerutkan dahinya.
" Kenapa?" tanya Dara bingung. Kenapa juga dia harus di jemput.
" Mama ingin bicara sama kamu. Kebetulan mama ada di Restauran depan. Tadi tidak sengaja mama lihat kamu dan mama menyuruhku untuk membawamu," jawab Sony memberikan alasannya. Dara semakin bingung.
" Aku tidak tau, sebaiknya. Kamu temui saja mama dulu," ujar Sony.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Kamu sendiri bagaimana tidak mau menemui Vira suku?" tanya Dara.
" Nanti saja," jawab Sony.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Aku kedepan dulu," ucap Dara pamit dan langsung pergi. Dara mengangguk dan langsung pergi. Sony tersenyum tipis melihat punggung Dara yang berjalan semakin jauh.
*************
Carey sedang menyiapkan sarapan di dapur. Meski hubungannya renggang dengan Dion. Carey tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai istri untuk menyiapkan keperluan Dion dari pakaian yang di pakai untuk kerja sampai sarapan dan selengkapnya yang di perlukan Dion.
__ADS_1
Carey memang kesal dengan suaminya yang memikirkan wanita lain. Dia memang ada rencana mau pulang. Tetapi Carey merasa hanya percuma saja.
Karena mamanya pasti akan bertanya-tanya lagi. Jadi dia menahankan saja di rumah. Karena tidak ingin aib rumah tangganya tersebar. Walau Carey sudah lelah dan beberapa kali ingin menyerah.
Carey meletakkan nasi goreng yang sudah di masaknya di atas meja. Matanya melihat ke arah pintu. Dan tidak melihat Dion yang datang.
" Apa dia belum bangun," batin Carey yang melihat arloji di tangannya sudah pukul 8. Tetapi suaminya tidak ada juga.
Carey pun memutuskan untuk meninggalkan meja makan dan melihat ke arah tangga yang juga tidak melihat Dion. Karena penasaran suaminya bangun atau tidak. Carey pun akhirnya menaiki anak tangga dan melihat Dion yang sekarang bagaimana sudah siap apa tidak.
Carey yang berdiri di depan pintu kamar benar-benar ragu untuk masuk. Padahal tangannya sudah memegang kenopi pintu. Carey juga mendengarkan apa kah ada aktivitas di dalam sana. Tetapi pada nyatanya sangat sepi dan membuat Carey akhirnya masuk kedalam.
Dan Carey melihat Dion yang masih tertidur dengan memeluk erat selimut.
" Kenapa dia belum bangun. Apa dia tidak sadar sudah jam berapa," batin Carey yang malah resah.
Dengan langkah yang lambat. Akhirnya Carey pun melangkah mendekati suaminya dan melihat suaminya yang memang masih tertidur. Tetapi ada yang membuatnya heran. Melihat Dion yang tampak mengigil yang seketika membuatnya heran.
" Dion," ujar Carey mencoba membangunkan suaminya. Tidak merespon sama sekali. Carey pun menggoyang-goyangkan badan Dion untuk membangunkannya.
" Dion, bangun! bangun Dion," ujar Carey. Saat tangan itu tidak sengaja menyentuh pipi Dion dia merasakan panas. Seketika Carey langsung panik.
Carey pun langsung mendekati Dion dan duduk di samping Dion di bagian kepala Dion. Carey memegang kening Dion dengan punggung tangannya dan terasa begitu panas.
" Dion, kamu sakit," ujar Carey yang panik dengan kondisi suaminya. Carey langsung menarik selimut mempererat selimut Dion. Dia bangkit dari ranjang dan mematik suhu AC lalu keluar dari kamar.
Tidak berapa lama Carey kembali masuk kamar dengan membawa baskom yang berisi handuk dan juga baskom putih dan langsung buru-buru mendekati Dion duduk di samping Dion di bagian kepala Dion.
Carey yang begitu panik langsung mengkompres Dion agar menurunkan panas di tubuh Dion. Sementara Dion mulai gelisah dan sedikit mengigau-ngigau membuat Carey semakin panas.
__ADS_1
Bersambung......