
Jihan mendengar hentakan langkah David. Jantungnya semakin berdebar kencang saat merasa David sudah di belakangnya. Dengan exspresi penasaran.
David menjulurkan tangannya ingin menepuk bahu Jihan karena merasa sangat asing dengan wanita yang berdiri membelakanginya.
" Pak bagaimana jika yang ini," sahut Yogi tiba-tiba membuat David tidak jadi menepuk bahu Jihan padahal hanya tinggal beberapa Cm lagi.
David menoleh ke arah suara Asistennya. Melihat Yogi menunjukkan bunga Liliy. David mengurungkan niatnya dan menghampiri Asistennya.
Jihan langsung bernapas lega. Menelan salavinanya yang sedari tadi sulit di telannya. Tidak ingin berlama-lama di tempat itu Jihan memutuskan pergi. David melihat kepergian Jihan yang sangat buru-buru.
" Siapa wanita itu. Kenapa seperti aku mengenalnya. Aroma farfumnya bahkan tidak asing," batin David yang penasaran.
" Apa ini juga cantik Pak?" tanya Yogi pada David yang melamun.
" Oh, iya cantik, semuanya saja di ambil," sahut David yang terlihat buru-buru.
" Baik Pak," jawab Yogi kembali memilih-milih bunga Liliy.
Jihan memasuki kamar mandi. Mencuci wajahnya di wastafel. Jihan menatap dirinya di cermin dengan wajah yang basah. Tetapi wajah itu masih pucat.
" Mas David," lirihnya dengan napas naik turun.
" Aku tidak menyangka bertemu dengannya, lalu kenapa aku pergi. Bukannya aku memang ingin bertemu dengannya. Kenapa rasanya masih sakit saat bertemu dengannya. Bertahun-tahun akhirnya aku menemuinya. Tapi....," Jihan yang merasa sesak di dadanya tidak sanggup untuk melanjutkan tumpahan isi hatinya.
Flassback.
Jihan bangun dari ranjangnya. Beberapa bulan ini Jihan sangat bahagia. Bagaimana tidak kehidupan pernikahannya yang berjalan sangat bahagia. Trauma dengan Jidan membuat Jihan tidak ingin menikah dan fokus pada Carey.
Tetapi ternyata ada Pria yang mencintainya dan menerima statusnya. David Wilson. Pria yang di temuinya saat pulang kampung ke Indonesia. Pria yang mengejarnya. Bahkan beberapa kali di tolak oleh Jihan.
Jihan hanya merasa tidak pantas bersama David. David dan dirinya memiliki status sosial yang berbeda. Selain status dia yang memiliki anak tanpa menikah. Juga perbedaan materi. Yang mana David merupakan orang yang kaya raya. Memiliki keluarga terpandang.
Tetapi David meyakinkannya. Pada akhirnya Jihan luluh dan menerima cinta Pria tampan itu. Hubungan mereka akhirnya sampai kepelaminan.
Setelah menikah David membawa Jihan dan Carey ke Australia. Hidup bahagia layaknya pasangan suami istri. 2 bulan pernikahan mereka Jihan dan David diberikan anugrah dengan kehamilan Jihan.
Sang suami mengetahui ketika dirinya hamil. Lebih menyayanginya. Menjadikannya seperti ratu dan menuruti semua kemauannya.
Jihan baru saja membuka matanya setelah tidur nyenyak. Jihan mencoba untuk duduk, mengusap perutnya yang masih ramping.
Ceklek. Pelayan membuka pintu kamar Jihan.
" Nyonya mau mandi?" tanya pelayan yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1
" Iya, oh iya mas David mana?" tanya Jihan.
" Di ruang tamu nyonya. Nyonya Wilson sedang berkunjung," jawab pelayan yang menyebutkan ibu David.
" Benarkah," sahut Jihan pelayan mengangguk.
" Ya sudah kamu siapkan saja air saya. Saya menyapa mama dulu," ujar Jihan yang tidak enak bila mertuanya datang tetapi dia masih tidur.
" Baik nyonya," sahut pelayan menundukkan kepalanya.
Jihan pun bangkit dari ranjangnya. Keluar dari kamarnya untuk menemui ibu mertuanya. Jihan berjalan menuju ruang tamu yang sangat jauh. Maklum saja rumah mereka sangat luas. Sambil berjalan Jihan mengusap perutnya.
" David jangan lupa janji kamu," ucapan Nyonya Wilson membuat langkah Jihan berhenti.
Jihan tidak melanjutkan langkahnya. Memilih untuk tetap diam. Jihan melihat sang mertua yang tampak marah. Sementara suaminya duduk menunduk dengan menggenggam erat tangannya.
" Ma, tapi tidak harus menceraikannya," ujar David tiba-tiba membuat Jihan bingung.
" Cerai, Apa yang mas David bicarakan," batin Jihan bingung.
" Kamu dengar David. Mama menyetujui pernikahan kalian. Agar kamu memiliki keturunan dari wanita itu. Kamu lupa jika kamu juga berjanji akan menceraikannya ketika kamu sudah memiliki anak," jelas Nyoya Wilson.
" Mama sudah menyembunyikan pernikahan ini dari orang-orang. Karena kamu tau nama baik keluarga Wilson akan hancur ketika mengetahui pewarisnya menikah dengan wanita yang memiliki anak tanpa ada ikatan pernikahan. Dan mama sudah sabar selama ini sama kamu," ucap Nyonya Wilson lagi membuat Jihan kaget dengan apa yang di dengarnya. Mata Jihan mulai berkaca-kaca.
