Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 238.


__ADS_3

Mendengar hal itu Zira langsung khawatir dengan Nayra yang sama sekali tidak memiliki nafsu makan.


" Nayra kamu harus makan dong, ini sudah waktunya makan," sahut Zira.


" Benar Nay kalau kamu tidak makan, kasihan bayi kamu yang pasti kelaparan," sambung Andini.


" Tetapi Nayra tidak nafsu melihat makanan ini," ujar Nayra dengan wajah lesunya.


" Memang kamu mau makan apa sayang?" tanya Raihan yang juga sangat khawatir kepada istrinya.


" Aku makan nasi putih aja," sahut Nayra memaksakan dirinya. Tidak selera memakan apapun yang ada di meja makan.


" Tapi apa enaknya," sahut Raihan mengusap rambut istrinya.


" Kamu tidak ingin sesuatu, biar mama masakkan?" tanya Zira. Nayra menggeleng yang memang tidak ingin makan apa-apa.


" Ya sudah kamu makan pakai lauk ya," ujar Raihan yang harus sedikit memaksa istrinya.


" Tapi sayang, nanti pasti akan di muntahan," ujar Nayra tetapi menolak.


" Tidak apa-apa, yang penting perut kamu berisi dan kalau muntah tidak masalah. Kamu makan lagi, semua demi anak kita," ujar Raihan menatap istrinya.


Nayra akhirnya mengangguk. Dia sangat mengharapkan bayi itu. Tetapi dia tidak boleh egois dengan dirinya. Yang ada tuhan akan mengambil bayi itu karena tidak di beri Nayra makan.


" Tapi di suapi," ujar Nayra mulai manja. Raihan mengangguk tersenyum. Langsung menyendokkan kemulut Nayra.


" Pakai tangan," sahut Nayra dengan suara manjanya. Raihan tersenyum dan melakukan apa kata istrinya.


Zira dan yang lainnya tersenyum melihat hal itu. Apapun itu jika suami yang bertindak pasti istri yang langsung menurut. Meski Raihan masih ingin melanjutkan makannya. Tetapi istrinya jauh lebih penting dari semua itu.


" Setelah ini kalian ikut mama pulang," ujar Zira tiba-tiba di tengah-tengah makan.


" Siapa ma," tanya Raihan yang masih menyuapi istrinya.


" Ya kamu sama istri kamu?" jawab Zira.


" Kok gitu?" tanya Nayra bingung.


" Mama tidak bisa tinggalkan kalian ber-2. Yang satu banyak maunya, yang satu tidak ada maunya. Mama tidak yakin bisa meninggalkan kalian berdua di rumah ini," jelas Zira yang khawatir dengan anak dan menantunya.


" Benar, bisa-bisa Nayra stress melihat Raihan yang ngidam kelewat batas," sahut Raina, " untung saja Raka dulu tidak seperti itu," lanjut Raina masih merasa beruntung dari pada Nayra.

__ADS_1


" Eyang juga setuju. Eyang khawatir dengan kandungan kamu Nayra," sahut Farah.


" Tapi Nayra tidak apa-apa ma, Eyang kak, Andin. Dokter juga bilang mual dan hilang nafsu makannya juga akan hilang sebentar lagi, jadi semuanya akan baik-baik saja," ujar Nayra meyakinkan semua orang.


" Tapi Nayra," ujar Zira.


" Ma, sudahlah! Raihan akan terus menjaganya. Kalau Raihan butuh sesuatu Raihan akan kabari mama dan yang lainnya," sahut Raihan menegaskan.


" Apa mama bisa mempercayai kamu?" tanya Zira ragu.


" Mama harus percaya. Lagi pula Andini juga akan sering datang. Carey juga, jadi tidak ada masalah," jelas Raihan.


" Ya sudah, kalau begitu, biarkan Andini tinggal bersama kalian," sahut Farah menyarankan.


" Oke tidak masalah. Itu jauh lebih bagus," sahut Andini kesenangan.


" Amira ikut," sahut Amira tidak mau ketinggalan.


" Amira kan sekolah," sahut Raina yang dengan cepat mencegah.


Wajah Amira malah murung. Raka langsung memegang tangan istrinya yang di berada di paha Raina. Raina langsung menoleh ke arah Raka. Raka menggeleng ke arah Raina. Raina membuang napasnya perlahan.


