
Tetesan air mata Angga, mampu membangunkan wanita malang itu. Dengan membuka matanya secara perlahan. Della melihat wajah pria yang sama seperti di lihatnya beberapa jam yang lalu.
Pria yang menemukannya saat tidak berdaya. Wajah Pria itu sangat dekat di depannya. Bahkan hembusan napas Angga terasa hangat di wajahnya.
Della melihat air mata mengalir di wajah Pria yang di cintainya. Wajah yang terlihat begitu cemas dan Della tau itu pasti karenanya.
Angga meraih tangan Della, memegang erat meletakkan di pipinya lalu mencium telapak tangan itu.
" Kau sudah bangun?" tanya Angga dengan suaranya yang seperti menahan sesuatu. Della menganggukkan matanya.
" Apa masih sakit?" tanya Angga yang benar-benar tidak sanggup melihat wanitanya yang sangat terluka parah. Della menggeleng dengan senyum tipis di wajahnya.
" Kenapa menangis?" tanya Della masih dengan senyum itu.
Angga menggeleng seakan dia tidak menangisi apa-apa. Yang sebenarnya dia menangisi dirinya yang tidak berguna pada Della. Membiarkan Della mengalami hal yang menyeramkan seperti itu.
Tangan Della bergerak perlahan naik memegang pipi Angga untuk mengusap air mata itu yang sedari tadi jatuh itu.
" Jangan menangis, aku tidak apa-apa," sahut Della sangat yakin jika dia tidak apa-apa.
Sebagai Dokter dia sudah tau kondinyasi seperti apa. Della merasakan ke-2 kakinya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Seperti tidak berfungsi Della tau pasti dia lumpuh.
Karena saat di pukul oleh Ramah Della masih sadar dan mendengar keinginan Ramah yang membuatnya lumpuh. Della hanya menahan air matanya dengan kondisi buruknya. Berusaha menerima kenyataan yang sekarang dia seperti apa.
" Della aku mencintaimu," ujar Angga dengan tulus. Della mengangguk-angguk.
" Aku sudah mendengarnya," jawab Della dengan senyumnya.
" Mari menikah?" ajak Angga yang melamar Della tanpa persiapan.
Dia tidak peduli dengan kondisi Della yang seperti apa. Dia hanya ingin menikahi wanita itu, menerima keadaannya yang sekarang.
Tujuannya hanya untuk memberinya kebahagian. Hanya itu yang ingin di lakukannya kepada wanita yang bernasib malang itu.
Mendengar kata pernikahan membuat Della akhirnya meneteskan air matanya. Bagaimana mungkin Angga mengajaknya menikah dengan kondisinya seperti itu.
Menikah dengan Angga adalah impiannya sejak kecil. Hanya dianggap sebagai sahabat tanpa melihatnya sedikit sebagai wanita yang di cintai.
Angga mengetahui perasaannya dengan cara yang salah. Membuat Angga malah menghindar menolaknya dengan cara menghindari adalah hal menyakitkan.
Della memiliki kesempatan untuk yakin bahwa dia tidak mencintai Pria itu lagi. Bahkan mengatakan langsung di depan Pria itu.
__ADS_1
Setahun berjalan menjalin hubungan dengan pria lain. Pria yabg tidak memberinya kebahagian. Tetapi Angga datang kembali dengan mengungkap perasaannya.
Dan sekarang Pria itu melamarnya dengan kondisinya yang tidak mungkin menjadi seorang istri.
" Jadilah istriku, aku ingin menikahimu, aku ingin kita membangun rumah tangga," lanjut Angga yang benar-benar ingin melakukan hal itu. Ketulusan itu terpancar di wajah Angga.
Angga mengusap pipi Della yang berderai air mata. Lalu mengangkat kepala wanita itu lembut dan membuatnya masuk kedalam pelukannya.
" Aku sangat mencintaimu, aku mecintaimu," entah sudah berapa kali Angga mengatakan itu.
Della tidak bisa berkata apa-apa di dalam pelukan Angga. Dia hanya menangis tanpa suara. Memeluk erat Pria yang di cintainya.
.**********
Raihan dan Nayra akhirnya sampai di pasar. Sangat pagi pasangan suami istri itu berjalan di pasar.
Pasar yang tidak jauh dari rumah mereka sudah banyak di kunjungi orang-orang. Padahal masih subuh yang lebih enak di gunakan untuk tidur.
