Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 148.


__ADS_3

Jihan menyandarkan tubuhnya di depan pintu, menghapus berkali-kali air matanya. Hidupnya sekarang di penuhi rasa penyesalan.


Karena telah menyia-nyiakan kan Anka kandungnya yang sudah tumbuh dewasa. Meski belum mendapat me jelasan dari Zira tetapi Jihan sangat yakin ๐Ÿ’ฏ% bahwa Nayra adalah bayi yang dulu pernah ingin di bunuhnya.


Sementara di dalam ruangan perawatan Nayra masih saja terlihat haru. Andini sempat meneteskan air mata saat melihat sahabatnya akhirnya menikah.


" Kalau begitu saya permisi dulu Pak," ujar penghulu berpamitan. Karena memang tugasnya sudah selesai.


" Iya terima kasih Pak," sahut Addrian. Penghulu mengangguk.


" Mari saya antar," sahut Raka mempersilahkan.


Penghulu tersebut kembali mengangguk. Raka dan penghulu tersebut pun ke luar dari ruangan tersebut.


Raihan masih menggenggam 1 tangan Nayra. Dan satu tangannya lagi mengusap-usap rambut Nayra.


" Raihan, setelah Nayra sembuh total, mama akan mengadakan resepsi pernikahan kalian," ucap Zira mengusap pundak Raihan.


" Iya mah, Raihan tidak memikirkan itu. Yang penting Nara bisa sembuh secepatnya," sahut Raihan.


" Iya mama mengerti," sahut Zira.


" Raihan, sebaiknya kamu temui Dokter Arif dulu sebelum membawa Nayra pulang," sahut Della memberi saran.


" Iya Della, aku akan menemuinya sebentar lagi," jawab Raihan.


*************


Raihan dan Dokter berbicara serius tentang masalah kesehatan Nayra.


" Ini, perkembangan kesehatan Nayra," ujar Dokter memberikan Raihan selembar kertas. Raihan meraihnya dan membacanya dengan teliti.


" Pengaruh Alkohol yang di minumnya akan membuatnya terus memuntahkan darah. Karena ada gangguan di paru-parunya," jelas Dokter membuat Raihan melihat Dokter dengan wajah lesu.


" Tapi jangan khawatir semuanya akan membaik. Jika Nayra rutin meminum obatnya dan seminggu sekali dia wajib cek-up. Untuk melihat perkembangan kesehatannya," lanjut Dokter memberi Raihan semangat.


" Lalu bagaimana tentang traumanya?" tanya Raihan.


" Belum ada perkembangan. Kita tidak tau kapan itu akan sembuh. Nayra akan terus takut pada orang lain. Menganggap jika orang-orang itu akan menyakitinya," jawab Dokter dengan pasrah.


Raihan benar-benar tidak menyangka efek yang di dari perbuatan Carey.


" Selain itu, Nayra juga mengalami gangguan ingatan. Dia akan sangat sulit mengingat perkataan. Itu semua karena mentalnya yang buruk," lanjut Dokter lagi.


" Apa yang harus saya lakukan?" tanya Raihan.


" Terus dekati dia dan yakinkan dia. Jika semua orang tidak jahat, buat dia tidak takut lagi, agar dia secepatnya normal," jelas Dokter.


" Baiklah Dok," jawab Raihan.


" Jika perlu bawa Nayra ke psikiater," Saran Dokter.


" Iya saya akan berusaha untuk kesembuhannya, saya akan melakukan semuanya agar Nara kembali pulih," sahut Raihan dengan yakin.

__ADS_1


" Iya berusaha lah, semua ada di tangan kamu," sahut Dokter memberi semangat.


***********


Setelah menemui Dokter Raihan kembali ke kamar Nayra. Beruntung saat Raihan datang Nayra baru membuka matanya.


Seperti biasa Nayra akan melihat orang di sekitarnya ada atau tidak. Dia memang sangat berhati-hati dengan perasaan yang was-was.


Raihan duduk di tempat tidur Nayra dan meraih tangan Nayra menggenggamnya erat meletakkan di pahanya.


" Kamu sudah bangun?" tanya Raihan. Nayra mengangguk. Raihan membantu Nayra menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


" Kita akan pulang!" ujar Raihan.


" Pulang!" sahut Nayra heran.


" Iya kita akan pulang, Dokter mengatakan kamu sudah sembuh, jadi boleh pulang," ujar Raihan mengulang sekali lagi.


" Kamu mau pulangkan?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.


" Ya sudah kamu ganti baju, biar aku menunggu di luar, aku akan mengurus kepulangan kamu," ujar Raihan berdiri. Nayra memegang tangan Raihan.


" Aku tidak mau, mereka pasti datang, jangan pergi," ujar Nayra dengan suara seraknya. Mulai ketakutan. Raihan tersenyum tipis. Merasakan dinginnya tangan Nayra yang mulai berkeringat.


" Iya, aku tidak akan kemana-mana," sahut Raihan. Nayra memang tidak bisa di tinggalkan sendirian. Raihan memeluknya menenangkan Nayra yang sempat ketakutan.


" Jangan khawatir, aku tidak akan pergi, aku di sini terus bersamamu," ujar Raihan memeluk erat meyakinkan Nayra.


***********


Langkah Raihan dan Nayra sangat cepat saat berjalan melewati koridor-Koridor rumah sakit. Raihan terus memeluk bahu Nayra dan Nayra seakan bersembunyi di dada Raihan dengan wajahnya yang tertutupi rambutnya.