" Benar boleh," sahut Amira kesenangan. Raina mengangguk.


" Yeeeeeeeeeee," Amira bersorak kegirangan. Yang lain tersenyum melihat Amira yang tampak bahagia.


*************


Malam harinya Zira, Farah, Raina, Raka sudah pulang. Amira dan Andini tinggal di rumah itu menginap entah sampai kapan. Yang jelas mereka di tugaskan untuk menjaga Nayra.


Baju-baju mereka juga sudah di antar supir dan untuk sekolah Amira akan bersekolah dari rumah Raihan. Pasti Raihan akan mengantar langsung keponakannya yang semakin besar itu kesekolah.


Raihan dari dulu memang sangat menyayangi Amira. Amira juga tahu betapa besarnya kasih sayang omnya kepadanya.


Sewaktu Raihan mengenalkan Nayra kepada Amira sebagai kekasihnya. Amira tidak merasa takut akan kehilangan omnya. Karena memang Amira sudah mengenal Nayra.


Jadi dia tau kekasih omnya pasti juga menyayanginya. Terbukti sampai sekarang. Walau dia masih takut-takut tantenya akan berubah seperti mamanya.


Raina semenjak hamil memang bawaannya sensitif semakin kandungannya semakin besar. Rasa sensitif nya semakin berlebihan.


Makanya Amira selalu menjadi imbasnya. Amira salah sedikit langsung di besar-besarkan dan memarahi Amira. Hal itu justru membuat Amira semakin suka membantah dan terus mengulangi kesalahan.

__ADS_1


Tidak jarang Amira juga akan menangis dengan Raina yang terus memarahinya. Untungnya ada papa Raka yang memang pasti terus menerus membelanya.


Kasih sayang Raka dari dulu sampai sekarang memang tidak pernah berubah walau istrinya sudah mengandung anaknya. Hal itu tidak akan mengurangi kasih sayangnya kepada Amira putri kecilnya.


Eghk Eggkh ehgk


Nayra terus muntah di kamar mandi dan suaminya mengusap-usap belakang leher sang istri agar istrinya mudah mengeluarkan isi perutnya.


Selesai makan memang Nayra akan seperti itu. Makanya Raihan harus tetap memperhatikan kondisi istrinya. Dia tidak ingin istrinya lemah karena kurang makanan.


Nayra mencuci mulutnya di wastafel, kumur-kumur. Raihan mengambil tisu dan mengusap mulut istrinya yang basah. Tubuh Nayra terlihat lemas, setelah mengeluarkan isi perutnya.


" Sudah tidak lagi?" tanya Raihan mengusap lembut pipi istrinya.


" Ya sudah kita sekarang istirahat ya," ucap Raihan. Nayra mengangguk. Raihan langsung menggendong istrinya keluar dari kamar mandi membawanya berbaring ke atas ranjang.


" Kamu istrirahat ya, supaya tubuh kamu lebih enakan," ucap Raihan. Nayra mengangguk. Raihan menarik selimut sampai kedada istrinya. Lalu menaiki ranjang berbaring di samping istrinya meraih Nayra kedalam pelukannya.


" Sayang," tegur Nayra yang sudah berada di dada bidang suaminnya.


" Ada apa?" tanya Raihan sambil mengusap-usap pucuk kepala istrinya.


" Ayo besok kerumah papa," jawab Nayra. Raihan menundukkan kepalanya melihat istrinya.


" Kamu yakin?" tanya Raihan.


Bukan apa-apa pasti dia sangat takut jika sang istri bertemu dengan Vira. Vira yang menurutnya selalu pembawa masalah.


" Aku merindukan papa, lagi pula, papa belum pernah mengusap perutku. Aku ingin papa lakukan itu. Papa juga pasti senang," ujar Nayra yang merindukan sang papa.


" Ya sudah sayang, jika itu yang kamu mau, kita akan temui papa besok," sahut Raihan yang memang tidak akan bisa menolak permintaan sang istri.


" Makasih, sayang," sahut Nayra tersenyum lebar. Raihan mengangguk lalu mencium kening sang istri.


" tidurlah!" perintah Raihan.


" I Love you," ucap Nayra.


" I Love you to," jawab Raihan kembali mencium kening Nayra. Lalu memperat pelukannya. Nayra pun lama kelamaan memejamkan matanya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2