Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 89


__ADS_3

Mereka pun menuju ruang tamu. Amira duduk di ruang tamu. Dengan melipat ke -2 tangannya di dadanya. Bibirnya terus saja kerucut.


" Amira," sapa Nayra.


" Tante Nayra," jawab Amira.


" Kenapa, kok wajahnya di tekuk?" tanya Nayra.


" Biasalah, namanya juga anak kecil, bisanya ngambek mulu," sahut Raina.


" Shitt, kamu ini," desis Raihan menyenggol siku adiknya.


Nayra pun duduk di samping Amira, dan mengusap rambut Amira. Mereka ngobrol sebentar, lebih tepatnya hanya mengajak Amira berbicara agar tidak ngambek lagi.


Di tengah pembicaraan mereka. Raka dan David pun sudah Tiba. Setelah turun dari mobil. Raka langsung membawa David memasuki rumah dan langsung menuju ruang tamu.


Addrian yang melihat ke datangan David. Langsung berdiri.


" Pak Addrian," ujar David menghampiri Addrian sambil membuka tangannya.


" Astaga Pak David," Addrian langsung menyambut David dan menerima pelukan itu.


" Lama sekali kita tidak bertemu," ujar Addrian sambil menepuk-nepuk pundak David.


Zira, Raina, yang membelakingi David. Merekapun berbalik badan.


" Mari Pak, David," ajak Addrian melepas pelukannya.


Zira, Raina, Alex, Raihan, Nayra, dan Amira sudah berdiri berjajar.


Zira yang tidak mengetahui klien mana yang berkunjung kerumahnya. Tiba-tiba terlihat sangat shock melihat kehadiran David.


" Pak David," sapa Raihan mengulurkan tangannya. Yang di sambut oleh David, begitu juga dengan Alex. Yang menjabat tangan David.


" Jadi ini yang namanya David Wilson," batin Raina dengan senyum ketika berjabat tangan dengan David yang membuatnya penasaran.


" Ini juga Putri saya, dan ini anaknya cucu kami," ujar Addrian menjelaskan.


" Ya ampun kamu lucu sekali," ujar David memegang pipi Amira dengan gemas.


" Bu Zira apa kabar?" tanya David yang melihat Zira masih bengong. Raina melihat mamanya yang terlihat bingung. Raina semakin berpikir jika ada sesuatu yang terselubung.


" Sayang," tegur Addrian melihat istrinya yang bengong.


" Oh, iya saya baik, saya hanya kaget. Kalau ternyata klien yang ditunggu itu. Ternya Bapak," sahut Zira dengan terbata-bata.


" Ahhhh, bisa saja kalian ini," sahut David dengan tawanya.


" Om kenal dekat sama Pak David?" tanya Alex.


" Ya dari dulu kita ingin kerja sama. Tetapi waktunya tidak pernah tepat. Dulu kita juga liburan bersama. Dan Om sama Tante dulu kalau ke Singapore pasti mengunjungi David. Tetapi kalau sekarang sangat sudah," jelas Addrian.


" Ahhhhh, bisa saja Pak Addrian," sahut David tertawa lepas.


" Pak David," sapa Nayra

__ADS_1


" Hey Nayra kita bertemu lagi," ujar David yang merasa senang. Zira sangat shock melihat Nayra dengan David yang sudah saling mengenal dan seperti sangat dekat.


" Kenapa mama seperti orang linglung," batin Raina merasa curiga


" Pak Addrian, lihat Nayra. Aku mengatakan kepadanya jika dia mirip dengan Putriku, aku sangat senang bertemu dengannya," ujar David dengan tawanya.


Zira mendengar hal itu menelan salavinanya, seperti menyembunyikan sesuatu. Tubuhnya seakan berkeringat dingin.


" Putri Bapak, lalu di mana dia?" tanya Raina penasaran.


" Hhhhhh, dia sudah tiada, mungkin jika masih hidup pasti akan sebesar Nayra," jawab David. Hal itu kembali membuat Raina kaget.


Zira semakin gelisah dengan suasana itu. Tetapi Raina menyadari mamanya yang tidak nyaman.


" Ya ampun, maaf jika seperti itu Pak, lalu..."


" Hmmmm, kalau begitu mari kita langsung makan malam," ujar Zira memotong pembicaraan Raina. Zira mengalihkan pembicaraan dia sangat tidak ingin Raina memperpanjang obrolan tentang masalah itu.


" Oh iya, makanannya akan keburu dingin," sambung Addrian.


" Oh, baiklah, saya sangat senang bisa mendapat perlakukan baik seperti ini," ujar David.


" Mari Pak silahkan," ujar Addrian mempersilahkan.


Mereka sudah memenuhi meja makan. Addrian duduk di kursi utama. Zira, Raina dan Alex duduk berdampingan. David Raihan, Raina, Alex duduk berdampingan.


" Loh, Amira mana?" tanya Addrian tidak melihat Amira. Baru menyebutkan namanya Amira sudah tiba.


" Sayang ayo makan," ajak Raina menepuk kursi di sebelahnya agar Amira duduk di aampingnya. Tetapi Amira malah mengambil tempat duduk di samping Raka.


Raina melihatnya diam saja. Sementara Raka tersenyum melihat Amira yang juga tersenyum kepadanya.


" Iya satu-satunya, tapi suka ngambek," sahut Addrian yang sudah mulai makan.


" Namanya anak kecil, jadi wajar saja," sahut David dengan mengunyah makanannya.


" Iya Bapak benar," sahut Addrian


" Aduh makanan ini enak sekali, tetapi saya sudah terlanjur makan di luar, jika tidak pasti saya akan makan sangat lahap dan akan menambah terus," ujar David lagi yang tidak hentinya mengoceh.


