
Della memasuki kamar mandi mencuci wajahnya di wastafel. Della menatap wajahnya di cermin dengan napasnya yang naik turun.
" Kenapa, harus bertemu dengannya sekarang? ujar Della masih dek-dekan bertemu Angga.
" Selama ini aku tidak pernah tau bagaimana dia. Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya dan sekarang aku bertemu setelah 1 tahun lamanya. Kenapa harus bertemu sekarang," Della bergerutu di depan cermin. Seakan Della bercerita pada cermin itu.
" Ahhhhh, tidak aku tidak bisa memikirkan apa-apa, aku harus frofesional. Della Angga hanya masa lalumu, ingatlah kau akan menikah dengan Ramah," ujarnya kembali mencuci wajahnya.
Setelah kembali berdiskusi dengan Angga masalah pernikahan. Angga mengantarkan Della sampai ke depan Perusahaan.
" Terima kasih ya Angga untuk hari ini," ucap Della yang berdiri di depan Angga.
" Aku yang makasih, kamu sudah mempercayakan pernikahan mu, pada Perusahaanku. Aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Angga memegang bahu Della sampai mata Della turun kebawah melihat tangan Angga yang berada di bahunya.
" Iya aku percaya sama kamu," jawab Della gugup. Angga tersenyum mengangguk dan saling melihat dengan Della. Mereka sangat hobi beradu pandang mata.
Tin-tin- tin- tin
Suara klakson mobil membuat Angga dan Della tersentak kaget. Della membalikkan belakangnya dan melihat mobil yang membunyikan Klakson. Della reflek menurunkan tangan Angga dengan cepat.
" Hmmm, ya sudah aku pulang dulu, aku sudah di jemput," ujar Della gugup saat mengetahui Ramah sudah datang. Angga hanya melihat ke arah mobil tersebut. Seakan ingin tau siapa yang menjemput Della.
" Permisi!" ujar Della pamit dan langsung buru-buru memasuki mobil itu. Angga hanya melihat pergerakan Della yang seperti ketakutan.
" Apa itu calon suaminya," batin Angga yang kepo.
Della langsung memasuki mobil. Dan duduk di samping Ramah yang wajahnya sekarang sedang marah.
" Apa aku menjemputmu hanya untuk melihat Pria itu menyentuhmu," desis Ramah benar-benar marah melihat Della dan Angga yang terlihat dekat.
" Maaf, aku hanya mengobrol dengannya," jawab Della yang mulai takut-takut.
" Apa semua Pria yang kau ajak mengobrol bisa berbuat seperti itu kepadamu. Kenapa tidak sekalian aja kalian mengobrol di dalam hotel," ujar Ramah dengan sinis. Kata-kata Ramah sungguh menyakiti hati Della.
" Siapa dia?" tanya Ramah.
" Dia pimpinan perusahaan itu yang akan mengurus pernikahan kita," jawab Della dengan lemas.
__ADS_1
" Mengurus pernikahan atau mengurus dirimu," ujarnya sinis. Menarik gas mobilnya dan melaju kencang.
Angga masih berada di tempatnya dan melihat mobil itu melaju kencang.
" Aneh sekali," batin Angga yang merasa ada sesuatu.
" Kau itu calon istri orang, seharusnya bisa menjaga dirimu. Jangan semua laki-laki bisa menyentuhmu, berbicara dengan menatapmu," ujar Angga yang terus mengoceh sepanjang jalan.
" Seharusnya aku tidak membiarkan Angga seperti itu. Sehingga Ramah tidak akan salah paham seperti ini," batin Della merasa bersalah.
" Kau pikir aku radio rusak, yang bicara tidak di pedulikan," bentak Ramah semakin kesal melihat Della yang diam saja.
" Bukan begitu, tetapi sungguh aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku hanya membicarakan persiapan pernikahan kita," ujar Della mencoba menjelaskan.
" Jika kau sampai ada hubungan apa-apa, itu namanya kelewatan," sahut Ramah dengan sinis. Della hanya diam, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, Ramah yang memang kalau sudah kesal, akan terus seperti itu.
**********
" Tapi Nayra Alex itu sudah kelewatan dia terus saja seperti itu tidak pernah berubah, kesalahan itu lagi, itu lagi, selalu meeting mendadak," sahut Andini yang mengoceh sambil makan di meja makan.
" Iya Andini. Tetapi tidak seharusnya kamu minta putus. Jangan apa-apa putus," ujar Nayra memberi saran.