" Lalu bagaiman dengan Jihan. Apa mungkin mama tega memisahkan dia dengan bayinya kelak?" tanya David dengan suara seraknya.
" Mama sudah peringatkan kamu dari awal. Jika ingin menikahinya ceraikan ketika dia sudah melahirkan. Jika tidak ingin itu terjadi kamu selesaikan hubungan kamu dengannya. Tetapi kamu memilih untuk menikahinya jadi kamu sudah tau resikonya," ujar Nyonya Wilson kembali mengingatkan.
Air mata Jihan langsung jatuh membasahi pipinya. Ketika mengetahui jika dia di nikahi hanya untuk memberikan keturunan. Keluarga Wilson hanya membutuhkan bayinya bukan dia.
Jihan langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan hati yang sangat sakit. Jihan berlari kekamarnya dan menangis Sengugukan.
" Jahat, kalian benar-benar jahat. Kenapa menikahi ku jika hanya menginginkan bayi ini," ujar Jihan menangis terisak bahkan memukul-mukul kandungannya. Dia sangat tidak rela jika dia hanya di jadikan pencetak pewaris.
Jihan terus menangis menyesali pernikahannya. Ceklek. Pintu kamar Jihan terbuka.
Ternyata suaminya yang membukanya. Jihan yang menyandarkan tubuhnya di ranjang menatap tajam suaminya dengan matanya yang merah.
" Sayang kamu sudah bangun," ucap David tersenyum lebar. Menghampiri Jihan. David duduk di samping Jihan.
" Kenapa matamu merah, apa kamu kurang tidur," ucap David memegang pipi Jihan dan langsung di tepis oleh Jihan. Tatapan Jihan semakin geram dengan suaminya yang sangat manis di depannya.
" Kamu kenapa?" tanya David tidak mengerti dengan perubahan istrinya.
__ADS_1
" Ceraikan aku," ujar Jihan tiba-tiba membuat David terkejut mendengar kata cerai.
" Apa maksud kamu. Jangan bercanda pagi-pagi. Becandaan kamu tidak lucu," sahut David Schok. Tetapi senyum tipis karena menganggap istrinya hanya bercanda.
" Apa kamu baru akan menceraikanku. Setelah aku melahirkan," sahut Jihan dengan menekan suaranya. Membuat David kaget mendengar ucapan Jihan.
" Jihan apa yang kamu katakan?" tanya David.
" Jangan berpura-pura di hadapanku. Aku sudah tau semuanya. Kamu menikahiku. Orang tuamu merestui pernikahan itu. Agar keluarga Wilson memiliki pewaris," sahut Jihan kembali meneteskan air mata.
David mendengarnya membuang napasnya perlahan kedepan. Tidak menyangka istrinya akan tau semua ini.
" Benarkan," teriak Jihan.
" Jihan tenanglah aku bisa jelaskan," sahut David mencoba menenangkan istrinya," ucap David mencoba menenagkan Jihan.
" Kurang aja," Jihan menarik kerah baju David mencengkram kuat.
" Aku tidak pernah memintamu. Untuk menikahiku. Aku tidak butuh laki-laki brengsek seperti dirimu. Kenapa kau melakukan ini kepadaku," teriak Jihan dengan matanya melotot menyimpan kemarahan.
" Maafkan aku," lirih David, " aku pikir aku bisa menghadapinya ternyata tidak. Jihan apapun itu aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan menceraikan mu. Lahir dan tidak lahirnya bayi kita," ujar David mencoba menenangkan Jihan.
" Pembohong, aku tidak percaya kepadamu," umpat Jihan.
" Terserah kamu. Aku ingin melanjutkan hidup bersamamu. Setelah bayi itu lahir kita akan serahkan pada mama. Agar mama yang mengurusnya. Tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku, kamu dan Carey akan meninggalkan semuanya aku akan membawa kalian pergi," ujar David.
" Kamu akan meninggalkan semuanya. Harta dan segala kemewahan keluarga Wilson," tanya Jihan menekan suara.
" Iya, aku meninggalkan semuanya membawamu dan Carey pergi," jawab David dengan yakin.
" Tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin hidup dengan Pria sepertimu. Aku hanya ingin kau menceraikanku. Sebelum aku melahirkan," tegas Jihan melepas kasar kerah baju suaminya.
" Terserah jika kau percaya atau tidak. Tapi aku tidak mungkin menceraikanmu. Istirahatlah jangan memikirkan apa-apa," ujar David mencium kening Jihan lalu beranjak dari ranjang.
" Apa kamu baru akan menceraikanku. Jika bayi ini mati," ucap Jihan tiba-tiba membuat David menghentikan langkah kakinya.
" Jihan apa maksud kamu?" tanya David membalikkan badannya.
" Aku tidak ingin melahirkan anak. Yang akan di serahkan kepada keluargamu. Keluargamu sangat menghina diriku. Lebih baik anak yang aku kandung mati dari pada harus di serahkan kepada kalian," tegas Jihan dengan yakin.
" Jaga bicara kamu, jangan melakukan hal bodoh apapun," ucap David yang khawatir dengan Jihan.
" Bayi ini berada di perutku. Jadi aku bisa melakukan apapun," ujar Jihan sekali lagi menegaskan penuh ancaman.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น