Nayra memakai sweater Cream berjalan disamping sang suami yang juga memakai sweater hitam.
Sedari tadi mulut Nayra tidak berhenti menguap, dia benar-benar masih mengantuk. Tetapi mau tidak mau haru melakukan ha itu demi suaminya.
Pasangan itu seperti sudah membeli beberapa keperluan. 1 tangan Raihan sudah memegang beberapa kantung plastik yang mungkin bahan-bahan untuk makanan.
" Masih banyak?" tanya Raihan.
Nayra menggeleng sembari melihat ponsel. Tiba-tiba pandangan mata Nayra melihat beberapa jajanan pasar.
" Sayang kita kesana yuk?" ajak Nayra menunjuk tempat jajanan pasar. Raihan mengangguk. Mereka pun mendekati penjual itu.
Nayra yang berdiri didepan banyaknya jenis-jenis jajanan itu, sudah tidak sabar untuk mencicipi semuanya. Berbeda dari Raihan yang justru sama sekali tidak tertarik.
" Kamu mau yang mana?" tanya Nayra yang sudah sibuk memilih-milih.
" Kamu saja, aku tidak mau," sahut Raihan yang sama sekali tidak selera dengan jajanan pilihan istrinya.
" Oke," sahut Nayra.
Nayra sibuk memilih-milih jajanan pasar sementara mata Raihan melihat kearah ujung yang sangat fokus sesuatu tempat yang mencuri perhatiannya.
" Makasih Bu," ujar Nayra saat menerima kantung plastik yang berisi jajanan yang di pilihnya.
__ADS_1
" Ayo sayang," ajak Nayra. Tetapi Raihan bengong. Nayra melihat arah fokus suaminya pada tempat penjualan ikan.
" Kamu liat apa?" tanya Nayra heran.
" Apa itu, seperti ular kecil," tanya Raihan yang tidak lepas memandang ibu-ibu yang kesulitann menangkap belut.
" Itu belut bukan ular," jawab Nayra.
" Aku ingin mencobanya," sahut Raihan menelan salavinanya.
" Ayo kita beli," ajak Raihan. Nayra kaget dengan kata-kata enteng Raihan.
Belum menjawab apa-apa Raihan meraih tangan istrinya dan membawanya ketempat jualan itu.
Nayra masih sibuk dengan kebingungannya heran dengan permintaan suaminya yang banyak maunya.
Makanan awal saja belum di buat dan sekarang ada yang baru lagi. Suaminya juga pasti menyuruhnya memasaknya.
Sementara dia pasti dia tidak tau cara mengolahnya. Karena Nayra tidak pernah memakan itu. Bahkan memegangnya saya Nayra merasa geli.
Nayra hanya pasrah menahan geli saat sang suami memilih belut untuk di belinya. Nayra tidak tau lagi harus berbuat apa dia hanya pasrah akan tingkah suaminya yang benar-benar aneh. Dan pasti setelah ini dia juga akan berpikir keras untuk memasak semua itu.
**********
Pagi cerah sudah kembali pasangan itu jelas sudah kembali pulang. Setelah membeli banyak bahan-bahan di pasar dan pasti lari dari bahan yang utama.
Raihan malah membeli banyak yang membuat Nayra pusing entah untuk apa bahan-bahan yang aneh yang aneh itu.
Bisa di lihat dari kacaunya dapur sekarang. Dapur itu berantakan di mana-mana sayuran berserakan.
Sementara tingkah pasangan suami istri itu seperti anak kecil yang menangkap belut yang berserakan di lantai.
" Sayang itu," pekik Nayra menunjuk di bawah meja dengan menahan geli. Raihan berjongkok dan terus menangkap.
Nayra terus melompat-lompat kegelian dengan belut yang berserakan di lantai. Sementara 2 asisten rumah tangga mereka sibuk dengan pekerjaan yang lain.
Raihan memang tidak ingin pembantunya ikut campur dengan urusan dapur. Pasti asisten rumah tangga yang tidak sengaja lewat hanya geleng-geleng dengan kelakuan suami istri yang seperti anak kecil yang bermain di pasar.
" Nayra dan Raihan sudah bangun?" tanya Zira pada Bibi yang membuka pintu.
Zira, Eyang Farah, Andini, Raka, Raina, dan Amira memang berkunjung kerumah itu. Semenjak mendengar Nayra hamil mereka memang belum melihat Nayra.
__ADS_1
Bersambung.....