Dari tangan Nayra yang memegang kuat baju Raihan mengartikan jika Nayra benar-benar ketakutan. Karena beberapa kali berpapasan dengan orang lain.


Yang membuatnya terus bersembunyi di dalam dekapan Raihan. Raihan semakin mempercepat kan langkahnya agar Nayra bisa tenang. Sampai akhirnya Nayra dan Raihan memasuki mobil.


Raihan dan Nayra duduk di bagian kursi belakang, Nayra terus memeluk Raihan dengan nafasnya yang naik turun.


" Hey, tenanglah," ujar Raihan memegang ke-2 pipi Nayra mengangkat kepala Nayra yang sedari tadi menunduk. Raihan melihat wajah itu penuh keringat.


" Nara tidak akan terjadi apa-apa, percayalah," ujar Raihan yang melihat Nayra ketakutan. Bahkan wajah Nayra pucat.


" Mereka, mereka akan datang, aku_ aku_ aku akan...." sahut Nayra terbata-bata.


" Tidak, kamu tidak akan kenapa-napa, aku bersamamu. Aku sudah katakan. Jika kamu bersamaku. Tidak akan ada yang berani menyakitimu," jelas Raihan berusaha meyakinkan Nayra.


Nayra mengangguk pelan. Raihan pun merangkul bahu Nayra agar Nayra kembali di dekapannya. Nayra merasa nyaman berada di bidang dada Raihan.


Brukkk,


Suara bukaan mobil membuat Nayra kaget. Dan melihat orang duduk di bangku pengemudi membuat Nayra kembali takut dan memejamkan matanya di bidang dada Raihan kembali bersembunyi.


" Nara tenanglah, itu papamu," ujar Raihan mencoba menjelaskan kepada Nayra. Bahwa Aryo yang masuk mobil.

__ADS_1


Aryo memang ingin mengantarkan Nayra pulang. Dengan menyetirinya. Walau dia tau itu hanya akan membuat Nayra histeris.


Nayra semakin bergetar memeluk Raihan erat. Semakin takut. Aryo melihat dari kaca spion dan melihat betapa menderitanya putrinya. Membuatnya tidak tega.


" Sebaiknya saya tidak jadi mengantar kalian. Nayra sepertinya belum siap," sahut Aryo yang tidak sanggup melihat Nayra.


" Tidak apa-apa Pa. Nayra akan baik-baik saja," jawab Raihan yakin.


Tidak mungkin dia membiarkan Aryo pergi dan tidak Jadi mengantarkan Nayra pulang. Raihan juga sangat mengerti bagaimana perasaan Aryo yang pasti merindukan Nayra.


Dan pasti sebagai orang tua. Akan sangat sakit melihat. Anak sendiri menganggap kita sebagai orang jahat.


" Jalan saja Pa," sahut Raihan dengan yakin.


" Baiklah, maafkan saya," sahut Aryo menyetir mobil.


Raihan memeluk erat Nayra yang terus ketakutan.


" Nara jangan seperti ini, semua akan baik-baik saja, percayalah, dia papamu, dia tidak mungkin menyakitimu, dia menyayangimu. Seperti aku menyayangimu," jelas Raihan membujuk Nayra.


Perlahan Nayra mengangkat kepalanya dan melihat Raihan. Raihan melihat wajah Nayra yang di penuhi dengan keringat.


" Papa," sahut Nayra.


Mendengar kata itu. Aryo melihat dari kaca spion. Rasa haru menyelimutinya saat mendengar kata itu dari mulut Nayra. Mungkin panggilan itu akan menjadi panggilan terakhir yang akan di dengarnya.


" Iya, dia papamu. Kamu harus tau dia sudah memberimu hadiah ulang tahun. Dia sudah menikahkanmu," sahut Raihan lagi. Pelan-pelan menjelaskan kepada Nayra.


" Menikah," sahut Nayra.


Raihan meraih tangan kanan Nayra dan menunjukkan jari manis Nayra yang sudah terpasang cincin pernikahan mereka. Raihan juga memperlihatkan jarinya yang terpasang cincin.


" Iya kita sudah menikah, kamu dan aku sudah menikah," jelas Raihan sekali lagi.


" Kapan?" tanya Nayra.


" Tadi pagi, dan papamu yang menikahkan kita. Bukannya kamu yang memintanya untuk datang. Jadi kenapa harus takut," jelas Raihan lagi.


" Apa iya, dia tidak ada hubungannya......."


" Tidak Nara. Orang yang menyakitimu tidak akan muncul lagi. Karena mereka sudah pergi jauh dari hidupmu," jelas Raihan.


Nayra terdiam bengong, mungkin rasa takutnya hilang sedikit-sedikit. Dengan penjelasan Raihan yang lembut dan penuh kesabaran.


" Jangan di pikirkan," sahut Raihan meraih Nayra kedalam pelukannya.


Aryo hanya bisa melihat putrinya dari kaca spion. Di beri kesempatan membesarkan seorang anak yang cantik. Aryo hanya bisa memberi penderitaan kepada Nayra.


Karena salah menikahi wanita yang salah. Bercerai dari wanita yang salah. Ternyata Nayra lebih jauh menderita. Ketika ingin memperbaiki semuanya. Nayra bahkan menganggapnya jahat.


Mungkin itu balasan untuk orang yang tidak bisa bertanggung jawab atas amanah yang di berikan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2