" Tau, kalau putus ya putus. Nggak usah balikan lagi," sambar Raihan yang kesal dengan ocehan Andini.
" Kak Raihan juga dulu putus sama Nayra. Tetapi balikan," sahut Andini.
" Heh, beda kita itu saling mengerti, kita juga cuma putus sekali, nggak kayak kamu pacaran 1 tahun aja putusnya sudah lebih 5 kali," oceh Raihan geram.
Nayra menghampiri meja makan setelah selesai memasak telor dadar dan meletakkan di depan suaminya. Lalu Nayra duduk di samping Raihan.
" Iya Andini, kamu nggak boleh dikit-dikit minta putus. Bagaiman kalau nanti Alex tidak mau baikan lagi, kan sayang banget hubungan kalian," ujar Nayra menakut-nakutinya.
" Nara, tidak ada yang di sayangkan, hubungan seperti itu juga tidak ada gunanya. Karena mereka sama-sama tidak paham dengan hubungan mereka," sahut Raihan.
" Apaan sih kak Raihan nyebelin banget," sahut Andini kesal.
" Andini kamu itu harus bisa pahami pasangan kamu, mengerti bagaimana Alex. Jangan egois sendiri," ujar Raihan lebih membela Alex.
__ADS_1
" Aku egois, dia yang egois, aku harus mengerti untuk yang ke berapa kali. Tetapi dia memang sangat spele dengan keadaan itu," ujar Andini menekankan.
" Ya kalau kamu tau seperti itu. Ya sudah akhiri jangan hanya putus baikan, putus baikan, kamu pikir hubungan itu main-main," jawab Raihan.
" Sayang namanya juga cinta," sahut Nayra.
" Kalau cinta tidak akan seperti itu. Pasangan yang mencintai pasangannya akan saling mengerti. Sebelum kamu mencintai Alex. Kamu sudah tau bagaimana Alex dan resiko pacaran dengan Alex. Jadi jangan mempermasalahkan hal yang sudah kamu tau akan terjadi," ujar Raihan dengan tegas.
" Ishhhh, Diakan teman kakak. Jadi pasti lebih membela dia dibandingkan aku," ujar Andini dengan wajah merengut.
" Liat, di kasih tau malah tanggapannya kayak gitu," sahut Raihan.
" Sudah lah sayang, kamu makan dulu, jangan mengomeli Andini terus," ujar Nayra yang melihat wajah Andini begitu murung.
" Tau, dari tadi malah ngomel terus," sahut Andini dengan bibir kerucutnya.
" Karena kamu itu juga susah di kasih tau, Alex memu wanita lain yang bisa ngerti dia baru tau rasa," ujar Raihan menakut-nakuti. Karena memang sangat geram dengan Andini.
" Sudahlah jangan di bahas lagi, ayo makan," ujar Nayra mengambil nasi mengisi pada piring suaminya.
" Tapi bagaimana jika kak Raihan benar, kalau Alex benar-benar tidak mau hubungan kami di lanjutkan. Bagaimana jika dia menemukan wanita lain," batin Andini yang juga was-was mendengar ucapan Raihan.
" Malah bengong, ayo Andini lanjutin makannya," tegur Nayra.
" Iya," jawab Andini yang sudah tidak bersemangat.
Sementara di dalam mobil di depan rumah Andini alias Eyang Farah. Alex sedari tadi menunggu di dalam mobil yang terparkir.
" Apa aku harus masuk aja," ujar Alex yang ragu menemui Andini.
" Tapi, untuk apa, Andini sepertinya sangat lelah dengan hubungan ini. Apa aku harus kasih dia waktu untuk benar-benar sendiri," gumam Alex benar-benar bingung harus menempuh jalan yang mana.
" Jika di biarkan masalah akan semakin membesar. Tetapi Andini pasti belum mau menemuiku. Mungkin ini yang terbaik. Memang lebih baik hubungan ini selesai. Aku juga tidak ingin membuat Andini terus kecewa dan terpaksa menjalani semuanya. Lebih baik ini benar-benar berakhir. Andini masih muda. Kasian dia jika harus berhubungan denganku yang tidak memberinya perhatian. Dia berhak mendapatkan Pria yang benar-benar bisa membahagiakannya," gerutu Alex di dalam hatinya.
Alex mengundurkan niatnya menemui Andini dan memilih memutar balik mobilnya dan pergi. Alex berpikir jika hubungannya dengan Andini memang lebih baik selesai. Karena dia tidak ingin membuat Andini terus kecewa.
Bersambung....
__ADS_1