" Memang tadi Bapak makan di mana?" tanya Alex yang juga sudah makan.


" Tadi sewaktu Nayra menjemput saya di Bandara. Dia juga menemani saya makan. Kami mengobrol sangat banyak," jawab David menoleh ke arah Nayra yang tersenyum.


Zira yang ingin menyendokkan nasinya tidak jadi ketika mendengar hal itu.


" Apa Nayra sudah kenal dekat dengan David," batin Zira yang sedari tadi gelisah.


" Sepertinya Pak David sangat akrab dengan Nayra," tanya Raina dengan santai.


" Kita hanya 2 kali bertemu, tetapi saya sudah merasa sangat dekat dengannya. Mungkin kita satu frekuensi, sampai Nayra harus tau rahasia saya," jawab David. Semua mata memandang heran pada Nayra.


" Masih di jagakan Nayra?" tanya David memastikan


" Tenang saja Pak, masih aman," sahut Nayra sambil tertawa.

__ADS_1


" Wow, main rahasia-rahasian, ini," sahut Addrian nada bercanda.


" Hanya rahasia kecil," sahut David tertawa.


" Rahasia apa?" tanya Addrian berbisik pada Nayra.


" Rahasia mana boleh di kasih tau," jawab Nayra pelan.


" Kau," desis Raihan kesal. Nayra hanya tersenyum melihat Raihan yang kesal.


Suasana makan kembali terjamin. Dengan obrolan panjang di meja makan. Di mana obrolan memang sangat terlihat Nayra dan David yang lebih nyambung berbicara


" Kenapa mama merasa sangat gelisah hari ini. Tidak seperti biasanya. Mama lebih banyak diam. David Wilson dan Nayra yang memiliki nama belakang Wilson. Apa itu hanya kebetulan. Lalu bagaimana dengan mama dan Pak David. Aku bisa melihat sepertinya ada sesuatu. Aku yakin pasti ada sesuatu. Mereka mengatakan mereka sudah kenal sejak lama. Pasti ada yang tidak beres. Tidak mungkin semuanya kebetulan. Anak yang meninggal. Nama belakang yang sama. Bahkan Pak David tinggal di Australia," batin Raina melihat ke arah Nayra dan David seperti membandingkan wajah mereka. Raina juga melihat mamanya yang sangat gelisah.


Raina hanya mencoba menyimpulkan dengan apa yang di pikirannya. Semua data Nayra yang ditemukannya di kamar mamanya. Berhubungan dengan David Wilson yang datang hari ini. Dan kata yang membuat Raina semakin berpikir. Ketika David mengeluarkan kata-kata. Bahwa Nayra mirip dengan anaknya yang sudah tiada.


Mereka mengobrol dengan santai. Sementara sedari tadi Raka dan Amira yang duduk berdampingan. Mereka juga bentar-bentar tersenyum.


" Mau ini?" tanya Raka, mengambilkan ayam goreng. Amira mengangguk.


" Makasih om," ujar Amira pekan. Raka tersenyum lebar dan mengusap kepala Amira.


Pandangan Raina mengarah kepada anaknya yang duduk di samping Raka.


" Kenapa Amira begitu dekat dengan Raka," batin Raina yang terus melihat Raka dan Amira.


Amira melihat mamanya yang di hadapannya menatapnya seperti tidak suka. Langsung menunduk. Raka menyadari Raina yang terus melihat Amira. Raka juga melihat ke arah Raina.


Lalu Raina mengalihkan pandangannya kembali pada makanan dan mulai makan.


" Aku tau, Bu Raina pasti sangat marah dengan apa yang aku lakukan," batin Raka merasa Raina masih saja mengacuhkanya.


Acara makan malam selesai sesuai rencana. Meski Zira merasa tidak nyaman dengan pemikiran yang dia ketahui sendiri dan Raina yang terus merasa aneh dengan keberadaan David.


Tetapi semuanya lancar. Alex mengantarkan David pulang ke hotel. Memang untuk beberapa hari David akan berada di Indonesia.


Sementara Raihan pasti mengantarkan Nayra pulang kembali ke Apartemen. Tetapi mereka tidak langsung pulang. Raihan dan Nayra berjalan dengan langkah santai di jembatan tol.


Nayra memeluk tubuhnya dengan ke-2 tangannya merasa cuaca sangat dingin. Wajar saja pakaiannya sangat terbuka. Raihan yang melihat Nayra seperti itu membuka jasnya dan menutupkan ke tubuh Nayra.


" Makasih," ujar Nayra.


" Sama-sama," jawab Raihan.


" Cuacanya sangat dingin, maaf mengajakmu keluar," ujar Raihan.


" Tidak apa-apa, aku juga bosan," jawab Nayra menatap lurus. Raihan tersenyum. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka. Tiba-tiba di atas kepala Nayra lewat kupu-kupu dan mengelilingi kepalanya.


" Woy, malam-malam begini ada kupu-kupu," ujarnya tidak percaya dan ingin meraih kupu-kupu itu.


Raihan hanya tersenyum melihat Nayra yang sekarang sudah melompat-lompat di hadapannya ingin menangkap kupu-kupu itu. Hanya itu saja Nayra sudah sangat bahagia.


Nayra terus berusaha menangkap kupu-kupu itu. Melompat di hadapan Raihan. Sampai akhirnya Nayra tidak bisa mengimbangi dirinya dan tidak sadar saat melompat Nayra tidak sengaja mencium pipi Raihan.


Raihan dan Nayra sama-sama Shock, Nayra melebarkan matanya ketika bibirnya menempel di pipi Raihan dengan yang.

__ADS_1


Raihan tersenyum saat mendapatkan hal itu. Bahkan Nayra malah bengong tidak melepas bibirnya dari pipi Raihan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2